Benang Kusut Gerakan Dakwah di Indonesia

Dakwah dalam termonologi sejarah Islam adalah gerakan yang tertua, sejak Adam a.s diciptakan dan menerima amanah Ilahi menjadi Khalifah fil Ardhi, starting point gerakan dakwah mulai digerakan dan ditujukan kepada bani Adam. Misi pengembanan dakwah merupakan misi utama para nabi dan rosul. Nabi Muhammad SAW Rosul terakhir pilihan Allah telah berhasil menyempurnakan misi dakwah para Rosul sebelumnya, Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin menerobos dimensi kehidupan manusia secara individu maupun sosial untuk hanya menerima Allah Al-Kholiq yang diibadahi dengan menjadikan al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh sebagai pedoman hidup manusia. Islam telah menembus batas-batas wilayah, budaya, adat istiadat untuk hanya menerima Syari’at Islam yang menyelamatkan hidup dan kehidupan dhohir bathin di dunia dan akherat.

Sejarah Dakwah Islam di Indonesia memberikan perubahan yang luar biasa bagi peradaban manusia Indonesia. Kiprah para wali – Wali Songo di tanah Indonesia yang berhasil mendirikan kekuasaan Islam di Jawa (Kerajaan Islam Demak), Sumatera (Kerajaan Samudera Pasai), Maluku, Ternate, Tidore dan lain-lain menjadi bukti adanya akar Ideologis dari setiap gerakan dakwah di masa lalu untuk terbagunnya sosio politik Islam. Kiprah gerakan dakwah tidak pernah berhenti oleh jaman dalam situasi dan kondisi apapun juga. Sejak Belanda datang untuk menjajah negeri ini sampai hengkang yang selanjutnya di ambil alih oleh Fasisme Jepang juga pada masa Revolusi Nasional, spirit yang menyala dari setiap pembela Allah dan Rosul-Nya terus terwariskan dari generasi ke generasi menggelora di dalam dada menjadi aksi tiada henti sampai Fatah dan Falah di dapatkan.

Beragam macam dan corak gerakan dakwah yang ada di Indonesia sampai saat ini menghasilkan apresiasi yang beragam. Disatu sisi macam dan corak dakwah membentuk suatu “pelangi” indah yang membawa kepada kemasyalahatan umat Islam, ada kegairahan dalam mengenal, memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Umat Islam dibuat “melek” terhadap tawaran-tawaran dakwah yang dijalankan baik secara gerak organisasi maupun individu-individu aktifis dakwah. Dakwah menjadi “santapan” empuk yang mengisi lorong-lorong akal yang awalnya dangkal, relung-relung ruhani yang awalnya gersang dan gerak jasmani yang awalnya rigid – kaku untuk beramal. Dengan adanya ragam dan corak dakwah, manusia seakan diisi oleh sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk menjalani hidup dan kehidupan dunia secara hakiki.

Disisi yang lain macam dan corak dakwah membentuk “benang kusut” yang tiada ujung pangkal. Dakwah seyogyanya membuahkan yang “Hak” terlihat benarnya dan yang “Bathil” terbukti salahnya. Dakwah seyogyanya menghasilkan keseragaman pola pikir, pola sikap dan pola tindak umat Islam secara sinergis membentuk Ummatan Wahidathan. Tapi apa yang terjadi “benang kusut” gerakan dakwah berbuah kontra-produktif dari tujuan Allah SWT yang memerintahkan kepada Ummat Islam untuk tampil sebagai “Pelaku Dakwah”.

Akhirnya semakin lama “pelangi” yang indah di langit biru bersentuhan dengan “benang kusut” di padang gersang yang semerawut. Warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu dan abu-abu (Mejikuhibiniu) tak terlihat secara indah tetapi berubah menjadi samar dalam “bola kusut warna pelangi dakwah”. Dakwah yang menyerukan kebenaran bertempur dengan dakwah yang menyerukan kesesatan. Lalu siapa yang menjadi pemenang ????

Secara teoritik, Drs. H. Syukriadi Sambas M.Si., Dosen IAIN Sunan Gunung Jati membagi dakwah dalam katagori pelaku terdiri dari (a) Dakwah Allah, (b) Dakwah Nabi, (c) Dakwah Umat Nabi, (d) Dakwah Kafir dan (e) Dakwah Syaitan.

Dakwah Allah adalah dakwah ilahiyah yang bersifat tanajuli dengan pesan dakwah berupa shirath mustaqim dan tujuan dakwah adalah dar as-salam. Dakwah nabi dan rosul adalah membawa pesan informasi Ilahiyah kepada ummat manusia agar hanya beribadah kepada Allah SWT, dakwah umat nabi dan rosul menyampaikan pesan al-Islam sebagai ajaran Ilahi yang mengatur tata kehidupan umat manusia yang menjamin keselamatan hidup di dunia dan akherat. Sementara dakwah kafir dan dakwah syetan adalah segala macam bentuk ajakan untuk menyimpangkan manusia dari kewajiban melaksanakan Islam secara kaffah .

Problemnya adalah perseteruan dakwah umat nabi dan dakwah kafir atau dakwah syetan bisa menggunakan “al-Islam” sebagai pesan dan alat untuk mencapai maksud dan tujuan masing-masing. Orang-orang kafir dari kubu zionisme, komunisme ataupun salibisme yang merupakan musuh umat Islam sepanjang jaman, bisa “memanfaatkan” umat Islam untuk menghancurkan Islam itu sendiri dan konyolnya umat Islam “tertentu” dengan “santai” melaksanakan program-progam mereka sebagai sebuah kewajiban .

Indonesia sebagai bangsa dengan mayoritas umat Islam, adalah sasaran empuk dari zionisme, komunisme ataupun salibisme yang berselingkuh dengan Nasionalisme, Sukuisme dan Ashobiyyah-isme dalam melaksanakan proyek internasional untuk menghantam gerakan Islam, dan mencabut fikrah islamiyah dari tatanan kehidupan. Beragam bentuk dan pola mereka gunakan yang didukung oleh SDM dan dana yang sungguh luar biasa. Disinilah pertarungan sesungguhnya terjadi.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (Qs. Al-Baqarah :120)

“Akan datang di satu masa, dimana kalian dikerumuni dari berbagai arah, bagaikan segerombolan orang-orang yang rakus yang berkerumun berebut disekitar hidangan. Diantara para sahabat bertanya keheranan : “ Apakah karena diwaktu itu kita berjumlah sedikit, ya Rasululloh? Rasul menjawab : “Bukan, bahkan jumlah kalian waktu itu banyak. Akan tetapi kalian laksana buih terapung-apung. Pada waktu itu rasa takut di hati lawanmu telah dicabut oleh Allah, dan dalam jiwamu tertanam penyakit al-wahnu” Apa itu Alwahnu?” Tanya sahabat. Jawab Rosululloh : “cinta yang berlebih-lebihan terhadap dunia dan takut yang berlebih-lebihan terhadap mati”. (Hadist Rosululloh)

Sekilas Potret Gerakan-gerakan Dakwah di Indonesia

Gerakan Dakwah Inkar Sunnah

Muncul di Indonesia sekitar tahun 1980-an. Mereka menamakan pengajiannya dengan sebutan Kelompok Qur’ani (kelompok pengikut Al-Qur’an). Pengajian tersebut dipimpin oleh H. Abdurrahman yang ramai diselenggarakan dimana-mana di Jakarta. Salah satunya di Masjid Asy-Syifa RS Cipto Mangunkusumo yang menyatu dengan Fakultas Kedokteran UI.

Penyelidikan Hartono Ahmad Jaiz menyebutkan ada tokoh orang Indonesia yang mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk pengajian tersebut, dia bernama Lukman Saad, orang Padang Panjang Sumatera Barat lulusan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan penerbitan. Dengan perusahaan penerbitannya itu Lukman Saad mencetak buku-buku yang berisi ajaran sesat Inkar Sunnah diantaranya karangan Nazwar Syamsu dan Dalimi Lubis.

Tokoh lain dari Inkar Sunnah adalah Marinus Taka. Hartono menyebutkan bahwa Marinus Taka adalah seorang keturunan indo-Jerman yang tinggal di daerah Depok Lama yang merupakan perkampungan Kristen khusus peranakan Belanda.

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 16 Ramadhan 1403 H/ 27 Juni 1983 memutuskan bahwa Inkar Sunnah sebagai ajaran sesat karena tidak memepercayai hadist Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hokum syari’at Islam. Selanjutnya Kajaksaan Agung RI pada tanggal 7 September 1985 memutuskan pelarangan buku karangan Nazwar Syamsu dan Dalimi Lubis untuk beredar di seluruh Indonesia.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)

Lembaga ini didirikan oleh Mendiang Nurhasan Ubaidah Lubis, pada awalnya bernama Darul Hadist, pada tahun 1951. karena ajaranya meresahkan masyarakat Jawa Timur maka Darul Hadist dilarang oleh PAKEM (Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat). Darul Hadist berganti menjadi Islam Jama’ah dan di tahun 1971 Jaksa Agung RI melarang aliran sesat Islam Jama’ah ini. Karena dilarang diseluruh Indonesia, Nurhasan mencari taktik baru yaitu berlindung kepada Letjen Ali Moertopo (Wakil Kepala Bakin dan staf OPSUS Presiden Soeharto). Lalu Islam Jama’ah menyatakan diri masuk dalam GOLKAR dengan nama Lemkari (Lembaga Karyawan Dakwah Islam).

Lemkari selanjutnya dibekukan oleh Gubernur Jawa Timur Soelarso pada tahun 1988. Namun kemudian pada Musyawarah Besar Lemkari di Asrama Pondok Gede Jakarta, November 1990, Lemkari diganti nama menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) atas anjuran Mendagri Rudini agar tidak rancu dengan nama Lembaga Karatedo Republik Indonesia.

Sampai tahun 1972 Lemkari sudah mendirikan masjid 1500 buah di 19 Propinsi dan beberapa pondok pesantren besar lagi megah. Sekarang LDII sudah mempunyai Dewan Pimpinan Daerah (DPD) sebanyak 26 propinsi. (Kesesatan Ajaran Islam Jama’ah diantaranya kita bisa baca di buku Hartono Ahmad Jaiz : Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, 2001).

Gerakan Syiah Di Indonesia

Sejak tumbangnya Syah Reza Pahlevi yaitu meletusnya Revolusi Iran pada tahun 1979 yang dipimpin oleh tokoh spiritual Ayatullah Khomaeni sejak itu pula paham Syi’ah merembes ke berbagai Negara. Gema jihad melawan “kemungkaran” dari Iran lantas menembus hampir di seluruh dunia. Gerakan ini mendapat respons positif berupa terbentuknya solidaritas muslim dunia secara moral mendukung gerakan itu.

Beberapa lama kemudian di tahun 1980-an muncul kelompok-kelompok yang dinilai oleh beberapa pihak mengarah ke gerakan Syi’ah. Barangkali ini yang disebut Ekspor Revolusi yang begitu di khawatirkan.

Perkembangan Syi’ah atau yang mengatasnamakan madzhab Ahlul Bait di Indonesia memang cukup pesat. Sejumlah lembaga yang berbentuk pesantren maupun yayasan didirikan di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan luar Jawa. Dan membanjirnya buku-buku tentang Syi’ah yang sengaja diterbitkan oleh para penerbit yang memang berindikasi Syi’ah atau lewat media massa, ceramah-ceramah agama dan lewat pendidikan dan pengkaderan di pesantren-pesantren, di majelis-majelis taklim.

Gerak mereka tidak seragam ada yang begitu agresif dalam mendakwahkan Syi’ahnya ada juga yang lebih lambat. Ada yang terasa demikian frontal ada juga yang terkesan amat sensitive. Namun demikian semuanya menuju kepada titik yang sama, Syi’ah. Besar sekali memang dana yang dibutuhkan untuk mempropagandakan dan memperkenalkan Syi’ah tujuannya adalah memperkenalkan Syi’ah di panggung politik Dunia (juga Indonesia) dan yang terpenting “mendesakan” kepada dunia Islam untuk mengakui keberadaan Syi’ah sebagai salah satu aliran yang sah di dunia Islam. Hasilnya, tanpa disadari kita yang beraqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah digiring untuk mengikuti dan mendukung kebathilan yang ada pada ajaran Syi’ah itu.

Untuk meng-counter perkembangan Syi’ah memang sangat susah, dikarenakan Syi’ah mempunyai ajaran yang bernama Taqiyah. Dengan konsep taqiyah mereka dengan mudah memutar balikan fakta untuk menutupi kesesatannya dan mengutarakan sesuatu yang tidak diyakininya. Orang-orang Syi’ah dalam mempertahankan konsep tersebut sering mengetengahkan sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Imam Abu Ja’far Ash-Shadiq as. berkata : “ Taqiyah adalah agamaku dan agama bapak-bapaku. Seseorang tidak dianggap beragama bila tidak bertaqiyah. (selajutnya tentang apa bagaimana Syi’ah bisa terbantu dengan membaca buku Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi’ah : Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI, Jakarta, 2002).

Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam

Titik tolak pembaharuan pemikiran Islam masa Orde Baru, bermula dari pidato Nurcholish Madjid di awal tahun 1970. M. Dawam Rahardjo memberikan keterangan, tak sedikitpun Cak Nur – berniat bikin heboh. Bahkan ceramahnya itu hanya “kebetulan” saja: ia menggantikan Dr. Alfian. Dan Cak Nur tidak menyangka, bahwa pemikirannya akan sejauh itu dampaknya. Pemikirannya yang terkenal dengan slogan “Islam Yes. Partai Islam No”. sebuah seruan deislamisasi partai politik, melalui program yang disebut “sekulerisasi”.

Agaknya, situasi politiklah yang melatar-belakangi berbagai reaksi yang muncul. Waktu itu, masih diperjuangkan rehabilitasi Masyumi, disamping yang lainnya seperti PSI dan Murba. Dan posisi HMI (tempat Cak Nur saat itu berada- Ketua HMI), sebagai salah satu pendukung Sekretariat Bersama Golongan Karya (Golkar), menjadi krusial menjelang Pemilu. Kecenderungan pimpinan HMI pada waktu itu mengambil sikap independen, tidak hanya kepada partai-partai Islam, tetapi juga terhadap semua partai. Dan orang melihat sikap HMI itu sangat menguntungkan Golkar. Karena itulah, maka ceramah Cak Nur tersebut menjadi sangat politis .

Apakah karena kebetulan seaspirasi dengan Cak Nur tentang : “Islam Yes, Partai Islam No”. ataukah pengaruh pemikiran Cak Nur dan kawan-kawan yang jelas pemerintah Orde Baru melakukan “deideologi” partai Islam, dan kemudian diganti dengan Pancasila sebagai satu-satunya asas seluruh orsospol .

Budhi Munawar-Rachman menjelaskan bahwa ada tiga kelompok besar pemikir neo-modernis Islam di Indonesia yaitu (1). Islam Rasional dengan tokohnya Harun Nasution dan Djohan Effendi dengan membawa pandangan-pandangan Mu’tazilah (2) Islam Peradaban yang diantara tokohnya Cak Nur dan Kuntowijoyo dan (3) Islam Transformatif dengan tokohnya Adi Sasono, M. Dawam Rahadjo.

Gerak pembaharuan pemikiran Islam pada tahun 1970-an dilaksanakan oleh pemikir-pemikir individual yaitu pemikir yang tidak terlalu terikat oleh organisasi seperti NU, Muhammadiyah, SI dan lainnya. Dahulu ketika melempar isu pembaharuan islam pada tahun 1970-an, Cak Nur relatif single fighter, tetapi sepuluh atau duapuluh tahun kemudian- pada decade 1980-an apalagi 1990-an- Cak Nur sudah tidak lagi sendirian.

Gagasan-gagasan Cak Nur dan kawan-kawan di rentang akhir tahun 1980-an dan sepanjang tahun 1990-an banyak dipublikasikan dalam buku-buku yang diterbitkan secara luas diantaranya oleh Mizan, Jurnal Ulumul Qur’an dan Islamika juga Paramadina sendiri. Buah Pemikiran Cak Nur dan sahabat-sahabatnya banyak menimbulkan kontroversi di kalangan umat Islam, diantara yang menghangat adalah perseteruan konsep-konsep pemikiran Islam melalui tulisan antara Ulumul Qur’an dengan Media Dakwah yang diterbitkan oleh Dewan Dakwah Islamiyah. Turut andil pula lembaga-lembaga kajian yang menghasilkan kader-kader muda lewat Paramadina (diantaranya).

Di tahun 2000-an pemikiran Islam diramaikan oleh kader muda Islam diantaranya Ulil Absar ‘Abdala sebagai “Cak Nur Muda” yang menggagas Islam Liberal. Model pemikiran Islam Liberal-nya Ulil tidak jauh berbeda dengan pembinanya Nurcholis Madjid.

Urban Sufism

Ada fenomena baru khususnya dimulai sekitar akhir tahun 1990-an, yaitu adanya beberapa tempat pengajian yang ramai dikunjungi umat Islam, seperti kajian spriritual yang diselenggarakan oleh Tazkya Sejati (pusat kajian tasawuf yang dipimpin oleh Dr. Jalaludin Rakhmat), IIMaN (pusat pengembangan tasawuf positif yang didirikan oleh Haidar Bagir), Paramadina (yayasan yang menekuni pengkajian persoalan Islam, termasuk tasawuf, yang dipimpin oleh Dr. Murcholish Madjid) dan kegiatan ceramah Manajemen Qoblu (MQ) yang dilakukan oleh KH. Abdullah Gymnastiar.

Anggota dari lembaga-lembaga tersebut adalah mereka yang sering disebut sebagai “sufi” perkotaan (Urban Sufism). Ekspresi spiritual yang ditampilkan oleh “sufi-sufi” kota ini berbeda dengan sufi-sufi konvensional (ortodoks). “sufi” baru itu bukanlah orang yang “ngegembel” yang kehidupan sehari-harinya hanya diisi dengan beribadah dan mengasingkan diri. Justru sebaliknya “sufi” kota ini berasal dari strata sosial kelas menengah dan atas (meski kelas bawah juga turut mengikutinya) dan kalangan professional di berbagai bidang yang sangat rasional.

Dr. Komaruddin Hidayat mengsinyalir adanya lima kecenderungan masyarakat kota terhadap Sufism yaitu :

  1. Adanya upaya pencarian makna hidup searching for meaningful life.
  2. Untuk sekedar perdebatan intelektual dan peningkatan wawasan intellectual exercise and enrichment.
  3. Menjadikan aspek spiritualitas sebagai katarsis atau obat dan problem psikologis pshyicological escape.
  4. Sarana mengikuti trend dan perkembangan wacana religious justification.
  5. Sikap “mengekploitasi” agama untuk kepentingan dan keuntungan ekonomi Economic Interest.

Point 5, adanya economic interest, yang menurut Yudi Latief diistilahkan sebagai ”komersialisasi pengalaman religius” ditemukan dilingkungan kita saat ini. Berkembangnya pengikut latihan-latihan “Riyadhah” Sufism yang berorientasi instan kesalehan, larisnya para pedagang spiritual (religious intrepreneurs) yang menjajakan “do’a-do’a” penenang (mulai dari “do’a politik”, “do’a kesembuhan penyakit” sampai “do’a sukses capres” dll), serta digandrunginya bintang-bintang “budaya pop” dan kiyai “ngepop” sebagai penceramah agama merupakan sesuatu yang kongkret dari bentuk konsumerisasi pengalaman-pengalaman spiritual .

Geliat Dakwah Lulusan Timur Tengah

“Mungkin” dikarenakan peran Menteri Agama Prof. Dr. H. Abdul Mukti Ali (1971-1978) banyak mahasiswa Islam Indonesia merasakan belajar di luar negeri dengan beasiswa dari pemerintah Orde Baru. Sebagian dari mereka memilih sekolah di negeri paman Sam untuk mengambil S-2 atau S-3 produknya Cak Nur Cs, sebagian lagi memilih sekolah di Timur Tengah dan produknya Ustadz-ustadz Pulan Lc. Yang memilih Timur Tengah rata-rata lulusan Aliyah (setingkat SMA) atau yang memiliki backgraund pesantren atau lulusan IAIN (pra syarat pokok adalah kemampuan Bahasa Arab).

Pengiriman pelajar ke Timur Tengah sebenarnya sudah mulai saat M. Natsir menjadi Perdana Menteri pertama RI 1950-an dengan mengeluarkan rekomendasi pada sejumlah mahasiswa untuk belajar ke luar negeri khususnya di Timur Tengah, pelajar pertama Indonesia yaitu Hasan Langgulung alumnus pertama Pesantren Persis Bangil untuk belajar di Universitas Al-Azhar.

Diantara universitas di Timur Tengah yang dijadikan tempat belajar oleh mahasiswa Indonesia adalah : (1) Universitas Islam al-Madinah Al-Munawarrah, Arab Saudi, (2) Universitas Ibnu Saud, Riyadh, Arab Saudi dan (3) Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir.

Prof.Dr. Azyumardi Azra mengutip hasil penelitian Mona Abaza tentang mahasiswa Indonesia di Timur Tengah khususnya di Al-Azhar. Menurutnya mahasiswa Indonesia di Timur Tengah terbagi pada dua kelompok secara umum yaitu mahasiswa sebelum tahun 1970-an yang cenderung memiliki pemikiran “Islam Liberal” seperti Hassan Hanafi atau Zaki Najib Mahmud dan mahasiswa setelah tahun 1970-an pemikirannya bernada “Islam Fundamentalis”. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh situasi kondisi Timur Tengah itu sendiri dari semangat liberalisme berubah kepada arus fundamentalisme .

Annis Matta Lc (salah seorang lulusan Timur Tengah), menyatakan bahwa semangat pemikiran Al-Ikhwanul Al-Muslimun telah merasuk di perguruan tinggi-perguruan tinggi di Saudi Arabia sejak tahun 1980-an, perpustakan untuk pemikiran Islam semuanya diisi oleh buku-buku yang dikarang para tokoh IM, maka menurutnya secara otomatis pemikiran Al-Ikhwanul Al-Muslimin terbawa oleh para mahasiswa yang belajar disana .

Sepulangnya belajar di luar negeri, bila lulusan Barat (AS) membawa “oleh-oleh” Islam Ilmiah (Pembaharuan Pemikiran Islam) sedangkan lulusan Timur Tengah membawa “oleh-oleh” Islam Harakah (Islam pergerakan-khususnya Al-Ikhwanul Al-Muslimun).

Tercatat beberapa nama diantaranya Ustadz Abu Ridha Lc, Ustadz Rahmat Abdullah Lc, Ustadz Hilmi Lc., Ustadz Saeful Islam Mubaraq Lc., dll, yang getol mendakwahkan pemikiran-pemikiran Al-Ikhwanul Al-Muslimin dengan membentuk gerakan dakwah Tarbiyah.

Geliat dakwah lulusan Timur Tengah ini mendapat respon luar biasa di kampus-kampus seperti UI, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, UNPAD, UGM , dll di antara tahun 1980-1998 yang kemudian bermetamorfosis menjadi PK selanjutnya PKS (lihat selanjutnya PKS sebuah Fenomena)

Bintang Vs Kohesivitas

Ada “drama” yang enigmatic dalam sepak bola Piala Eropa 2004. Semula, siapa yang menyangka tim-tim besar dengan nama besar seperti Jerman, Italia, atau Spanyol tersingkir di babak pertama. Siapa pula yang menyangka Republik Ceko bakal membuat prestasi yang mengagumkan dengan menjuarai Grup D dan menjadi satu-satunya tim peraih nilai sempurna (9), setelah mengalahkan Latvia 2-1, menghantam “tim Oranye” Belanda 3-2, dan menyingkirkan “Panser” Jerman 2-1. Pecinta bola bundar dibuat terkaget-kaget manakala Inggris dengan segudang “Bintang” dikalahkan tragis oleh Portugal dan Prancis yang “di-raja-i” Zanadine Zidane dibuat “menangis” oleh “Dewa” Yunani 0-1. Piala Eropa 2004 telah memberikan “Ibrah”-pelajaran dimana taburan “bintang” bisa dikalahkan oleh kemampuan tim yang memiliki “kolektivitas” dan “kohesivitas” dalam bertanding.

Tuntas sudah episode “Piala Eropa 2004” dan pemenangnya adalah …… tidak hendak menganalisis sepak bola lebih detail, kita “lompat” kembali pada keadaan gerakan dakwah kontemporer di Indonesia. Banyak “bintang” lapangan dakwah bertengger di podium mimbar, secara linier “audien” mendengarkan, ketika “bintang” lapang bergerak secara linier “audien” mengikuti, ketika “bintang” lapang melompat ke politik partai, secara linier pula “audien” larut dan terjun dalam pesta kampanye dengan mengibarkan bendera-nya.

Meminjam istilah Yudi latif tentang pola komunikasi yang bersifat linier-vertikal (satu arah), dimana para dai berbicara — hadirin mendengarkan, dai berpikir —– hadirin dipikirkan, dai memilih —- hadirin menuruti, dai mengatur —- hadirin manut, dan sebagainya. Agaknya memang demikianlah fenomena gerakan dakwah sekarang ini. Tak heran jika forum dakwah seringkali tak mampu mengembangkan minat-minat yang eksploratif serta kreativitas berpikir kritis. Forum dakwah tidak menorehkan hasil sumber daya yang mampu mengembangkan potensinya agar lebih “dinamis” dan “kreatif” pada tataran akal-intelektual, sikap dan amal, tanpa meninggalkan kedisiplinan dalam berjuang.

Adanya “bintang” dalam lapangan dakwah mungkin sebuah kebutuhan yang patut ada dalam gerakan dakwah tetapi “kolektivitas” dan “kohesivitas” gerakan dakwah bakal lebih mampu mendorong pada transformasi cultural maupun structural yang dikehendaki.

Berdakwah dengan Kesalehan Diri dan Sosial

Dalam sebuah iklan lotion pemutih seorang laki-laki dengan tatapan terpana memandang perempuan yang energik dan terlontar secara tanpa sadar ucapan: ”bersihhh…putihhh…” . Entah latah atau mengikuti trend atau memang sepantasnya demikian, yang jelas kata “putih” dan “bersih” menjadi barang dagangan yang laku keras baik secara ekonomi “material” maupun secara psikologis “immaterial”.

Tengoklah sejenak dalam panggung politik pasca reformasi, kata “putih” dan “bersih” menjadi barang dagangan yang laku dijual mengalahkan kata “busuk” dan “hitam”. Para caleg menolak dikatakan “Politisi busuk”, para capres dan cawapres menyanggah “kampanye hitam”. Semua menunjukan dirinya “putih” dan “bersih”.

“Dagangan” dalam dakwah memang beragam, tetapi trend dakwah di akhir tahun 1990-an sampai sekarang menunjukan tanda-tanda yang sama dengan “menjual” kesalehan diri dan kesalehan sosial. Sosok K.H. Abdullah Gymnastiar (AA Gym) adalah fenomena yang mengedepankan “kesalehan diri” sebagai daya tarik ”market dakwah”, masyarakat dibuat terpesona dan tanpa sadar mengucapkan : “bersihhh….putihhhh” sampai-sampai kalangan selebritis menempatkan AA Gym sebagai laki-laki ”metroseksual” pada urutan teratas.

Kesolehan sosial ditunjukan pula oleh beberapa gerakan dakwah semisal Tarbiyah (PKS) yang terlihat pada setiap event local maupun nasional dalam demontrasi maupun kampanye melakukan “show” dengan lautan “jilbab putih dan bersih”. Kelompok dakwah ini mudah dikenali dari sudut penampilan personal. Para Akhwat terlihat dari jilbab yang panjang dan para Ikhwan-nya terlihat pakaian yang umumnya menggunakan stelan “koko”, berjanggut tipis dan berparas “bersih”. Trend baru para aktifis dakwah ini telah mewarnai lingkungan masyarakat dakwah terkhusus masyarakat kampus.

Akankah pola menjual “kucing dalam karung” masih menghiasi setiap aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara ini termasuk dalam dakwah. Dahulu “karung-nya” “hitam” dan “bau busuk” tapi sekarang “karung-nya” “putih” dan “bersih” tetapi sama-sama saja yang dijual tetap “KUCING”. (entah kucing “mesir” atau “Persia”) Agaknya kita harus lebih cerdas.

Ada pendapat yang sebenarnya kontroversial tetapi patut direnungkan, datang dari Ted Peters, pengarang buku Fear, Faith, and The Future , “ krisis akan mencuat ke pergumulan histories saat peradaban kita benar-benar memasuki era pasca Industri. Saat itu keasyikan kita untuk mengkonsumsi sejumlah barang dan jasa akan amat memungkinkan pengkomoditian agama (comoditized religion). Agama tidak lebih sebagai komoditas yang siap diperjualbelikan di pasar komersial, ide-ide yang kadang-kadang membungkus ambisi-ambisi manusia, seperti saat mereka mendirikan tempat-tempat perbelanjaan dimana setiap orang bebas memilih apa yang menjadi obsesi dan selera sesaat”. Lebih lanjut Ted Peters menyebutkan, “ religi media massa kini mungkin menjadi sinyal religi konsumeris esok hari” .

“Jamaah” Islam Liberal

Ketika Cak Nur sudah menjelang uzur, ketika Gus Dur sudah banyak “mendengkur” meski kedua-duanya masih pandai “bertutur”. maka awal tahun 2000-an seakan tak pernah henti-henti “Islam Nyeleneh” kembali ber-reinkarnasi pada generasi “milennium” yaitu Ulil Abshar Cs, daur ulang pemikiran Islam Cak Nur cs berbuah “Jamaah” Islam Liberal.

Sejak kelahirannya pada tahun 1999, “jamaah” Islam Liberal bertujuan untuk menjadi counter terhadap gerakan Islam garis keras yang sering terjun ke lapangan untuk menjadi motor terdepan dalam ‘amar ma’ruf nahy al-munkar seperti FPI, Laskar Jihad, Majelis Mujahidin dan lain-lain. Pada bulan Maret 2002, mereka resmi mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan tokoh sentralnya adalah “Intelektual Muda NU” Ulil Abshar Abdalla. Tujuan pokok “Jamaah” ini adalah pertama, untuk mengimbangi wacana pemikiran Islam garis keras yang banyak muncul terutama soal pelaksanaan syari’at Islam. Kedua, ingin memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat masalah penerapan syari’at dalam perspektif yang lebih beragam.

Menurut Ulil ada tiga misi yang diemban “Jamaah” Islam Liberal yaitu :

  • Pertama,mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka anut, serta menyebarkannya kepada seluas mungkin khalayak.
  • Kedua, mengusahakan terbukanya ruang dialog yang bebas dari konservatisme. Mereka yakin, terbukanya ruang dialog akan memekarkan pemikiran dan gerakan Islam yang “sehat”.
  • Ketiga, mengupayakan terciptanya struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi.

Selanjutnya Ulil menyebutkan ada tiga kaidah yang hendak dilakukan oleh JIL yaitu : pertama, membuka ruang diskusi, meningkatkan daya kritis masyarakat dan memberikan alternatif pandangan yang berbeda. Kedua, ingin merangsang penerbitan buku yang bagus dan yang berbeda. Ketiga, dalam jangka panjang ingin membangunsemacam lembaga pendidikan yang sesuai dengan visi JIL mengenai Islam. Layaknya sebagai “Jamaah”, JIL membuat kegiatan-kegiatan halaqah, diskusi, seminar, talk show dan lain-lain.

Secara terang-terangan Ulil mengakui bahwa pandangan yang dianutnya adalah pandangan Mu’tazilah meskipun dia mengelak menolak wahyu, bagi dia wahyu “berguna” dalam memperkaya wawasan akal manusia karena setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai “yang baik” dan “yang jahat”.

Jamaah Islam Liberal yang dihuni umumnya oleh anak muda NU mendapatkan keuntungan karena 1). berlindung dibawah “payung” Gus Dur (“nabinya” anak muda NU) 2). bersahabat dengan para Indonesianis (misionaris Barat- Neo Snouck Hurgroje) yang berjasa dalam membentuk pemikiran anak muda NU yang ndeso (anak kampung) yang menjadi santri kota seperti Herbert Feith, R.William Liddle, Sidney Jones, Greg Barton dll yang datang ke Indonesia untuk “mencekok” pemikiran orientalis Islam. 3). “akrab” dengan pemikiran Islam kontemporer Timur Tengah terutama pandangan Mu’tazilah yang dibawa ke Indonesia oleh Harun Nasution cs. Sehingga 3 faktor keuntungan itu akan sangat mudah mendapatkan berbagai fasilitas dari funding internasional sehingga dengan leluasa melaksanakan programnya dengan tidak pakai modal sendiri .

Agaknya memang “Jamaah” Islam Liberal ingin “meloncat” dari tradisi NU dan tradisi kebanyakan umat Islam di Indonesia yaitu “trilogi” Ahlussunnah Wal al-Jamaah (Syari’at pola Mazhab Syafii, Teologi Pola al-Asy’ari dan berakhlaq pola al-Ghazali) sehingga jamaah yang dipimpin Ulil ini mendapat reaksi keras dari sebagian umat Islam Indonesia. Bagi negara dengan adanya kelompok muda JIL seolah mendapat tenaga bantuan untuk “bahu-membahu” menghadapi kelompok Islam Fundamentalis, yang gencar mengsosialisasikan isu-isu formalistic, seperti Negara Islam dan Syari’at Islam .

Buku : Madu dan atau Racun

Buku adalah “gudang ilmu” suatu idiom yang tidak bisa disangkal akan keberadaan buku. Layaknya sebagai “gudang ilmu” tentu beragam ilmu disuguhkan dalam mungkin telah jutaan atau milyaran jenis buku. Bila idiom itu kita persempit kepada buku-buku Islam maka disitulah adanya “gudang ilmu Islam”, beragam kajian tentang Islam tampak menghiasi sampul-sampul buku yang menarik peminatnya untuk membaca.

Mulai tahun 1990-an (-penghujung tahun 1980-an) aliran deras buku-buku Islam menghiasi etalase-etalase “Gramedia” “Gunung Agung” “Palasari” sampai “Wagino” di pinggir trotoar masjid salman. “Buku Islam Laku Keras” tulisan Suara Hidayatullah pada edisi khusus Mei 2001, penerbit-penerbit Islam yang mempunyai kontribusi besar bagi dakwah diantaranya Gema Insani Press (GIP) Toha Putra, Pustaka Rizki Putra, Darul Falah, Pustaka Progresif, DES, Pustaka Azzam, Al-Izzah, Al-Qowwam, Pustaka Bandung, CV. Bulan Bintang, Asy-Syamil Press, Dipenogoro, Robbani Press, Media Dakwah, Pustaka Misykat, dll yang membidik tema-tema dakwah. Diluar itu ada penerbit yang menekankan pada khazanah pemikiran Islam seperti Mizan, yang getol menerbitkan kajian tasawuf seperti Pustaka Hidayah tak ketinggalan MQ Press yang secara ekslusif mencetak “tulisan-tulisan” AA Gym.

Beragamnya tema-tema buku Islam bisa merepresentasiakan khalayak masyarakat pembacanya, juga secara sederhana buku adalah dai bagi ”audien/mad’u pembaca”. Buku menjadi salah-satu faktor yang menghantarkan pada keberhasilan dakwah dalam beragam corak dan warna dakwah, selebihnya buku adalah salah satu bentuk economic interest atau “eksploitasi” agama untuk kepentingan ekonomi.

Apapun motif-nya, masyarakat pembaca telah “dimanjakan” dengan sajian-sajian pandangan pemikiran Islam yang tidak di peroleh dari podium-podium mimbar ceramahan, buku-buku memberikan kedalaman ilmu agama yang tidak ditemukan pada pengajian rutinan, hebatnya buku lebih banyak memperlihatkan sebagai “madu” daripada “racun”.

Buku apakah “madu” atau “racun” agaknya kembali kita dituntut untuk cerdas, siapa yang menyangka kebusukan zionisme yang berkantung tebal, “menyamar” menjadi buku yang bersampul “manis”.

Dunia Maya : berselancar di “situs” Islam

Sudah menjadi rahasia umum, selama ini internet dibanjiri oleh situs-situs maksiat, seperti situs judi dan situs porno, shingga kerap muncul apriori di kalangan Muslimin terhadap teknologi informasi ini.

Untung tidak semua bersikap demikian, ada yang lebih “bijak” dengan tidak menjauhi, tetapi justru mengisinya dengan risalah amar ma’ruf nahi munkar, sehingga kemudian lahir situs-situs Islam yang sengaja mewarnai dunia internet dengan sajian-sajian da’wahnya, dalam berbagai bahasa dan warna.

Beberapa tahun belakangan situs dakwah berbahasa Indonesia sudah bertengger di dunia maya. Kebanyakan dirilis oleh ormas Islam yang sudah dikenal dan lembaga-lembaga dakwah yang terkenal seperti http://www.Muhammadiyah.or.id, http://www.kisdi.com, http://www.hidayatullah.org. sejumlah harakah dakwah yang berafiliasi ke Timur Tengah, seperti Hizbut Tahrir, juga tak ketinggalan kiprahnya dengan situs http://www.alislam.or.id. Banyak kajian yang ditampilan dalam situs-situs Islam antara lain kajian Islam, Konsultasi, Tokoh Islam, Sejarah Islam dll. Sejak wabah portal di dunia maya beberapa tahun silam, muncul pula situs-situs yang mengklaim sebagai portal islam, yakni ww.sajadah.net, dan http://www.myquran.com. Masih banyak lagi situs-situs Islam yang menawarkan informasi yang beragam tentang Islam masing-masing punya keunikan tersendiri.

Semoga semuanya diabdikan untuk dakwah menegakan panji-panji Islam.

Kampus sebagai Muara dan Mata Air Gerakan Dakwah

Gerakan dakwah yang berkembang di Indonesia pada rentang waktu 1980-an sampai 1990-an tidak terlepas dari keadaan sosio politik dan gerak dakwah di tahun 1970-an. Seorang orientalis G.H. Jansen pernah mengatakan bahwa “Islam di Indonesia berkembang pesat salah satunya melalui masjid kampus”.

Ada anomaly dalam gerakan dakwah kampus. Pertama gerakan dakwah ini ibarat sungai-sungai yang terus mengalir sepanjang sejarah perjalanan bangsa Indonesia, ada sungai-sungai besar, ada sungai kecil ada pula selokan-selokan dengan beragam keadaan airnya, ada yang jernih, kuning ada pula air kotor. Semua sungai besar dan kecil akhirnya sampai pada satu muara dan kampus adalah salah satu Muara yang paling “eksis” dan “refresentatif” dari seluruh “benang kusut” gerakan dakwah.

Kedua gerakan dakwah kampus juga sebagai salah satu mata air yang mengalirkan “ruh” dakwah ke sungai-sungai yang melintas diantara kultur sosial masyarakat sekitarnya. Dakwah kampus seolah memberikan energi bagi kegairahan hidup beragama di tengah padang masyarakat yang semula gersang. Kampus menjadi fenomena tersendiri sebagai sebuah mesin peradaban yang mendorong roda-roda sosio politik ke arah perubahan, meskipun perubahan-perubahan sendiri masih tampak samar antara apakah perbaikan menuju kebaikan atau pergantian antar kejelekan “a” ke kejelekan “b”.

Kalau Indonesia terkenal dengan tanah yang subur – tongkat dan kayu jadi tanaman, maka kampus Indonesia menjadi lahan yang subur bagi segala macam pemahaman dan pemikiran.

Kampus dan Eksperimentasi Gerakan Dakwah

Dunia kampus adalah dunia pengetahuan, wawasan, pemikiran juga peradaban dunia kaum intelektual yang menjadi harapan masa depan bangsa. Kampus diisi oleh kelompok masyarakat menengah ke atas yang orientasi kebutuhan bukan pada masalah lutut dan perut tetapi kebutuhan isi kepala sehingga idealisme setidaknya bakal bisa tumbuh subur dilahan kampus.

Dunia kampus bisa menjadi pusat “perdagangan” peradaban. Pemikiran Barat dan Timur, Lokal dan International, Tradisional dan Modern semua bisa laku terjual di konsumsi dengan berbagai motivasi. Jika ada yang menyatakan ideologi tidak pernah mati, maka layaklah kita menyebutkan bahwa kampus tempat hidupnya ideologi komunis, islam dan nasionalis bahkan asosiasi diantara ketiganya. Kampus bisa menjadi laboratorium dari beragam eksperimentasi gerakan termasuk gerakan dakwah.

DDII Sebagai Katalisator Dakwah Kampus

Tak bisa dipungkiri geliat dakwah di kampus di awal tahun 1980-an tidak terlepas dari peran andil yang besar dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) . DDII memiliki agenda khusus untuk melakukan pembinaan masjid kampus di seluruh Indonesia. Masjid kampus diyakini sebagai wadah komunitas mahasiswa Islam yang dapat memadukan antara sains modern dengan nilai-nilai Islam. Pada tahun 1974 DDII meluncurkan program yang disebut dengan Bina Masjid Kampus, yang dirintis dengan mengkader penggerak dakwah oleh PHI (Panitia Haji Indonesia) dengan instrukturnya antara lain : M. Natsir, K.H. E.Z. Muttaqien, Dr. Rasyidi, Osman Raliby, Zainal Abidin Ahmad dll. Alumni PHI yang pertama diantaranya Bang Imad, A.M.Lutfi, Endang Saefudin Anshari (Alm), Ahmad Noe’man dll. Dari alumni PHI pertama selanjutnya menyelenggarakan kegiatan training yang sama di masjid kampus seluruh Indonesia.

Mengingat luasnya wilayah yang akan dijangkau oleh program ini, maka Bina Masjid Kampus ini menerapkan model koordinator wilayah. Artinya pada setiap wilayah ditunjuk orang-orang yang memiliki kapabilitas dan integritas untuk menjadi pusat informasi sekaligus sebagai penggerak dakwah. Adapun wilayah yang terbentuk diantaranya Yogyakarta dikoordinasi oleh M. Amien Rais, Kuntowijoyo, M.Mahyuddin; Bandung (Ahmad Sadili, Rudy Syarif Sumadilaga, Yusuf Amir Faisal); Jakarta (M.Daud Ali, Nurhay Abdurrahman), Ujung pandang/Makasar (Halidzi, Abdurahman Basala); Semarang (Kafiz Anwar cs). Dan wilayah Bogor ditunjuk A.M. Saefudin, Abdul Qadir Jaelani. Para koordinator wilayah yang menjadi penggerak dakwah ini umumnya adalah para dosen yang mengajar di kampus-kampus yang menjadi basis dakwah seperti UGM Yogyakarta, IKIP dan ITB Bandung, UI dan IKIP Jakarta, IPB Bogor, Universitas Hasanudin Makasar.

Pada tahun 1985, Dewan Dakwah membuat master plan pembangunan umat. Hai ini mengingat bahwa Ali Moertopo membuat sebuah master plan pembangunan bangsa. Master plan yang dibuat oleh Dewan Dakwah ini dirumuskan oleh tim dari alumni PHI yang tersebar di berbagai wilayah seperti Yogya (Amien, Kunto, Yahya Muhaimin, M.Mahyudin); Bandung (Yusuf Amier Faisal, Endang Saefudin Anshari); Jakarta (Ir. A.M. Lutfi, M.Nursal, Husein Umar). Yang tidak diikutkan dalam tim perumus adalah A.M. Saefudin (Bogor) dan Bang Imad (Bandung) karena terlalu “terbuka” dalam berdakwah.

Master Plan itu kemudian dikenal Khittah Dakwah Islam Indonesia. Yang diantara ini mukadimahnya disampaikan bahwa dakwah pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengubah seseorang, sekelompok orang, atau suatu masyarakat, menuju keadaan yang lebih baik sesuai dengan peraturan Allah dan tuntunan Rasul-Nya.

LMD, BKPMI dan Usrah ; Nuansa Dakwah Lokal

Program yang paling dikenal oleh para Mahasiswa di seluruh Indonesia dari Bina Masjid Kampus adalah LMD (Latihan Mujahid Dakwah) sejak tahun 1974 yang dipimpin oleh M. Imaduddin Abdurrahim – Bang ‘Imad, Sebuah pelatihan keisalaman yang dilaksanakan selama 3-5 hari yang bermula di laksanakan di Masjid Salman ITB selanjutnya menyebar ke setiap kampus di Indonesia. LMD bertujuan untuk mencetak kader-kader yang siap terjun dalam dakwah yang saat itu dikenal dengan “Islamisasi Kampus”.

Dr.Ir. Hermawan K.Dipojopo.M.Sc.EE (Ketua Umum Badan Pelaksana Yayasan SALMAN) mengungkapkan pengalamannya masa mahasiswa ketika mengikuti LMD ketiga yang sebagian besar ditangani oleh Bang ‘Imad beserta Drs. Miftah Faridl (sekarang K.H. Dr. Miftah Faridl) : “ Hari pertama, yaitu acara pembukaan, saya terhenyak dengan pernyataan Bang ‘Imad, “ Nasi yang saudara makan itu berasal dari infaq dan sedekah umat, dan saudara akan mempertanggungjawabkannya di akherat nanti. Oleh karena itu, jika Saudara tidak sanggup, lebih baik segera mengundurkan diri saja secepatnya dari kegiatan ini”. Kegiatan ini berlangsung lima hari dan diakhir acara setiap peserta dibaiat untuk taat kepada Allah SWT dan Rosul-Nya serta berjanji untuk senantiasa berusaha menegakan nilai-nilai ajaran Islam. Bagi mereka yang tidak bersedia dibaiat, dipersilahkan mengundurkan diri . Agaknya pengalaman Bapak Dipo memberikan gambaran bagaimana kuatnya sikap militansi Islam yang ditanamkan Bang ‘Imad terhadap para mahasiswa peserta LMD yang dampaknya masih membekas pada setiap alumni LMD khususnya yang masih komitmen terhadap perjuangan Islam.

Selain LMD yang dipimpin oleh Bang Imad, pada tahun 1976 di Bandung juga di dirikan sebuah organisasi yang dinamai Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI) oleh Toto Tasmara bersama K.H. E.Z. Muttaqien dan Toto Tasmara terpilih sebagai ketua umumnya. Di tahun 1983 BKPMI mengsosialisasikan system pembinaan usrah selain di Bandung juga di Surabaya dan Yogyakarta. Dalam perkembangannya metode usrah sangat diminati oleh para aktivis pemuda Islam. BKPMI cabang Yogyakarta bahkan lebih intensif dalam melakukan usrah hingga akhirnya keluar dari rel organisatoris BKPMI. Bahkan sudah ditambahi bai’at sehingga menjadi sangat eksklusif. Adapun kelompok lain yang menggunakan system usrah adalah kelompoknya Irfan S. Awwas yang berkembang di tahun 1980-an di Jawa Tengah. Selanjutnya kelompok usrah dicurigai oleh pihak keamanan terutama intelejen karena disinyalir mempunyai motif politik yaitu akan mendirikan negara Islam , yang selanjutnya pihak keamanan bertindak refresive dengan menangkap para aktivis yang tersangkut pengajian usrah baik di Bandung, Yogyakarta dan kota-kota di Jawa Tengah.

PKS SEBUAH FENOMENA (Eksperimen “Metamorfosis” Dakwah Kampus ke Dakwah Negara

PKS adalah salah satu realitas perjalanan bangsa Indonesia umumnya, Umat Islam Khususnya dan bil khusus aktivis muda Islam yang harus diketahui asal usulnya supaya kita bisa obyektif memahami dan menilainya.

Kehadiran PKS dalam kancah politik Indonesia cukup menghentakan banyak kalangan di Indonesia maupun luar negeri, beragam tanggapan para pujangga politik ( nama lain pengamat politik) atas keberhasilan PKS masuk pada 10 besar yang mengisi kursi-kursi empuk senayan maka layaklah PKS menjadi salah satu kejadian FENOMENAL TAHUN 2004 untuk katagori Selebritis Politik selain INUL untuk Katagori Selebritis Dangdut.

Dari Mana Metamorfosis PKS berawal?

Ustadz Anis Matta Lc (Sekjen PKS) memberikan rujukan bahwa dalam diri PKS mengalir “ruh perjuangan” Al-Ikhwanul Muslimim (IM) dalam dua dimensi yaitu IM sebagai inspirator ideologis dan IM sebagai Inspirator histories. Lalu bagaimana kita memahaminya? Secara sederhana kami sedikit terbantu dengan sebuah buku yang hadir pada bulan Mei 2004 : PARTAI KEADILAN SEJAHTERA : Ideologi dan Praksis Politik Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer Karya Aay Muhammad Furkon yang diterbitkan oleh Teraju Mizan.

Dalam buku ini Metamorfosis PKS terbagi pada tiga periode yaitu periode pertama 1980 – 1990 sebagai periode pembinaan diri dan keluarga, kedua 1990-1998 sebagai periode pembinaan masyarakat (society) dan ketiga 1998- sekarang sebagai periode pembinaan negara (state) meskipun diakui pembagian periode ini tidak rigid. Dalam tulisan ini hendak kami tampilkan embrio PKS pada kisaran 1980-1990 yang merupakan titik awal mengetahui motiv dari tumbuhnya PKS sebagai Partai Dakwah.

Bermula dari mulai menggeliatnya dakwah kampus di tahun 1980-an muncul aktivis-aktivis dakwah kampus di UI, IKIP Bandung, ITB, UNPAD, UGM dll yang menggugah kesadaran kaum muda untuk memahami islam dengan benar. Diantara geliat dakwah tersebut muncul salah-satu yang nantinya menjadi salah seorang pendiri PK yaitu Aus Hidayat Nur Mahasiswa UI Jurusan Sastra Arab alumni LMD (Latihan Mujahid Dakwah) Masjid Salman yang dikomandani oleh Bang Imad. Aus merintis pengajian kecil di kampus UI yang diberi nama Tadabur. Meski training LMD sangat membekas bagi dirinya, Aus menyadari bahwa untuk selanjutnya ia tidak mungkin mengandalkan Salman, karena itu dirinya melakukan pencarian selanjutnya, dalam pencariannya ia bertemu dengan Buya Malik Ahmad, atas bimbingan Buya, Aus gencar melaksanakan dakwah kampus yang kelak suatu hari generasi mahasiswa angk 80-an ini berperan dalam melahirkan PKS. Pengajian Tababur semakin semarak memasuki tahun 1983 yang selanjutnya dikenal dengan nama Halaqah, entah sebuah kebetulan atau sesuatu yang terencana kelompok Halaqah ini mendapat bimbingan dari selain (almarhum) Buya Malik Ahmad tetapi juga Ustadz H. Rahmat Abdullah dan Ustadz Hilmi.

Perkembangan kelompok tarbiyah ini bisa dikatakan sangat cepat, tak sampai 10 tahun jaringannya sudah ada di hampir semua universitas di Indonesia maupun kantor-kantor pemerintahan (Padahal seperti kita ketahui bahwa pada masa tahun 80-an adalah masa keemasan Ali Murtopo tink tank-nya Orde Baru yang sangat represif bagi gerakan Islam di Indonesia, yang dalam salah satu buku al-Khaidar di katakan Politik Ali Murtopo terhadap Umat islam dikenal dengan politik pancing dan jaring. Mungkin kelompok Halaqah mengalami keberuntungan (Lucky) dibanding kelompok dakwah lainnya senantiasa kehabisan nafas untuk berajak dan bergerak.

Romantika Politik Islam Masa Orde Baru

Politik Islam, Dakwah dan Negara

Disharmoni antara politik Islam, Dakwah dan Negara (Institusi politik) adalah realitas yang tak bisa disangkal, tak ada yang linier apalagi sinergis antara ketiganya (Politik Islam, Dakwah dan Negara) baik dalam tataran konsepsi maupun aksi. Ketiganya bisa berjalan sendiri-sendiri, bisa pula berjalan paralel atau berjalan seri, bisa juga berjalan berhadap-hadapan politik Islam kontra dakwah, dakwah kontra negara, negara kontra politik Islam bisa juga politik Islam dan dakwah kontra negara, negara dan dakwah kontra politik Islam, atau negara dan politik Islam kontra dakwah.

Tidak ajegnya hubungan politik Islam, Dakwah dan Negara salah satu sebab yang telah disebutkan diatas adalah tidak adanya “Unity of command”, dan sebab lainnya karena corak Islam yang multi interpretasi sebagai hasil dari perjalanan sejarah Islam dalam eskalasi global dunia maupun lokal keindonesiaan. Ketidak ajegan juga dikarenakan tindakan musuh-musuh Islam baik dengan metode persuasive, refresive maupun aksi militeristik yang terus-menerus berupaya “memenjarakan” dan “membunuh” Islam dan Umat Islam sebagai sesuatu yang dianggap tidak layak dan tidak pantas hidup di muka bumi.

Realitas kehidupan sebagai umat manusia yang diwajibkan oleh Allah swt untuk berbakhti memenuhi kehendak Ilahi seakan ada di wilayah samar keadaan yang diliputi hijab yang tumpang tindih dari gradasi hitam pekat, hitam, kehitam-hitaman sampai putih kehitaman (meski tidak beranjak dari kenyataan “hitam”). Kebingungan, ketidak mengertian, tak sadarkan diri sampai keadaan “mati suri” dialami oleh masyarakat (Islam) yang heterogen dalam pemahaman, keyakinan sampai pengamalan. Sesuatu yang mestinya tidaklah sedemikian parahnya seperti sekarang ini, keadaan umat yang “bergantung tak bertali”.

Romantika Politik Islam Masa Orde Baru

Rejim Orde Baru yang dipimpin Soeharto merupakan hasil dari “CPM (Cudeta Politik Militer)” terhadap Soekarno, telah membuat stempel sejarah dengan menjadikan dua tregedi sejarah yang terjadi di masa Orde Lama yaitu berdirinya NII 1949 (-“pemberontakan DI/TII”) dan G 30 S/PKI 1965 sebagai stempel negara untuk mengokohkan dan mempertahankan kekuasaan sosio politiknya. Stigma yang dibuat secara sistemik menjadikan “ekstrim kanan” NII dan “ekstrim kiri” PKI sebagai monster yang membahayakan bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara (Baca : Orde baru).

H. Hartono Mardjono S.H., (Alm) menangkap fenomena unik yang terjadi pasca penumpasan G 30 S/PKI 1968-an dalam kehidupan sosial politik bangsa Indonesia. Setidakanya ada tiga fenomena unik diantaranya :

  • Pertama, ditengah-tengah kehidupan sehari-hari gairah masyarakat untuk mempelajari dan mengamalkan Islam memang luar biasa. Semua masjid penuh sesak pada setiap shalat Jum’at dan pada saat-saat Shalat Taraweh dan Shalat Ied. Di kantor-kantor, gedung-gedung, sekolah-sekolah, kampus-kampus maupun hotel diselenggarakan shalat Jum’at dan pengajian-pengajian, jumlah jama’ah Haji terus meninggat.
  • Fenomena kedua, dikantor-kantor pemerintah maupun perusahaan swasta dan kampus terjadi pembersihan terhadap sisa-sisa yang tersangkut langsung maupun tidak dengan G30S/PKI terus dilakukan.
  • Fenomena ketiga, adanya satu kekuatan yang sikap dan tindakannya sangat tidak menyenangkan Islam serta selalu berupaya menyingkirkan Umat Islam dari pemerintahan yang mengelilingi Soeharto sebagai pimpinan Orde Baru. Klik atau kelompok kecil itu berada di bawah pimpinan Ali Moertopo, asisten pribadi bidang politik pimpinan Orde Baru disamping menjadi pemimpin Operasi Khusus (Opsus), sebuah badan ekstrakonstitusional yang melakukan operasi-operasi khusus dengan cara-cara intelejen. Dalam prakteknya OPSUS merupakan invisible government yang dapat melakukan segala macam tindakan, termasuk merekayasa kehidupan sosial politik sehingga peranannya sangat besar dan ditakuti rakyat.

Sebenarnya telah terjadi dua fenomena yang kontradiktif. Disatu pihak, Islam sangat diminati dalam kehidupan masyarakat, sekaligus dipelajari, dan diamalkan. Bahkan potensi umatnya sangat diperlukan dalam menumpas pemberontakan PKI. Akan tetapi, ibarat anomaly, di dalam masalah politik hal itu menjadi lain sama sekali.

Kuntowijoyo , menyatakan bahwa hubungan antara Islam dan negara sebagian ajeg sebagian naik-turun. Menurutnya Kita “terpaksa” membedakan agama (Islam) sebagai kekuatan politik dan Islam sebagai Ibadah. Politik Islam demikian sudah dijalankan pada peralihan abad ke-20 oleh pemerintahan Hindia Belanda atas anjuran C. Snouck Hurgroje (Baca H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta: LP3ES, 1985) “Islam Politik” ditekan, “Islam Ibadah” di angkat. Hasilnya? Lahirnya SI (Syarekat Islam) pada tahun 1911 berkat mobilitas social kelas menengah terpelajar dan usahawan yang menjadikan Islam sebagai Aqidah dan Ideologi.

Sadar atau tidak rupanya Orde Baru memakai politik islam made in C. Snouck Hurgronje sepanjang 1970-1990. Kepada “Islam Politik” Orde Baru hubungannya diwarnai kecurigaan, dan kepada “Islam Ibadah” sepanjang tahun 1970 – 1990 menunjukan kenaikan terus menerus.

Dr. Din Syamsudin melihat hubungan “Islam Politik” dan pemerintahan Orde Baru diantaranya menyebutkan bahwa masa sepuluh tahun pertama (1966-1976) merupakan “masa pengkondisian” dimana terjadi depolitisasi terhadap kalangan Islam. Sepuluh tahun kedua (1976-1986) muncul apa yang disebut “masa uji coba” yang meniscayakan kalangan Islam menerima Pancasila sebagai asas tunggal dalam berbagai organisasi sosial politik .

Sementara R. William Liddle, Indonesianis asal Amerika, menyebutkan bahwa akhir 1960-an sampai pertengahan tahun 1980-an merupakan masa yang sangat berat bagi umat Islam, dalam posisinya sebagai kambing hitam tercetusnya berbagai peristiwa di tingkat nasional. Namun sejak pertengahan 1980-an, kebijakan politik Orde Baru melalui perlawanan yang bersifat manifes. Dalam hal ini, berkembang berbagai model koreksi dan kontrol terhadap jalannya kekuasaan melalui cara-cara yang terbuka dan artikulasi terus-terang.

Berbagai telaah tentang hubungan umat Islam dengan pemerintahan Orde Baru ternyata bermuara pada kesimpulan yang sama, yaitu diwarnai pasang surut. Responsifitas panggung politik Orde Baru terhadap Umat islam secara umum yang berdampak pada gerakan dakwah Islam secara khusus mengalami 3 masa peralihan.

Marginalisasi Islam Dari Panggung Politik Orde Baru (1968 – 1988)

Kuntowijoyo menuliskan tentang “Islam Politik” (istilah yang dipakai beliau tentang Politik Islam) dimana mitos politik tentang pembangkangan Islam sangat terpateri dalam kesadaran sejarah bangsa, yaitu sejak kerajaan-kerajaan tradisional (dengan “Kudeta” para wali melahirkan Kerajaan Demak) Zaman Belanda dengan PerlawananGerakan Islam), dan NKRI dengan (“DI/TII”) yang menyebabkan pengambil kebijakan Orde Baru bersikap sangat kritis terhadap “Islam Politik”. Demikianlah sepanjang tahun 1970 –1988 kata-kata “ekstrem kanan”, “NII”, “mendirikan Negara Islam”, “SARA” dan “Anti Pancasila” sangat gencar dituduhkan pada “Islam Politik”. Berjatuhan korban-korban di Nusakambangan, Cipinang, dan tempat-tempat lain.

Kalangan umat Islam, khususnya keluarga besar eks-Masyumi merasa sangat kecewa atas sikap dan kebijakan pemerintahan Orde Baru pada rentang tahun 70-an. Orde Baru telah melarang kehadiran kembali Masyumi, sementara Ali Moertopo dan kawan-kawan selaku invisible government melakukan rekayasa politik untuk mengubah status Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) sebagai partai politik dengan dukungan penuh ABRI dan birokrasi. Hal lain yang patut dicatat adalah adanya slogan atau doktrin yang disiapkan Ali Moertopo Cs dan kemudian selalu didengung-dengungkan di tengah masyarakat bahwa “Islam sangat membahayakan kelangsungan hidup Pancasila”, bahwa “Politik No, Pembangunan Yes”, “Rakyat harus menjadi floating mass” serta bagi pegawai negeri dan karyawan BUMN berlaku asas monoloyalitas mutlak kepada Golkar, bukan kepada bangsa dan Negara”.

Apa yang terjadi di tahun 1980-an dalam rangkaian peristiwa politik Orde Baru, diantaranya yang penting dicatat :

  • Tanggal 16 Agustus 1982, Presiden Soeharto dengan resmi mengemukakan gagasan “Asas Tunggal Pancasila” di depan sidang pleno DPR RI yang kemudian tertuang dalam Tap II/MPR/1983, tentang GBHN yang mengatur kehidupan sosio politk, yang menegaskan : “… demi kelestarian dan pengamalan Pancasila, secara partai politik dan Golongan Karya harus benar-benar menjadi kekuatan sosial politik yang hanya berasaskan Pancasila, sebagai satu-satunya asas.”
  • Sementara itu Menteri Agama RI pada tanggal 6 November 1982 menyatakan “Wadah Musyawarah antar Umat Beragama” yang diakui oleh pemerintah sebagai lembaga, terdiri dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) DGI (Dewan Gereja Indonesia), MAWI (Majelis Agung Wali Gereja Indonesia), PHDP (Parasida Hindhu Dharma Pusat) dan WALUBI (Perwalian Umat Budha Indonesia). Sementara majelis agama dan organisasi kemaysrakatan mempunyai asas keyakinan menurut agama masing-masing dengan tetap tidak mengabaikan penghayatan dan pengamalan Pancasila, sebab tujuan mereka ialah “ …Untuk membina umatnya masing-masing agar menjadi pemeluk/pengikut agama yang taat, sekaligus warga negara yang Pancasilais”.
  • Selanjutnya Menteri Pemuda dan Olah Raga, Abdul Gafur mendesak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang bukan parpol untuk merubah Anggaran Dasar Organisasinya dalam Kongres HMI di Medan, menjadikan Pancasila sebagai asas.
  • Pemerintah Orde Baru mengajukan RUU tentang Organisasi Kemasyarakatan yang menegaskan pasal 2 berbunyi : “Organisasi kemasyarakatan berasaskan Pancasila sebagai satu-satunya asas”. Dan RUU tersebut disahkan menjadi UU oleh DPR.

Menarik untuk dicermati respon M. Natsir (alm) terhadap perkembangan politik pemerintahan Orde Baru tahun 1980-an pada Panji Masyarakat No. 542 Juni 1987 beliau menyatakan : “ Dulu Islam dan Pancasila ibarat dua sejoli, “kerabat kerja” yang bersama-sama tampil ke depan dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup bermasyarakat dan bernegara. Sementara itu zaman beredar, musim berganti. Sekarang (1980-an) kelihatan duduk berdampingan saja tidak diperbolehkan lagi. Selanjutnya beliau menyatakan “ adapun perspektif di zaman seterusnya banyak sekali tergantung kepada umat Islam sendiri. Kepada kemampuannya memulihkan rasa-harga-diri, dan kualitas kegiatannya menghadapi ujian masa. Tidak ada yang tetap dalam hidup –duniawi ini. Yang tetap hanya terus beredarnya perubahan.

Masa Orde Baru yang akomodatif terhadap Islam (1988 – 1996)

Bila Dasawarsa 1970-an dihiasi dengan adanya peristiwa Komando Jihad (Komji), 1984 terjadi Peristiwa Tanjung Periok, tahun 1989 ada GPK Lampung. Pada tahun 1990-an istilah “Islam phobi” balik digunakan untuk orang-orang yang mencoba mendeskriditkan Islam maka sejak itu menurut Kunto gugurlah mitos-mitos politik pembangkangan Islam. Umat merasakan kembali hak sebagai warga negara penuh, umat Islam bukan lagi Underdog.

Diawali pada periode Kabinet Pembangunan V (1988-1993) dan diteruskan pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998), kebijakan politik Mandataris MPR yang akomodatif terhadap Islam memang dapat dilihat dan dirasakan. Islam dan umat tidak “lagi” dipinggirkan dan disudutkan dari kekuasaan politik sehingga ajaran-ajarannya mulai dirasakan manfaatnya bagi kepentingan pembangunan dan kehidupan bangsa Indonesia . Keadaan sosio politik pasca 1988 berpengaruh pula terhadap adanya iklim kondusif bagi berkembangnya gerakan dakwah.

Sikap akomodatif pemerintah terhadap umat Islam diantaranya :

  1. Disetujuinya Inisiatif pemerintah yang mengajukan RUU Sistem Pendidikan Nasional kepada DPR dan menjadi UU Sistem Diknas yang salah satu ketentuan dalam UU tersebut tercantum adanya Pendidikan Agama menjadi mata pelajaran wajib yang harus diberikan kepada anak didik dari Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi.
  2. Disyahkannya UU Peradilan Agama yang memuat bahwa bagi mereka yang beragama Islam berlaku hokum Islam dalam masalah perkawinan, warisan, waqaf, hibah dan sedekah.
  3. Disyahkannya UU Perbankan tentang keberadaan Bank Muamalat Indonesia dengan system Ekomoni Syari’at dan diperbolehkannya berdirinya Bank-bank yang berdasarkan system ekonomi syari’at, maka berdirilah Bank-bank Perkeriditan Syari’at (BPR Syariah).
  4. Penghapusan larangan mengenakan Jilbab. Sebelum SU MPR 1988, sejak tahun 1978 di lingkungan sekolah oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daud Yusuf yang juga Direktur CSIS melarang siswa Muslimah mengenakan Jilbab yang berdampak pada banyaknya korban yang dikeluarkan oleh pihak sekolah. Kebijakan ini mendapat reaksi yang sangat keras dari Umat Islam yang akhirnya larangan mengenakan jilbab di hapus oleh pemerintah.
  5. Penghapusan Judi SDSB seusai SU MPR 1988.
  6. Berdirinya ICMI yang diketuai oleh Prof. Dr. Ing B.J. Habibie yang juga selaku Menristek pada tahun 1990. Dengan hadirnya ICMI berdampak pada akomodatif pemerintah terhadap umat Islam.
  7. Dijadikannya IMTAK (Iman dan Takwa) sebagai asas Pembangunan Nasional dalam GBHN 1993 yang merupakan produk SU MPR 1993.
  8. Melemahnya kekuasaan “RMS” (Radius, Mooi, Sumarlin) pada Kabinet Pembangunan VI tahun 1993 dan digantikan perannya oleh Saleh Afif dan Mar’ie Muhammad, serta banyak menteri baru dari ICMI, sehingga menguatnya isu Islamisasi atau “penghijauan” di pemerintahan.

Mendekatnya Soeharto ke Islam adalah realitas politik yang dihadapi pada masa ini. Menurut sejumlah pengamat, bergesernya sikap politik Soeharto yang lebih cenderung ke Islam memunculkan tiga kemungkinan. Pertama adanya kooptasi pemerintah terhadap umat Islam. Pemerintah sebagai subyek menjadikan umat Islam sebagai obyek dan dimanfaatkan untuk tujuan politiknya.

Kedua, adanya akomodasi pemerintah terhadap umat Islam. Pemerintah menyadari akan kekeliruannya di masa lalu. Sebagai balasannya, pemerintah mengakomodasi kepentingan umat Islam dengan cara mendekati, merangkul umat Islam dan memberikan tempa yang layak di dalam inner circle kekuasaan.

Ketiga, suatu bentuk integrasi umat ke pemerintah. Disini posisi umat sebagai pihak yang pro-aktif terhadap pemerintah. Umat Islam sebagai subyek melakukan integrasi ke dalam lingkar kekuasaan. Hal ini dapat juga dibaca sebagai keberhasilan umat Islam membuat jaringan dakwah hingga menembus lapisan kekuasaan tertinggi, yakni presiden .

Sulit untuk melihat dari tiga kemungkinan itu mana yang benar karena sejarah politik Islam di Indonesia tidak pernah terlepas dari idiom “pendorong mobil mogok” “habis manis sepah dibuang” atau politik “NU (Nurut Udud)”.

Periode Pra Reformasi (1996 – 1998)

Ketika M. Amien Rais di tahun 1996 menggelindingkan istilah “suksesi” kepemimpinan sebagai high politic, yang menentang arus dari kenyataan politik yang ada. Ada semacam ketidaksiapan pergantian kepemimpinan nasional dalam hal ini jabatan presiden yang telah 30 tahun di jabat oleh Soeharto, padahal pada saat itu Soeharto telah berusia 75 tahun sehingga adalah hal yang wajar untuk mempersiapkan siapa pengganti beliau. H. Hartono Mardjono, S.H. menyebutkan bahwa masa tahun 1996-1998 adalah masa yang kritis karena akan mengalami beberapa peristiwa diantaranya : (1) Sisa masa kepresidenan periode 1993 – 1998, (2) Pemilihan Umum pada Mei 1997 dan (3) Sidang Umum MPR pada Maret 1998.

Disaat situasi kondisi seperti ini, timbul fenomena politik yang berkaitan dengan rasionalisasi dan proporsionalisasi dalam penataan kehidupan politik, yaitu timbulnya perasaan tersingkirnya kalangan nasionalis sekular dan Islamo phobi dari pusat-pusat kekuasaan. Dalam kepemimpinan ABRI misalnya telah terjadi pergantian pemimpin dari “ABRI merah-putih” kepada “ABRI hijau”, di dalam lembaga MPR/DPR tersebar isu bahwa elit politik sedang menjalankan kebijakan “menghijau royo-royokan MPR/DPR”, terlebih dalam jajaran eksekutif sejak 2 kabinet terakhir tahun 1988 – 1993 dan 1993 – 1998 menguatnya peran “orang-orang Habibie” atau ICMI yang menggeser kelompok Islamo Phobi “RMS” (Radius, Moi, Sumarlin) yang di awal pemerintahan Orde Baru kelompok ini (RMS) dan kekuatan militer “Dwi Fungsi ABRI” yang dikendalikan oleh Jenderal L.B.Moerdani telah menciptakan stabilitas nasional yang semu.

Ide “suksesi kepemimpinan” yang disampaikan oleh Amien Rais dan selanjutnya di usung oleh gerakan mahasiswa yang menjadi “lokomotif” reformasi seperti bola salju yang terus menggelinding ke segenap aspek kehidupan – krisis moneter berlanjut ke krisis ekonomi, krisis politik akhirnya berdampak krisis multidimensional yang pada akhirnya membuahkan jatuhnya kekuasaan Orde Baru (Soeharto) Mei 1998.

“Kebingungan” Politik Islam Masa Reformasi

Belum habis periode “bulan madu” akomodatif kalangan “Islam Politik” oleh negara (Orde Baru) yang berlangsung sejak akhir tahun 1980-an atau awal tahun 1990-an, tiba-tiba saja situasi politik berubah menjadi sangat membingungkan dengan jatuhnya Soeharto pada 21 Mei 1998. Soeharto, yang pada awalnya dipahami oleh kalangan Islam Politik sebagai “pintu”, “instrument”, bahkan “patron” dalam upaya memperbesar akomodasi dan representasi politik Islam, tiba-tiba diposisikan sebagai musuh bersama publik, bahkan oleh sebagian besar kalangan Islam sekalipun. Sementara B.J. Habibie (yang untuk sebagian kalangan dipahami sebagai simbol Islam) , sebagai pengganti Soeharto dalam pemerintahan transisi belum siap sepenuhnya menjadi penguasa baru, secara tiba-tiba mesti dipaksakan menjadi “pintu”, “intrument”, atau “patron” baru , Habibie menurut pandangan Ahmad Syafii Maarif seorang yang baik, tetapi datang pada waktu yang salah (a right man on the wrong time).

Eep Saefulloh Fatah menilai bahwa partisipasi politik umat Islam masa reformasi berangkat dari kebingungan terhadap peran dan aksi apa yang harus diambil sehingga terjadi “kekeliruan politik kalangan Islam” yang sebetulnya bukan sebagai kekeliruan baru tetapi kekeliruan lama yang berulang, akibatnya kalangan Islam tetap “Gapol”-Gagap politik.

Ada duapuluh lima kekeliruan politik kalangan Islam menurut Eep diantaranya :

  1. Senang membuat kerumunan, tidak rajin menggalang barisan
  2. Suka marah, tidak suka melakukan perlawanan
  3. Reaktif, bukan proaktif
  4. Suka terpesona oleh keaktoran, bukan oleh wacana atau isme yang dimiliki/diproduksi sang aktor.
  5. Sibuk berurusan dengan kulit, tidak peka mengurusi isi.
  6. Gemar membuat organisasi, kurang mampu membuat jaringan.
  7. Cenderung memahami segala sesuatu secara simplistic, kurang suka dengan kerumitan-kecanggihan padahal inilah adanya segala sesuatu itu.
  8. Sering berpikir linier tentang sejarah, kurang suka bersusah-susah memahami sejarah dengan rumus dialetika atau sinergis.
  9. Enggan melihat diri sebagai tumpuan perubahan, sebaliknya cenderung berharap, perubahan dari atas/para pemimpin.
  10. Senang membuat program, kurang mampu membuat agenda.
  11. Cenderung memahami dan menjalani segala sesuatu secara parsial, tidak secara integral (kaffah).
  12. Senang bergumul dengan soal-soal jangka pendek, kurang telaten mengurusi agenda jangka panjang.
  13. Terus-menerus “menyerang musuh” di markas besarnya, abai pada prioritas pertama “menyerang musuh” pada gudang amunisinya.
  14. Kerap menjadikan politik sebagai tujuan, bukan sebagai alat.
  15. Senang mengandalkan dan memobilisasi orang banyak atau massa untuk segala sesuatu, abai pada fakta bahwa perubahan besar dalam sejarah selalu digarap pertama-tama oleh creative minority .
  16. Senang berpikir bagaimana memakmurkan masjid, kurang giat dan serius berpikir bagaimana memakmurkan jamaah mesjid.
  17. Senang menghapalkan tujuan sambil mengabaikan pentingnya metode, tidak berusaha memahami dengan baik tujuan itu sambil terus menerus mengasah metode.
  18. Senang merebut masa depan dengan meninggalkan hari ini atau merebut hari ini tanpa kerangka masa depan, bukannya merebut masa depan dengan mencoba merebut hari ini.
  19. Sangat pandai membongkar-bongkar, kurang pandai membongkar pasang
  20. Sangat cepat dan gegabah merumuskan musuh baru (dan lama), sangat lamban dan enggan merangkul kawan baru.
  21. Gegap gempita di wilayah ritual, senyap di wilayah politik dan sosial.
  22. Selalu ingin cepat meraih hasil, melupakan keharusan untuk bersabar.
  23. Senang menawarkan program revolusioner tapi abai membangun struktur revolusi.
  24. Selalu berusaha membuat politik hitam putih, bukan penuh warna tak terhingga, dan
  25. Sangat pandai melihat kesalahan pada orang lain, kurang suka melakukan intropeksi .

Gerakan Dakwah Partisipatif

Wacana Dakwah

Karakteristik ajaran Islam yang multidimensional sebagai ajaran hidup Ilahiyah, dalam perjalanan sejarah umat Islam, sampai saat ini melahirkan pandangan terhadap Islam yang multi interpretasi baik yang menyangkut aspek aqidah/tauhid, syari’at maupun akhlaq/tassawuf terlebih lagi dalam kajian sejarah Islam banyak sekali interpretasi terhadapnya. Multi interpretasi terhadap ajaran Islam tidak hanya pada tataran furu’iyah (cabang) tetapi juga masuk pada tataran Ushul (pokok). Interpretasi yang seharusnya menjadi rahmat yang membawa berkah bagi kehidupan kaum muslimin khususnya dan kehidupan manusia di dunia secara umum, karena watak ajaran Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin. Tetapi kenyataan interpretasi terhadap ajaran Islam membuahkan perpecahan tafarruk di kalangan kaum muslimin bahkan menjadi musibah bagi sebagian golongan mustad’afin-yang tertindas.

Jika pada masa Rasululloh saw terdapat ”unity of command” kesatuan komando dalam mengejewantahkan ajaran Islam pada segala bentuk dan aspek kehidupan yang menyangkut diri, keluarga, masyarakat dan negara, sehingga Islam bisa mempersatukan umat manusia di dunia dalam kesatuan keyakinan, kesatuan masyarakat/ummat dan kesatuan negara sampai kesatuan khilafah.

Maka perjalanan sejarah umat Islam selanjutnya diwarnai oleh noda-noda pertikaian, embrio perpecahan dan cikal bakal pertentangan yang menjadi bom waktu ketika kesatuan komando Kekhilafahan Islam telah hapus tertelan kedzoliman dan keserakahan para musuh-musuh Allah, musuh Rosul dan musuh orang-orang beriman.

Tidak adanya kesatuan komando/kepemimpinan secara integralistik antara aspek kepemimpinan politis/negara/khilafah, aspek kepemimpinan intelektual dan aspek kepemimpinan spiritual seperti yang diperankan oleh Rosulullah saw, menyebabkan ajaran Islam dan umat Islam mengalami tafarruk multidimensional.

Sudah lama umat Islam telah mencanangkan abad 15 H sebagai abad kebangkitan Islam, saat para Hamba Allah yang Sholeh tampil sebagai aktor yang memimpin bumi sebagai Khalifah, saat Islam terbebas dari berbagai fitnah, saat keadilan Allah tegak di muka bumi. Daya upaya untuk membentuk “wihdatul ummah”– kesatuan ummat Islam hanya bisa ditempuh dengan satu jalan yaitu DAKWAH.

Dakwah adalah pijakan perjuangan yang dilakukan oleh para Rosul- Utusan Allah untuk menata kehidupan manusia sesuai dengan kehendak Al-Khaliq. Dakwah itupulalah yang wajib dijadikan pijakan oleh para pelanjut, penerus dan pembela Rosululloh saw yang mencita-citakan Baldah Thoyyibah wa Robbun Ghofur.

Tantangan dakwah ditengah keadaan Islam dan umat Islam yang mengalami Tafarruk Multidimensional tidaklah sesederhana seperti pengertian dan filosofis dakwah secara teoritis dan bersifat linier dai-mad’u dalam suatu proses komunikasi timbal balik, tetapi tututannya adalah diantaranya adanya kemampuan dalam memahami peta wilayah dakwah.

Indonesia dalam struktur geopolitis mesti dipahami oleh pelaku dakwah yang mencita-citakan tanah tumpah kelahirannya mendapatkan ampunan, rahmat, karunia dan berkah dari Allah SWT. Terlebih lagi dimasa krisis multidimensional sekarang ini telah pantas dan layak umat Islam menunjukan peran untuk menjadikan ajaran Islam sebagai solusi alternatif satu-satunya yang mampu memperbaiki tata kehidupan masyarakat dan negara Indonesia.

Ajaran Islam yang integralistik menyangkut pula aspek sosio politik memberikan konsekuensi logis akan bersinggungannya antara kepentingan gerakan dakwah dengan kepentingan negara sebagai institusi politik.

Ada akar historis yang bisa kita cari pelajaran sejarahnya –Ibrah tentang relasi-hubungan gerakan dakwah dengan kehidupan negara meskipun potret hubungannya seperti benang kusut yang perlu di urut dan diurai dengan baik dan benar.

Gerakan Dakwah Partisifatif

Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam membutuhkan suatu iklim kehidupan berkenegaraan yang mampu menciptakan kesejukan, kenyamanan, ketentraman dan kebersamaan dalam suatu keberbedaan Agama, Suku, Bahasa serta Adat Istiadat. Semangat “Ke-Bhineka Tunggal Ika-an” telah dirintis oleh the Founding Father Bangsa Indonesia dengan duduk bersamanya para tokoh Nasionalis Sekuler dan Nasionalis Islam dalam wadah BPUPKI untuk merumuskan dasar system hidup bernegara (Baca Piagam Jakarta, Rajawali Press/ Gema Insani Press , K.H. Endang Saefudin Ansyari M.A.), semangat itu melahirkan ide dasar negara Pancasila.

Agama dalam tinjauan negara adalah perangkat pranata nilai-nilai universal yang mampu merekatkan komponen-komponen masyarakat yang heterogen. Semangat teloransi antar umat beragama adalah salah satu contoh dimana agama “dimobilisasi” untuk kepentingan negara. Inilah yang dimaksud dengan gerakan dakwah partisipatif yaitu gerak dakwah ummat baik secara kolektif maupun individu mampu “mententramkan” negara. Maka selanjutnya gerakan dakwah partisifatif adalah gerakan propaganda negara kepada masyarakat dengan “ayat-ayat” agama sebagai the justifikasi-nya.

Pasca peristiwa G30S/PKI, Pancasila dibuat “Sakti” oleh pimpinan Orde Baru yang selanjutnya antara tahun 1970-an sampai tahun 1980-an seluruh element bangsa Indonesia dibuat “percaya” akan “kesaktian” Pancasila. Yang mengkritisi pancasila disebut “Anti Pancasila”, “Subversif”, “Ekstrim Kanan”, “Ekstrim Kiri” dll. Selanjutnya Doktrin Pancasila mendapat “pengukuhan” menjadi Asas Tunggal. Sungguh Pancasila saat itu benar-benar “Sakti”.

Dalam situasi kehidupan yang menerima akan “sakti-nya” Pancasila, Gerakan dakwah partisipatif memegang peranan penting dalam mengokohkan stigma Pancasila Sakti. Gerakan dakwah ini bersifat mendukung bahkan turut mengkontruksi pemikiran Islam tentang Pancasila.

Garapan utama dari gerakan dakwah partisipatif sebenarnya ada pada tataran “Islam Ibadah” bukan “Islam Politik” (Istilah Kuntowijoyo). Slogan “Politik No. Pembangunan Yes” membuahkan “Islam Pembangunan”. Masjid-masjid dibangun dimana-mana, Majelis Taklim berkembang, Ulama-ulama “Pembangunan” berpidato dalam mimbar-mimbar yang “mengharamkan” bicara politik karena berbicara politik berarti “menyakiti” Pancasila dan itu bisa disebut “Anti Pancasila”. Dipelosok desa hadir Ustadz dan Kiyai BKKBN yang menganjurkan Keluarga Berencana (KB) dengan dalil-dalil agama.

Gerakan dakwah partisipatif hadir pada tatanan dakwah cultural dan dakwah structural, tradisionalis dan modernis, lisan dan perbuatan, substatif dan simbolis, organisatoris dan individualis, kota dan desa. Bahkan pratisipasi politik kalangan ulama diakomidir pada tiga partai politik, ada Ulama PPP, Ulama Golkar dan juga Ulama PDI, merekalah yang setiap 5 tahun sekali “kebanjiran order” untuk menjadi Juru Kampanye (Jurkam). Secara organisasi keislaman ruang partisipasi pada partai politik tidak hanya pada partai yang membawa “symbol” Islam yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tetapi juga Golkar dan PDI.

Sesungguhnya relasi (hubungan) gerakan dakwah dan negara yang bersifat partisan tidak hanya terjadi pada masa Orde Lama dan Orde Baru, tetapi juga hadir sebelumnya dari pemikiran politik Islam Snouck Hurgroje yang diterapkan oleh Pemerintahan Belanda dengan Politik Islam Hindia Belanda (Lihat Resensi).

Selanjutnya kecenderungan gerakan dakwah partisipatif cenderung oportunistis. Ada tiga (3) pola partisipasi gerakan dakwah terhadap negara diantaranya : (1) Gerakan Dakwah Pendukung “Penyambung Lidah Negara”, pola dakwah seperti pada dasarnya adalah berupa sosialisasi kebijakan negara Public Police yang menggunakan dalil-dalil agama supaya mudah diterima oleh masyarakat seperti program Keluarga Berencana (KB), (2) Gerakan Dakwah “Penyeimbang” stabilisator bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pola dakwah ini ibarat “penyeimbang” frekuensi negara/pemerintah dengan rakyat.

Dakwah ini pernah di perankan oleh K.H. Zaenuddin M.Z. pada masa orde Baru, Kiayi yang tidak kemana-mana secara politis tapi ada dimana-mana senantiasa mengkritisi kehidupan bernegara terutama “kejelekan” pemerintah sehingga masyarakat memiliki “seorang pembela” tetapi kemudian masyarakat di ajak untuk bersabar tidak frontal terhadap pemerintah.

Dakwah seperti ini juga dilanjutkan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar dengan gaya dan cara yang berbeda tetapi spiritnya sama. dan (3) Gerakan Dakwah “Pengaman” yang menjaga negara dari rongrongan para musuhnya terutama dari dalam atau yang disebut bahaya laten. Sadar (terencana) atau tidak sadar negara/pemerintah memiliki imun-kekebalan yang dibuat oleh lingkar-lingkar gerakan dakwah dengan beragam corak yang berdampak pada sikap masyarakat yang anti pati pada gerakan dakwah tertentu seperti gerakan dakwah yang mencita-citakan berdirinya Negara Islam dan ini tentunya menguntungkan negara/pemerintah.

Dakwah Aa Gym (Manajemen Qolbu) :Fenomena Dakwah Partisipatif

Pada tulisan ini sekedar mencermati kiprah dakwah Aa Gym setelah tahun 2001 sebagai bagian dari dakwah partisipatif , yang tentu berbeda secara situasi kondisi sebelum tahun 1998-an. Meskipun awal karir dakwahnya menggunakan “ikon” Darut Tauhid yang dirintisnya sejak tahun 1990 dalam situasi sosio politik yang umumnya sama dihadapi oleh setiap gerakan dakwah dan DT pada awalnya tidak terlihat sebagai gerakan dakwah partisipatif, tetapi setelah ikon dakwahnya berubah menjadi Manajemen Qolbu (MQ), Aa Gym lebih leluasa untuk melaksanakan gerak dakwahnya.

Dalam munas pengurus DT tanggal 1 Februari 2002, Aa Gym menegaskan bahwa antara DT dengan MQ itu berbeda. MQ adalah label yang melekat pada diri Aa Gym, sedangkan DT melekat pada yayasan. Alasan yang dikemukakan AA Gym adalah Aa Gym tidak akan membesarkan DT karena ia akan membesar alamiah dan DT lebih inklusif sebagai wadah umat Islam, sementara MQ akan Lintas mazhab, lintas partai, organisasi, agama bahkan kalau perlu lintas profesi. Alasan lain lanjut Aa Gym dalam gerak dakwahnya dia tidak merasa cukup aman menggunakan DT dan lebih aman menggunakan MQ karena tidak akan ada serangan ke MQ.

MQ sebenarnya lebih mirip event organizer atau pihak manajemen Aa Gym seperti banyak artis menggunakan manajemen untuk mengelola “order-order”-nya. Sehingga praktis di tahun 2000-an sampai sekarang sosok Aa Gym adalah da’i yang one man show. DT bagi Aa Gym adalah saham awal membentuk kepercayaan diri, untuk selanjutnya terbang melintasi batas-batas “Gerlong” . “ saya butuh perangkat yang jelajahnya lebih luas” Ungkap Aa Gym di lain kesempatan.

Tak bisa disangkal peran dakwah Aa Gym mampu memberikan warna bagi kehidupan bernegara, dia adalah ikon “ Dai Sejuk dalam Masyarakat Majemuk” ,hal yang sama sebetulnya telah disematkan kepada K.H. Zaenuddin M.Z. sebagai “Kiayi Sejuta Umat”. Aa Gym “dipercaya” oleh media massa untuk menampilkan pesan-pesan spiritual “ Indahnya Kebersamaan”, diajak keliling oleh pejabat publik ke daerah-daerah konflik Poso, Maluku, Papua, dan Aceh, agar rakyat “sabar” menerima semua “rekayasa politik”. Menjadi “juru do’a” bagi setiap pasangan Capres dan Cawapres, Mengajak “Aman” dan “Akur” walau ideologi terbentur.

Diantara penyataan-pernyataan yang sering kali diungkapkan pada setiap sesi “silaturahmi-nya” antara lain :

“ Walaupun negara benar, kalau kita sendiri bermasalah, maka negara akan rusak karena kita sendiri yang merusaknya. Jadi bagi kita solusi untuk menyehatkan bangsa ini adalah terus-menerus memperbaiki diri dan apabila kita ingin membangun bangsa rumusnya adalah tumbuhkan keinginan untuk membangun diri dan mulai dari diri sendiri…(AA Gym)

“Aku bukan ancaman bagimu, hindari penghinaan, hindari ikut campur urusan pribadi, hindari memotong pembicaraan, hindari membandingkan, jangan membela musuhnya dan mencela kawannya, hindari merusak kebahagiannya, Jangan mengungkit masa lalu, jangan mengambil haknya, hati-hati dengan marah, jangan mentertawakannya” (AA Gym).

Celakalah Indonesia di awal abad 21 ini, kalau seandainya tidak ada Aa Gym yang mengajarkan “kesalehan diri” dan “kesalehan sosial”. Jadi masihkah kita “percaya” akan sebuah kebetulan kehadiran Aa Gym di era reformasi ini ???.

Gerakan Dakwah Akomodatif

Gerakan dakwah akomodatif memiliki hubungan simbiosis mutualisma dengan negara, gerakan dakwah yang bukan menjadi “benalu” negara tetapi turut serta memperlengkapi pranata sosio politik. Bagi gerakan dakwah ini memandang bahwa umat Islam memiliki hak yang sama dengan elemen bangsa yang lainnya untuk membangun tatanan masyarakat dan negara yang dicita-citakan oleh the founding father yaitu menuju masyarakat adil dan makmur. Gerakan dakwah ini tidak mencita-citakan Negara Islam, tetapi Islam bisa dijadikan salah satu alternatif untuk menjawab persoalan bangsa yang heterogen dan majemuk karena Islam adalah Rahmatan lil ‘alamin.

Gerakan dakwah akomodatif diusung oleh “kalangan menengah” yang mengeyam pendidikan tinggi baik di dalam negeri maupun luar negeri (barat dan timur). Pemerintah Orde Baru memberikan keleluasaan bahkan beasiswa untuk kalangan muda Islam di awal tahun 1970-an agar bisa “merasakan” pendidikan di negeri paman Sam (AS) (Harvard University, Chicago University, Mc Gill University Canada dll ) atau Timur Tengah (Universiatas Al-Azhar Kairo, Universitas Madinah, Universitas di Iran, dll)

Dimulai dasawarsa tahun 1970-an telah muncul sebuah generasi baru Islam – hasil pendidikan Timur dan Barat yang berusaha untuk : (1) merumuskan kembali dasar-dasar teologi politik Islam; (2) mendefinisikan ulang cita-cita (sosial-politik) Islam; dan (3) merekontruksi kembali format pendekatan politik Islam.

Yang paling menonjol dari ketiga model pemikiran itu adalah bahwa komunitas politik Islam tak lagi menginginkan cita-cita politik, yang bersifat legalistic dan formalistic, sebagaimana yang diperjuangkan oleh generasi Islam pendahulu. Alih-alih, lepas dari bagaimana hal itu diartikulasikan, mereka cenderung untuk merumuskan cita-cita politik yang lebih “melebar” sifatnya- merujuk pada nilai-nilai (Islam) universal seperti keadilan, demokrasi, persamaan dan lain-lain.

Gerakan Dakwah Akomodatif memandang bahwa melakukan akomodasi secara proporsional terhadap pikiran-pikiran universal islam seperti itu, penting bagi negara. Hal itu terutama akan meningkatkan legitimasi cultural negara. Karena legitimasi cultural hanya akan didapat melalui tindakan-tindakan akomodasi kepentingan sebagian masyarakat. Dalam konteks Indonesia (umat Islam adalah Mayoritas bangsa Indonesia), hal itu berarti keharusan untuk mengakomodasi kepentingan umat Islam secara memadai.

Gerakan Dakwah Akomodatif memiliki perspektif konsep : “ Indonesia bukan negara agama (theocratic state), tetapi juga bukan negara sekuler”.

Pada Tahun 1990-an, kelas menengah Muslim sebagai komunitas penggagas gerakan dakwah akomodatif, memperoleh kembali pengaruh ekonomi dan politik mereka, sebuah proses yang terwujud dalam pembentukan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Pemerintah menghadapi aktivisme Muslim dengan strategi. mencoba mengkooptasi organisasi-organisasi dakwah Islam akomodatif. Para pemuka muslim dibujuk untuk bergabung dengan partai berkuasa, Golkar, yang menampilkan diri sebagai wahana paling efektif bagi kepentingan Muslimin. Soeharto mendukung beberapa tuntutan dari masyarakat Muslim, termasuk pendirian Bank Islam dan Peradilan Islam, diperkenankannya Jilbab dll, Perjalanan Haji Presiden Soeharto ke Mekkah juni 1991 harus juga terlihat dalam kacamata ini.

Nurcholis Madjid menyatakan bahwa tahun-tahun terakhir Orde Baru ditandai dengan sikap akomodatif negara terhadap aspirasi-aspirasi Islam . Lebih lanjut Cak Nur menyebutkan bahwa agama merupakan satu institusi politik yang paling penting dalam system Pancasila. Sebab, dari agamalah para politisi coba memusatkan atau mencari legitimasi mereka secara langsung atau pun tidak. Agama dipergunakan sebagai sumber bagi ketajaman-ketajaman moral dan keputusan-keputusan terhadap rakyat, yang merupakan basis dari masyarakat Indonesia.

Tumbangnya Orde Baru tahun 1998-an memberikan dampak terhadap menipisnya peran intelektual Islam di pemerintahan yang berujung dengan Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie Presiden masa transisi (“ikon” ICMI yang berhasil mengadakan penghijauan di Istana), tidak dipercayai lagi oleh rakyat (DPR) untuk memimpin negara selanjutnya. Meskipun pasca Habibie adalah Gus Dur yang menurut Muhaimin Iskandar tampilnya Gus Dur sebagai presiden adalah kemenangan Islam Kultural, pada kenyataannya “keislaman” Gus Dur tersebut tidak memberikan dampak pada perubahan sosio politik secara mendasar di tanah air ini.

Kira-kira ada dua agenda besar dari gerakan dakwah akomodatif yang dilaksanakan baik secara organisasi melalui organisasi masa Islam, partai-partai Islam, yayasan Islam maupun LSM Islam yang bersifat inklusif atau eksklusif maupun dakwah personal adalah (1) Islamisasi Negara dan (2) Islamisasi Masyarakat.

Islamisasi Negara

Ada dua kubu aktualisasi pemikiran Islam tentang “Islamisasi Negara” yang setidaknya muncul kembali pada masa “keramahan” pemerintahan Orde Baru terhadap islam awal tahun 1990-an sampai masa reformasi sekarang ini (2004). Pertama kubu gerakan dakwah Islam yang mencita-citakan diterimanya kembali Piagam Jakarta produk konstitusinal the founding father bangsa Indonesia sebagai dasar negara yaitu dengan mencantumkannya kembali “ kewajiban melaksanakan syari’at Islam bagi para pemeluknya”. Kubu yang memperjuangkan tujuh kata ini memanfaatkan masa reformasi dengan “mendaur ulang” partai-partai politik Islam di masa lalu saat berkiprah di pemilu pertama 1955, diantaranya Masyumi Baru, PBB, PSII 1905 termasuk PAN yang inklusif. Perjuangan Islam secara konstitusional oleh kelompok konstitusionalis hampir-hampir membuahkan hasil dengan disetujuinya Amandemen UUD 1945 tetapi disaat-saat proses amandemen suara pembela tujuh kata ini “nyaris tak terdengar”.

Kedua, adalah gerakan dakwah yang menganut paham “Politik Garam”. Pemikiran politik Islam ini banyak digagas oleh kalangan Intelektual Islam Indonesia sejak tahun 1970-an oleh Cak Nur kemudian bola salju ini menggelinding diantara para mahasiswa lulusan negeri paman sam dan Australia diantaranya Amien Rais, M. Dawam Rahadjo, Kuntowijoyo, dan lain-lain meskipun dengan format pemikiran yang beragam. Buah karya dari para Intelektual Islam ini melahirkan adanya “keramahan” Orde Baru pasca tahun 1990-an dengan “penghijauan” di dua kabinet terakhir pemerintahan Soeharto lewat ICMI yang dikomandani Habibie.

Pasca reformasi gagasan “Politik Garam” menjadi barang dagangan yang di pakai oleh partai politik “Islam” yang lebih terbuka (Inklusif) semisal PAN dan PKB juga PKS, “Politik Garam” selanjutnya diusung oleh Cawapres dari PAN yaitu Amien Rais-Siswono yang dengan sangat menyesal impian “Politik Garam”-nya ini kandas setelah kalah suara dengan capres-cawapres lainnya. Secara umum kedua kubu gerakan dakwah ini oleh kalangan pemikir Islam disebut sebagai Gerakan Dakwah Struktural.

Islamisasi Masyarakat

Gerakan dakwah kultural begitulah biasanya disebut yaitu suatu upaya yang dilakukan oleh sebagian kalangan umat islam untuk menciptakan “kesalehan diri” dan “kesalehan masyarakat”. Cita-cita yang umum di dengungkan adalah terciptanya masyarakat madani atau civil society.

Sesungguhnya pada proses Islamisasi Masyarakat kita tidak bisa melihatnya secara linier dikarenakan kompleksifitas masyarakat dan beragam pemikiran tentang Islam sehingga pada tataran masyarakat atau Umat Islam ini dakwah ibarat benang kusut yang sulit dicari ujung pangkalnya (lihat bab sebelumnya tentang benang kusut dakwah). Sehingga sulit untuk menentukan siapa pemain utama yang bergerak dalam tataran Islamisasi Masyarakat.

Secara umum dalam konteks gerakan dakwah yang bersifat akomodatif dimana hubungan islam dan negara (Pemerintahan RI Orde Baru – Orde Reformasi) bersifat saling melengkapi dan saling mengisi atau simbiosis mutualisma, terbagi pada beberapa kelompok diantaranya :

  • Kelompok yang mengedepankan simbol-simbol islam sebagai identitas dalam kehidupan bermasyarakat sosial, budaya dan ekonomi.
  • Kelompok yang mengedepankan nilai-nilai islam yang lebih universal untuk menunjukan bahwa islam tidak “ortodoks” islam tidak “kumal dan lusuh” tetapi menujukan diri sebagai “Islam Modernis”.
  • Kelompok yang mengedepankan aspek “individualis”. Yaitu kelompok yang membina “kesalehan diri” yang memandang bahwa negara telah memberikan kelonggaran untuk mengekspresikan keislaman seseorang.

Islam Transnasional

Ketika sebagain kelompok Islamis “tidak pernah” menyerukan restorasi kekhalifahan. Sebaliknya, mereka berusaha menetapkan sebuah Islamisasi negara atau Islamisasi di dalam tatanan masyarakat nasional mereka sendiri. Bagaimanapun pengecualian utama dari pola ini adalah perkembangan pemikiran dan aksi dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang cikal bakalnya datang dari Timur Tengah.

Karena restorasi kekhalifahan merupakan “kewajiban bagi seluruh Muslim di dunia”, maka mendesak bagi dilaksanakannya agitasi politik, dan Hizb Al-Tahrir menjadi partai barisan depan yang akan memajukan revolusi kekhalifahan. Istilah partai “barisan depan” ini muncul sebagai basis dari deklarasi Groupe Islamique Armee’ (GIA) di AlJazair yang mengumumkan bahwa ia telah menetapkan kembali pemerintahan kekhalifahan pada Agustus 1994.

Hizb Al-Tahrir (HT) telah menjadi gerakan transnasional, beroperasi di Palestina, Yordania, Jazirah Arabia, Maghrib, Inggris, Malaysia dan Indonesia, juga tempat-tempat lain. Sejak 1980-an, ia telah aktif secara khusus di kampus-kampus di berbagai negara termasuk di Indonesia muncul di akhir tahun 1980-an dan tumbuh subur di kampus terutama IPB Bogor dan selanjutnya ke seluruh kamus lewat jaringan Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Di Indonesia sebenrnya secara terang-terangan baru muncul pada masa reformasi meski ide gerakan ini sebelumnya atau masa Orde Baru dirintis dengan menggunakan strategi Dakwah Sirriyah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nama yang senantiasa berkibar dalam setiap event halaqah, seminar, buku-buku, demontrasi dan lainnya untuk menyuarakan penegakan kembali al-Khilafah meskipun demikian dalam konteks lokal dan nasional, HTI termasuk pada salah satu kelompok Islam yang intens menyuarakan pemberlakuan Syari’at Islam pada hukum RI.

Juru Bicara HTI Ir. H. Muhammad Ismail Yusanto, M.M., memahami bahwa cita-cita menegakan Khilafah yang telah runtuh pada tahun 1924 (Khilafah Ustmani) bukan perkara yang bersifat Utopis asalkan umat Islam memiliki persatuan. Mengambil pendapat Syekh Muhammad Ismail dalam kitab al-fikru al-Islamy, ada tiga bentuk kekuatan yang harus dibangun, yakni kekuatan madiyah (materi) (al-quwwah al-madiyah), kekuatan maknawiyah (al-quwwah al-ma’nawiyyah), dan kekuatan ruhiyah (al-quwwah al-ruhiyah). Dengan tiga kekuatan tersebut maka insya Allah kemuliaan akan datang kembali.

______________

Teruntuk Saudara-ku

Menengok kebelakang untuk melangkah kedepan, mencari kerumitan di masa lalu untuk mendapat kejelasan bekerja hari ini dan merencanakan pekerjaan masa akan datang, mengevaluasi kesalahan yang telah diperbuat untuk berbuat kebenaran yang memperkecil deviasi kesalahan, mengurai benang kusut perjalanan hidup untuk menenun benang menjadi pakaian yang menyelamatkan kebutuhan hidup, bukan bermaksud membuat nasi menjadi bubur tetapi agar kita waspada, hati-hati dan teliti untuk tetap membuat nasi menjadi nasi.

Dulu kini dan masa datang adalah pragmen waktu tanpa pembatas, tak ada sekat atau hijab, tak ada jurang atau penghalang yang memisahkan atau dipisahkan, dulu kini dan yang akan datang adalah hitungan dari perjalanan dengan beragam intonasi kata, “koma”, “tanda tanya”, “tanda seru”, “titik dua” juga “tanda kutip”. Perjalanan hidup dibatasi oleh jeda, pertanyaan, peringatan, dan ketidak mengertian akan perjalanan serta hidup itu sendiri.

Ingatlah saat dimana waktu diri kita secara munfarid menginjakan kaki diatas sajadah, saat tangan menengadah dan lisan mengucapkan Takbiratul Ihram saat qolbu meniatkan-menyengajakan untuk menghadap kepada Allah, saat seluruh diri tak membawa masa lalu hanya khusu untuk sholat fardu dan ingatlah saat diantaranya lisan membacakan al-fatihah saat bermohon ”ihdina shirotol mustaqiem”Ya Allah tunjukilah (beri hidayah) diri ini untuk hidup dalam jalan yang lurus, jalan dari kelompok manusia yang diberi nikmat oleh-Mu, bukan jalan dari kelompok manusia yang di murkai-Mu dan bukan pula jalan dari kelompok manusia yang telah sesat dengan kesesatan yang jauh dari-Mu. Ingatlah bahwa diri kita telah memintanya, bermohon dan berdo’a untuk dikabulkan dengan “amien”.

Maka selanjutnya saat kita kembali dari mi’raj ruhani menginjakan kaki keluar dari “sajadah” kembali ke dunia nyata, saat diwajibkan untuk mengadakan taroqi-perjalanan untuk memilah dan memilih mana jalan kenikmatan, jalan kemurkaan dan jalan kesesatan, saat memberikan kepastian untuk berlakulampah tidak pada jalan salah, saat memproklamasikan jati diri untuk berpijak pada hukum Ilahi maka pastikanlah itu hanya untuk berbakti. Dan pastikanlah berbakti bukanlah menghadapakan diri KETIMUR atawa KEBARAT. Bukan kata Orang Timur atau pendapat Orang Barat, bukan oleh hukum Timur atau oleh asumsi Barat tapi….

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Qs. Al-Baqarah : 177)

Gerakan Dakwah Transformatif

“Ideologi bukan ibarat baju yang bisa dipakai atau digantungkan menurut musim. Bukan pula untuk disembunyikan di bawah bantal. Ideologi mengandung norma-norma, titik-tolak, motivasi, pendorong dan sumber-sumber tenaga untuk gerak melaksanakan program. Bagi masing-masing pejuang, ideologi sudah lama tertanam dalam bathin mereka, ada yang bersifat transendental melalui wahyu ilahi, ada pula sebagaian hasil pemikiran manusia yang sudah bersejarah. Ideologi dan program adalah dua sisi dari mata uang yang satu”. (M. Natsir)

Anatomi Masyarakat Islam : Telaah Realitas

Bentuk masyarakat Islam yang mengikuti pola pemahaman terhadap ajaran Islam yang sangat dipengaruhi oleh situasi sosial-historis-politik. Para urutannya kemunculan keragaman interpretasi terhadap ajaran Islam dipicu oleh hubungan Islam dengan sosio politik Timur dan Barat. Hubungan Islam dengan peradaban Timur bisa dikatakan mengalami masa harmonis sehingga peradaban Timur selanjutnya seperti merepresentasikan Islam itu sendiri, sementara hubungan Islam dengan peradaban Barat, kendati sangat tidak harmonis, ternyata telah menyebabkan beberapa ajaran Islam yang “dijungkirbalikan” oleh pemahaman Barat. Pemahaman ini tentu saja didukung oleh ilmu pengetahuan yang berkembang di kawasan tersebut. Sehingga hasil dari hubungan tersebut menyebabkan muncul berbagai tipologi masyarakat (gerakan) Islam.

Pada tahun 1985, R.Hrair Dekmejian menyebutkan ada sembilan dialetikal masyarakat Islam :

  1. Sekularisme (secularism) versus Teokrasi (theocracy);
  2. Islam Modernisme (Islamic modernism) versus Islam Konservatif (Islamic conservatism);
  3. Islam Pembangunan (establishment islam) versus Islam Fundamentalis (Fundamentalism islam);
  4. Para Elit Penguasa (Rulling elites) versus Islam Radikal (Islamic radicals);
  5. Orang Kaya (elites Ellites) versus Islam Sosialis (Islamic Socialist)
  6. Nasionalisme etnik (ethnic Nationalism) versus Penyatuan Islam (Islamic Unity);
  7. Islam sufi (sufi Islam) versus Militansi Fundamentalis (Fundamentalist Militancy)
  8. Islam Tradisional versus Islam Fundamentalis
  9. Wilayah Islam (Dar al-Islam) versus Wilayah perang (Dar al-Harb)

Secara spesifik dalam konteks ke-Indonesia-an, peta masyarakat Islam telah banyak diuraikan oleh beberapa sarjana asing. Salah satu yang paling dan selalu mengundang perdebatan adalah adanya Islam Abangan, Santri, Priyayi. Kendati ini dalam konteks Jawa, namun belakangan menggunakan tipologi ini untuk menggeneralisasi masyarakat Islam di Indonesia. Pada gilirannya munculah berbagai ragam tipologi masyarakat Islam di Indonesia yang berkembang sampai sekarang mirip dengan apa yang disebutkan diatas .

Gerakan Dakwah Transformatif

Istilah Transformasi bisa ditemukan dalam buku Kuntowijoyo, Identitas Pilitik Umat Islam. : Dalam buku tersebut terdapat beragam istilah diantaranya Transformasi Politik, dan Transformasi Budaya. Istilah ini juga muncul pada trend pemikiran Islam yaitu “Teologi Transformatif” (Sosialisme Demokrasi Islam) tetapi pandangan yang hendak di sampaikan pada tulisan ini bukan pemikiran teologi transformatif tetapi Gerakan Dakwah yang berpijak pada Transformasi tatanan masyarakat secara utuh dan menyeluruh.

Sesungguhnya Gerakan Dakwah Transformatif adalah gerakan dakwah yang diberjalankan oleh Rosululloh SAW. Beliau melaksanakan Transformasi yang fondamental dalam tatanan masyarakat pada seluruh aspek kehidupan. Transformasi ideology, politik, social, budaya, ekonomi, pendidikan bahkan system keamanan negara dan struktur negara. Inilah yang dijaman Rosululloh dikenal dengan Perjuangan Islam Kaffah. Dakwah yang merubah perilaku individu, masyarakat, dan negara secara utuh, integral dengan cara “Radikal” dan “Revolusioner”.

Gerakan dakwah ini menginginkan adanya transformasi masyarakat dan negara kepada cita-cita transcendental yaitu sebuah tatanan masyarakat yang di kehendaki oleh Allah SWT.

Gerakan Dakwah Transformatif bukan dakwah “gincu” atau “warna” terhadap negara dan kehidupan masyarakat, bukan pula “garam” atau “rasa” terhadap kehidupan bernegara dan bermasyarakat, karena Islam adalah “warna” , “rasa” dan “negara” itu sendiri. Sehingga Gerakan Dakwah Transformatif adalah gerakan yang mencita-citakan tegak berdirinya Negara Islam, karena Islam adalah Negara dan dalam negara Wajib tegaknya Syari’at Islam.

Cita-cita politik Islam bukan hanya legalistic/formalistic bukan juga hanya substansialistik tetapi kedua-duanya. Islam mencita-citakan adanya legalistic/formalistic dan hadirnya nila-nilai substansialistik. Islam tidak hanya dipahami sebagai “Islam Ibadah”, tidak juga hanya “Islam Politik” tetapi Islam adalah keseluruhan Ibadah yang menyangkut pula dimensi sosial politik.

Terlepas adanya the politic of fear atau faer factor,– “Politik Ketakutan” sebagian umat Islam secara khusus dan umumnya bangsa Indonesia atas sejarah masa lalu, cita-cita Negara Islam bukan hanya suatu keharusan atau solusi alternatif dari carut marutnya kehidupan peradaban manusia tetapi adalah SUATU KEWAJIBAN sehingga wajib untuk diperjuangkannya.

Sedikit literature yang mengangkat adanya Gerakan Dakwah Transformatif pada masa Orde Baru khususnya kurun waktu 1980-2000, sehingga bisa dikatakan keberadaanya diantara “ada dan tiada”. Gerakan ini “ada” setidaknya dalam wacana-wacana pemikiran politik Islam dan dikatakan tiada karena termarginalkan oleh negara dan komunitas dakwah lainnya dan kalaupun ada dalam kontek gerakan dakwah pada masa Orde Baru ini juga masih “abu-abu” alias “samar” apakah betul-betul murni gerakan dakwah transformatif atau ulah dari invisible government Ali Moertop Cs yang melakukan “rekayasa politik”.

Adanya upaya pengkerdilan/pembonsaian gerakan dakwah bahkan pembumi-hangusan dari setiap gerak upaya menegakan “Kedaulatan Allah” dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia ini disebabkan pada beberapa hal diantaranya :

  • Periode 1980 –1990 adalah periode yang masih dihinggapi oleh Trauma Sejarah sehingga negara memberikan sikap refresif terhadap setiap gerakan yang mengarah pada cita-cita mendirikan Negara Islam.
  • Trauma Sejarah melahirkan sikap tidak berani “fear factor” dari setiap elit politik sampai dengan tahun 2004 sekarang untuk menerima pandangan dan harapan pada penegakan syari’at Islam.
  • Penghukuman (Hukuman sosial maupun politik) terhadap Gerakan Dakwah Transformatif yang tidak adil dengan memberikan lebel : Subversif, Makar, Terorisme, Fondamentalis, Sesat dll baik oleh kelompok sosial masyarakat maupun negara yang berkuasa. Sehingga ruang geraknya menjadi terbatas, terinjak dan terdzolimi. Tidak ada kebebasan seperti yang dihirup oleh gerakan dakwah lainnya. Hal ini sebetulnya wajar karena secara prinsip ideologis membuat front terhadap penguasa negara.
  • Gerakan dakwah transformatif “terkesan” sendirian dan dikucilkan oleh “teman-teman-nya” dalam upaya membangun kesadaran Islam bagi Umat Islam untuk melaksanakan Islam secara kaffah, utuh dan menyeluruh.

Strategi Pemerintah Orde Baru pada gerakan-gerakan dakwah yang mencirikan “Transformatif” adalah mendeskriditkan para aktifis Muslim dengan cara menghubung-hubungkan mereka dengan ekstrim kanan, terorisme dan kemudian mengancam dan menganiaya mereka. Sebelum pemilihan Presiden Soeharto keempat kali di bulan Maret 1983, ratusan Muslim dibunuh oleh pasukan berani mati di Jawa Timur.

Pada September 1984 di Tanjung Priok, Jakarta Utara, sepasukan tentara menembakan pelurunya ke arah kerumunan Muslim yang berajak menuju kantor Polisi tempat empat pengurus masjid ditahan. Sedikitnya tiga puluh orang terbunuh dan banyak lagi yang terluka. Antar 1985 dan 1987, lebih dari 150 orang Muslim diberi hukuman berat karena berbagai aktifitas politik. Dalam banyak pengadilan politik pada tahun 1989 dan 1990, para aktifis Islam diberi hukuman berat di Lampung, Bima, Bandung, Bogor, Jakarta, Malang dan Aceh. Tuduhan beragam dari mulai menghina pemerintah hingga tuduhan subsevsif yang bermaksud mendirikan sebuah Negara Islam.

Berjalan di “Kedalaman Bumi”

Sering kita terpedaya oleh serba adanya kehidupan “permukaan bumi” sesuatu yang “tampak” kasat mata kadang menjebak langkah kaki menapak diluar tanpa merasakan perjalanan di “kedalaman bumi”. Emas yang disuguhkan di etalase lebih diminati tinimbang gumpalan emas yang membutuhkan eksplorasi. Bensin, solar, premium dan bahan bakar memberikan kemudahan aktifitas kehidupan walaupun sekian elementnya menjadi faktor kesengsaraan. Bila harus memilih memancing ikan di sungai atau lautan dengan membeli ikan di etalase supermarket tentunya lebih enjoy antri di kassa dengan menenteng ikan gureme di plastik. Sungguh “keterlaluan” kalau ada yang mengajak mari berjalan di “kedalaman bumi”.

Pandangan materialis merubah struktur bathin yang immaterialis, pola hidup lahiriah menerpa unsur ruhaniyah baik secara personal maupun sosial. Hidup di “permukaan bumi” yang lebih terlihat “gincunya” dan mungkin juga telah terasa “garamnya” lebih dipilih dibandingkan dengan “kedalaman bumi” yang hanya ada gumpalan emas, milyaran kubik minyak bumi, milayaran kilogram ikan-ikan beragam jenis.

Hayatilah perumpamaan-perumpamaan dari Allah SWT tentang kehidupan, betapa pohon yang menjulang kelangit dan berbuah setiap musim terlahir dari akar yang kokoh kuat pada “kedalaman bumi”. Madu manis dalam botol-botol terbuat dari kerja keras tiada henti pasukan lebah menghisap madu-madu kembang yang sedang mekar. Manusia (Umat Islam) telah terlupakan oleh keindahan sesaat manis “permukaan bumi/dunia”, terbuai oleh kemenangan “fatamorgana” yang berlari kedepan dan kembali mundur kebelakang dari waktu ke waktu tiada henti.

Di masa sekarang ini, umat Islam dimudahkan dengan berbagai corak dan ragam “dagangan” dakwah. Etalase buku menyuguhkan pemahaman “instan” tentang aqidah, syari’ah dan tassawuf, menjajakan sejarah dan dakwah menghadirkan pemikiran politik yang strategis dan kritis mengetengahkan pemahaman aliran yang indah mulai Syi’ah, Mu’tajilah sampai Ahmadiyah.

Pengajian-pengajian meriah dimana-mana, umat Islam mempunyai banyak pilihan untuk mendapatkan “syurga” dengan harga murah. Mau hidup di isi dari masjid ke masjid, tahajud berjamaah setiap bulan, dzikir berjamaah, mengasah wawasan tentang khilafah, menata qolbu ala Aa Gym atau sekedar mendengarkan ceramahan di majelis ta’lim semua ada tanpa ikatan tanpa bayaran tanpa tekanan.

Sedikit penghuni negeri ini yang hidup di “kedalaman bumi” mencari mata air ridho Ilahi, bersusah payah mendapat hidayah, bergegas hidup dalam jama’ah ahlus Sunnah karena takut hari qiamah.

Penutup

Mencoba membacabenang kusut gerakan dakwah di Indonesia masa kini, pada akhirnya yang ditemukan bukan hanya kusut semerawutnya dakwah tetapi mencirikan pula kesemerawutan keadaan masyarakat (Islam). “semaraknya” dakwah tidaklah melahirkan “kegairahan” untuk menegakan dan memperjuangkan aturan dan kedaulatan system Islam, malah makin bertambah keengganan dan penolakan terhadap usaha dan upaya dari sebagian Mu’min dan Muslim yang tetap istiqomah untuk membela hukum-hukum Allah.

Hidup bukan untuk membuta tuli, pura-pura tidak melihat dan pura-pura tidak mendengar berdiam diri berpangku tangan padahal realita yang punya “Kuasa” terhadap negara adalah orang-orang yang ‘buta’ dan ‘tuli’ pada ayat-ayat Ilahi. Hidup bukan untuk membuta tuli pada kenyataan negeri bernama Indonesia ini yang telah lama berpaling dari Kedaulatan dan Kekuasaan Allah Al-Malik pemilik Hukum Tertinggi.

Maka apakah yang mesti kita perbuat bila pada kenyataannya tanah tumpah darah negeri dimana kita dilahirkan dibesarkan dan hidup ini tidak menggunakan hukum-hukum Allah untuk mengatur perikehidupan masyarakat dan kenegaraan ?.

Wallohu a’lam

Referensi Seri Tulisan Benang Kusut Gerakan Dakwah di Indonesia

• Aay Muhamad Furkon, (2004), Partai Keadilan Sejahtera, Teraju-Mizan, Bandung.
• Abul A’la Al-Maududi, (1995), Hukum dan Konsistensi Sistem Politik Islam, Mizan, Bandung.
• Abdul Rashid Moten, (2001), Ilmu Politik Islam, Pustaka, Bandung.
• Adeng Muchtar Ghazali, Drs., M.Ag., (2004), Perjalanan Politik Umat Islam, Pustaka Setia, Bandung.
• Ahmad Suhelmi, M.A., (1999), Pemikiran Politik Barat, Darul Falah, Jakarta.
• Ali Zainal Abidin, (2004), Identitas Mazhab Syiah, Ilya, Jakarta.
• Anders Uhlin (1998), Oposisi Berserak, Mizan, Bandung.
• A.P.E. Korver, (1985), Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil?, Grafitipres, Jakarta.
• Aqib Suminto, H., (1985), Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, Jakarta.
• Bahtiar Effendy, (2000), Repolitisasi Islam; Pernahkan Islam Berhenti Berpolitik, Mizan, Bandung.
• Dale F. Eickelman dan James Piscatori, (1998), Ekspresi Politik Muslim, Mizan, Bandung.
• Din Syamsudin, (2001), Islam dan Politik Era Orde Baru, Logos, Jakarta.
• Endang Saifuddin Anshari, H., M.A., (1986), Piagam Jakarta, Rajawali Press, Jakarta.
• Enung Asmaya, (2003), Aa Gym Dai Sejuk Dalam Masyarakat Majemuk, Hikmah, Bandung.
• Fathi Yakan, Dr., (2003), Menuju Bersatunya Islam Internasional, Iqra Insan Press, Jakarta.
• G.J. Renier, (1997), Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
• Hartono Ahmad Jaiz, (2002), Aliran dan Pemahaman Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.
• Hartono Mardjono, H., SH., (1996), Politik Indonesia (1996-2003), Gema Insani Press, Jakarta.
• Hendra Gunawan, SS.,(2000), M. Natsir & Darul Islam: Studi Kasus Aceh dan Sulawesi Selatan Tahun 1953-1958, Media Dakwah, Jakarta.
• H.O.S Tjokroaminoto, (2003), Islam dan Sosialisme, Tride, Jakarta.
• Holk H.Dengel, (1995), Darul Islam dan Kartosuwirjo, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
• Imam Munawwir, (1985), Mengapa Umat Islam Dilanda Perpecahan, Pustaka Nasional, Singapura.
• Ilham Gunawan, Drs., dan Frans B.S. Drs., (2003), Kamus Politik Dalam & Luar Negeri, Restu Agung, Jakarta.
• Jimly Asshiddiqie, Prof., Dr., S.H., (ed.) (2002), Bang ‘Imad Pemikiran dan Gerakan Dakwahnya, Gema Insani Press.
• Kamaruzzaman Bustaman-Ahmad, (2004), Wajah Baru Islam di Indonesia, UII Press, Yogyakarta.
• Kuntowijoyo, (1999), Identitas Politik Umat Islam, Mizan, Bandung
• Lathiful Khuluq, (2002), Strategi Belanda Melumpuhkan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
• Miftah Faridl, DR., (2003), Islam Dalam Berbagai Aspeknya, Pustaka, Bandung.
• Miriam Budiardjo, Prof., (1998), Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta.
• Muhammad ‘Imaduddin’ Abdulrahim, PH.D., (1999), Islam Sistem Nilai Terpadu, Pustaka, Bandung.
• M.A. Gani, Drs., MA., (1984), Cita Dasar Pola Perjuangan Syarikat Islam, Bulan Bintang, Jakarta.
• M. Natsir (2001), Agama dan Negara Dalam Perspektif Islam, Media Dakwah, Jakarta.
• M. Masyrur Amin, (1995), HOS Tjokroaminoto Rekonstruksi Pemikiran dan Perjuangan, Cokroaminoto University Press, Yogyakarta.
• Muhammad ‘Abbas, Dr., (2004), Bukan Tapi Perang Terhadap Islam, Al-Qowam, Solo.
• Rusadi Kantaprawira, (1988), Sistem Politik Indonesia, Sinar Baru, Bandung.
• Roger Eatwell dan Anthony Wright (ed.), (2004), Penerbit Jendela, Yogyakarta.
• Syukriadi Sambas, Drs. H., M.Si., (1999), Filsafat Dakwah, KP Hadid, Bandung.
• Thohir Abdullah Al-Kaff, K.H., dkk, (2002), Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI, Jakarta.
• Yudi Latif, (1999), Masa Lalu Yang Membunuh Masa Depan, Mizan, Bandung.
• Zainal Abidin Ahmad, H., (2001), Membangun Negara Islam, Iqra Pustaka, Yogyakarta.
• —- Hidayatullah, Edisi Khusus 01/TH XIV, Mei 200, “ Dakwah Menerobos Zaman Baru”.
• —- Hidayatullah, Edisi 02/XVI/Juni 2004, “Cegah Pemimpin Jadi Berhala”.
• —- Ulumul Qur’an, Nomor 3. Vol V Th 1994, “ Studi Islam di Timur atau Barat”
• —- Ulumul Qur’an, Nomor 3. Vol VI Th 1995, “ 25 Tahun Pembaharuan Pemikiran Islam”
• —- Ulumul Qur’an, Vol. IV No. 2 Th 1993
• —- Sabili, Edisi Khusus Juli 2004, “Islam Kawan atau Lawan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: