Kesederhanaan Seorang Mohammad Natsir

Indonesianis George McTurman Kahin pada tahun 1948 tengah berada di Yogyakarta, Ibukota Republik yang masih muda. Satu hari dia diundang datang dalam suatu acara yang dihadiri para pejabat negara. Setibanya di tempat acara, Kahin menyalami satu demi satu para pejabat yang ada. Tibalah Kahin pada seorang lelaki berusia 40 tahun yang berwajah teduh dan berkacamata bulat, dia memakai baju dan pantalon dari bahan yang amat murah dengan potongan yang amat sederhana. Ketika diperkenalkan bahwa lelaki tersebut adalah seorang Menteri Penerangan RI, Kahin terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka, lelaki yang kelak dikenalnya dengan nama Mohammad Natsir itu ternyata sangatlah bersahaya, tidak ada beda dengan rakyat kebanyakan. Apalagi dirinya mendengar jika baju itu merupakan satu-satunya baju yang dianggap pantas untuk acara-acara resmi. Lanjutkan membaca

Iklan

Mengenal Tokoh Diplomasi RI Mr. Mohammad Roem

Mohammad Roem menjabat Menteri Luar NegeriIndonesiadalam kabinet Natsir. Ia tidak pernah menyimpan dendam kepada Soekarno yang telah memenjarakannya di Madiun. Ia memang menyebut Soekarno oligarkis dan feodal.

Hal itu terungkap dalam pembukaan Annual Lecture bertajuk ”Mengenang Tokoh Diplomasi Mohammad Roem”, Selasa (16/6) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah,Jakarta.

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengatakan, dalam pertemuannya dengan Mohammad Roem, Hassan sempat menanyakan apakah Roem sakit hati saat dipenjarakan Soekarno. Jawaban Roem kala itu, dalam politik, menang atau kalah merupakan hal biasa. Perbedaan tajam tidak pernah menghalangi hubungan baik antarpribadi. Lanjutkan membaca

Mr. Sjafroedin Prawiranegara Sang Presiden Yang Terlupakan : Sebuah Fakta Sejarah Yang Perlu diluruskan

Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 berhasil menguasi Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, dan menawan Presiden (Soekarno) dan Wakil Presiden yang merangkap Perdana Menteri (Mohammad Hatta).
Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafroeddin yang saat itu menjabat menteri kemakmuran dari MASYUMI mengusulkan dibentuknya pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI. Padahal, saat itu Soekarno – Hatta mengirimkan telegram berbunyi, “Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra”. Lanjutkan membaca

Catatan Sejarah Syarekat Islam

Pengantar :

Akar kesadaran politik umat Islam pada masa modern di Indonesia adalah dengan bangkitnya SI (Syarekat Islam) sebelum Perang Dunia I yang merupakan transformasi dari Sarekat Dagang Islam (SDI).  Lahirnya SDI bukanlah satu kebetulan dalam sejarah (an historical accident) yang tidak dilatar belakangi oleh kesadaran yang dalam dan panjang. Kelahiran SDI dapat dikatakan sebagai suatu keharusan sejarah (an historical necessity) bagi perjalanan politik umat Islam Indonesia.

Pada bulan Mei 1912 seorang tokoh yang kelak akan menjadi ‘ruh’ pergerakan yaitu Oemar Said Tjokroaminoto[1] bergabung atas undangan H.Samanhudi.  Oemar Said pada saat itu dikenal sebagai seorang yang radikal, anti feodalisme dan anti penjajah. Beliau dikenal sebagai seorang yang menentang kebiasaan-kebiasaan yang ada, menganggap sama dan sederajat dengan bangsa manapun, beliau tidak mau menghormat-hormat terhadap pejabat, bangsawan apalagi terhadap kaum penjajah. Di samping memiliki sikap yang demikian, Tjokroaminoto mempunyai keinginan kawan sebangsanya memiliki sikap yang demikian[2]. Lanjutkan membaca

Konsepsi Islam Tentang Negara

Oleh : Muhammad Al Khaththath

 Pendahuluan

            Beberapa tahun lalu seorang kyai yang pernah diangkat dan diturunkan dari jabatan presiden di republik ini pernah mengatakan bahwa kepemimpinan Rasulullah saw. bukanlah wujud dari suatu negara.  Kepemimpinan beliau sw. di Madinah itu cuma sekedar ketua RT atau paling banter ketua RW, tegas kyai yang cuma sekitar setahun menjadi orang nomor satu di negeri ini. Benarkah persepsi kyai yang sangat gencar mempropagandakan demokrasi itu?  Tentu tidak benar.   Sebab, bagaimana mungkin kepemimpinan Rasulullah saw. dikatakan sekedar tingkat RT/RW, sementara fakta sejarah menunjukkan bahwa ketika tentara Madinah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. menaklukkan kota Mekkah, jumlahnya sekitar 10.000 orang (lihat Azyumardi Azra, Suplemen Ensiklopedi Islam hal 106).  Demikian juga  tatkala Rasulullah saw. memimpin tentara Madinah ke Tabuk dalam rangka memerangi tentara imperium Rumawi yang ada di sana, jumlah tentara  yang beliau saw. bawa adalah sekitar 30.000 orang (lihat Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah Juz 3 hal 593).  Tentu tidak ada RT/RW yang memiliki tentara sebanyak itu.  Sejarah pun menunjukkan bahwa Rasulullah saw. mengangkat wali atau gubernur di Yaman, wali Madinah, wali Makkah, wali Bahrain. Rasulullah saw. mengangkat sejumlah hakim/qodli di sejumlah kota atau daerah untuk mengadili perkara-perkara yang terjadi di masyarakat. Rasulullah saw. pun mengrim surat-surat politik kepada sejumlah kepala negara besar maupun kecil untuk masuk Islam dan bergabung di bawah naungan daulah islamiyah. Artinya, fakta sejarah menunjukkan bahwa kepemimpinan Rasulullah saw. itu adalah kepemimpinan level negara. Lanjutkan membaca

KONSEP POLITIK hizbut tahrir

Makna Politik

Politik adalah mengatur urusan dalam negeri dan luar negeri suatu negara, hal tersebut dilakukan secara langsung oleh negara, sedangkan rakyatnya mempunyai hak untuk menegur, mengkritik dan membetulkan tindakan negara yang melakukan aktivitas politik tersebut. Kebijakan dalam negeri yang dilaksanakan oleh negara kepada masyarakat adalah dipengaruhi oleh ideologi tertentu yang dianutnya. Sedangkan asas hubungan luar negeri adalah hubungan dengan negara lain, yang merupakan tanggungjawab negara sendiri. Lanjutkan membaca

Sejarah Islam Indonesia (Periode Awal Masuk Islam)

SEJARAH ISLAM TANPA MISI ?

 “Bisa kita singkirkan gagasan bahwa agama baru itu dibawa ke Asia Tenggara lewat kegiatan dakwah. Kata “Dakwah” itu sendiri menyesatkan. Sampai tahun-tahun terakhir, ajaran-ajaran Nabi tidak pernah disebarkan lewat kegiatan meng-Islamkan orang secara terorganisasi. Pedagang-pedagang dari Gujarat yang datang ke Indonesia pastilah tidak datang dengan tujuan menyebarkan agama mereka. Dalam beberapa kasus, perpindahan agama disebabkan keyakinan, dalam kasus lain disebabkan oleh motif-motif kepentingan tersembunyi dan non-religius”[1]. Lanjutkan membaca