HIDUPKAN DA’WAH BANGUN NEGERI

T A U S H I Y A H

Dr. Mohamad Natsir

“PEMIMPIN PULANG” …..,

14 JUNI 1968, udara pagi yang cerah di Lapangan Udara Tabing Padang, pintu gerbang ranah Minang, kembali hidup. Setelah hampir satu dasawarsa berada dalam cengkeraman “Orde Lama” merasa terbebas dari rasa tertekan yang menyebabkan hilangnya harga diri.

Hari itu, baru 2 tahun setelah “Orde Baru” dicanangkan dibawah kepemimpinan Soeharto. Orde baru yang pada awalnya didukung oleh massa rakyat yang lahir dari TRITURA sangat mendambakan suasana baru, nafas baru. Supaya bangsa ini terbebas dari segala macam tekanan yang selama ini terasa berat menghimpit di bawah system komunis PKI. Rakyat di Ranah Bundo ingin kembali membangun kampong halaman.

Jam menunjukkan jarum waktu 08.15 WIB pagi. Dikala pesawat Electra GIA mencecah landasan dengan mulus. Membawa di dalamnya Pemimpin Pulang. Bapak Mohamad Natsir dan Umi yang berkunjung ke Sumatera Barat atas undangan Gubernur Sumbar Prof. Harun Zain dan Wali kota Padang Kol. Maritim Akhirul Yahya.

Pemimpin Pulang Bapak Mohamad Natsir dengan kepala tegak melanjutkan perjuangan dalam rangka merangsang semangat yang tadinya telah hampir padam untuk membangun kampung halaman. Beliau disambut dengan panggilan “orang tua kita”.

Hampir seluruh daerah Tingkat II dalam daerah Sumatera Barat sempat didatangi Bapak MohamadNatsir, mendorong umat kembali memulai membangun negeri yang bermuara dari lubuk hati.

PEMIMPIN PULANG

Empat cara pulang bagi Pemimpin dari Perjuangan.

  1. Dia pulang dengan kepala tegak, membawa hasil perjuangan.
  2. Dia pulang dengan kepala tegak, tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku, atau lebih dari itu, riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan bagi para Mujahidin seterusnya.
  3. Dia pulang. Tapi yang pulang hanya namanya. Jasadnya sudah tinggal di Medan Jihad. Sebenarnya, di samping namanya, juga turut pulang ruh-nya yang hidup dan menghidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim, serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya.
  4. Dia pulang dengan tangan ke atas, kepalanya terkulai, hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul. Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur. Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang Entah pabila umat itu akan bangkit kembali, mungkin akan diatur oleh Ilahi dengan umat yang lain, yang lebih baik, nanti Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip .

Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus. Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah. Ia belum pulang.

MOHAMAD NATSIR

MEDAN DJIHAD, 24 AGUSTUS 1961 M/ MAULID 1381 H.

TASYAKUR NIKMAT

Saat itu, kita sedang berada dalam suasana tasyakur nikmat bersyukur bahwa genaplah usianya 5 tahun Yayasan Kesejahteraan di Sumatera Barat. Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi tadinya, tidaklah terbayang sama sekali, bahwa kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini, apabila kita ingat betapa besarnya kesulitan yang harus kita lalui.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien ….,

Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu:

7.  Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS.14, Ibrahim : 7).

Kalau hari itu kita memperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan, pada hakekatnya amalnya sudah lebih tua dari usianya sendiri, yaitu beberapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan.

Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin kita di Padang Sidempuan yang telah menggariskan suatu langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat, yang baru saja keluar dari situasi pergolakan daerah dari luka-luka terkoyaknya perang saudara semasa rezim Soekarno, selam 3. tahun lamanya, banyak luka yang harus ditambal, banyak sakit yang harus diobati, banyak keruntuhan yang harus dibangun. Langkah-langkah yang digariskan itu, adalah tersimpul kepada bagaimana menghadapi:

  1. penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik ia rakyat pengungsi yang kehilangan sumber hidup, maupun mahasiswa pelajar yang terputus pelajarannya.
  2. perumahan rakyat yang hangus terbakar
  3. sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan
  4. luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu
  5. kehancuran pendidikan agama.

Nopember 1961, terjadi lagi satu pertemuan di Medan, yang dipelopori oleh Bapak Mohamad Natsir, Brigjen A.Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor; dan dari pertemuan itu keluarlah satu pandangan yang sama, bahwa untuk membangun kembali Sumatera Barat waktu itu haruslah dengan menggerakkan anak kemenakan puteraputera Minang dan daerah yang bertebaran diperantauan dan sebagai wadahnya diambilah kebijaksanaan membentuk yayasan yang bernama Yayasan Tunas Harapan, kemudian berubah menjadi Yayasan Harapan Umat, yang diketuai oleh Mr. Ezziddin.

Dalam pada itu, sebagian di antara keluarga Qurba yang sudah bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat dengan segala akibat yang harus dilalui. Para pemimpin umat itu, berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada, sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada waktu itu.

Dengan bantuan dari keluarga Bulan Bintang dan perantauan Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta, Saudara Syarifah Dinar dan Asma Malim telah berhasil menghimpun bingkisan-bingkisan mawaddah fil qurba berupa kain, pakaian dan uang, bingkisan mana langsung diantarkan kepada para keluarga korban perjuangan dibeberapa tempat yang dapat dicapai di Sumatera Barat. Terjalinlah kembali ta’ziyah fil qurba dengan surat pengantar Bapak Mohamad Natsir.

Dengan pedoman yang telah digariskan secara terperinci oleh Bapak Mohamad Natsir untuk memulihkan tenaga-tenaga terpelanting dan menumpahkan perhatian terhadap puluhan ribu rumah yang terbakar hangus akibat pergolakan, maka amal-amal nyata yang telah mulai digerakkan itu, dilanjutkan ke arah mencarikan lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terpelanting tersebut, menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing.

Pada umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan, karena psikologis masih diliputi oleh rasa takut dan alasan untuk menjaga keamanan yang bersangkutan. Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, dapat juga berhasil.

Hasil ini pada umumnya adalah karena “faktor hubungan” keluarga dan famili antara yang “menerima” dan menampung dengan yang “memberi” kan tenaganya (yang ditampung).

Didorong oleh rasa tanggung jawab terhadap kampong halaman yang baru saja keluar dari kancah pergolakkan, PRRI maka seluruh putera-putera yang benar-benar cinta kepada kampong halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan untuk membangun kembali kampung halamannya (negerinya) itu.

Usaha-usaha ke arah itu dengan menumbuhkan perhatian dan menggerakkan perantau-perantau guna menyalurkan bantuannya untuk mendorong kembali kehidupan rakyat, menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan. Lebih jauh yang diniatkan adalah timbulnya “percaya diri” (self confidence) dalam arti strategi yang menyatu yaitu “strategi harga diri” yang lebih sering disebut oleh Pak Natsir dengan izzatun nafsi sebagai buah nyata dari pandangan hidup tauhid (Tauhidic Weltanschaung).

Dalam melanjutkan usaha itu, Bapak Mohamad Natsir terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk yang digoreskan walau dari dalam karantina politik dari rezim “orde lama”. Begitu pula dengan pemimpin-pemimpin lainnya seperti Bapak Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Duski Samad, dan lain-lainnya.

Ide membangun dari rantau yang diketengahkan Bapak Mohamad Natsir disambut baik, tidak hanya oleh para dermawan, dengan menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah dilakukan.

Idea lebih mendasar bahwa dalam “mencapai kemakmuran rakyat banyak ditentukan kepada kerajinan tangan dan usaha rumah tangga”, memulai dengan program sederhana seperti perindustrian tikar mendong ataupun persuteraan melalui beberapa program latihan dan pengenalan, waktu itu tahun 1962.

Di awal tahun 1963, selesai masa pelajaran-pelajaran beberapa tenaga pulang ke kampung masing-masing, dengan dibekali amanat supaya kepandaian praktis yang telah diperdapat itu, hendaklah dimanfaatkan untuk diri dan untuk masyarakat kala itu Bapak Mohamad Natsir sudah pindah ke Batu, Malang.

Merencana sambil tasyakur nikmat atas bebasnya Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang dari karantina politik orde lama, telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid dan membuahkan kesepakatan bahwa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat di Jawa Barat yakni sutera alam dan tikar mending harus diperkembangkan pula di Sumatera Barat.

Gerakannya perlu dilaksanakan melalui kursus dan latihan. Latihan pertama dilakukan pada tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka, dengan diikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah.

Bayangan masa depan yang menyeruak penuh harapan di antara tekanan diktator yang dikendalikan oleh PKI telah merayap  dari sudut ke sudut hati setiap peserta, walaupun juga barangkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.

Semboyan kita ialah :

¨Yang m u d a h sudah dikerjakan orang, ¨Yang s u k a r kita kerjakan sekarang, ¨Yang tak mungkin kita kerjakan besok ¨Dengan mengharapkan hidayat Ilahi

135.  Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan. (QS.6, Al An’am : 135).

Itulah bunyi semboyan yang menjadi pesan Bapak Mohamad Natsirdalam pedoman pemulihan tenaga terpelanting, sedari dulu di pertengahan November 1961.

Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis itu, tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilakukan oleh rombongan pria, akan tetapi merasakan pula pentingnya dipelajari oleh wanitawanita dalam mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga.

Pemeliharaan hubungan kerjasama sesama keluarga seperti telah dilakukan oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu pada November 1963, dalam memperkenalkan cara usaha pembibitan dan penanaman Tanaman Holtikultura.

Disamping itu juga dikembangkan pengetahuan penganyaman topi bambu di desa Cangkok Tangerang, umpamanya pula mempelajari penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan

Jagung di Bogor terutama dikalangan “bundo kandung” kaum ibu penting pula dikembangkan melalui latihan-latihan praktis. Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan sayur mayur.

Dimulai dari penanaman bibit “bayam hikmat” (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash, di tengah mana Bapak Mohamad Natsirditahan di Rumah Tahanan Militer di Jakarta.

Disemai dan ditanamkan pula dilingkungan keluarga. Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, “bibit yang halus” yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar disertai pesan secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963, “sesudah dipotong makin bercabang”, dirasakan nikmat oleh setiap keluarga yang menerima.

Sebagai amanat yang harus dipelihara dalam kerangka “bai’atul qurba’ itu. Dan seorang, keluarga Buya Haji Bakri Suleman di Pekanbaru mengungkapkan dengan penuh pengertian “kuunuu ..bayaaman..”, merupakan buhul yang kian saat makin erat untuk mengangkat amal-amal nyata yang lebih berat.

Kepada Fiatin Qalilatin

Minal ‘Aidin Wal Fa-izien

Telah bertingkah guruh dan petir,.Seakan kilat hendak menyambarmu,Telah Menghitam awan di hulu,Seakan gelamat hendak melandamu. Telah berdendang lagu dan siul,Seakan Rayuan membawamu hanyut, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa lillahil hamd”.

Hanya Allah Yang Maha Besar Kepada Nya pulang puji dan syukur, Kembalilah kamu kedalam Hidayat dan Taufiq Nya. Di sana letak Pangkalan merebut Kejayaanmu. Pancangkan Petunjuk Ilahy dalam Kalbumu, “Cukuplah Allah bagimu tempat berlindung Dia-lah yang akan menegakkan pendirianmu, Dengan pertolongan langsung dan pada Nya”, ‘ Dan Kekuatan Mukminin sama se-iman’ “Iannahu laa yukhliful mie-‘aad !

“MINAL ‘AIDIN WAL FAA-IZIN !”

MOHAMAD NATSIR

BAI’ATUL QURBA

Bai’atul Qurba, bai’at kekeluargaan terus berkelanjutan sebagai pesan dari “pemimpin”,

  1. Memang inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

69.  Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(Al-Ankabut 69).

  1. Kepandaian-kepandaian yang sudah kita peroleh ini, bukan kepintaran-kepintaran baru, tidak pula rahasia yang pakai patent, tak boleh dicontoh ditiru-tiru. Tetapi memang kepandaian-kepandaian yang sudah lama ada, terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta), tentu akan dapat mempergunakannya.

Kepandaian-kepandaian ini sederhana sekali. Di zaman jet supersonic dan satelit-satelit yang mengitari bumi seperti sekarang ini, ada juga yang berpendapat, apalah artinya kepadaian-kepandaian seperti membuat tempe, tahu dan kecap, membibitkan buah-buahan, menanam sayur mayur, merangkai dan mengatur bunga, menganyam tikar dan yang semacam itu.

Dalam pada itu, secepat-cepat terbangnya pesawat jet dia tidakkan bisa, tiba-tiba meraung saja di udara, kalau tidak ada landasan tempat dia naik dan tempat dia hinggap kembali.

Begitu pulalah proses mempertinggi kesejahteraan hidup, yang dinamakan proses pembangunan ekonomi itu. Procesnya bisa dipercepat, tetapi dia mempunyai undang-undang bajanya sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani. Ini seringkali pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat-akibat yang mengecewakan.

  1. Daerah tempat kita bekerja itu terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Kecenderungan penduduk di bidang ekonomi terfokus semata hanya kepada mencahari nafkah dengan memindahmindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian mereka. Padahal sumber kemakmuran yang azasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang. Ini seringkali “dilupakan” pula. Latar belakang dari usaha kita ini ialah merombak tradisi pikiran tersebut dan membuka jalan baru. Memulai dari urat masyarakat itu sendiri, dengan cara-cara yang praktis, (amaliyah) sepadan dengan kekuatan mereka serentak disertai dengan membangun jiwa dan pribadi mereka sebagai satu umat yang mempunyai wijhah, falsafah dan tujuan hidup yang nyata.  Umat yang mempunyai shibgah, corak kepribadian yang terang. Dalam rangka yang agak luas, dan dengan istilah yang gagah yang semacam itu dinamakan orang; “satu aspek dari Social Reform“. Tidak perlu kita bicarakan gagah-gagahan seperti itu, tetapi memang begitulah hakekatnya.
  2. Kalau sekedar soal mencari kaya, rasanya orang Minang tak usah payah-payah benar mengajarnya lagi. Pada umumnya, mereka cukup mempunyai inteligensi dan daya gerak. Baru saja Irian Barat menjadi Wilayah R.I. belum apa-apa di Kotabaru sudah ada “Restoran Padang”. Juga kalau sekedar memperpesat kegiatan produksi yang ekffektif di Minangkabau, dalam arti ekonomis semata-mata, tidak usaha payah-payah benar. Kita bicara saja dengan beberapa orang yang mempunyai modal, kita terangkan saja umpamanya bahwa pertanian dan peternakan yang menghasilkan barang-barang untuk keperluan sandang dan pangan adalah mempunyai harapan baik bila benar-benar dijadikan obyek usaha. Apalagi bila diiringi dengan penyempurnaan cara pengolahannya.

Satu dan lainnya, mengingat keperluan penduduk yag terus berkembang dan penghematan devisa. Mereka akan cepat sekali memahamkan inti persoalannya, cepat pula memperhitungkan rendemennya, dengan kalkulasi yang tepat pula. Dengan kapital mereka yang sedang tidur, ditambah dengan kredit bank yang mereka sudah mempunyai relasi dengannya, mereka bisa membuka tanah secara besar-besaran, memesan bibit tanam ribuan batang sekaligus, memesan mesin listrik untuk pengolahannya dan lain-lain.

Perkara mencari pasaran tak usah bicara lagi. Itu adalah bidang mereka selama ini. Nanti orang kampung sekitarnya bisa pula menerima upah dalam perusahaan secara besar-besaran itu. Malah tidak mustahil pula, awak yang menjadi pemberi idea pertama pun akan dapat dipekerjakan dalamnya sebagai penasehat dengan honorarium yang lumayan. Tak usah turut bekeja payah-payah. Nama awak saja yang dimasukkan dalam formasi management. Dengan itu dapatlah pula dikurangi anslah pajak C.V ataupun perseroan. Upayanya begitu, ini kalau ditilik dari sudut efisiensi dan rendemen ekonomis semata-mata.

  1. Tetapi andai kata kita pergunakan kepandaian-kepandaian kita ini dengan cara demikian maka nasib kita tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik. Sebab pekerjaan kita mempunyai aspek lain, dan menafaskan jiwa lain. Kita berusaha di urat masyarakat.

Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah. Kita ingin berhubungan dengan para dhu’afa ini dalam bentuk yang lain dari pada ; “meminta nasi bungkus”. Selain daripada itu pekerjaan kita ini adalah di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan :

  1. hidup dan memberi hidup, (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup;
  2. tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat sebagai keseluruhan dan sebaliknya (takaful dan tadhamun);
  3. keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari alam, bukan lantaran penggembalaan dari luar;
  4. ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa ;
  5. keseimbangan (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a; Ini wijhah yang hendak di tuju. Ini shibgah yang hendak di pancangkan ; Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri kita ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu. Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam. Sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah.
    1. Kita sekarang merintis, merambah jalan guna menjelmakan hidup berjama’ah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khotbah alim-ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia. Kita rintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada kita masing-masing. Ini nawaitu kita dari semula. Kita jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan. Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu. Amal kita yang sudah-sudah dan yang akan datang akan kering dan hampa, sekiranya amal lahirnya kita lakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya kita anjak.. Semoga di jauhkan Allah jualah kita semua dan keluarga kita dari kehilangan nawaitu di tengah jalan, Amin !

Dan andaikata ada kelihatan di antara keluarga-keluarga kita tanda-tanda akan kehilangan nawaitu-nya, dan mulai tampak gejala-gejala seperti yang kita bayangkan untuk hanya kepentingan individu semata, demi memelihara diri sendirisendiri, maka kewajiban kitalah lekas-lekas memanggilnya kembali.

Agar jangan yang berserak sampai terseret hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang berserak bertebaran semata-mata, dengan mempergunakan jalan-jalan yang kita rintiskan ini. Asal hal-hal yang semacam itu lekas-lekas dapat dipintasi. Insya Allah mereka akan masuk shaf kembali ; “kok io kito ka-badun sanak juo ……….!”

  1. Keadaan masing-masing kita ini tidak banyak berbeda dari keadaan umat yang hendak kita rintiskan jalannya itu. Sebab masing-masing kita adalah sebahagian dari mereka juga. Maka tidaklah salah, malah mungkin berkat kemurahan Ilahi dengan usaha ini juga dapur masing-masing kita akan turut berasap.

Akan tetapi rasa bahagian kia yang tertinggi, ialah apabila kita dapat melihat bahwa itu hanyalah salah satu dari ribuan dapur yang berasap karenanya. Sedikit sama di cacah, banyak sama di lapah. Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar.

Dalam rangka inilah harus kita pahamkan apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana dari “bai’atul qurba”, bai’at kekeluargaan yang kita hendak ikrarkan ini. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Yang Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang diucapkan oleh lidah dan tergores dalam hati kita masing-masing, senantiasa akan membimbing kita dalam menerjemahkan bai’atul qurba ini ke dalam amal dan perbuatan, yang ditujukan kepada keridhaan Nya jua, Amin!. Begitu Pak Natsir mulai merintiskan melalui rintisan qalbu, sebagai landasan ibadah rohani. B i s m i l l a h !

Dari sini kita mulai ! Semakin dipelajari, semakin nampak persoalan-persoalan yang dihadapi. Semakin terasa kesulitan yang harus dilalui, semakin tiumbuh keyakinan untuk melangkah terus mencapai tujuan. Disinilah letaknya ruhul jihad. Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh berbagai pengalaman-pengalaman berharga yang mahal, telah kita sirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian itu tumbuhlah dalam hati ; “rasa berpantang putus asa, bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati, dengan tekad tidak terhenti sebelum sampai, yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua”.

TANYA DAN DO’A[1]

Tentang hidup di desa ini Dari dahulu sampai kini Banyak, cerita ku dengar Dan pengalaman dan penderitaan dirasa Hidup dilingkungan bahan bertimbun Terlena dibuai nyanyian alam Alpa menggali aneka guna Meranalah hidup hampir tak punya, Dini hari ……………. Dalam upacara ini ………… Berdegup jantungku merangkum Tanya Munajat jiwaku memohon do’a. Adakah ini mula masanya

a)      Desauan air sungai ngalau dicelah celah batu ini bertukar derum mesin diruang pabrik

b)      Lambaian bambu mendaduhkan daun-daun ini berganti cerobong tinggi mengepulkan asap,

c)      Gerobak bemo, pedati kayu, ditarik insan mandi keringat bertukar rupa truk, dan gerbong menyilang siur,

d)      Punggung membungkuk meranting tulang mendukung derita menjelma manusia manusia baru makmur bahagia …….

RIDHA (BUCHARI TAMAM)

BALINGKA, NOPEMBER 1963.

MEMBINA UMAT DARI BAWAH JANGAN BERHENTI TANGAN MENDAYUNG[2] …,

Yakni pembinaan umat masyarakat desa, baik lahir ataupun batin. Perumusan ini amat sederhana kedengarannya tetapi pada hakekatnya, tidaklah begitu sederhana. Sebab ini berarti bahwa kita berusaha memanggil dan membawa serta masyarakat desa itu memperbaiki dan meningkatkan taraf hidupnya mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

Semua itu dalam rangka “pembinaan negara” dalam arti yang luas. Kalau kita sudah menyadari benar-benar hakekat tugas kita itu, maka titik tolak dan cara-cara usaha kita mempunyai suatu corak yang khas.

  1. Satu dalil dalam ilmu ekonomi, mengatakan bahwa manusia sebagai manusia ekonomis (homo-economicus) secara umumnya melakukan kegiatan-kegiatan ekonomis. Dengan tujuan pastinya adalah mencapai sebanyak-banyak hasil, guna memenuhi keperluan-keperluannya dengan “korban” yang sekecil mungkin. Begitu bunyi satu dalil atau stelling ekonomi yang terkenal. Akan tetapi manusia bukan semata-mata homo economicus saja. Tetapi ia juga seorang homo methaphisicus atau homo religiousus. Ia mempunyai bermacam kepercayaan. Menganut bermacam nilai hidup yang seringkali dipandangnya lebih penting daripada memenuhi keperluan hidup materialnya semata-mata. Manusia juga adalah makhluk ijtimaa’ie. Manusia sebagai kelompok social being, yang tak dapat tidak, hidup dalam suatu “rangka kemasyarakatan” social order. Di mana manusia selalu terikat oleh ikatan-ikatan kulturil, social politik, adat-lembaga, atau cita-cita sosial yang tertentu. Salah seorang Sarjana Ekonomi dalam satu ulasannya mengatakan antara lain[3]); “… perkembangan ekonomi itu bukanlah suatu proses yang semata-mata mekanis sifatnya.

Tidaklah semata-mata sekedar usaha menghimpunkan beberapa unsur-unsur yang tertentu. Pada akhirnya suatu perkembangan ekonomi itu, adalah merupakan satu usaha manusia. Dan sebagaimana juga halnya dengan lain-lain usaha manusia, hasilnya, pada akhirnya, tergantung kepada kecakapan, mutu (kualitas) dan sikap jiwa dari manusia yang menyelenggarakan usaha itu sendiri”.

Sebagaimana kita ketahui, masyarakat yang hendak kita panggil dan bawa serta untuk berusaha meningkatkan kesejahteraannya lahir dan batin itu, adalah masyarakat-agraris, masyarakat pertanian dengan segala sifat dan pembawaannya sebagai “masyarakat tani”.

Taraf hidup dalam sebagian terbesar dari desa-desa kita, lebih-lebih sebelum “pemulihan kemerdekaan” masih dekat sekali kepada gambaran masyarakat desa seperti yang dilukiskan oleh DR. MOHAMADHATTA dalam bukunya “Beberapa Fasal Ekonomi”, antara lain sebagai berikut ;

” ….. Tanah adalah pokok penghasilan yang terutama. Pada tanah bergantung nasib manusia. Betul tak ada penghasilan yang jadi, kalau tidak dengan usaha manusia, tetapi pekerjaan manusia cuma sedikit bagiannya. Kerja manusia hanya mencangkul sedikit, menanam bibit dan mengatur banyak air yang perlu bagi tanamannya. Selanjutnya diserahkan kepada alam untuk membesarkanya bibit itu sampai menjadi buah. Kalau bibit sudah ditanam, orang dapat mengetahui, apabila waktu menuai, apabila buah dapat dimakan. Itu diketahui berkat pengalaman. Kebiasaan menunggu berbulan-bulan akan hasil usaha bertanam dan kepastian bahwa saban tahun orang dapat mengharapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyebarkan hati dan menetapkan buah, keduanya itu menenangkan pikiran, menyabarkan hati dan menetapkan perasaan. Oleh karena itu persekutuan dusun tenang rupanya, bersifat menanti.

Semuanya, langkah dan waktu ditetapkan oleh alam. Tidak ada pekerjaan yang harus dan diburukan.

Penghidupan beredar menurut irama yang sudah tentu. Dari tahun ketahun edaran ekonomi tetap, tidak berubah-ubah. Memang ada yang mengganggu ketetapan itu. Misalnya musim kemarau, musim penyakit dan bahaya perang, yang memusnahkan beberapa jiwa. Tetapi selainnya menunggu, segala marabahaya itu menetapkan kembali keadaan yang lama. Jiwa yang bertambah dari tahun ke tahun disapunya kembali. Oleh karena itu neraca penghidupan masyarakat serupa lagi dengan keadaan semula sebelum bertambah umatnya.

Sebab itu pula segala marabahaya itu dirasai orang sebagai satu fatum, “takdir” yang tak dapat dihindarkan. Kepercayaan akan takdir seperti itu memperkuat perasaan menyerahkan nasib yang sudah tertentu, menimbulkan keyakinan bahwa yang ada itu, tidak dapat diubah-ubah. Demikianlah keadaannya penghidupan jiwa di dusun. Alam dan tempat, menjadi alat pengasuh perasaan kuno, perasaan menyerah dan perasaan sabar.”

Demikian DR. MOHAMAD HATTA. Beliau memaparkan ini beberapa belas tahun yang lalu. Tetapi pada umumnya apa yang digambarkan oleh Bung Hatta itu masih merupakan satu gambaran yang karakteristik atau ciri umum dari masyarakat pedesaan kita, boleh dikatakan di seluruh tanah air. Maka apabila sekarang kita hendak membangun perikehidupan masyarakat desa kita yang demikian, tidaklah dapat kita menutup mata dari keadaan yang nyata itu. Agar atas pengetahuan kita tentang “kekayaan alam” yang ada.

Perlu membekali diri dengan pengetahuan kita tentang “tingkat kecerdasan” umat, tentang “sikap jiwanya” yang ditentukan oleh bermacam-macam unsur “non-ekonomis” itu. Dengan demikian, dapatlah kita menggariskan rencana usaha dan cara-cara mendekati persoalan atau menentukan “approach”nya kata orang sekarang.

Orang biasa membangun masyarakat desa yang pada umumnya berada dalam alam “statis-tradisionil” itu dengan bermacam-macam cara. Ada yang mau cepat menggunakan regimentasi yakni dengan pengerahan dengan komando seperti sistem komando di RRC.

Ada yang dengan tak sabar, mendrop ke dalam masyarakat desa yang tak punya modal itu, uang ratusan juta rupiah atas dasar kredit. Ada yang mau lekas-lekas, secara mendadak, supaya masyarakat desa menggunakan hasil-hasil teknologi yang modern. Tujuannya ialah ; “mempertinggi produksi sandang pangan”. Caranya; ” modernisasi secepat mungkin, di segala bidang”. Kita sudah lihat bagaimana hasilnya :

1)      Dengan regimentasi, masyarakat desanya lumpuh

2)      Dengan menempakan kredit sebanyak mungkin, masyarakat desa terlibat hutang yang tak terbayar.

3)      Dengan mekanisasi yang dipaksa-paksakan, alat-alatnya jadi “besi tua”.

Sebabnya ialah; seringkali orang lupa, dalam suasana keranjingan cepat mencapai daya guna/efisiensi, dengan apa yang disebut modernisasi, dan teknologi modern, orang lupa kepada unsur manusianya. Berilah modal kepada orang yang belum pernah melatih diri membina modal sendiri dengan susah payah, modal itu akan hancur.

Berilah secara mendadak hasil teknologi modern berupa teori dan mesin-mesin modern, kepada orang yang masih hidup dalam alam fatalisme dan segala macam tahayul yang tradisionil, mereka akan bingung dan patah semangat. Maka khittah kita dalam menghadapi pembangunan bertitik tolak pada pembinaan manusianya, dalam arti mental dan fisik. Membina daya pikir dan daya ciptanya.

Membersihkan aqidah dan membangun hati nuraninya, membina kecakapan dan dinamikanya.

Sehingga seimbang pertumbuhan rohani dan jasmaninya, seibang kesadaran akan hak dan kesadaran akan kewajibannya, seimbang ikhtiar dan do’a nya. Sebab, kesudahannya, “perkembangan umur manusia” inilah jua yang dapat mengarahkan perkembangan lahiriyah dibidang apapun.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan satu kaum, kecuali apabila mereka merobah keadaan apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Allah) “. (QS.13, Ar Ra’du : 11).

Adapun modal dan teknologi adalah perlu, sebagai alat pembantu dan pendorong mempercepat prosesnya.

  1. Dalam usaha ini, kita akan menghadapi bermacam-macam persoalan yang harus diatasi. Antara lain, Bila berbicara tentang “pembinaan kesejahteraan” dalam arti materiel kita tidak terlepas dari pada satu undang-undang baja ekonomi. Bahwa kita harus meningkatkan produksi di bidang apapun namanya. Entah di bidang sandang ataupun pangan.

Produksi tidak dapat tidak menghendaki modal. Yang dimaksud dengan modal sebagai unsur produksi adalah persediaan alat penghasil yang dihasilkan (stock of produced means of production).

Misalnya gedung-gedung, pabrik-pabrik, mesin-mesin, alat perkakas, dan persediaan barang yang semuanya diperlukan untuk proses produksi. Fungsi uang dalam rangka ini adalah sebagai alat penukar, pembeli alat-alat penghasil itu. Pembentukan modal dapat dilakukan, apabila dari hasil produksi tidak semuanya dihabiskan tetapi disimpan, lalu digunakan untuk produksi selanjutnya. Dengan lain perkataan; modal akan terpupuk tumpuk apabila masyarakat dapat membatasi “konsumsi sekarang”, guna memperoleh hasil yang lebih banyak pada masa yang akan datang.

Di sini kita akan menjumpai lingkaran yang tak berujung berpangkal. Yaitu : apabila hasil produksi yang disimpan besar, maka pembentukan modal akan bertambah besar pula. Bagaimana pentingnya penumpukkan modal bagi suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya, dapat kita rasakan bila kita melihat lingkaran yang sebaliknya. Yaitu: taraf penghidupan rendah, hanya sedikit, atau tidak sama sekali, membukakan kemungkinan untuk menyimpan. Ini mengakibatkan kita sedikit, atau tidak sama sekali dapat memupuk modal ini.

Juga mengakibatkan hasil produksi kecil tak mungkin mengadakan penyimpanan dan taraf hidup merosot, dan ekonominya tak mungkin berkembang. Jadi ditinjau secara ekonomis, di samping kesanggupan dan kesediaan untuk bekerja keras, rajin dan cermat, ada dua hal yang tidak dapat tidak harus dilakukan oleh suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya dari taraf yang rendah, ialah :

a)      memulai dengan kesanggupan dan kesediaan untuk hidup dengan berhemat untuk dapat memupuk modal.

b)      menghindarkan segala macam pemborosan, dan memberantas segala bentuk pemborosan itu.

Sering persoalan yang tumbuh ialah; Bagaimana kita membawa umat dan masyarakat desa itu kepada kemampuan dan kebiasaan untuk “menyimpan” sebagian dari hasil produksinya guna “pembentukan modal”. Dan bagaimana supaya mereka dapat menghindarkan pemborosan-pemborosan (waste).

Alhamdulillah dalam masyarakat kita tidaklah ada unsurunsur non ekonomis yang mengakibatkan pemborosan secara besarbesaran. Tidak ada umpamanya masalah sacred cow dan sacred monkey seperti di India umpamanya, di mana rakyat Hindu yang merupakan mayoritas mempunyai kepercayaan yang mendalam bahwa sapi adalah hewan yang suci tak boleh disembelih. Kira-kira 80 juta ekor sapi, atau kira-kira sepertiga dari seluruh jumlah sapi di

India itu, yang kekuatannya tidak dimanfaatkan lagi dalam proses produksi seperti membajak, penghela pedati, atau sapi perahan tidak boleh disembelih tetapi harus dipelihara dan diberi makan selama hidupnya.

Demikian pula ada kepercayaan mayoritas rakyat India bahwa “monyet” atau “kera” pun adalah binatang yang suci. Dibeberapa daerah monyet demikian berkembang biaknya sehingga menjadi gangguan besar bagi tanam-tanaman dan menimbulkan kerugiankerugian yang tak kecil, bagi perkebunan-perkebunan. Sungguhpun demikian monyet tersebut tidak boleh dibunuh. Para sarjana Ekonomi India dan pemimpinnya sudah menyadari betapa besarnya “economic waster” yang ditimbulkan oleh itu semua. Akan tetapi mereka sampai sekarang tidak atau belum mengatasinya.

Dan Nehru semasa hidupnya pernah menghadapi protesprotes yang pedas dari rakyat India, ketika ia mengupas persoalan sacred monkey” itu secara rasionil, dan mengemukakan idea untuk mengekspor monyet-monyet itu hidup-hidup ke luar negeri, di mana monyet-monyet itu dapat dimanfaatkan kulitnya sedangkan India mendapat devisa yang diperlukan untuk pembentukan modal. Mengenai masalah sacred cow, Nehru ataupun para pemimpin politik dan ekonomi India lainnya, tidak pernah berani menyinggungnya. Malah memberi perlindungan atas sacred cow ditempatkan dalam Undang-undang Dasar Negara India sendiri.

Jelaslah sudah, bahwa kepercayaan yang hidup dalam masyarakat seperti ini merugikan Gross National Produkct (GNP) India, dan merintangi pemupukan modal. Akan tetapi dalam hal ini pemimpin India yang bertanggung jawab berhadapan dengan suatu kepercayaan agama yang sudah berurat berakar pada masyarakat India, mengelakkan konfrontasi dengan mereka, berdasarkan pertimbangan bahwa suatu percobaan untuk memberantasnya secara radikal, niscaya akan berakibat negatif yang akan mencetuskan kekacauan dan kerusakan-kerusakan terus menerus, dan akan mengakibatkan macetnya pembangunan ekonomi.

Di Indonesia kita tidak menjumpai masalah-masalah seperti tersebut di atas. Di Pulau Bali, di mana mayoritas rakyatnya beragama Hindu- Bali, tidak ada masalah sacred cow ataupun sacred monkey. Malah sapi Bali terkenal sebagai sapi sembelihan, dan di Bali sendiri ada Canning Industry, yang menghasilkan Corned Beef. Adapun di alam Minangkabau, kepercayaan atau adat istiadat yang mengakibatkan pemborosan (waste) besar-besaran boleh dikatakan tidak ada. Syukur pula “Alam Minangkabau” masih terlindung dari kebiasaan pemborosan besar-besaran yang terjadi bila ada organisasi-organisasi yang merayakan Hari Ulang Tahunnya yang kesekian, dengan pengeluaran besar tanpa alasan.

Namun masih ada kemungkinan dari wabah masyarakat, yakni penyakit adu untung, atau perjudian massal dalam bermacammacam bentuknya, seperti hwa-hwe dan lain-lainnya, yang meruntuhkan akhlak dan menghisap modal dari proses produksi dan pasar dagang ke meja perjudian itu, dengan segala akibat-akibatnya[4].

Inilah yang sangat perlu diawasi.

Selain dari pada itu, sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat kita di sini pada umumnya masih tetap tertuntun oleh akhlak, dan pandangan hidup Islam, tertuntun dan terbimbing oleh “Adat basandi Syara’ syara’ mamutuih, Adat memakai ![5]

Menumbuhkan sifat-sifat kebiasaan-kebiasaan (human behaviour) yang diperlukan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan, dan yang semacam itu merupakan harta besar dari kekayaan masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

Minang, ditetapkan kembali pentingnya masyarakat dan pemerintah daerah di Sumatera Barat menghidupkan kembali falsafah budaya ABS-SBK, (kependekan dari Adfat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah).

GALI DARI AJARAN ISLA M

Ajaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju, antara lain:

1)      Keseimbangan

Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ;

a) “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

b) “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolaholah akan hidup selama-lamanya”. (Hadist).

2)      Self help

Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”, dengan cara yang amat sederhana sekalipun adalah “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain :

c) “Kamu ambil seutas tali, dan dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”. (Hadist). Diperingatkan bahwa membiarkan diri hidup dalam kemiskinan  dengan tidak berusaha adalah salah :

d). “Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (keengkaran)” (Hadist).

3)      Tawakkal. Tawakkal bukan berarti “hanya menyerahkan nasib” kepada Tuhan, dengan tidak berbuat apa-apa;

e) Jangan kamu menadahkan tangan dan berkata : “Wahai Tuhanku, berilah aku rezeki, berilah aku rezeki”, sedang kamu tidak berikhtiar apa-apa. Langit tidak menurunkan hujan emas ataupun perak.

f) “Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal”. (Atsar dari Shahabat). Tak ada kebun tempat ia bertanam, tak ada pasar tempat ia berdagang, tetapi tak kurang, setiap pagi dia terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore dia kembali dalam keadaan “kenyang”.

4)      Kekayaan Alam

g) Di arahkan perhatian kepada alam sekeliling yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Diarahkan pandangan dan penelitian kepada alam tumbuhtumbuh yang indah, berbagai warna, menghasilkan buah bermacam rasa.

32. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (QS.14, Ibrahim: 32).

Kepada alam hewan dan ternak serba guna dapat dijadikan kendaraan pengangkutan barang berat, dagingnya dapat dimakan, kulitnya dapat dipakai sebagai sandang.

5. dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.(QS.16, An Nahl : 5).

Kepada perbendaharaan bumi yang berisi logam yang mempunyai kekuatan besar dan banyak manfaat.

12. dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya),13. dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. (QS.16, An Nahl : 12-13).

Kepada lautan samudera yang terhampar luas, berisikan ikan dan berdaging segar, dan perhiasan yang dapat dipakai, permukaannya dapat diharungi dengan kapal-kapal; supaya kamu dapat mencari karunia-Nya (karunia Allah), dan supaya kamu pandai bersyukur”[6].

Kepada bintang di langit, yang dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk jalan, penentuan arah bagi musafir”[7].

  1. Time – Space – Consciousness

h. “Dibangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness) kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun, antara lain juga saat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima kepada kepentingan nya waktu yang kita pasti merugi bila tidak diisi dengan amal perbuatan[8].

$uZù=yèy_ur Ÿ@ø‹©9$# $U™$t7Ï9 ÇÊÉÈ   $uZù=yèy_ur u‘$pk¨]9$# $V©$yètB ÇÊÊÈ

10. dan Kami jadikan malam sebagai pakaian,11. dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, (QS.78, An Naba’ : 10-11).

j. “Dibandingkan kesadaran kepada bagaimana luasnya bumi Allah ini” dianjurkan supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit”[9] . Karena kalau dihitung segala ni’mat Allah, tak akan mampu manusia menghitungnya.

bÎ)ur (#r‘‰ãès? spyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB 3 žcÎ) ©!$# ֑qàÿtós9 ÒO‹Ïm§‘ ÇÊÑÈ

18. dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.16,An Nahl : 18).

Dan Dia lah Allah yang telah menjadikan bumi mudah untuk kamu gunakan. Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan  makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali.

10. apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

  1. Jangan Boros

k. “Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan”.

* 31. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS..7, Al A’raf : 31)

Kalau disimpulkan ;

Alam ditengah-tengah mana manusia berada ini, tidak diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sia-sia, dalamnya terkandung faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan oleh manusia untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmaninya.

Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan  memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya itu, menikmatinya, sambil mensyukurinya, beribadah kepada ilahi, serta menjaga dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas, agar jangan terbawa hanyut oleh materi dan hawa nafsu yang merusak.

Dan ini semua adalah suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani. Sikap hidup (attitude towards life) yang demikian, tak dapat tidak merupakan sumber dorongan bagi kegiatan penganutnya, juga  di bidang ekonomi, yang bertujuan terutama untuk keperluankeperluan jasmani (material needs).

“Hasil yang nyata” dari dorongan-dorongan tersebut tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa penganutnya itu sendiri, kepada tingkat kecerdasan yang mereka capai dan kepada keadaan umum di mana mereka berada.

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedahkaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran antara lain:

1). Bekerja:

Ka lauik riak mahampeh Ka karang rancam ma-aruih Ka pantai ombak mamacah Jiko mangauik kameh-kameh Jiko mencancang, putuih – putuih Lah salasai mangko-nyo sudah

Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada. Bila mengerjakan sesuatu tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan. Tidak berhenti sebelum sampai, dan tidak akan berakhir sebelum benar-benar sudah.

2). Caranya:Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh Ba-tuka ba-anjak Barubah ba-sapo Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito, Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang, (basalang tenggang.) Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an, Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru. Jiko mangaji dari alif, Jiko babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun dari tanggo. Pawang biduak nan rang Tiku, Tandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Disinan api mangko hiduik. Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja. Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi. Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandan pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak. Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik. Latiak-latiak tabang ka Pinang Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.

3). Kemakmuran :

Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

4). Perhatian :

Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai Agak-agak nan ka-tingga Teranglah sudah …., bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan menemui disini satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha pembangunan itu.

N U C L E A R :

Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhus sontak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo.

Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku. Melupakan atau mengabaikan ini, mungkin lantaran menganggapnya sebagai barang kuno yang harus dimasukkan kedalam museum saja, di zaman modernisasi sekarang ini berarti satu kerugian. Sebab berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara. Membangun kesejahteraan dengan bertitik tolak pada pembinaan unsur manusia nya, sehingga menjadi homo ekonomikus, sebagaimana yang kita lihat sekarang sedang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan dapat dimulai setiap waktu. Tidak menunggu sampai datangnya kredit luar negeri, atau kapital asing yang akan mendirikan pabrik-pabrik modern di negeri kita lebih dulu. Tidak. Sebab dia dimulai dengan apa yang ada. Yang ada ialah kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia.

Ibarat orang mengaji dia memulai dari alif. Sesudah itu baa, kemudian taa, dan seterusnya. Selangkah demi selangkah – step by step – thabaqan ‘an thabag.

Dia mulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat pedesaan itu. Kepada kesadaran akan benihbenih kekuatan yang ada dalam dirinya masing-masing. Yakni : observasinya yang bisa dipertajam daya pikirnya yang bisa ditingkatkan daya gerak nya yang bisa didinamiskan, daya ciptanya yang bisa diperhalus, daya kemauannya yang bisa dibangkitkan.

Dia mulai dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepercayaan kepada diri sendiri. Dengan kemauan untuk melaksanakan idea self help kata orang sekarang sesuai dengan peringatan Ilahi. “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah apa-apa yang ada dalam dirinya masing-masing ….”

Cukupkan dari yang ada …

Telapak tangan….

Di sini kita melihat peranan hakiki dari Sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu mengolah dan memelihara alam kurnia Allah untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriyah, dimulai dengan nilai-nilai rohani[10].

“Jangan berhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut” …..

Begitu bunyi suara hati mereka. Itu yang ada dibelakang hasil lahiriyah yang dipameran itu. Mereka masih mengaji alif-baa-taa.  Kemauan mereka akan melanjutkan kaji khatam Memang pada permulaan, terasa lambat kaji beralih, dari reka ke reka berangsur-angsur. Disatu saat kaji self help (menolong diri sendiri) beralih kepada kaji mutual help, tolong-menolong, bantu-membantu, dalam rangka pembagian pekerjaan, ber-ta’awun kata ahli agama. Sesuai dengan anjuran Ilahi :

“Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka

pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masingmasing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan. Dari taraf ini berangsur-angsur kepada take-off kata orang sekarang. Dimana ibarat mesin sudah hidup, baling-baling sudah berputar pesawatnya mulai bergerak, meluncur di atas landasan, naik berangsur-angsur semakin lama semakin tinggi.

Kalau sudah demikian maka akan sampailah ke taraf ketiga, yaitu taraf yang biasa kita namakan selfless help yaitu dimana kita sudah dapat memberikan bantuan kepada orang yang memerlukan dengan tidak mengharapkan balasan apa-apa. Itulah taraf ihsan yang hendak kita capai sesuai dengan maqam yang tertinggi yang dapat dicapai dalam hidup duniawi ini oleh seorang Muslim dan masyarakat Muslimah. Yakni untuk melaksanakan Firman Ilahi;

77. dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS.28, Al Qashash : 77)

Satu kemajuan Insya Allah akan terwujud dengan semboyan:

“Mulai dengan melatih diri sendiri, mulai dengan alat yang ada, mencukupkan dengan apa yang ada. Yang ada itu adalah cukup untuk memulai. Kita menuju kepada taraf yang memungkinkan kita untuk   melakukan selfless help, memberikan bantuan atau infaq fii sabilillah dari rezeki yang telah diberikan kepada kita tanpa mengharapkan balasan jasa.

19. Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,20. tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.21. dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan. (Q.S. Al Lail, 19 – 20).

Itu tujuan yang hendak kita capai

Begitu khittah yang hendak kita tempuh. Yang sesuai dan munasabah dengan fithrah kejadian manusia yang universil. Dalam rangka satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah”. Dalam rangka pembinan negara dan bangsa kita keseluruhannya. Pak Natsir memperingatkan pula tentang kekuatan moral yang dimiliki. Saudara telah menanamkan “nawaitu” dalam diri Saudara masing-masing untuk membina umat dalam masyarakat desa yang sudah Saudara-Saudara ketahui kekuatan, baik kekuatan ataupun kelemahan di dalamnya.

Saudarapun telah bersama-sama dengan mereka mengalami suka dan duka, manis dan pahitnya.” Pernah ditahun 1946, setahun sesudah proklamasi, rombongan kami (kata Pak Natsir), disambut di Bukittinggi dengan pantun :

“Mandaki ka gunung Marapi, Manurun ka Tabek Patah, Nampak nan dari Koto Tuo, Lah barapo kali musim baganti, Lah urang awak bana nan mamarintah, Nasib kami baitu juo”[11].

Maka jawablah pantun itu dengan “amal”, dengan Syi’ir posisie kucuran keringat dan perasan otak. Kalau kadangkadang hendak berpantun juga, pelepaskan lelah, jawabkan saja Ba-ririk bendi di Indarung Mandaki taruih ke Tinjau Lauik Jan baranti tangan mandayuang, Nanti aruih mambao hanyuik”.[12])

Bismillah …..

Kembangkan layar bahtera kecil saudara-saudara menuju pulau harapan. Kami do’akan bersama-sama ; Tukang nan tidak mambuang kayu,Nan bungkuak kasingka bajak, Nan luruih katangkai sapu, Satangkok kapapan tuai, Nan ketek pa pasak suntiang[13]  Anak urang Padang Mangateh, Nak lalu ka Payokumbuah, Namun nan singgah iko ka ateh, Bijo barandang nan ka tumbuah[14].

Mamutiah cando riak danau, Tampak nan dari muko-muko, Batahun-tahun dalam lunau, Namun nan intan bakilek juo[15].) Bekerjalah ….. ,

Bismillah …… –

TIDAK BOLEH KITA PASIF[16])

Pertanggungan jawab moral kita, tidak mengizinkan kita pasif. Terutama semua kita yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin. Bencanalah yang akan menimpa kita semua

apabila golongan pemimpin disaat seperti sekarang ini, asyik merawati, lalu mendandani kehidupan masing-masing, dan kemudian tenggelam di dalamnya, sedangkan teman-teman lainnya yang lebih lemah dibiarkan mencari nasib masing-masing.

Memang …..,“Ada bedanya kita yang sudah dianggap orang pemimpin dari orang awam.” Makanya kita yang dianggap orang pemimpin itu, ialah karena kita memiliki beberapa hal. Kita memiliki dan seharusnya memiliki ;

Ke-Iman-an kepada Tuhan Yang Maha Esa,

Daya pikir dan daya cipta

Cara hidup yang bersih

Akhlaq dan budi pekerti yang baik,

Rasa cinta kepada Agama, nusa dan bangsa umumnya,

Rasa setia kawan dan rasa tanggung jawab moril terhadap saudara mereka itu, yang telah pernah terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejaran dan persamaan pandangan hidup, khususnya.

Yang kita miliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran uang atau kekuatan lahir. Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong…..

“HIDUPKAN KEMBALI UKHUWWAH ISLAMIYAH[17])

Sudah mulai agak janggal pula kedengarannya bila menyebut kaji ini. Kaji yang sudah begitu lama kita kunyah. Tetapi, yang masih sedikit sekali berjumpa pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan modern dengan alat-alat penghubungnya yang serba lengkap, automobil, kereta api, kapal terbang, tilpon, pers, radio, televisi, semua itu ternyata gagal dalam menghubungkan jiwa dan jiwa, dalam ikatan persaudaraan yang ikhlas dan hakiki.

Rupanya soalnya bukan soal alat. Soalnya terletak pada jiwa yang akan mempergunakan alat penghubung itu sendiri. Sebaikbaik alat pemotret tidak bisa memprodusir gambar seseorang yang tidak ada. Alat-alat komunikasi yang ultra modern yang dapat menyampaikan pesan kepada satu satelit di luar bumi dengan tekanan suatu knop saja, alat-alat semacam itu tidak mampu menghubungkan rasa muhibbah itu sendiri yang tidak ada.

Alat-alat komunikasi sebagai hasil dari teknik modern ini telah dapat memperpendek jarak sampai sependek-pendeknya. Akan tetapi jarak jiwa dan rasa manusia tidak bertambah pendek lantarannya. Malah sebaliknya yang seringkali kita jumpai. Hidup bernafsi-nafsi, siapa lu siapa gua, semakin merajalela. Inilah problematik dunia umumnya sekarang ini, ditengahtengah kemajuan material dan teknik yang sudah dapat dicapai manusia diabad XX ini.

Ini juga problematik yang dihadapi manusia Umat Islam khususnya. Persoalan uchuwwah Islamiyah ini wajib kita memecahkannya dengan sungguh-sungguh, kalau benar-benar kita hendak menegakkan Islam dengan segala kejumbangannya kembali dinegara ini.

Dan …., Sekiranya ukhuwwah itu dapat ditumbuhkan hanya dengan mendirikan bermacam-macam organisasi, dengan anggaran dasar dan kartu anggotanya, dengan semboyan-semboyan dan posterposternya, semestinya ukhuwwah sudah lama tegak merata diseluruh negeri ini.

Sekiranya ukhuwwah Islamiyah dapat diciptakan dengan sekedar anjuran-anjuran lisan dan tulisan, semestinya sudah lama ukhuwwah Islamiyah itu hidup subur dikalangan Umat Islam, dan umat itu sudah lama kuat dan tegak. Sebab sudah cukup banyak anjuran lisan dan tulisan yang dituangkan kepada masyarakat selama ini.

Ayat dan hadist mengenai ukhuwwah, sudah berkodi-kodi kertas, dilemparkan kedalam masyarakat dengan majalah-majalah, bukubuku dan surat-surat kabar, sudah hafal, dikunyah-kunyah dan dimamah orang banyak.

Kalau ukhuwwah Islamiyah belum kunjung tercipta juga, itu tandanya pekerjaan kita belum selesai. Dan kalau usaha-usaha selama ini belum berhasil dengan memuaskan, itu tandanya masih ada yang ketinggalan, belum dikerjakan.

Rupanya soal ukhuwwah ini soal hati yang hanya dapat dipanggil dengan hati pula. Sedangkan yang sudah terpanggil sampai saat sekarang barulah telinga dan dengan kata. Oleh karena pihak pemanggil yang bisa berbicara barulah lidah dan pena-nya belum hati dan jiwanya.

Rupanya dan memang terbukti rahasianya menegakkan ukhuwwah Islamiyag terletak dalam sikap langkah dan perbuatan yang kecil-kecil dalam pergaulan sehari-hari, seperti yang ditekankan benar oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam dalam membina jamaah dan umat Islam yang pertama-tama, tegur sapa, memberi salam, dan menjawab salam, mengunjungi orang sakit yang sedang menderita, mengantarkan jenazah ke kubur, memperhatikan kehidupan sejawat, membujuk hati yang masygul, membukakan pintu rezeki bagi mereka yang terpelanting, membukakan pintu rumah dan pintu hati kepada para dhu’afa, dan amal-amal kecil yang semacam itu, kecil-kecil tapi keluar dari hati yang ikhlas dan penuh rasa persaudaraan. Sedangkan kita selama ini lebih tertarik oleh cara-cara borongan, demonstratif, dengan berteras keluar, asal kelihatan oleh orang banyak.

Wal hasil, membangun kembali ukhuwwah Islamiyah memerlukan peninjauan dan penilaian kembali akan cara-cara yang sudah ditempuh sekarang. dia memerlukan daya cipta dari pada pemimpin yang dapat berijtihad, dan memerlukan para pekerja lapangan tanpa nama, tanpa mau dikenal khalayak ramai, bersedia meniadakan diri. Memakmurkan masjid kembali, menyusun jamaah, melalui itu, menegakkan ukhuwwah Islamiyah adalah kaji alf-baa-taa.

Bukan barang baru lagi ahli qiraat, tapi mungkin sekali kelalaian kita ini adalah lantaran berlaku seperti ahli qiraat yang asyik dengan nada dan irama suara, tapi lupa akan pokokpokokonya “tajwid alif-baa-taa”. Waktu belum kasip, asal mulai dari sekarang.

Sekarang; Jangan habis masa dengan mengunyah dan memamah apaapa yang diperbuat dan tidak diperbuat orang lain. Tak usah kita terombang-ambing, o leh pertanyaanpertanyaan seperti : “Bila nanti orang membuka pasar, apakah kita

akan turut berjual beli …?

Pertanyaan semacam ini baru pantas dipikirkan jawabnya oleh orang yang sudah memiliki modal atau barang yang akan diperdagangkan.

Adapun orang yang kantongya kosong, barang-barang pun tak punya, apakah yag akan diperjual-belikannya nanti biar pun orang membuka pasar ….,

Jangan-jangan dia seperti yang akan jadi barang dagangan orang lain ………,

Semogalah tidak akan berlaku sebagai yang dikeluhkan sya’ir ;

” Maka berserulah situkang seru ; ” Wahai manakah dia yang menyahuti seruan ini,

” Yang diseru, ” tak kunjung menyahut juga …..”.

DALAM PELAYARAN YANG PANJANG, ADAKALANYA, NAHKODA HARUS BERPIRAU

I. Berpirau artinya maju. Maju menyongsong angin dan arus.

II. Waktu berpirau, perahu dikemudikan demikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat depan, tepi menyerang.

III. Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan, tidak berkisar. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang yang sedang berpirau :

1. Angin dan gulungan ombak tidak di songsong tepat terpampan. Akan tetapi arah perahu sekali-kali tidak boleh demikian rupa sehingga mudah terbelok melintang sejajar dengan gulungan ombak. Satu kali letak perahu begitu, dia akan terbalik digulung gelombang.

Kalau ada satu ketika gelombang terlampau besar, arus terlampau deras, angin badai berputar-putar, lebih baik sauh dibongkar, layar diturunkan berhenti ditempat sebentar, menunggu badai reda. Tidak ada badai yang tak pernah reda. Lebih banyaklah sementara itu taqqarub kepada Ilahi Rabbi, kepada Khaliq yang menjadikan segala sesuatu yang termasuk angin dan arus itu. Bagi seorang Muslim ikhtiar dan do’a memang selalu sejalan berjalin, tidak boleh dipisahkan. Ini lebih baik dari pada melepaskan kendali dari tangan, dibiarkan perahu terombang ambing, menurutkan kemana angin dan arus menderas.

2. Kemudi tidak boleh lepas dari tangan. Mata juru mudi dan nahkoda tidak boleh lepas dari mengawasi pedoman untuk menentukan arah, mengaasi kemana-kemana jurusan angin dan arus, mengawasi bintang yang jauh dilangit, untuk menentukan tempat agar jangan keliru memegang kemudi. Disangka awak masih berpirau, kiranya haluan terlongsong berkisar sulit pula membetulkannya kembali.

Awak perahu tidak boleh berhenti mendayug. Berhenti mendayung, sauh tidak boleh dipasanng berarti hanyut. Sebab angin dan arus tidak timbul suasana lesu, dan suasana masa bodoh, atau paniek, akan sukar pula membangkitkan mereka mendayung kembali. Mereka selalu asyik dan diasyikkan.

Jika dayung besar, sesuatu waktu dirasakan terlampau berat tukar dengan dayung yang lebih ringan yang sesuai dengan tangga mereka waktu itu. Namun berdayung terus berdayung. Agar jiwa mereka tetap besar harapan mereka tidak patah. Hati mereka harus terus dirawat.

Seorang nahkoda, bagaimanapun pintarnya, tidak bisa berlayar sendiri. Kekuatannya terletak pada tenaga anak perahu. Diwaktu badai tidak bolehlah dia mendandani dirinya sendiri. Bila perlu dia juga harus bersedia dan bisa mennjadi juru bantu, turut mendayung, menimba air, memanjat tiang memasang layar. Nahkoda tidak boleh terlepas dari mata anak perahu. Mereka ini tidak boleh mendapat atau mendapat kesan, bahwa tempat kemudi kosong, tidak ada yang menunggui. Ini bisa menimbulkan putus harapan dan suasana paniek. Dalam keadaan seperti itu mudah sekali anak perahu yang sedang kehausan lantaran tidak sabar atau lantaran kejahilan mengorek dinding perahu supaya lekaslekas mendapat air. Padahal airnya air bergaram, tidak dapat diminum melepaskan haus; sedangkan perahu bisa tenggelam lantaran berlobang dan membawa tenggelam semua penghuni perahu bersama-sama; bukan karena arus dan badai, tetapi karena nahkoda yang lalai.

3. Tenaga berpirau yang pokok ialah tenaga dayung. Nakhoda yang mahir, di samping itu dapat mempergunakan angin yang datang menyerang dari samping, penambah tenaga dayung; kemahirannya terletak dalam memasang layar, dalam menentukan, mana layar yang harus dipasang mana yang harus diturunkan; kemana kemudi harus ditekankan, agar tenaga angin seperti itu dapat diambil manfaatnya, dengan tidak dikuatiri akan membelokkan arah.

4. Berlayar bukan asal sekedar berlayar. Harus tentu-tentu tempat yang dituju. Harus tentu sifat muatan yang dibawa. Adapun bendera dan panji-panji, besar pula manfaatnya sebagai lambang

dari tujuan yang hendak dicapai dan dari isi muatannya dibawa. Tak layak lagi bahwa simbolik mengandung kekuatan yang tidak boleh diabaikan.

Dalam pada itu, kadang-kadang dimusim darurat, mengibarkan bendera lambang itu menimbulkan kesulitan. Dalam keadan yang semacam itu ijtihad Nakhodalah yang menentukan, disuatu keadaan, manfaat dan mudharatnya mengibarkan lambang ditiang tinggi itu.

Yang perlu dijaga ialah :

a. Jangan lakukan “tasyabbuh”.

Tasyabbuh yang barangkali tadinya dimaksudkan untuk menyamar, akan tetapi kesudahannya membingungkan anak perahu sendiri, dan menghancurkan kepribadian mereka.

b. Jangan ada “talbisul haq bil bathil” mencampur adukkan muatan yang baik dengan yang buruk, nanti seluruh muatan jadi rusak.

c. Anak perahu dan para penumpang semuanya harus dilatih dan para Nakhoda melatih diri, sehingga mereka bisa bergerak ibarat ikan berenang dilaut, terus menerus dikelilingi air asin, tetapi dagingnya tetap tawar dan segar.

5. Tidak ada jalan yang selalu mudah dan licin untuk mencapai sesuatu tujuan yang bernilai tinggi. Tidak ada pelayaran tanpa resiko. Soalnya bukanlah ada resiko. Soalnya ialah mengambil

resiko yang dapat dipertanggung jawabkan, setelah dibandingkan dengan tenaga yang ada, dan denga nilai yang hendak dicapai. Bagaimana orang bermain di pantai kalau ikut kepercikan air.

Nakhoda selalu perlu ber-ijtihad, perlu mempergunakan daya ciptanya teman seperahu, untuk menghadapi keadaan sekelilingnya sewaktu-waktu.

Nakhoda harus menyadari harinya tidak berhenti. Harinya terus menuju ke “laruik sanjo”. Di samping itu, siapa yang tadinya “Rijalul ghad” sedangkan berkembang menjadi “rijalul yaum”. Hutang nakhoda ialah membimbing mereka itu, melapangkan jalan bagi mereka, melatih mereka sanggup bertanggung jawab dan pengalaman pahit.

6. Beberapa rangkuman ayatdan hadist, yang dikemukakan dibawah ini, semoga dapat menjadi pegangan, dalam meeruskan “pelayaran” dan “berpirau” bila dipahamkan dan diambilkan api yang terkandung di dalamnya. Dengan ini sebagai landasan berpikir, silahkan ;

Jangan gugup, Bismillah :

Layarkanlah terus perahu ini.

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Pengasih.

“A L I F – B A – T A A”

MASJID – JAMAAH – UKHUWWAH

Makmurkan Masjid kembali, Tegakkan Jamaah dari sana [18]!

Seringkali bila kita berkata kepada orang yang sudah biasa apa yang disebut berpolitik, berorganisasi dan berlambang “Memakmurkan Masjid”, mereka sambut denga sikap skeptis dan dingin, sebab bunyinya kurang menarik, persoalannya tidak diraskan aktuil, tidak vital bila dihubungkan denga apa yang mereka namakan “perjuangan”.

Sebenarnya maka mereka ini bersikap begitu oleh karena sudah lama terkurung dengan tidak sadar barangkali dalam cara berpikir yang konvensional dan statis. Pada hal, sesungguhnya kepada Umat Islam, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewariskan justeru Masjid itu sebagai lambang pembina potensi umatnya. Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusuhan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh derita.

Masjid bukanlah semata-mata tempat shalat, kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat. Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun jamaah. Islam tidak dapat tegak tanpa jamaah. Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah. Yang satu “muamalah maal khalqi”. Ini kaji ” alif – baa – taa”. Yang sudah terang perintah. Bahwa perintah :

Adalah perintah wajib

Masyarakat Islam memikul jamaah yang dikenakan langsung oleh jamaahnya/agamanya. Maka Masjid adalah warisan Rasul, sebagai penangkalan bagi Umat Islam untuk membina jamaahnya. Menambah pngertian, mempertinggi kecerdasan, dan akhlaq budi pekerti, mendinamikan jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota jamaahnya, dalam menghadapi pokok-pokok persoalan hidup. Malah dari Masjid dan Langgar yang berjiwa hidup dan dinamis sebagai pusat, dapat diberikan bimbingan yang menaikkan taraf kemakmuran hidup oleh para ahli yang mencintai umat. Soalnya penghidupan mereka, kebanyakannya, soal yang sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman dan pupuk, soal mempertinggi hasil bumi, soal tambak, tebat ikan, dan kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan yang belum berganti, soal sapi yang belum berobat, soal atap tiris yang belum disisip, soal anak yang belum sekolah …, Soal-soal yang tidak kunjung dapat dipecahkan dengan sistem ekonomi yang hebat-hebat, sistem pesawat udara jet-jet tanpa landasan tempat naik dan turunnya.

Dengan masjid yang berjiwa hidup sebagai pusat pembinaan umat, pusat pembinaan jamaah, akan dapatlah Umat Islam memelihara “Izzah” kepribadian umat dalam berkecimpung dalam masyarakat ramai yang berbagai corak, ibarat ikan dilaut memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin; dapat pula jamaah Islam itu berlomba-lomba dengan jamaah lainnya menegakkan kebenaran dan keadilan dan menyumbangkan kebajikan bagi masyarakat umum.

Itu fungsi Masjid,

Itu kewajiban Umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan macam manapun.

Bina Jamaah melalui Masjid ….., Hidupkan Masjid kembali, nanti, masjid akan memancarkan

hidup kepada umat. Akan beberapa puluh ribu benar jumlah gedung-gedung kebudayaan, markas-markas organisasi dengan mulanya, stadionstadion dengan lapangannya, dinegeri ini.

Bandingkan dengan milyunan banyaknya masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertabur-tabur dinegeri ini.

Tinggal; mengisi dan menghidupkannya. Bukan sekedar memperindahnya untuk diperagakan

dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marme berukir-ukir, menyimpan mayat tak bernyawa di dalamnya.

Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal dan kekayaannya sumer kekuatannya.

Bukanlah masjid yang hidup itu, kepada Umat Muhammad di amanatkan untuk “mencetak” manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain dari kepada Allah.

Sudah kita lupakan ;

18. hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.(at- taubah 18).

Ini tuntutan yang diterima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini.

TAFSIR AT-TAUSHIATUL KHAMSAH

1). Kalau kita memperhatikan risalah “At Taushiatul Khamsah”, oleh Al Ustadz ABU LIHJAH, teranglah yang pertama-tama dimaksudkan olehnya ialah :

Konservasi – yakni menghimpunkan atau pemeliharan apa yang ada Maksud konversi itu untuk membukakan jalan bagi re-integrasi yakni “menghimpun yang tadinya berserakan”. Re-integrasi hanya akan bermanfaat apabila disusuli oleh konsolidasi, penyatuan bagi apa yang sudah dihimpun. Bila konsolidasi sudah terjelma, segala langkah dapat diajukan secara tertib, dalam konfrontasi terhadap pelbagai peristiwa dan keadaan.

Begitu intisari dari “At Taushiatul Khamsah”, ….

2). Sekarang sudah sekian masa yang lewat, sudah patut pula dibuat sekedar balans Alhamdulillah, konservasi itu sampai sekrang berhasil juga. Pada umumnya tidak mengecewakan. Terutama ialah berkat adanya “anti toxine” lama yang masih mengalir pada jamaah-jamaah utuh. Bisa timbul pertanyaan ;

“apakah “utuh” itu ?

Artinya bukan sekedar tidak masuk jamaah lain-lain? Jika pada umumnya demikian, ini barulah “taraf minimal” sifatnya baru negatif. Sudah tentu proses konservasi tidak boleh berhenti disitu.

Pisang juga kalau diperam lama-lama, walaupun tidak akan berobah menjadi mangga, dia akan ranum, cair tidak bisa dipergunakan lagi.

Kalau kita memperhatikan dengan tajam, tak dapat disangkal, bahwa dikalangan jamaah, sudah juga ada mulai kelihatan gejalagejala “ranun” itu. Ada yang “uzlah”pasif Ada yang mungkin dengan tidak sudah kian lama kian hanyut, atau mereka terlihat dalam arus makshiyat 100%. Ada yang hanya mengeluh; Yah, apa boleh buat, apa boleh di bikin dalam keadaan seperti sekarang ini. Lalu menunggu perkembangan keadaan. Kalau-kalau keadaan akan berubah.

Seolah-olahnya nanti itu, akan kedengaran semacam gong besar, menandakan “keadaan sudah berubah”. Sedangkan, andaikatapun akan ada kejadian semacam itu, belum tentu pula olehnya apa yang seharusnya diperbuatnya disaat itu selain dari pada terkejut. Memang zaman itu akan berubah juga, dengan atau tanpa kita. Soalnya ialah apakah perubahan itu akan menguntungkan kita atau akat merugikan kita. Ini tentulah akan bergantung kepada :

– apakah kita memasukkan andil kedalam zaman itu dari sekarang atau tidak. Oleh karena itu dari konservasi pasif, kita harus meningkat kepada re-integrasi yang aktif. Re-integrasi dalam tiga bidang :

(1) bidang umat,

(2) bidang pemimpin,

(3) bidang kader.

3). Bidang Umat

A. Risalah Alif-baa-taa, sudah mengemukakan sebahagian dari usaha re-integrasi umat yang dipancarkan dari “lembaga risalah” warisan Rasul.

Re-integrasi dalam bentuk ini, adalah hal yang primer, dan tidak boleh tidak. Baik untuk jangka pendek maupun dalam jangka panjang, dalam suasana keadaan bagaimana pun coraknya, walaupun sudah ada juga di samping itu bentuk dan saluransaluran lain.

Dia merupakan generator yang memancarkan aliran listrik, untuk penggerakkan lain-lain saluran itu. Jangan kita lupakan bahwa yang paling menderita kerusakan oleh keadaan yang sekarang ini, bukanlah kehidupan materi, tetapi kehidupan rohani. Sejarah cukup membuktikan bahwa kendatipun keadaan pada suatu waktu pulih dalam bentuk lahirnya, tetapi masih panjang sekali masa yang diperlukan lagi, untuk pemulihan kesehatan dan kemantapan rohani itu. Untuk merawat luka “kehidupan rohani” itu, kemanakan lagi akan di cari obatnya, selain daripada kepada “lembaga risalah”  yang hidup dan dapat memancarkan ….?

B. Suatu hal yang menimbulkan rasa syukur, ialah bahwa berkat latihan-latihan mental dan amal semenjak dahulu itu, dibeberapa tempat masih ada anggota-anggota (jamaah) yang menerjunkan diri dalam penyelenggaraan bermacam-macam amal, dibidang pendidikan, dakwah dan lain-lain amal sosial. Kebanyakan bersifat lokal. Yang diperlukan bagi mereka ialah ;

(1). perhatian dari pada kepala keluarga (jamaah), dorongan dan tempo-tempo juga tuntunan.

(2). hubungan antara satu kegiatan lokal dengan kegiatan lokal lainnya walaupun berupa “hubungan moril”.

(3). menduduk-kan “nawaitu”nya, Yang tersebut belakangan ini, “menduduk-kan nawaitu-nya”

penting sekali artinya dalam rangka re-integrasi dan konsolidasi. Sebab besar bedanya antara seseorang yang melakukan sesuatu kegiatan dengan alam pikiran, bahwa dia sudah pindah perahu, lantaran menganggap bahwa perahunya yang lama sudah kandas, dengan seseorang yang melaksanakan kegiatannya, walaupun sama jenisnya, tetapi dengan niat dan pengertian bahwa dengan cara itu dia melaksanakan bidang kesatu da kedua dari pasal tiga qanun asasinya.

Yang pertama merasa, dia sudah pindah ke alam lain sama sekali, dimana juga dirasanya tidak ada resiko. Yang kedua merasa, masih merasa dalam alam yang lama, sedang melanjutkan amal usaha dalam rangka yang lama itu, walaupun sebahagian seberapa yang mungkin menurut ruang dan waktu.

Pada umumnya, mendudukkan niat-memperbaharui dan menyegarkan aqidah dan qaidah suatu partai politik, dalam arti yang lazim. Dia adalah lebih dari di-ikat oleh kesatuan idea dibidang politik, akan tetapi juga dan terutama oleh tali ukhuwwah yang berurat pada keimanan. Yang tidak boleh bergerak itu ialah dan hanyalah satu bentuk atau forum dari sudut yang mengenai praktis politik. Tapi bagaimana orang akan biasa akan meniadakan tubuh jamaah sendiri, sedang dia ini berakar dalam kalbu masingmasing anggota keluarganya.

Yang perlu terus kita usahakan ialah menghidup suburkan rasa dan kesadaran ke jamaah-an ini di antara para keluarga. C. Sesungguhnya kita masih banyak mempunyai saluran tenaga. Saluran-saluran lama dan saluran-saluran baru… Dan bisa pula ditambh dengan yang paling baru lagi.

Di antara saluran-saluran yang lama, ada yang sudah lumpuh. Tapi masih ada kerangkanya, dan masih ada pusatnya, walaupun sudah sama-sama lumpuh. Pesat jalannya dengan lambang lain. Mengenai ini perlu diajari dan diusahakan bagaiaman menggiatkan lagi yang sudah lumpuh. Di samping itu dimana pertukaran lambang, yang bertukar hanyalah lambangnya bukanlah jiwanya.

4. Untuk itu re-integrasi dikalangan para kepala keluarga tadinya merupakan syarat muthlak. Sudah dapat dimaklumi, bukan sebanyak itu para kepala keluarga tadinya, tentu ada yang sudah lama lucutnya, atau lumpuh atau mulai ranum. Ada pula yang baru sekarang banyak

kukunya yang sebenarnya. Kalau dia dahulu menjadi kepala keluarga dengan “tanda kutip”, dia sebetulnya benar-benar menjadi kepala keluarga, yang bernafas keluar badan. Kalaupun sekarang dia tidak terang-terang menentan, tetapi dari langkah lakunya dan ucapannya dia bukan keluarga lagi.

Berada dalam keadaan semacam ini, maka usaha re-integrasi dibidang ini, kita harus mulai dari alif-baa-taa. Mulailah dari teras yang tetap segar tandanya mereka sudah lulus ujian, sudah berjalan dengan tertib, berangsur-angsur, yang dengan izin Allah lebih baik dari yang tidak ada lagi itu. Dan jika mereka yang sudah lemah-lemah lutut itu sekarang ini, sudah melihat perkembangan menuju kearah yang agak menggembirakan dan memberi harapan, nanti akan kembali. Kita boleh coba mengobati lutut mereka yang lemah itu, tapi jangan kita paksa-paksakan. Nanti kita kecewa, dan mereka sendiripun kesal.

Adapun bekas golongan kepala keluarga dengan “tanda kutip” itu, terbaik-baik saja kita dalam pergaulan sehari-hari, sebagaimana juga kita berbaik-baik dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama manusia, walaupun berlainan jamaahnya. Akan tetapi kalau sudah, mengenai hal-hal yang mengenai risalah kita, disitu ada garis demokrasi yang tajam dan kita harus mampu bersikap ; ” Jangan kawan-kawan turut keluar bersama kami sama sekali” …..,

Mengenai hal yang semacam ini, akan berfaedah sekali bila kita memperhatikan kembali, antara lain Surat At Taubah ayat 60 – 99 ….., dimana kita dapat berkenalan semacam corak manusia.

Silahkan ulangi mentelaahnya, kemudian teruskan pada ayat 100 dan seterusnya …., Re-integrasi pada niveau kepala keluarga adalah integrasi selectif. Sesungguhnya hikmah Allah menurunkan sesuatu ujian, adalah guna seleksi. Bukan untuk satu neveau golongan saja. bukanlah keseluruhannya bisa diganti dengan umat yang lebih baik, Maka perlulah sekali para kepala keluarga mengadakan silaturahmi sewaktu-waktu.

Dalam silaturahmi itu terutama dapatlah diperbaharui ikatan ukhuwwah yang menjasdi salah satu sumber kekuatan lahir dan batin, dimana pula dapat dibuat inventarisasi dari tenaga-tenaga yang ada, baik yang berupa faktor-faktor objektif ataupun faktorfaktor subjektif. Dapat saling lengkap melengkapi suatu fakta dan data yang perlu sama diketahui. Mungkin pula atas penilaian bersama itu dapat disusun satu daftar usaha, untuk jangka pendek dan jangka panjang. Satu da lainnya dengan semboyan dan tekad; ” yang sulit kita kerjakan sekarang, ” yang tak mungkin, kita kerjakan berseok … Insya Allah, ” yang mudah sudah banyak orang lain mengerjakannya Jangan tinggalkan semuanya bila sebelum semua dapat dilaksanakan.

Dalam silaturahmi, antara lain dapat dibuat balans dari usaha yang sudah dilakukan dan yang belum dapat dilakukan. Dan di coba lagi maju selangkah, dan begitu seterusnya …… Pendeknya satu dan lainnya, sudah sama kita fahami. Tak perlulah disini “orang tua diajar pula memakan bubur lagi”.

Pokoknya, Re-integrasi keluarga menghendaki re-integrasi kepala keluarga yang selektif. Re-integrasi aktif menghendaki aktiviteit. Aktivited menghendaki bimbingan. Rencana harus berdasarkan penilaian fakta dan data yang up to date, dan tepat. Bimbingan harus berdasarkan rencana, Ini semuanya menghendaki adanya pengumpulan fakta dan data yang dapat dipertanggung jawaban dalam silaturahmi lokal, interlokal (dan sentral dimana bisa) …..

5). Kader

Zaman terus beredar dan tiap-tiap zaman dan rijalnya. Babakan pentas bisa beralih, pemainnya bisa berganti. Jalan cerita sudah wajar pula menghendaki peralihan babak dan penggantian pemain sesuatu waktu. Memang itulah yang menjadi latar belakang pikiran kita, dalam usaha pembinaan umat yang akan lebih panjang umurnya dari pada usia seseorang pemimpin sesuatu waktu. Maka yang tidak boleh tidak kita lakukan sebagai suatu “conditiosine quanon”, ialah meletakkan dasar bagi kontinuiteit aqidah dan qaidah, diatas mana khittah harus didasarkan. Satu-satunya jalan itu, ialah ; Membimbing dan mempersiapkan tunas-tunas muda dari generasi yang akan menyambung permainan di pentas sejarah. Mempersiapkan jiwa mereka, melengkapkan pengetahuan dan pengalaman mereka, mencetuskan api cita-cita mereka, menggerakkan dinamik mereka, menghidupkan “zelf – disiplin” mereka yang tumbuh dari Iman dan Taqwa. Bukanlah itu suatu pekerjaan tersambil, sekedar pengisipengisi waktu yang kebetulan berlebih. Tempo-tempo ini adalah pekerjaan yang “masuk agenda”, yang untuknya harus disediakan waktu, harus dilakukan dengan sadar dan pragmatis. Dalam rangka ini ada dua hal yang perlu diperhatikan;

(A). Mereka dari generasi baru itu telah beruntung mendapat kesempatan yang lebih luas dibidang menuntut ilmu, baik ilmu jiwa duniawi ataupun ukhrawi, dari pada mereka dari angkatan 25 (duapuluh lima-an) dulu, syukur.Tapi dasar Iman dan Taqwa yang merupakan sumber kekuatan dan pedoman akhlaq dan karakter sebagai bekal yang tidak boleh tidak harus mereka miliki untuk menjalankan tugas – yang akan mereka jalankan itu.

Ini hanya dapat dicapai dengan r i a d a h dalam arti yang luas. (Disinilah terletaknya fungsi yang khusus dari Masjid sebagai lembaga risalah yang hidup dan dinamis sebagai pusat pembinaan umat dan pembentukan kader). Apa yang kita lihat dan rasakn dalam “keadaan” sekarang ini, cukuplah kiranya menjadi peringatan bagi kita, betapa pentingnya meletakkan “dasar jiwa” bagi para calon pemimpin umat. Banyak orang yang tadinya bertolak dari rumah dengan niat dan semboyan hendak menegakkan panji-panji “kalimat ilahi”, akan tetapi lantaran dasar yang tidak kuat ditengah perjalanan, tertempuh jalan yang disebut “tujuan menghalalkan semua cara”. Lupa mereka bahwa panji-panji Kalimat Allah itu tidak dapat berkibar bila dalam perjalanan dia terus diinjak-injak oleh kaki yang membawanya sendiri.

(B). Fakultas dari bermacam-macam jurusn sudah ada yang mempersiapkan mereka untuk jadi “sarjana”. Kita menghajatkan teoritis yang tajam dan efektif. Di samping itu yang dihajatkan dalam pembinaan umat ialah “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai berkecimpung di tengah-tengah umat. Kalaupun dihajatkan sarjana-sarjana, yang diperlukan bukan semata-mata sarjana yang “melek buku” tetapi “buta masyarakat”. Sedangakn kemahiran membaca “kitag masyarakt” itu tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan sematamata. Oleh karena itu mereka perlu di-introdusir ke tengah-tengah umat dan turut aktif bersama-sama menghadapi dan mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan umat dipelbagai bidang. Sehingga mereka dapat merasakan denyutan jantung umat, dan lambat laun berurat pada hati umat itu. Makin pagi makin baik ……,

(Banyak dari antara gejala dari keadaan sekarang ini yang dapat dielakkan tadinya, kalau tidaklah terlampau banyak kita mempunyai “salon politik” yang menjadikan pemimpin amateur). Maka ditengah-tengah masyarakat yang hidup itulah dapat berlaku proses “timbang terima” secara berangsur-angsur, antara yang akan pergi dan yang akan menyambung, patah tumbuh hilang berganti. Sebab kesudahannya, yang dapat mencetuskan “api” ialah batu api juga.

6. Konsolidasi & Polarisasi

Tenaga-tenaga yang sudah dikumpulkan kembali secara selektif, usaha-usaha lama yang tlah digiatkan lagi, kegiatan-kegiatan baru dalam pelbagai bentuk yang sudah tumbuh dengan spontan dimana-mana itu. hanya akan dapat bertahan lama dan akan lebih efektif apabila semua itu di konsolidir dengan menyatukan aqidah dan qaidah, menyesuaikan langkah dalam suatu strategi yang sama. Kalau tidak, kegiatan lokal dan regional itu bisa jadi “mangsa” atau terdesak dalam kompetisi antara bermacam-macam kekuatan dan aliran-aliran yang sama berkompetisi dengan kita, sudah sama-sama kita ketahui masing-masingnya sudah dipolarisasi dalam organisasi masing-masing yang utuh. Teranglah bahwa usaha integrasi harus diiringi segera oleh polarisasi melalui koordinasi kegiatan-kegiatan yang sejenis. Ada lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dibidang sosial, dakwah dan kebudayaan yang diselenggarakan oleh para keluarga. Lembaga dan badan-badan itu perlu disatukan langkahnya, diadakan di antaranya pembagian lapangan, kerja sama, saling bantu membantu, dan yang utama disatukan faham mereka, strategi yang akan ditempuh.

Di antara keluarga kita cukup banyak menulis, yang penanya subur dan bermutu, mereka perlu diketemukan antara satu sama lain. Kalau belum bisa dalam bentuk organisasi yang formil, dengan mengadakan diskusi (seminar), dan pertemuan se waktuwaktu guna pembahas persoalan yang timbul dalam bidang mereka, dan guna menyesuaikan langkah serta pedoman dalam rangka tujuan dan mengisi “accu” umat. Banyak sekolah-sekolah menengah dan fakultas-fakultas bertebaran dibeberapa tempat, dan diselenggarakan oleh keluarga kita. Cara bekerjanya taman-taman pendidikan itu perlu disesuaikan dengan tujuan untuk membina kader dalam arti yang sebenarnya, tidak sekedar penambah banyak orang yang bergelar BA, Drs dan sebagainya.

Ini perlu peninjauan dan penjelajahan bersama antara pemimpin-pemimpin instelling-instelling tersebut.  Perlu kontak, perlu mempool keahlian dan pengalaman. Bagaimana sebenarnya agar menghidupkan masjid sebagai pusat pembinaan umat yang efektif, agar jangan asal ramai orang bershalat jamaah saja.

Ini perlu kepada koordinasi. Dan begitulah seterusnya. Kalau re-integrasi dibidang kepala keluarga seperti dimaksud dalam paal terdahlu bis dinamakan reintegrasi secara vertikal (taushiyatul khamsah bab 1 dan 2), maka reintegrasi dari kegiatan yang sejenis ini bisa dinamakan reintegrasi horizontal. Kedua-duanya dilakukan sejalan, dan kedua-keduanya menuju kepada konsolidasi dan polarisasi keseluruhannya, yakni adanya potensi yang riil tersusun dan aktif dalam wijhah, khittah dan strategi yang satu.

Formilnya tenaga-tenaga itu kalau perlu biar bersifat lokal atau regional akan tetapi hakikatnya ; Ini semua memerlukan tenaga yang khusus, dan pembagian tugas menurut bidang masing-masing. Segala sesuatu di selenggarakan tanpa gembar-gembor, semuanya legal bersumber kepada hak-hak azasi yang juga dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara. Akhirul kalam Sekianlah beberapa pokok pikiran mengenai re-integrasi dalam tiga bidang itu, sebagai landasan dari taraf-taraf selanjutnya konsolidasi, polarisasi dalam rangka taushiyatul khamsah. Adapun tafsri dari taushiyatul khamsah adalah tanfiznya. Kata Saidina Umar bin Khatab R.A. tidak ada faedahnya suatu pemikiran selama tidak ada pelaksanannya. Maka tanfiz berkehendak kepada ; program, pembagian tugastugas, pelaksanaan, balans, program lagi ….., dan begitu seterusnya.

Tak usah ditegaskan lagi bahwa ini berkehendak kepada pengkhidmatan dalam bermacam bentuk ; daya cipta, waktu, keringat, harta (untuk tidak menyebutkan bentuk-bentuk yang lebih dari pada itu dulu). Ini sudah menjasdi sunnatullah, laa tabdila likhalqillah …..,

Mudah-mudahan tidaklah kita akan masuk golongan yang pernah disentil oleh seorang penyair ; ” kejayaan jua yang kau idamkan, jalan mencapainya kau tempuh tidak, Betapakah kapal akan berlayar ditanah kering. Bismillah …..

Menghimpun Kerikil-Kerikil Terpelanting PEDOMAN PEMULIHAN TENAGA YANG BERSERAKAN

Ada ratusan ribu, kalau tidak milyunan, tenaga-tenaga yang terpelanting sekarang ini. Ada puluhan ribu yang sudah gugur. Banyak tenaga-tenaga yang invalid. Ada pula yang masih dalam

tahanan. Puluhan ribu rumah yang terbakar hangus. Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap apa yang sedang direncanakan oleh “yang berwajib” untuk menyalurkan tenaga-tenaga yang terpelanting itu, dan lain-lainnya, timbul pertanyaan, apakah kita boleh pasif saja sambil menunggu-nunggu apa yang akan dilaksanakan oleh “pihak yang berwajib” ?

Jawabnya ; tidak !

Tidak boleh kita pasif. Pertanggung jawab moral kita tidak mengizinkan kita pasif. Terutama semua kita yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin tadinya, baik dibidang sipil atau dibidang militer tadinya. Bencanalah yang akan menimpa kita semua apabila golongan

pemimpin disaat seperti sekarang ini, asyik merawati, lalu mendandani kehidupan masing-masing, dan kemudian tenggelam di dalamnya, sedang teman-teman lainnya yang lebih lemah

dibiarkan mencari nasib masing-masing.

Timbul pertanyaan; Apakah yang dapat kita lakukan dibidang ini? Sedangkan kita tidak mempunyai apa-apa. Tidak mempunyai kapital, tidak pula mempunyai wewenang apa-apa. Memang. Tetapi ada bedanya kita yang sudah dianggap orang pemimpim dari orang ‘awam.

Makanya kita dianggap orang pemimpin itu, ialah karena kita memiliki beberapa hal. Kita memiliki dan seharusnya memiliki;

a. Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

b. Daya-pikir dan daya-cipta

c. Cara hidup yang bersih

d. Akhlak dan budi pekerti yang baik.

e. Rasa cinta kepada Agama, Nusa dan Bangsa umumnya

f. Ras setia kawan yang telah pernah terhimpun dalam hubungan

persaudaraan, sebagai pembawaan sejarah dan persamaan pandangan hidup, khususnya. Yang kita miliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran uap atau kekuatan lahir. Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong. Di samping itu ada pula modal yang terdapat di luar kita, yakni pada diri mereka yang bersangkutan sendiri, berupa kemauan, kecakapan menurut bakat masing- masing, dan ketabahan hati menghadapi kesukaran, yang sudah tidak asing lagi bagi mereka selama ini. Disekeliling kita terbentang bumi Allah yang kaya raya. terkandung di dalamnya seribu satu macam sumber hidup bagi tiap-tiap seseorang yang sungguh-sungguh berkemauan menggali dan mempergunakannya. Semuanya merupakan modal yang cukup besar dan effektif apabila dipergunakan dengan sebaikbaiknya, dan akan diberkati oleh Allah Yang Maha Rahiem, bila dipergunakan dengan mengharapkan keredhaan Nya. Kalau ini sudah kita sadari, maka kita dapat membagi-bagi tenaga-tenaga masyarakat yang sedang terpelanting menderita itu dalam berbagai golongan yang kita harus dengan berbagai cara pula.

Apa macam golongan itu ? Ada ;

A. Pelajar dan Mahasiswa

B. Bekas pegawai-pegawai Negeri Sipil dan Militer.

C. Bekas pegawai perusahaan-perusahaan swasta dan guruguru sekolah partikulir (Madrasah-Madrasah).

D. Tani, pedagang kecil dan buruh kecil

E. Mereka yang invalid

F. Keluarga yang ditinggalkan oleh mereka yang gugur.

G. Mereka yang masih dalam tahanan

H. Mereka yang kehilangan rumah

Bagaimana menghadapi masing-masing golongan tersebut ?

……………………………………………,

Tata – cara ;

Penyelenggaraan usaha-usaha tersebut diatas memerlukan beberpa hal, baik yang bersifat psychologis ataupun technis;

1. Buka kan “pintu hati” dan “pintu rumah” kita bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan ini. Tunjukkan minat kepada keadaan mereka dengan ikhlas dan sungguhsungguh. Andaikata pun kita belum dapat memberikan bantuan kepada mereka sewaktu itu juga, sekurang-kurangnya sokongan moril kita harus berikan.

Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi, suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri agar kita ketika itu, dengan hati yang lebih lega. Hati yang lebih lega dan kembali berisi harapan niscaya akan menambah himmah mereka untuk bekerja terus. Sekurangkurangnya, akan menambah daya tahan mereka dan menghindarkan diri mereka pada perbuatan-perbuatan yang menyalahi hukum Syar’iy atau duniawi. Sekali-kali jangan mereka meninggalkan kita dengan bermacam-macam perasaan, yang mematahkan hati mereka untuk menjumpai kita kembali.

2. Untuk kelancaran usaha pemulihan, diperlukan cara pencatatan yang sederhana dari mereka yang bertebaran itu, mengenai namany, alamatnya, kecakapannya dan lain-lainnya. Catatancatatan semacam itu diperlukan untuk memudahkan hubungan menghubungkan mereka dengan bermacam-macam bidang pekerjaan, sewaktu-waktu kita mengetahui terbukanya sesuatu kesempatan bekerja atau sumber pencaharian, yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan mereka.

3. Kumpulkan sebanyak-banyaknya bahan informasi dengan mempertajam mata dan telinga dengan hubungan korespondensi untuk mengetahui dimana ada, atau akan ada kesempatan penyaluran tenaga-tenaga tersebut baik dalam ataupun di luar daerah.

4. Ada seseorang telah terbuka kesempatan penyalurannya dalam suatu bidang pekerjaannya, janga lupa ;

a. meamanatkan kepadanya, supaya dia benar-benar membuktikan kesungguhannya dan senantiasa mempertinggi mutu pekerrjaannya dibidang yang akan ditempuhnya itu. Dia harus membuktikan bahwa dia adalah salah seorang dari golongan yang menjunjung tinggi nilai-nilai hidup, seperti kejujuran dan budi akhlak-akhlak pekerti yang baik.

b. Memesankan kepadanya, supaya bila apabila dia sudah mendapat sumber pencahariannya, jangan dia sendiri tenggelam di dalamnya. Akan tetapi di samping pekerjaannya, hendaklah dia

berusaha sedapat mungkin, merintiska jalan bagi teman-teman yang masih bertebaran.

5. Tunjukkan minat kepada usaha-usaha yang telah atau sedang dilaksanakan oleh seseorang atau sekelompok berupa perusahaan sendiri, umpamanya dibidang pertanian, peternakan atau perusahaan kecil dan sebagainya. Mereka ini termasuk golongan yang berani merintis dan mempunyai inisiatif. Gembirakan semangat bekerja mereka dan berilah dorongan kepada perusahaan kecil yang diselenggarakan dengan tenaga sendiri atau bersama itu. Kumpulkan bahan-bahan mengenai tata kerja dan pengalaman mereka masing-masing yang dapat pula dipergunakan sebagai pedoman bagi teman-teman mereka yang ingin menempuh bidan itu pula.

6. Di dalam beberapa hal, dalam pekerjaan semacam ini mungkin diperlukan menghubungi instansi-instansi resmi. Tidak usah ragu- ragu atau khawatir bila untuk ini diperlukan menghubungi instansi-insntansi itu. Hubungi mereka secara sopan, zakelijk dan correct, dengan tidak menggadaikan martabat pribadi. Ada dua cara yang dimanapun juga tidak akan mendapatkan penghargaan, yakni ; cara sembrono yang tak tahu aturan, dan cara pengemis yang mintak-mintak dikasihani. ……………………………………………,-

Penutup,

1. Barangkali timbul pertanyaan; Kalau begitu macamnya usahausaha yang harus diselenggarakan mengingat teman-teman yang banyak itu, lalau bagaimana kita sendiri ?

Jawabnya; Sudah tentu masing-masing kita perlu mengusahakan agar dapur tetap berasap. Ini kewajiban kita sebagai kepala keluarga. Tetapi dalam pada itu, sudah menjadi pembawaan bagi seorang pemimpin bila ia hendak dianggap sebagai pemimpin bahwa dia terus memikirkan dan

mengikhtiarkan kesejahteraan bagi umat yang dipimpinnya, di samping itu berusaha memenuhi kewajiban terhadap diri dan rumah tanggannya sendiri dengan sesatpun tidak memutuskan harapan atau ma’unah dan kerahiman Ilahi dalam keadaan bagaimanapun.

Amal dan ikhtiar kita dalam dua bidang kewajiban ini senantiasa sejalan dan berjalin. Terkadang-kadang titik berat itu mungkin berkisar-kisar di antara dua bidang itu, menurut tuntutan keadaan disesuatu waktu. Tetapi kedua-duanya tetap terjalin, dalam bagaimanapun juga. Malah justeru di sa’at serba sulit itulah Umat menghajatkan benar bahwa para pemimpin mereka dapat dirasakan berada ditengahtengah mereka dalam suka dan duka, dalam arti; tetap bersamasama menghadapi persoalan mereka walaupun mereka tahu bahwa para pemimpin mereka itu tidak bisa, dengan serta merta, mengatasi berbagai kesulitan-kesulitan yang mereka alami.

“KAMU HANYA AKAN DAPAT PERTOLONGAN (DARI ILAHI) DENGAN, (MENOLONG KAUM YANG LEMAH DI ANTARA KAMU”, (Al Hadist)

Ini adalah Sunnatullah.

“TIAP-TIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN, DAN TIAP-TIAP PEMIMPIN AKAN DIMINTAK PERTANGGUNGAN JAWAB ATAS PIMPINANNYA”. (Al Hadist)

Bukanlah begitu peringatan Rasul ?

2. Pemikiran-pemikiran (idea) yang tersebut pada pasal-pasal diatas itu belumlah komplet dan limitatif, yakni tidaklah terbatas hingga itu saja. Satu dan lainnya dikemukakan sebagai penggugah dan pengantar pemikiran. Kita percaya kepada pengalamanpengalaman daya pikir daya cipta masing-masing kita yang samasama menghadapi kesempurnaan lagi dalam praktiknya, sambil berjalan.

Mungkin pula dari apa yang tersebut diatas timbul pendapat seolah-olah apa yang dikemukakan itu adalah barang lama, tidak ada yang baru. Syukurlah kalau ternyata itu semua adalah hal-hal yang sudah lama dikerjakan orang, dan lantaran itu tentu, kitapun dapat mengerjakannya, asal mau.

Yang sudah terang ialah, bahwa barang yang lama itu tetap bagi kita akan baru, selama kita tidak atau belum kerjakan. Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya. Semboyan kita ialah ;

– Yang mudah sudah dikerjakan orang

– Yang sukar kita kerjakan sekarang

– Yang “tak mungkin” kita kerjakan besok

– Dengan mengharapkan hidayat Ilahi.

“Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat”!

………………… Pertengahan November 1961,……

KERANGKA DASAR

BAGI PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN

Rumah Sakit Islam IBNU SINA

SEBAGAI PROYEK PELAYANAN KESEHATAN UMAT[19]

Dalam tahun 1968 DR.Mohamad Natsir berkunjung ke Sumatera Barat atas undangan Yayasan Kesejahteraan. Waktu itu, Beliau mendapat kesempatan mengunjungi hampir seluruh Kabupaten di Propinsi Sumatera Barat dengan bantuan yang amat simpatik dari pihak Bapak Gubernur Harun Zein beserta Muspida Propinsi Sumatera Barat, dalam rangka kegiatan pembangunan lahir dan batin di Sumatera Barat. Diwaktu hendak kembali ke Jakarta, maka sebagai salah satu hasil pencernaan dari apa yang telah dapat di lihat, didengar dan dialami selama perkunjungan keliling itu, Beliau menyampaikan satu saran tertulis yang dialamatkan kepada Buya Dt. Palimo Kayo yang mengandung harapan kepada para alim ulama, yang dalam keadaan bagaimanapun tetap merupakan pemimpin-pemimpin alamiyah yang berurat berakar dalam kalbu masyarakat Minangkabau, bersama-sama dengan para cendikiawan didaerah kita ini, agar dimulai suatu percobaan untuk mendirikan sarana pelayanan kesehatan, walaupun dengan satu poliklinik yang kecil.

Yang kemudian bisa diharapkan dapat berkembang nantinya. Alhamdulillah, saran itu dapat disetujui oleh para ulama cerdik pandai dan para ahli serta pemuka-pemuka kaum ibu disini direstui oleh Bapak Gubernur Kepala Daerah, yang malah bersedia menjadi Pelindung bagi badan pelaksana, Yayasan Rumah Sakit Islam Sumbar.

Diwaktu itu keadaan di Minangkabau sendiri atau dirantau dan di daerah-daerah Indonesia pada umumnya amat sulit. Lebihlebih sesudah kita menderita akibat-akibat dari pemberontakan PKI yang terkenal dengan Gestapu itu. Walaupun bagaimana, para ulama beserta pemimpinpemimpin dikalangan cerdik cendikiawan dengan “Bismillah” dan bertawaakal kepada Allah memulai usaha tersebut yang waktu itu dirasakan baru sama sekali.

Tidak seperti mendirikan sarana-sarana yang biasa kita garap seperti madrasah, rumah yatim, mesjid dan lain-lain. Kita mulai melangkah dengan keyakinan akan kebenaran fiman Illahi yang berbunyi :

Yakni, barang siapa yang berjihad, bekerja sungguhsungguh

pada jalan Allah (dengan niat untuk mencapai

keridhaan-Nya), maka Allah SWT akan menunjukan jalan

(ditengah-tengah perjalanan nanti) mana arah yang mesti

ditempuh untuk mencapai apa yang dicita-citakan. (QS. 29, Al

‘Ankabut : 69)

Kita yakin bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan mereka yang menegakkan ihsan berjalan sendirian, akan tetapi akan senantiasa beserta mereka. Inilah sebenarnya modal kita yang hakiki. Modal yang dihayati oleh para alim ulama kaum Ibu dan para cendikiawan kita semua, didaerah Minang ini. Dalam arti material kita mulai dengan modal nol. Tetapi ternyatalah kebenaran Sunnah Illahi yang kita ingati pada waktu itu, sehingga sesudah berjalan sekian tahun, sekarang Ibnu Sina sudah berkembang sampai seperti yang sudah kita lihat dewasa ini.

Dalam pada itu, tiap-tiap perkembangan dan kemajuan membawa persoalan. Persoalan yang perlu kita pecahkan. Makin kita mencapai kemajuan, makin banyak persoalanyang timbul, yang merangsang kita semua un tuk menjawab pertanyaan : Sekarang bagaimana lagi ? what’s next ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka perlulah sewaktuwaktu, ibarat kita seorang musafir, berhenti sejenak dalam perjalanan untuk membuat penilaian terhadap apa yang sudah kita kerjakan, menilai baik dan buruknya cara-cara yang sudah kita tempuh dan menilai hasil yang sudah kita capai, dan merintis jalan yang akan ditempuh[20].

Kita mengadakan instropeksi terhadap diri kita sendiri secara obyektif, sesuai dengan ucapan Umar bin Khatab RA. : “Hisablah, dan hitung-hitunglah sebelum orang lain melakukan penilaiannya”

Sebenarnya hal ini sudah kita sama-sama hayati semua dan senantiasa hidup dalam angan-angan dan cita-cita keluarga Yarsi dan Ibnu Sina, sambil kita melakukan tugas ditempat masingmasing. Uraian ini adalah sekedar untuk merumuskan apa yang sudah sama-sama kita rasa itu dalam bentuk yang lebih konkrit yang dapat disempurnakan melalui pembahasan dalam rapat kerja kita ini. Untuk ini saya bagi pembicaraan kita dalam tiga bagian :

1. Dimana terletak urgensinya kita menegakkan amal shaleh di bidang pelayanan kesehatan.

2. Bagaimana seharusnya Yarsi dengan Proyeknya Ibnu Sina menempatkan diri dan melancarkan kegiatannya didalam sitasi yang nyata di tanah air kita dewasa ini.

3. Berdasarkan itu semua, apakah sifat-sifat yang umum dan khusus yang harus ditumbuhkan dan dipelihara dalam pembinaan Ibnu Sina selanjutnya.

□□□

Urgensinya

I. Negara kita adalah negara agraria, negara pertanian dan masuk golongan yang disebut negara sedang berkembang untuk tidak menggunakan kata terbelakang. Negara kita dalah sebagian dari bumi yang indah dimana manusia diamanatkan untuk menjadi khalifah diatasnya dan kini didiami oleh 3.400 juta manusia. Kira-kira 75 % dari padanya mendiami daerah yang bersifata agraria yang sering mendapat malapetaka banjir dan penduduknya hidup dalam pemukiman seadanya. Semua itu memberikan gambaran yang cukup rawan.

Kemajuan ilmu dan teknologi tidak cukup mampu mamperbaiki nasib besar umat manusia. Mungkin juga ilmu dan teknologi yang maju itu dikuasai oleh 25 % sisa umat manusia yang mendiami negara-negara maju, yang kebanyankan tidak cenderung untuk memcahkan persoalan nasib umat manusia di daerah-daerah terbelakang.

Akibatnya cukup menyedihkan.

Menurut statistik dari 1.000 anak dibawah uumur 1 tahun terdaspat kematian 100 – 150 orang anak. Lembaga WHO pada tahun 1971 mengeluarkan statistik tentang apa yang disebut (life expentancy) pulul maximal umur yang diharapkan di Afrika hanyalah 40 tahun, di Asia 50 tahun sedang di negara maju seperti Eropa dan Amerika 71 tahun.

Dari 3.400 juta manusia tersebut setiap tahunnya terdapat kelahiran sejumlah 120 juta. Kira-kira 84% dari seluruh kelahiran tersebut terjadi di negara-negara berkembang itu. Disini pulalah

terdapat angka kematian yang cukup tinggi tadi itu. Pola penyakit di negara yang sedang berkembang seperti di negara kita ini mempunyai pola penyakit yang sama. Penyakit infeksi dan kurang gizi menurut statistik menempati tempat teratas  diantaranya penyakit menular yang mengganas secara bergelombang (epidemi). Kalau kita pelajari laporan-laporan dari WHO, maka 80% dari penduduk daerah agraria itu belum pernah tersentuh oleh pelayanan kesehatan modern. Seorang pejabat tinggi Departemen Kesehatan kita menerangkan di Indonesia keadaanya sedikt lebih baik, yakni hanya 75% saja penduduk yang belum tersentuh oleh teknologi kedokteran.

Menurut tradisi yang sudah berlaku semenjak puluhan tahun, kita disis vberpegang pada sisten pelayanan kesehatan dengan menitik beratkan pada pelayanan di rumah sakit. mUlai dari rumah saklit di Kabupaten kemudian rumah sakit Propinsi sampai ke rumah sakit nasional. Bila semuanya itu digarap maka akan menelan baiya 50% dari anggaran kesehatan nasional. Itupun

berarti bahwa pelayananya hanya dinikmati oleh kira-kira 20-25% penduduk kota saja. Demikianlah sistem panggarapan secara tradisional.

Kita sekarang berada diambang pintu cara penggarapan atau pendekatan yang baru.

Para cendikiawan kita dibidang kedokteran sadar bahwa jika pendekatan klinis semata-mata yakni yakni menitik beratkan pada pelayanan rumah sakit, maka itu bukan saja mahal, akan tetapi hanya mampu untuk melindungi penduduk yang jumlahnya terbatas.

Sekarang ini para cendikiawan dibidang kesehatan mulai merintis pendekatan yang lebih comprehensif atau menyeluruh, dengan istilah tehnisnya disebut pendekatan “hollistik”. Sering juga disebut pendekatan “semato-phiko-sosial”. Yang menjadi titik perhatian dalam sistem ini bukan semata-mata physik manusia saja akan tetapi juga diperhatikan segi kejiwaannya dan juga fungsi manusia sebagai anggota masyarakat.

Kita mengakui bahwa untuk meningkatkan kesehatan umat (bangsa) kita, kita harus memperhatikan unsur-unsur lingkungan, lingkungan sosial, linkungan bilogis, lingkungan physik, kulturil dan lain sebagainya.

Sebagai akibatnya maka kita harus tidak puas dengan semata-mata mengadakan pusat-pusat pelayanan kesehatan di kota-kota besar atau setengah besar yang bersifat statis untuk melayani pasien-pasien yang datang. Kita harus mendekati tempat beradanya para penderita sedekat mungkin, yang tempatnya bertebaran di “pedalaman”, serta meningkatkan dinamika dalam cara-cara bekerja sambil menggali dan memamfaatkan potensi lingkungan baik dalam rupa tenaga manusia ataupun unsur almiah.

Dapat kiranya dipahamkan bahwa sistem pembanguna puskesmas-puskesmas kesehatan Ibnu Sina-nya. Dalam rangka partisipasi sebagai swasta dibidang pelayanan kesehatan, dari semula Rsi Ibnu Sina secara intuitif, pada hakekatnya, telah mengatur kegiatannya sesuai dengan ide pendekatan hoolistik itu. Demikianlah Yarsi Sumatera Barat tidak memusatkan kegiatannya semata-mata pada memperlengkap dan menyempurnakan polikliniknya menjadi satu rumah sakit yang komplit dan serba lengkap lebih dulu. Dengan tida menunggu lama-lama Yarsi mendekati umat yang perlu ditolong dengan mengadakan balaibalai kesehatan berturut di Padang, Padang Panjang, Payakumbuh, Kampar dan Panti.

Saya katakan secara intuitif, oleh karena diwaktu itu kita belum pernah mendengar istilah-istilah hollistik ataupun istilah semato-phyki-sosial atau lainnya. Paling banyak kita didorong oleh keinginan hendak melayani sesama manusia yang menderita dan berada dalam keadaan lemah sesuai degan pesan Rasullulah SAW.:

“Kamu hanya akan mendapat kejayaan apabila kamu

mampu membina kekuatan umat yang lemah diantara kamu”,

(Al-Hadist)

Sedangkan para dhua’fa itu berada kebanyakan diluar kota, tidak terjangkau oleh pusat pelayanan kesehatan dikota-kota itu.

Walaupun bagaimana, kita bersyukur bahwa Yarsi Sumatera Barat dengan Proyek Ibnu Sinanya telah dapat menyumbangkan daya baktinya kepada Allah SWT, dan daya khidnmatnya kepada sesama manusia dalam rangka pembangunan negara dan bangsa kita ummumnya.

II. Dalam pada itu ada satu sifat khas dari usaha kita ini.

Bayak yang bisa jadi motif bagi orang mendirikan suatu lembaga atau sarana termasuk sarana rumah sakit. Adapun tujuan Yarsi dan Ibnu Sina tidaklah berhenti pada usaha menyehatkan orang yang sakit sevcara individuil. Yarsi meemhamkan proyek Ibnu Sinanya itu sebagai alat untuk Pembinaan umat (bangsa) pada umumnya.

Dengan proyek ini kita menumbuhkan :

a. Rasa tanggung jawab dikalangan umat kita terhadap kesejahteraan bersama dalam rangka menunaikan fungsi sosial.

b. Menumbuhkan kepercayaan kepada kekuatan sendiri dalam memenuhi keperluan-keperluan sesama, tanpa diskriminasi.

c. Memperkembang daya cipta dan daya inisiati untuk merintiskan usaha-usaha baru meningkatkan kesejahteraan kita lahir dan bathin, meningkatkan mutu hidup kita (qualiti of life, kata orang sekarang).

Dalam rangka ini keluarga Yarsi dan Ibnu Sina harus merasakan dirinya sebagai suatu kelompok kekeluargaan didikat oleh cita-cita bersama, sebagai pendukung atau mission satu risalah untuk menegakkan kalimah Illahi dalam pembinaan umat, bangsa dan negara.

Mereka menyadari bahwa proyek-proyek yang didirikan adalah amanah Ilahi untuk realisasi risalah yang demikian itu. Dalam rangka memegang amanah ini Keluarga Besar Yarsi/Ibnu Sina, melaksanakan pembinaan dalam dua jurusan. Jurusan keluar dan jurusan kedalam.

Pembinaan keluar

Umat, ditengah-tengah mana proyek itu ada, haruslah merasaka bahwa proyek itu adalah milik mereka pula dan turut bersama-sama bertanggung jawab untuk kelestarian hidup saranasarananya, baik proyek induk ataupun cabang-cabangnya. Untuk menumbuhkan rasa turut memiliki atau partisipasi dari umat sekitar kita, maka atas keluarga Yarsi dan Ibnu Sina terpikul untuk senantiasa mengadakan komunikasi dengan umat sekitarnya bukan saja semata-mata dalam perawatan sisakit yang datang untuk dirawat di klinik atau kamar-kamar perawatan. Komunikasi yang demikian perlu dimulai dari semenjak akan mendirikan sarana physik berupa gedung dan lain-lainya, besar atau kecil.

Kita harus mengikut sertakan mereka dalam memikul beban pembangunan, baik dengan berupa mengumpulkan dana, tenaga dan bahan-bahan walaupun masing-masingnya sesuai menurut kekuatan masing-masing pula. Sebaiknya kita menjadikan cara-cara kita kerja pada permulaan dulu menjadi tradisi yaitu menggerakkan potensi material dan bahan-bahan dengan menjual kupon yang harganya sesuai dengan kemampuan jemaah kita yang awam. Sekalipun kita andaikata mempunyai sumber yang lain yang lebih besar entahkan dari Pemerintah atau dari para ruhsinin yang lebih berada, akan tetapi potensi lokal jangan lupa kita menggerakkannya sebab inilah yang akan merupakan akar agar sarana yang kita bangun dapat

tegak dengan stabil. Bukan itu saja, proyek yang sama dibangun dan dikembangkan dengan tenaga dan kegiatan umat itu bersamasama proyek itu sendiri, sebabnya membangun dan menyusun umat, amenjadi umat yang lebih sadar, yang menyadari cita-cita hidup (purpose of life), umat yang menyadari kekuatan sendiri, umat yang menghayati identitasnya dan tanggung jawabnya terhadap Allah SWT dan sesama manusia.

Sesuai dengan Risalah atau missie kita, pembinaan umat dengan sarana pelayanan kesehatan ini, dan sesuai dengan ide pendekatan hollistik yang kita kemukakan tadi, maka Ibnu Sina perlulah menggiatkan umat disekitarnya sendiri agar aktif menjaga kesehatan, agar jangan sampai sakit. Sebagaimana kita ketahui, ajaran agama kita sendiri mendidik sebagai muslim dan muslimah supaya menegakkan hygiene dalam kehidupan sehari-hari. Kepada kita di ajarkan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman Kepada menunaikan ibadah shalat kita yang lima waktu itu dikaitkan perintah mengambil wudhu, mandi, membersihakan gigi.

Kita diperintahkan agar senantiasa menjauhkan diri dari makanan yang membahayakan kesehatan. Dinilah bertemu para medici dengan bidang para da’I dan guru agama, bertemu rumah sakit dan poliklinik dengan mesjid dan madrasah.

Apa yang lebih logis bagi keluargaa Ibnu Sina, dari pada mengadakan kerja sama yang erat dengan para pemimpin informal di daerah agraria itu membentuk kader kesehatan, dalam rangka mengjidupkan apa yang disebut “community medicine” atau “desa sehat” berlandaskan “keluarga-keluargga sehat”, yakni dengan menumbuhkan auto-aktivitas dari masyarakat sendiri. Ini adalah sesuai dengan risalah pembinaan umat yang kita kemukakan diatas tadi (a, b, dan c).

Pembinaan Kedalam

Untuk dapat menjalankan missinya dengan efektif, tak dapat tidak Ibnu Sina mengadakan pembinaan kedalam tubuh Ibnu Sina sendiri. Yaitu : Secara kontiniu meningkatkan keterampilan tenaga-tenaga pelaksana Ibnu Sina.

a. dibidang teknis medis.

b. dibidang management

c. dibidang komunikasi, baik dengan para pasien yang dilayani ataupun dengan masyarakat pada umumnya.

Untuk itu perlu kita sediakan sarana-saranan dan fasilitas untuk mencapai maksud tersebut. Maka adalah kewajiban dari Yarsi dan Ibnu Sina bersamasama menyusun dan melaksanakan program pembinaan tenaga pelaksana dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Sarana-sarana physik yang terdiri dari besi dan tembok, sekalipun indah tampaknya, tidak akan berarti banyak, bila tidak dimamfaatkan oleh tenaga-tenaga yang tepat dan cakap. Termasuk kepada usaha pembinaan kedalam adalah, Pembinaan Ruhul Islam pada setiap unsur yang terlibat dalam sistem pelayanan kesehatan RSI Ibnu Sina.

Untuk itu perlu dikembangkan pembinaan baik secara kurikuler dalam pendidikan formal, maupun dalam bentuk pendidikan non formal. Pendidikan tersebut hendaknya menuju kepada tujuan, agar dicapai dokter muslim, para medik Muslim dan karyawan muslim pada seluruh eselon dan bidang kepegawaian.

Dokter muslim, para medik muslim dan karyawan muslim hendaklah diartikan sebagai seorang yang punya ilmu dan keterampilannya itu sesuai dengan Islam. Prinsip uswatun hasanah haruslah diterpkan bukan hanya dalam kehidupan pribadinya, tapi terlebih lebih lagi dalam lingkungan hubungan antara setiap unsur dalam unit pelayanan kesehatan.

□□□

KHULHASAH

Dapat kita simpulkan sbb:

1. Yang menjadi titik tolak kita membangun proyek Ibnu Sina ini, ialah untuk menunaikan kewajiban fardhu kifayahsebagai Muslimin dan Muslimah guna mencapai kehidupan umat yang

sehat jasmani, rohani dan kehidupan sosialnya dengan tuntunan agama kita. Dari segi ini ia merupakan salah satu dari proyek da’wah pembinaan umat.

2. Ibnu Sina tidak bekerja secara ekslusif, menyendiri. Ia berkhidmat terhadap sesama manusia tanpa diskriminasi. sEolah-olah ia berkata melalui kegiatannya : “Ini amalan kami, adapun hasilnya adalah untuk kita”. Dari segi ini dia bersifat sumbangan dari umat Islam dalam rangka pembangunan Bangsa dan Negara. Boleh dinamakan sebagai sarana dalam perlombaan dengan sesama warga negara dalam menegakkan kebajikan. RSI Ibnu Sina serta balai-balai Kesehatan yang dibinanya dikembangkan sebagai satu sistem pelayanan kesehatan yang merupakan bagian dari sistem pelayanan nasioanal.

3. RSI Ibnu Sina dikembangkan demikian rupa sehingga dia mampu selain sebagai rumah sakit umum yang memenuhi persyaratan, tapi sekaligus dia menjadi refferal atau tempat rujuk, pemulangkan persoalan bagi semua balai-balai kesehatan yang dibinanya, serta menjadi refferal pula bagi balai-balai kesehatan, Rumah Bersalin atau Unit-unit Pelayanan Kesehatan lainnya baik yang dibina oleh pemerintah maupun swasta lainnya dilingkungan Sumatera Barat dan sekitarnya. Peranan ini jelas dimaksudkan bahwa RSI Ibnu Sina tidak bersifat eksklusif hanya untuk umat tertentu saja, tapi harus terbuka seluas-luasnya bagi setiap warga yang memerlukannya.

4. Sesuai dengan pendekatan hollistik, maka hendaklah diusahakan agar unit-unit pelayanan kesehatan dikembangkan demikian rupa, sehingga berada sedekat mungkin dengan umat yang memerlukannya.

5. Dalam prakteknya perlu diingat bahwa RSI Ibnu Sina serta cabang-cabangnya adalah pembinaan manusia seutuhnya, yang berati tidak hanya membinan kesehatan jasmani pasienpasien saja, tapi juga membina kehidupan rohaniyah dalam hal ini kehidupan keagamaan si pasien dan masyarakat lingkungannya sedemikian rupa sehingga tujuan pelayanan kesehatan bersifat pelayanan menyeluruh (total care) benarbenar dapat diujudkan sepenuhnya. Demikianlah hendaknya, semoga Allah SWT senantiasa melapangkan jalan usaha kita ini dan menerimanya sebagai ‘amal shaleh jua adanya. Amin.

Tiga tahun kemudian, bulan September 1982, Bapak DR. Mohamad Natsir tidak sempat lagi datang menghadiri Raker YARSI Sumbar di Padang. Namun Beliau menuliskan taushiyahnya[21], sebagai berikut ; Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara-saudara hadirin yang terhormat, Assalamu’alaikum w.r.wb. Ingin saya turut serta dalam Raker Yarsi – Ibnu Sina yang kedua ini, untuk bersama-sama dengan saudara-saudara meninjau sejenak kebelakang, menjelajah kedepan.

Yakni sama-sama menghitung dimana ada kelemahan-kelemahan yang perlu diperluat, dimana ada hasil yang positif yang perlu dikembangkan untuk “modal” dalam meningkatkan amal kita di hari depan. Tetapi, berhubung dengan satu dan lain hal, kali ini saya tidak dapat duduk bersama-sama disaat-saat yang penting ini. Kita terima keadaan itu, sebagai Qadar Illahi. Segala sesuatu ada hikmahnya, Insya Allah.

Bila kita ingat keadaan 13 tahun yang lalu, pada waktu kita mulai melangkah di bidang kesehatan umat ini, maka patut kita mengucapkan syukur al-hamdulliah.

Motif kita, cara populernya :”nawaitu” kita mendirikan lembaga kita ini adalah hendak berbakti kepada Allah SWT dan berkhidmat kepada sesama manusia.

Kita sadar bahwa dilihat dari sudut material, kita serba berkekurangan. Demikian pula dibidang tenaga untuk melaksanakan segala sesuatu yang hendak kita sumbangkan dalam rangka pembaktian dan pengkhidmatan. Walaupun bagaimana, sesuai dengan pepatah di Mingkabau kalau sudah sampai di taraf, “tak kayu janjang dikeping”. Kaum bapak, dan kaum ibu kita, tua dan muda sama-sama turun tangan. Ada yang hilir mudik mencari “kato sapakat”, ada yang hilir mudik mengumpulkan dana, banyak sediktnya, ada pula yang meluruh gelang dari tangan, cincin dari jari dan dukuh dari leher untuk digadaikan sementara guna pencukupkan uang pembeli tanah Rp. 300,- semeter persegi. Ada pula yang sengaja meninggalkan prakteknya di Jakarta, turun ke Sumatera Barat ini untuk mengatasi kemiskinan kita di bidang teknis – medis sampai kesulitan itu dapat diatasi.

Nan barek samo dipikua, nan ringan samo dijinjiang. Ada yang memberikan tenaga, ada yang menyumbangkan pikiran, ada yang mewakafkan tanah dan rumah. Dari kampung, dari rantau dan dari luar negeri. Sehingga, dapatlah kita dari mendirikan poliklinik dan tempat bersalin, sampailah sekarang kita sudah mempunyai dua rumah sakit Ibnu Sina, dan lima cabang-cabangnya di Kampar, Panti, Padang Panjang, Payakumbuh dan Padang Baru.

Malah teman-teman kita secita-cita di lain-lain daerah seperti Propinsi Riau dan Lampung sudah pula melangkah di jalan yang telah kita tempuh itu. Sudah ada Ibnu Sina Riau di Pekanbaru, disamping polklinik Ash Shifa di Tias Bangun, Bandar Jaya dan Bandar sari yang digarap oleh Yarsi Propinsi Lampung. Alhamdulliah. Mari pada saat seperti sekarang ini kita sadari kembalinawaitu kita semula, niat yang shaleh itu.

Tulisan arab

Mari kita mesyukuri nikmat Ilahi ini. Kita syukuri kepercayaan-Nya kepada kita untuk menerima, memelihara dan mengembangkan yang diamanahkan-Nya kepada kita. Kepada kita semua, di tempat manapun kita berada sesuai dengan fungsi kita masing-masing.

Tak ada diantara kita yang merupakan pemilik dari lembaga ini. Semuanya adalah pemegang amanah. Pemegang amanah Ilahi untuk kesejahteraan umat. Mari kita syukuri ni’kmat, sebenar-benar syukur. Samasama ingat kepada firman Allah :

“Bila kamu pandai bersyukur ni’mah, pasti Aku akantambah

(ni’mat itu) untukmu. Dan apabila kami mengkufuri ni’mah, (tidak

memelihara dan menggunakannya sebagaimana mestinya). Maka

azab-Ku pasti akan pedih” (QS. 14, Ibrahim : 35). Semoga kita

semua termasuk orang yang pandai bersyukur ni’mah. Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara-saudara hadirin yang saya hormati. Dalam rangka sama-sama berbakti dan berkhidmat, seperti yang saya sebut tadi itu, kita sama-sama memikul sebagian dari beban yang berat itu. Antara yang satu dan yang lain ada hubungan yang tak putus. Yang menghubungkan itu adalah apa yang disebut keseimbangan antara hak dan kewajiban yang didukung oleh rasa tanggung jawab, dan cinta kepada lembaga, sebagai alat pengkhidmatan kita itu.

Tepat sekali, bila dalam agenda Raker kita ini dicantumkan satu bagian yang berjudul : Organisasi dan Metoda. Ada satu pepatah yang mengatakan :

”Sesuatu yang bathil tapi teratur rapi, bisa mengalahkan

barang yang hak tapi centang perenang”.

Baiklah bagian ini mendapat perhatian kita bersama secara khusus. Kita sama-sama sadarilah bahwa sebenarnya kita sedang berlomba. Berlomba dalam satu masyarakat majemuk dalam menegakkan kebajikan. Memang itulah fungsi kita sebagai Umat Islam dalam masyarakat yang “pluralistik”. Jangan kita menjadi bahan ceme-eh orang lain. Jangan menjadi penonton ditengah jalan, melihat orang lalu sambil memangku tangan.

Lebih-lebih bila lidah sudah kaku, kita teruskan berbicara dengan amal. Sebab amal yang baik itu jauh lebih fasih dari pada lidah.

“Yang haq itu adalah dari Tuhanmu. Maka janganlah sekalikali

engkau termasuk orang yang ragu. Dan setiap golongan menuju

tujuannya masing-masing. Maka kamu, berlomba-lombalah kamu

menegakkan kebajikan”. (QS.2, Al Baqarah : 147).

Ini fungsi kita umat Islam. Tunjukkan kehadiran kita di negeri ini dengan amal. Kita semua adalah manusia. Manusia yang tidak ma’shum dari kekeliruan. Sambil berjalan kita perbaiki yang tidak baik. Kita surut dimana terlanjur. Kita perkembang, mana yang baik. Kita perbarui niat semula. Guna Rapat Kerja ini, ialah untuk itu. Dalam suasana kekeluargaan dan persaudaran. Selain daripada itu lembaga-lembaga pelayanan kesehatan kita ini, mempunyai ciri yang khas. Yaitu ciri yang dibawakan oleh “nawaitu”penyelenggaranya. Ciri Islam.

Perlu kita sama jiwai ciri ini dan kita kembangkan setapak demi setapak terus menerus, dalam tiap tugas manapun yang kita garap. Sehingga lembaga pelayanan kesehatan kita ini entah yang

besar entah yang kecil, sama-sama diliputi oleh suasana yang sesuai dengan namanya pula disemua bidang.

Sepanjang pengetahuan kita hal ini sudah dimulai mengusahakannya pada tahun-tahunteraakhir ini. Mudahmudahan dapat kita tingkatkan pada massa yang akan dating Akhirul kalam, Sekalipun kami berdua kali ini tidak dapat menyertai Rapat Kerja kita ini secara aktif, percayalah, bahwa bathin kami selalu mengikutinya dan mendo’akan semoga Allah SWT melapangkan jalan bagi kita semua, dalam menegakkan Kalimah-Nya. Amien.

Wassalam, M. Natsir.

Pesan Terakhir Bapak Mohamad Natsir Untuk Masyarakat Sumatera Barat.

MENINGKATKAN TARAF HIDUP MEMULAI DARI BAWAH

Tanggal 19 September 1992 di Simpang Empat Pasaman di resmikan pemakaian gedung RSI Ibnu Sina dan Masjid Assyifa’. Bapak M. Bapak Mohamad Natsir selaku Ketua Dewan Dakwah Pusat memberikan kata sambutan yang tidak bisa disampaikan beliau secara langsung karena beliau tengah dirawat di RSCM Jakarta.22

Dan pidato tersebut dibacakan oleh: Bapak H. Buchari Tamam Sekjend DDII Pusat, dan sangat relevan dalam menghadapi kesiapan generasi muda untuk menatap masa depan yang penuh tantangan dan persaingan di Era Globalisasi, selengkapnya Bapak Bapak Mohamad Natsir, menyebutkan sebagai berikut ;

Tadinya saya berharap akan dapat turut hadir dalam pertemuan yang berbahagia ini, tetapi kesehatan saya jualah yang menghalanginya.Tiga setengah dasawarsa yang lalu, saya mendapat kesempatan menjelajahi daerah Pasaman ini dari timur sampai ke barat, dari selatan ke utara, memasuki desa-desa. Saya sempat melihat secara langsung bagaimana potensialnya daerah ini. Tanahnya yang subur, lautnya yang kaya ikan dan padang rumputnya yang luas untuk peternakan. Begitu 22 DR. MohamadBapak Mohamad Natsir, putra Sumatera Barat, yang lahir di Alahan Panjang Jembatan Berukir, beliau adalah seorang pemikir, negarawan, ulama besar, dan tokoh Islam yang punya reputasi dunia, tokoh yang pernah memainkan peranan yang sangat penting dalam panggung politik Indonesia, berpulang kerahmatullah pada hari Sabtu 6

Februari pukul 12.10 Wib di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta dalam usia 85 tahun.

juga perut buminya yang kabarnya juga mengandung bahan-bahan tambang berharga.

Dalam pembicaraan waktu itu demngan pemuka-pemuka masyarakatnya yang ramah tamah, saya mendapat kesan, bahwa mereka walaupun mengetahui kekayaan alamnya yang demikian,

belum melihat bagaimana jalan memanfaatkannya untuk meningkatkan taraf hidup mereka dari kehidupan yang masih serba tradisional selama ini, yang pada hakikatnya masih dalam taraf dibawah garis kemiskinan.

Hal ini terbayang dalam ungkapan rasa hati mereka yang dirangkum dalam seuntai pantum populer yang pernah saya dengar di daerah ini. Kalau saya tak salah, berbunyi:

Simpang Ampek kampuang sabalah, sasimpang jalan ka Kinali, Buah labek tangkoinyo lamah, dijambo ta’ sampai jari”.

Memang begitulah.

Buah lambek tangkainyo lamah, gambaran dari kekayaan alam Pasaman. Sedangkan di jambo ta’ sampai jari, usaha dan upaya untuk meraih kekayaan itu, bukan tidak ada tapi kesanggupan dan alatnya belum mencukupi. Upaya ini sebenarnya sudah terjawab. Dari awal Dewan Dakwah sudah berkeinginan untuk ikut membekali masyarakat Pasaman dengan manusia yang berkualitas fisik dan mental, lahir dan batinnya. Demikianlah, pada awal 1975, berangkatlah serombongan Dewan Dakwah Sumbar atas anjuran Dewan Dakwah Pusat, diantaranya almarhum Mazni Salam dan kawan-kawan23, . Lalu merundingkan dengan yang Mulia Syekh Haji MohamadYunus Tuanku Sasak (almarhum), juga dengan pemuka-pemuka masyarakat dan pemerintah setempat yang kesemuanya memberikan sambutan positif.

Waktu itu lah Inyiek Sasak beserta Ummi, mewakafkan langsung sebidang tanah beliau di Kampar yang terletak di samping sekolah PGA dan surau beliau sendiri, di tempat mana telah didirikan sebuah poliklinik Ibnu Sina. Dan sesudah itu menyusul pula didirikan poliklinik Ibnu Sina di Panti. Seiring dengan pembangunan poliklinik-poliklinik itu, beberapa masjid sebagai laboratorium dakwah telah pula 23 terdiri dari Djoesar Tamin, Mas’oed Abidin dibangun di daerah-daerah transmigrasi dan perkampungan penduduk asli seperti di Kinali, Rambah. Sungai Baramas dan lain-lain.

Sekarang ini tujuh belas tahun pula24 telah berlalu pengalaman- pengalaman yang di dapat dari perkembangan masyarakat selama ini, biar yang terjadi di daerah akibat pembauran penduduk asli dengan pendatang- pendatang, atau pelajaran dan pengalaman yang didapat di luar daerah; agaknya telah lebih mematangkan kita untuk menyabut era pembangunan bagi meningkatkan taraf hidup kita, terutama di desa-desa. Kita garap dari bawah.

Pertama, mempersiapkan rakyat yang sehat fisik mentalnya, sebagai disabdakan Rasulullah yang artinya: Orang mukmin yang kuat, lebih baik dari pada orang mukmin yang lemah. (Hadist Riwayat Ibnu Majah).

Kedua, membekali masyarakat, terutama generasi mudanya dengan ilmu dan keterampilan, sains dan teknologi, kata orang sekarang yang belajar dari bawah. Selanjutnya, membangun masjid dan rumah sakit untuk pembinaan rohani dan fisik masyarakat dan merintiskan pendidikan keterampilan bagi generasi muda. Ini adalah kelanjutan dari rintisan-rintisan sebelum ini sebagaimana dikatakan tadi. Satu hal yang perlu kita ingat pula, bahwa setiap usaha-usaha kemasyarakatan seperti yang kita lakukan ini, akan berjalan lancar dan berhasil baik dan merata kalau didukung seluruh rakyat bersama-sama pemerintah di bawah bimbingan

pemuka-pemuka masyarakat yang di daerah ini disebut Tungku Tigo Sajarangan: ninik mamak, alim ulama dan cadiek pandai.

Kalaulah hal yang demikian dapat kita wujudkan, apa yang kita cita-citakan berupa kemakmuran lahir bathin yang merata di daerah kita ini, akan cepat menjadi kenyataan.

Insya Allah. 24 Disampaikan pada tanggal 19 September 1992

Riwayat Hidup Ringkas  Dr MohamadBapak Mohamad Natsir

17 Juli 1908, lahir di kampung Jambatan Baukia, Alahan Panjang, Sumatera Barat.

Pendidikan: 1916-1923 Holland Inlandsche School di Solok/Padang, Madrasah Diniyah di Solok 1923-1927 melanjutkan ke Mulo Padang 1927-1930 Algemene Middelbare School, Westers Klasieke Afdeling (AMS A2) Bandung  1927-1932 Meneruskan studi tentang Islam pada Persatuan Islam Bandung 1931-1932 Kursus guru diploma LO

Kemasyarakatan dan Pemerintahan:

1928-1932 Ketua Jong Islamiten Bond Bandung

1932-1942 Direktur Pendidikan Islam Bandung

1940-1942 Anggota Dewan Kabupaten Bandung

1942-1945 Kepala Biro Pendidikan Kotamadya Bandung (Bandung Syiakusyo)

1945-1946 Anggota KNIP

1946-1949 Menteri Penerangan RI

1949-1958 Ketua Umum Partai Masyumi, Selaku Ketua Fraksi Masyumi dalam DPR-RIS. Pada waktu itu mengajukan mosi untuk kembali ke Negara Kesatuan RI yang kemudian dikenal dengan mosi Integral Bapak Mohamad Natsir dan kawan-kawan, yang diterima secara aklamasi oleh DPR-RIS

1950-1951 Perdana Menteri RI

1950-1958 Anggota Parlemen RI

1956-1958 Anggota Konstituante RI

1958-1960 Anggota PRRI

1960-1962 Dikarantina di Batu (Jawa Timur)

1962-1966 Ditahan di RTM/Keagungan Jakarta

1967 Vice President World Muslim Congress (Markas di Kar-achi)

1969 Ketua Yayasan Dewan Da’wah Islamiyah, Jakarta

1969 Anggota Muslim World League (Rabithah Alam Islamy)Mekkah

1976 Anggota Majlis A’la Al-Alamy lil Masajid (Dewan Mesjid Sedunia) bermarkas di Mekkah 1980 Menerima Penghargaan di bidang pengkhidmatan

kepada Islam dari “King Feisal Foundation”, Riyadh

5-5-1980 Menandatangani Petisi 50

1985 Anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable Foundation, Kuwait

1986 Anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic Studies, London, Inggris, Anggota Majelis Umana’ International Islamic University Islamabad, Pakistan

17-8-1989 Bersama K H Masykur mendirikan Forum Ukhuwah Islamiyah Sebagai insan beliau telah dipanggil kehadirat Allah, namun pemikiran beliau masih tetap hidup ditengah umat, dibaca dan ditela’ah oleh setiap generasi secara sambung bersambung “Harimau mati meninggalkan belang, manusia pergi meninggalkan amal yang baik juga”.

Selamat Jalan Dr. Mohamad Natsir

Bumi Minangkabau, tepatnya Kampung Jambatan Baukia Alahan Panjang, negeri dingin di balik Gunung Talang Solok menjadi saksi kelahiran Pembawa Hati Nurani Umat, tokoh yang kemudian mendunia, pemikir dan pemimpin politik.

MohamadBapak Mohamad Natsir, pada 17 Juli 1908. Putra Sutan Sari Pado dan Khadijah yang kemudian menjadi tokoh nasional bahkan aset internasional dari berbagai segi: agama, politik, sosial budaya, ilmu pengetahuan, keteladanan, pemikiran, bahkan menjadi mata air kajian ilmiah dalam berbagai seminar, simposium, untuk skripsi, thesis serta disertasi para doktor

berbagai disiplin ilmu[22].

Masa kanak-kanak beliau lalui di tengah pergolakan

pemikiran para tokoh besar pembaharu dari Ranah Minang.

Belajar di pendidikan dasar Sekolah Belanda, Bapak

Mohamad Natsir kecil dengan tekun mengikuti gebrakan para

tokoh besar di negerinya.

Dari usia delapan tahun (1916) sampai 15 tahun (1923)

Bapak Mohamad Natsir remaja menggali kekayaan para ulama itu

di HIS Adabiyah Padang dan Madrasah Diniyah Solok.

Bapak Mohamad Natsir aktif dalam Jong Islamiten Bond

Padang sewaktu melanjutkan pendidikan ke MULO Padang tahun

1923. Masih dalam jalur pendidikan Belanda, beliau melanjutkan

pendidikan ke AMS (A2) di Bandung.

Kesempatan tersebut membawa beliau berkenalan dengan

ustaz A. Hassan, tokoh PERSIS (Persatuan Islam) garis keras, yang

membimbing beliau melakukan studi tentang Islam.

Dengan ustaz ini beliau mengelola majalah “Pembela Islam”

sampai tahun 1932.

Bapak Mohamad Natsir secara formal mengikuti pendidikan

barat di sekolah-sekolah Belanda.

Beliau selesaikan pendidikan Al-Gemene Middel School di

Bandung dalam kajian Kesusastraan Barat Klasik.

Sebenarnya beliau punya kesempatan memperoleh besiswa

untuk melanjutkan sekolahnya ke Leiden pada pendidikan yang

lebih tinggi. Namun beliau memilih mendalami kajian keagamaan

melalui ustaz A. Hassan yang dikenal dengan ulama yang

berpaham radikal dan jadi sesepuh organisasi sosial- keagamaan.

Beliaupun menolak tawaran bekerja sebagai pegawai negeri

pemerintah Hindia Belanda dan lebih tertarik menekuni dunia

pendidikan. Obsesi itu membuat ia mendirikan Yayasan Pendidikan

Islam di Bandung sekaligus menjabat Direktur dari tahun

1932-1942.

Keluasan wawasannya mencuat kepermukaan setelah dapat

menguasai beberapa bahasa asing sebagai alat untuk menggali

buku-buku tokoh kelas dunia.

Bapak Mohamad Natsir mulai berkecimpung dalam dunia

politik setelah beliau menjadi anggota PII (Partai Islam Indonesia)

pada awal tahun 40 an, memimpin organisasi yang terkenal radikal

untuk bumi pancasila. Majelis Al Islam A’la Indunisiya (MIAI)

semakin berkiprah setelah kepemimpinannya.

Bahkan dalam masa penjajahan Jepang ( 1942-1945)

sesepuh dari berbagai kalangan ini masih sempat jadi kepala

bagian kodya Bandung sekaligus merangkap sekretaris Sekolah

Tinggi Islam (STI) Jakarta. Di samping itu dalam masa Pemerintah

Jepang terbentuklah Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia)

di bawah kepemimpinannya.

Kiprah politiknya semakin menanjak semenjak beliau tampil

jadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada tahun

1945-1946 dan menjabat anggota DPR sementara di tahun 1948

menjabat sebagai Menteri Penerangan. Karier politiknya sampai ke

puncak ketika ia dilantik menjadi Menteri Penerangan Republik

Indonesia. Peranan beliau amat menentukan dalam penyelamatan

Republik Proklamasi di tahun 50 an. Mosi Integrasinya adalah

manuver politik yang mengantarkan dia menjadi Perdana Menteri

pada usia 42 tahun.

Ibarat roda, kariernya sebagai politikus mengalami pasang

surut setelah bergesekan dengan dinding kekuasaan yang waktu

itu beratribut Demokrasi Terpimpin yang menjadikan angin segar

bagi Komunis untuk menyibakkan sayapnya di persada ini.

Di tengah gelombang politik yang semakin mengempas ia

terdampar di pantai oposan yang digerakkan oleh para Panglima

militer di berbagai daerah dengan wujud PRRI ( Pemerintah

Revolusioner Republik Indonesia). Dengan hadirnya beliau di

barisan oposisi ini, komplik semakin merebak hingga agresi fisik

dan bentrokan senjata tidak bisa dihindari.

Dengan tuduhan subversif, Bapak Mohamad Natsir terpaksa

meringkuk di belakang terali besi selama 7 tahun, tanpa proses

peradilan.

Setelah mengalami karantina politik di Batu Malang Jawa

Timur, dengan perpanjangan tahanan politik berakhir tahun 1966

di Rumah Tahanan Militer (RTM), Jakarta. Bapak Mohamad Natsir

menghirup udara kebebasan setelah Presiden Soekarno jatuh dari

kursi kepresidenannya.

Sebagai seorang da’i, panutan umat ini tampil meyuarakan

nurani umat kendatipun kadang-kadang dengan mempergunakan

nama samaran. Moechlis adalah nama samaran yang sangat

produktif di majalah “Pembela Islam” awal tahun 1930-an.

Ia tampil meneriakkan berbagai masalah umat dalam

berbagai forum yang berkaitan dengan hubungan inter dan antara

umat beragam, politik, kebudayaan, ekonomi dan berbagai dilema

yang tersentuh oleh realitas yang kadang-kadang sempat

menyentuh hal-hal sensitif sehingga ia harus berhadapan dengan

pemegang kekuasaan.

Di samping sebagai Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia

(DDII) sejak tahun 1967 sampai akhir hayatnya, kepiawaiannya

sebagai seorang pemikir dan aktivis dakwah tidak hanya di negeri

tercinta ini akan tetapi cendikiawan kawakan ini juga mempunyai

reputasi dalam harokah (pergerakan) Islam International.

Aktif sebagai anggota Muslim League Makkah (1969-1993),

berkiprah di Majlis A’la Al Alamy li Masjid di Makkah kemudian

menjabat wakil presiden World Moeslim Congress (Muktamar Alam

Islami) Karachi di Pakistan (1967-1993).

Iapun ikut membidani The International Islam Charitable

Foundation, Kuwait dan Oxford Center For Islamic Studies di

Inggris.

Menyoroti pola pikirnya yang multi-dimensi menyebabkan ia

harus dilihat dari perspektif yang setaraf dengan beberapa pemikir

Islam terkemuka di abad ini seperti Hasan Al-Banna, Said Hawa,

Said Quth Al-Maududi dan tokoh reformis lainnya.

Sebelum melambaikan tangan selamat tinggal pada 6

Februari 1993 di Jakarta, tokoh kawakan ini masih sempat

meninggalkan jejak perjuangan berupa khazanah intlektual dan

buku-buku yang bernuansa dakwah seperti Fiqhud Dakwah, Islam

dan Akal Merdeka, Fungsi Dakwah Perjuangan, Tugas Ulama,

Kapita Selecta dan masih banyak lainnya.

Di Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) beliau juga

meninggalkan aset kekayaan ilmiah dan ruhiyah yaitu dengan

hadirnya majalah Serial Media Dakwah, Suara Mesjid, Serial

Khutbah Jum’at, majalah “Sahabat” untuk anak-anak serta

Bulletin Dakwah sebagai penyiram hati umat yang gersang dengan

siraman rohani.

Tokoh yang tidak pernah absen dalam sejarah ini telah

memberi warna tersendiri dalam dunia perpolitikan di negara iklim

tropis ini.

Sehingga ia jadi tempat bertanya dari berbagai kalangan.

Bapak Bapak Mohamad Natsir memang punya peran khusus yang

tidak bisa dilupakan oleh sejarah, umat Islam, bangsa dan negara.

Selamat jalan Bapak Bapak Mohamad Natsir semoga sepak

terjangmu mampu membangkitkan ghirah pemuda negeri ini

hingga mampu berdiri menantang dan menyuarakan suara

kebenaran.

Di sini telah menunggu para Bapak Mohamad Natsir-Bapak

Mohamad Natsir muda untuk melanjutkan perjuanganmu yang

harum semerbak.

HMD DT.PALIMO KAYO

Buya Datuk, Profil Tokoh Ulama dan Adat

Diantara Seratus sepuluh nama tokoh ulama terkemuka

Minangkabau ada dalam daftar, yang di runut sejak pertengahan

abad ke-19, bahkan pada masa sebelumnya sampai pertengahan

abad ini, terdapat nama Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo,

atau dikenal dengan sebutan Buya Datuk Palimo Kayo.

Nama yang erat kaitannya dengan dunia pendidikan Islam

serta kepribadiannya yang kompleks, baik sebagai seorang ulama

maupun penghulu di Minangkabau.

Deretan panjang nama ulama-ulama yang terentang dalam

masa lebih dua abad itu merupakan realitas sejarah.

Sejarah menumbuhkan kearifan. Mungkin kita hanya akan

terpaku ketika melihat perjuangan para pendahulu itu sebagai

romantika masa silam belaka. Bukankah tujuan kiprah dan

perjuangan mereka relatif sama berbeda dengan apa yang

diperjuangkan oleh para ulama masa kini, yakni menegakkan

dinul Islam.

Namun ada sisi-sisi yang ternyata amat mengesankan bila

kita mengungkapkan kembali khasanah masa lalu itu. Sisi cara

pendekatan, langgam, gaya hidup, perjuangan dan dakwah para

ulama dahulu itu ternyata berlainan antara yang satu dengan

lainnya.

Ciri khas masing-masing ulama menunjukkan karakter dan

kekukuhan pribadi. Sesuatu yang terasa semakin hilang pada

masa kini. Padahal sebenarnya apa yang kita anggap sebagai

sejarah masa silam adalah bagian dari masa kini.

Dalam kesejukan pagi, pada tanggal 17 Shafar 1321 H,

bertepatan dengan tanggal 10 Maret 1905 di Pahambatan,

Balingka, Kecamatan IV Koto (Kabupaten Agam) lahirlah seorang

putra yang kemudian diberi nama Mansur.

Orang tua berbahagia yang menyambut kelahiran putranya

kala itu adalah Syekh Daud Rasyidi dan Siti Rajab. Sebagai kepala

keluarga, Syekh Daud Rasyidi sudah mengarahkan anaknya

supaya taat beragama.

Selain itu Syekh senantiasa berupaya agar semua

anak-anaknya antara lain; Anah, Mansur, Miramah, Sa’diah,

Makmur dan Afifah agar giat belajar.

Salah seorang putranya yaitu: Mansur Daud kemudian

tumbuh dalam kerangka kemungkinan yang diberikan oleh latar

belakang budaya serta lingkungan keluarga di sekitarnya.

Cikal Bakal Seorang Pemimpin Muslim

Pembentuk pribadi muslim yang pengaruhnya langsung

terhadap Mansur Daud sudah diberikan oleh ayahnya, yang

pekerjaannya memang memberikan pengajian dan

ceramah-ceramah agama.

Besarnya perhatian dalam keluarga terhadap pendidikan ini

memacu semangat Mansur Daud untuk terus menekuni Islam.

Walaupun waktunya juga dibagi untuk kegiatan keseharian

yang lainnya, tetapi, cikal bakal dirinya sebagai seorang pemimpin

Muslim sudah mulai terlihat.

Usia tujuh tahun memasuki sekolah Desa di Balingka pada

tahun 1912. Pendidikan ini hanya diikuti selama satu tahun.

Selanjutnya, beliau pindah ke Lubuk Sikaping dan

melanjutkan ke Gouvernment School sampai tahun 1915.

Mansur Daud meninggalkan Lubuk Sikaping, kemudian

mempelajari agama Islam secara khusus di perguruan Sumatera

Thawalib pada tahun 1917.

Beliau langsung mendapat pendidikan dari ulama besar Haji

Abdul Karim Amrullah (HAKA), sementara tetap mempelajari mata

pelajaran agama pada Perguruan Islam Madrasah Diniyah di bawah

asuhan Zainuddin Labay El Yunusi. Hampir seluruh waktunya diisi

dengan mempelajari pendidikan agama Islam.

Ke Mekah dan Mengembara Semasa Muda

Usia Mansur Daud masih begitu muda ketika naik haji pada

tahun 1923.

Dalam usia yang belum cukup dua puluh tahun, beliau

sudah menginjak kota suci Mekah serta langsung belajar agama

Islam dengan Syekh Abdul Kadir Al Mandily. Salah seorang Imam

Masjidil Haram itulah yang mendidik Mansur Daud selama lebih

kurang satu tahun.

Tetapi, lantaran adanya perang saudara di Mekah kala itu,

Mansur Daud terpaksa kembali pulang ke Indonesia.

Kepulangan itu mengantarkannya kembali menuntut ilmu di

perguruan Islam Sumatera Thawalib, Parabek Bukittinggi.

Selama tahun 1924, Mansur Daud mendalami agama di

perguruan Islam yang diasuh oleh Ibrahim Musa Parabek.

Suasana politik yang tak menentu, yakni menyebarnya

pengaruh komunis ke dalam perguruan Sumatera Thawalib,

membuat Mansur Daud memutuskan untuk menghindarinya.

Tahun 1925, Mansur Daud berangkat ke mancanegara,

menuju India. Langkah ini ditempuhnya guna menghindari

pengaruh komunis kala itu.

Di Negeri itu Mansur Daud kembali pada dunia yang

dihadapinya selama ini.

Beliau belajar agama di Perguruan Islam Tinggi (Jamiah

Islamiyah), Locknow, India. Abdul Kalam Azad sebagai Pemimpin

perguruan tersebut langsung jadi pengasuh sekaligus pengajarnya.

Selanjutnya, H. Mansur Daud melanjutkan belajar agama

pada Islamic College di Heydrabad, India.

Dua bersaudara yang memimpin perguruan itu; Maulana

Syaukat Ali dan Maulana Muhammad Ali cukup dikenal, sehingga

mereka dijuluki Two Brother oleh masyarakat.

Serupa namanya, perguruan tinggi agama Islam yang

mereka pimpin juga cukup dikenal oleh masyarakat, terbukti

banyak murid yang datang dari luar India.

H. Mansur Daud adalah salah seorang diantaranya.

Selama lebih kurang 5 (lima) tahun, H. Mansur Daud

mengembara, menuntut ilmu di India.

Pengembaraanya buat sementara ke mancanegara usai.

Beliau pulang dan sempat singgah di Malaysia. Beliau langsung ke

pulau Jawa.

Periode Aktifitas Organisasi

Setiba di Jawa Haji Mansur Daud bertemu dengan sejumlah

tokoh pimpinan organisasi dan politik antara lain: H.O.S.

Cokroaminoto, H. Agus Salim, K.H. Ahmad Dahlan, dan K.H.

Fakhruddin.

Sejak bergabung dengan beberapa tokoh itu, beliau terpacu

untuk berkiprah dalam organisasi.

Aktifitas organisasi yang telah dimulainya sekembali dari

India sejak tahun 1930 diwujudkan dalam suatu kongres di

Sumatera Thawalib, Bukittinggi.

Kongres di Sumatera Thawalib itu mewujudkan Persatuan

Muslim Indonesia (PMI). Peranan H. Mansur Daud dapat dikatakan

penting. Terbukti dari Jabatan Sekretaris umum yang dipegangnya

pada PMI sejak didirikan tahun 1930.

H. Mansur Daud kemudian berperan dalam membentuk

partai politik Indonesia yaitu Persatuan Muslim Indonesia (PERMI).

Periode penjajahan Jepang memperlihatkan kemajuan

aktifitas H. Mansur Daud. Salah satu upayanya adalah

membentuk badan koordinasi alim ulama Minangkabau. Badan itu,

Majlis Islam Tinggi (MIT), diketuai pertama kali oleh Sykeh

Sulaiman Ar Rasuli, yang lebih dikenal dengan Inyiak Canduang.

Penjajahan Jepang membuat rakyat begitu menderita. MIT seolah

menjadi tempat mengadu bagi rakyat. Jepang yang berupaya

menghapus organisasi seperti Muhammadiyah dan Persatuan

Tarbiyah Islamiyah, seolah luput mewaspadai Majlis Tinggi Islam.

Tokoh-ulama yang duduk dalam MIT sangat berpengaruh

dalam sepak terjang pejuang ketika berhadapan dengan pihak

Jepang kala itu.

Kiprah dalam Agama dan Adat

Sejalan dengan kekalahan tentara Jepang, dan keberhasilan

Bangsa Indonesia merebut kemerdekaan membuat segenap warga

ingin mendarmabaktikan perjuangannya. H.Mansur Daud

menggiatkan kiprahnya di bidang agama lewat dakwah dan

ceramah di mesjid-mesjid.

Muncul sebagai mubalig dan seorang tokoh Islam yang

memperjuangkan hak-hak rakyat kecil.

H. Mansur Daud, tetap eksis,terutama sejak M.I.T difusikan

ke Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) di Yogyakarta pada

bulan Februari 1946.

H.Mansur Daud cukup didengar dan dihargai pendapatnya.

Didahulukan selangkah, ditinggikan seranting oleh anak

kemenakan. Diserahi posisi penting dalam adat sebagai seorang

ninik mamak.

Gelar adat yang kemudian dipangkunya adalah Datuk

Palimo Kayo.

Posisinya dalam raad (Dewan) Nagari dimanfaatkannya

untuk memusyawarahkan soal harta pusaka bersama ninik mamak

pada 2-4 Mei 1953 di Gedung Nasional Bukittinggi.

Beliau juga melakukan aktifitas lain dalam usaha

meningkatkan dan mensejahterakan masyarakat khususnya di

Minangkabau.

Upaya yang dilakukannya meliputi; pembangunan masjid,

mushalla maupun sekolah agama.

Hal terpenting, beliau sangat memperhatikan soal persatuan

khususnya sesama alim ulama.

Semangat dan Pengabdian

Kegiatan di bidang politik semakin membawa HMD Datuk

Palimo Kayo menjadi tokoh teras melalui semangat dan pengabdian

yang ia curahkan. Terbukti ketika dirinya dipercaya sebagai Ketua

umum Masyumi wilayah Sumatera Tengah. Salah satunya

karyanya adalah membentuk markas Perjuangan Hizbullah guna

mewaspadai kembalinya penjajah, meskipun Bangsa Indonesia

telah memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945.

Saat Masyumi mendapat tempat dengan keikutsertaan pada

pemilihan umum pertama pada tahun 1955, HMD Datuk Palimo

Kayo duduk di parlemen selama setahun sampai tahun 1956.

Karir politik HMD Datuk Palimo Kayo di tataran negara

semakin melesat ketika pemerintah menunjuknya sebagai Duta

Besar (Dubes) Republik Indonesia (RI) untuk negara Irak sampai

tahun 1960.

Sekembali dari Irak, mengakhiri tugas sebagai duta besar, ia

menyaksikan partai politik Islam Masyumi dibubarkan oleh

Presiden Soekarno.

Antara tahun 1961-1967 HMD Datuk Palimo Kayo aktif

berdakwah dan menekankan peningkatan kemakmuran umat.

Dewan Dakwah Islamiyah yang diketuai Bapak Mohamad

Natsir juga turut dirancang Buya Datuk sejak didirikan pada

bulan Pebruari 1967.

Beberapa program pokok yang mesti dilakukan.

(1). Gerakkan kembali tangan umat

a. Melalui penguasaan keterampilan di desa-desa,

b. Dalam usaha membina kesejahteraan bersama,

c. Menghidupkan kembali ekonomi umat di desa-desa.Desa adalah benteng kota dalam artian perkembangan ekonomi yang sesungguhnya.

Masalah keterampilan seperti pertanian dan peternakan terpadu di Tanah Mati Payakumbuh dan pemanfaatan lahan-lahan wakaf umat di Rambah Kinali mulai di garap.

Tujuan utamanya tidak hanya sekedar untuk mendatangkan

hasil secara ekonomis namun lebih jauh dari itu. Diharapkan

sebagai wadah pembinaan dan pelatihan generasi muda.

Maka apabila sekarang kita hendak membangun

perikehidupan masyarakat desa kita yang demikian, tidaklah dapat

kita menutup mata dari keadaan yang nyata itu.

Agar atas pengetahuan kita tentang “kekayaan alam” yang

ada, pengetahuan kita tentang “tingkat kecerdasan” umat,

tentang “sikap jiwanya” yang ditentukan oleh bermacam-macam

unsur “non-ekonomis” itu, dapatlah kita menggariskan rencana

usaha dan cara-cara mendekati persoalan atau menentukan

approach“nya kata orang sekarang.

Orang biasa membangun masyarakat desa yang pada

umumnya berada dalam alam “statis-tradisionil” itu dengan

bermacam-macam cara.

Ada yang mau cepat menggunakan regimentasi yakni dengan

pengerahan dengan komando seperti sistem komando di RRC. Ada

yang dengan tak sabar, mendrop ke dalam masyarakat desa yang tak

punya modal itu, uang ratusan juta rupiah atas dasar kredit.

Ada yang mau lekas-lekas, secara mendadak, supaya

masyarakat desa menggunakan hasil-hasil teknologi yang modern.

Tujuannya ialah ; “mempertinggi produksi sandang pangan”.

Caranya; ” modernisasi secepat mungkin, di segala bidang”.

Kita sudah lihat bagaimana hasilnya :

Dengan regimentasi, masyarakat desanya lumpuh

Dengan menempakan kredit sebanyak mungkin, masyarakat

desa terlibat hutang yang tak terbayar.

Dengan mekanisasi yang dipaksa-paksakan, alat-alatnya jadi

“besi tua”.

Sebabnya ialah; seringkali orang lupa, dalam suasana

keranjingan cepat mencapai daya guna/efisiensi, dengan apa yang

disebut modernisasi, dan teknologi modern, orang lupa kepada unsur

manusianya.

Berilah modal kepada orang yang belum pernah melatih diri

membina modal sendiri dengan susah payah, modal itu akan hancur.

Berilah secara mendadak hasil teknologi modern berupa teori

dan mesin-mesin modern, kepada orang yang masih hidup dalam

alam fatalisme dan segala macam tahayul yang tradisionil, mereka

akan bingung dan patah semangat.

Maka khittah kita dalam menghadapi pembangunan

bertitik tolak pada pembinaan manusianya, dalam arti mental

dan fisik.

Membina daya pikir dan daya ciptanya, membersihkan

aqidah dan membangun hati nuraninya, membina kecakapan

dan dinamikanya. Sehingga seimbang pertumbuhan rohani dan

jasmaninya, seibang kesadaran akan hak dan kesadaran akan

kewajibannya, seimbang ikhtiar dan do’a nya.

Sebab, kesudahannya, “perkembangan umur manusia”,

inilah jua yang dapat mengarahkan per-kembangan lahiriyah

dibidang apapun.

Allah tidak merubah keadaan satu kaum, kecuali apabila mereka

merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri“.

Adapun modal dan teknologi adalah perlu, sebagai alat

pembantu dan pendorong memper-cepat prosesnya.

Dalam usaha ini, kita akan menghadapi bermacam-macam

persoalan yang harus diatasi.

Bila berbicara tentang “pembinaan kesejahteraan” dalam arti

materiel kita tidak terlepas dari pada satu undang-undang baja

ekonomi bahwa kita harus meningkatkan produksi di bidang apapun

namanya entah di bidang sandang ataupun pangan.

Produksi tidak dapat tidak menghendaki modal.

Yang dimaksud dengan modal sebagai unsur produksi adalah

persediaan alat penghasil yang dihasilkan (stock of produced

means of production), misalnya gedung-gedung, pabrik-pabrik,

mesin-mesin, alat perkakas, dan persediaan barang yang semuanya

diperlukan untuk proses produksi.

Fungsi uang dalam rangka ini adalah sebagai alat penukar,

pembeli alat-alat penghasil itu. Pembentukan modal dapat

dilakukan, apabila dari hasil produksi tidak semuanya dihabiskan

tetapi disimpan, lalu digunakan untuk produksi selanjutnya.

Dengan lain perkataan; apabila masyarakat dapat membatasi

konsumsi sekarang“, guna memperoleh hasil yang lebih banyak pada

masa yang akan datang.

Di sini kita akan menjumpai lingkaran yang tak berujung

berpangkal. Yaitu : apabila hasil produksi yang disimpan besar,

maka pembentukan modal akan bertambah besar pula.

Bagaimana pentingnya penumpukkan modal bagi suatu

masyarakat yang ingin memper-kembangkan ekonominya, dapat kita

rasakan bila kita melihat lingkaran yang sebaliknya.

Yaitu: taraf penghidupan rendah, hanya sedikit, atau tidak

sama sekali, membukakan kemungkinan untuk menyimpan.

Ini mengakibatkan kita sedikit, atau tidak sama sekali dapat

memupuk modal ini, juga meng-akibatkan hasil produksi kecil tak

mungkin mengadakan penyimpanan dan taraf hidup merosot, dan

ekonominya tak mungkin berkembang.

Ditinjau secara ekonomis, di samping kesanggup-an dan

kesediaan untuk bekerja keras, rajin dan cermat.

Ada dua hal yang tidak dapat tidak harus dilakukan oleh

suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya dari

taraf yang rendah, ialah :

a. memulai dengan kesanggupan dan kesediaan untuk hidup dengan berhemat untuk dapat memupuk modal.

b. menghindarkan segala macam pemborosan, dan memberantas segala bentuk pemborosan itu.

Sering persoalan yang tumbuh ialah, bagaimana kita membawa umat dan masyarakat desa itu kepada kemampuan dan kebiasaan untuk “menyimpan” sebagian dari hasil produksinya guna “pembentukan modal”, dan bagaimana supaya mereka dapat menghindarkan pemborosan-pemborosan (wasted).

Adapun di alam Minangkabau, kepercayaan atau adat istiadat yang mengakibatkan pemborosan (waste) besar-besaran boleh dikatakan tidak ada 26.

Namun masih ada kemungkinan dari wabah masyarakat, yakni penyakit adu untung, atau per-judian massal dalam bermacam-macam bentuknya, yang meruntuhkan akhlak dan menghisap modal dari proses produksi dan pasar dagang ke meja perjudian itu, dengan segala akibat-akibatnya.

Inilah yang sangat perlu diawasi.

Selain dari pada itu, sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat kita

di sini pada umumnya masih tetap tertuntun oleh akhlak, dan

pandangan hidup Islam, tertuntun dan terbimbing oleh “Adat

basandi Syara’ syara’ mamutuih, Adat memakai !“.

Kedua-duanya memberikan unsur-unsur pegang-an hidup

yang positif, mengandung pendorong dan perangsang, force of

motivation, tenaga penggerak untuk mendinamisser satu masyarakat

yang statis atau “sedang mengantuk”.

Menumbuhkan sifat-sifat kebiasaan-kebiasaan (human

behaviour) yang diperlukan untuk mengembangkan kegiatan

ekonomis seperti meng-hindarkan pemborosan, kebiasaan

menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan

hancur, melihat jauh kedepan, dan yang semacam itu merupakan

harta besar dari kekayaan masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

Bapak DR.Mohamad Natsir sebagai seorang the political

thinkers atau the political idea philospher, senantiasa berupaya

memerankan dengan sungguh-sungguh peranan masyarakat kecil.

Disini terlihat nyata bentuk rupa dari ide (pemikiran) politik

Beliau yang utama. Idea atau pemikiran tersebut telah dituangkan

dalam banyak pesan sejak dari balik dinding penjara atau ditanah

pengasingan di Batu Malang sedari tahun 1963.

26 Syukur pula “Alam Minangkabau” masih terlindung dari kebiasaan pemborosan besarbesaran

yang terjadi bila ada organisasi-organisasi yang merayakan Hari Ulang Tahunnya yang

kesekian, dengan pengeluaran besar tanpa alasan.

Dalam upaya menciptakan sebuah produk kerajinan kecil

(handycraft) dalam masyarakat yang dinilai dan dikenal saat ini

sebagai satu desa satu produk hasil, atau one village one product.

Oleh masyarakat dunia telah dikenal sebagai leading sector dan

dilaksanakan berdasarkan pola pengembangan ekonomi masyarakat

kecil di Jepang.

Dalam perkembangannya, telah menjadi salah satu bentuk

pemberdayaan rakyat kecil (people empowerment) yang menjadi

tiang proses kompetisi perekonomian dunia saat ini.

Dalam menghadapi perkembangan era globalisasi.

Hal seperti ini telah dikemukan oleh Bapak DR.Mohamad

Natsir, yang hanya bisa dicapai dengan upaya membangun

masyarakat besar melalui masyarakat kecil dan sederhana.

Istilah yang pas untuk menjelaskan hal ini adalah melalui

pembentukan cara hidup yang diajarkan agama Islam, antara lain;

1. berdikari terhadap diri sendiri, tanpa tergantung kepada

orang lain (self help),

2. membantu orang lain tanpa pamrih dengan ukuran ikhlas

karena Allah SWT (selfless help),

3. membentuk sebuah ketergantungan untuk membantu

satu sama lain (mutual help).

Cara hidup ini merupakan konsepsi pemikiran Islami yang

dikembangkan menjadi dasar pembentukan kerjasama diantara

warga masyarakat.

Bahkan bisa dikembangkan untuk solidaritas antar negara

yang mendasari bentuk hubungan inernasional yang mampu

menciptakan tata perdamaian dunia.

Ketiga dasar tersebut merupakan dasar pembentukan

masyarakat tamaddun (beradab), yang bukan hanya bersifat

“kebangkitan ekonomi”, tetapi merupakan sesuatu yang bersifat

moral (the moral renewance).

Dalam “pembersihan moral” ini, maka peranan agama Islam

menjadi penting.

(2). Hidupkan kembali lembaga puro.

d. Hidupkan kembali kebiasaan menabung dan

berhemat dalam satu simpanan bernama puro.

e. Juga menghidupkan kebiasaan berinfaq, bersedekah

dan berzakat sebagai suatu usaha pelaksanaan

syariat Islam,

f. menghimpun dana dari umat yang berada untuk

dikembalikan kepada umat yang lemah (dhu’afak).

Perhatian tidak dapat dipalingkan dari perlunya pembinaan

para dhu’afa’ serta anak-anak yatim yang memerlukan uluran

tangan setiap Muslim.

Yang mereka perlukan bukan sekedar makanan dan pakaian

akan tetapi adalah juga tempat berlindung dan sarana pendidikan.

Memang sudah sejak lama sarana pembinaan anak yatim

melalui panti-panti asuhan menjadi perhatian dari Badan-badan

Dakwah Islam di tanah air.

Sungguhpun sampai sekarang Dewan Dakwah sebagai

Yayasan tidak atau belum mempunyai panti asuhan anak yatim

secara khusus.

Hal ini tidaklah berarti bahwa Dewan Dakwah Islamiyah

Indonesia melupakan pembinaan anak yatim.

Usaha ini dilakukan secara positif dengan berbagai gerak

antara lain melakukan kerja sama dengan berbagai lembagalembaga

dakwah dalam dan luar negeri.

Upaya yang dilakukan diantaranya untuk memberikan

bantuan bea siswa terhadap anak-anak yatim, serta mencarikan

Bapak angkat yang akan meng-kafil (membiayai) anak-anak yatim

yang berprestasi.

Juga mendirikan bangunan darul aitam antaranya

bangunan Panti Asuhan Putera Bangsa Yayasan Budi Mulia

Padang yang dilengkapi dengan sembilan lokal ruang belajar dan

satu asrama bertingkat aitam yang dimulai pembangunannya pada

tahun 1992.

Kemudian pada bulan September 1997 ditanda tangani

piagam kerja sama pembinaan anak yatim tersebut antara Dewan

Dakwah dengan Yayasan Budi Mulia di Padang.

Masih berkaitan dengan pembinaan anak yatim ini maka

Dewan Dakwah secara intensif tetap berusaha kearah penyediaan

dana abadi yang secara jangka panjang mampu membiayai

keperluan-keperluan anak yatim.

Tentu, yang sangat mendesak terarah kepada anak-anak

yatim yang berada di bawah Kafil Aitam Dewan Dakwah.

Mulai Agustus 1996 dicoba mengusahakan ladang

pembenihan bibit ikan untuk keperluan anak yatim di desa Bawan

Kec. Lubuk Basung Kabupaten Agam Sumatera Barat dan

Budidaya ikan air tawar sistem karambah di Desa Sigiran Maninjau

yang juga hasilnya diperuntukkan 100% bagi keperluan anak

yatim.

Usaha ini baru dalam langkah awal, namun juga berdampak

terhadap pendidikan ekonomi pedesaaan pada kalangan dhu’afa’ di

sekitar proyek-proyek eko-nomi yatim tersebut antara lain

menerapkan sistim bagi hasil dengan para penduduk pedesaan

dimaksud.

Apa yang digambarkan ini, semuanya berawal dari

menghidupkan kembali puro, menggerakkan hati umat untuk ikut

serta mengulurkan tangan membantu kaum yang lebih lemah

(dhu’afak).

Dewan Dakwah sudah lama diminta pertim-bangannya atau

Rekomendasi oleh lembaga-lembaga dakwah, instansi resmi

pemerintah dan perorangan dari luar negeri, dalam menyalurkan

bantuan kepada kaum Muslimin Indonesia atau kepada lembagalembaga

dakwah yang pada saat itu mulai menggeliat dalam

kiprahnya.

(3). Hidupkan Kembali Madrasah yang lesu darah.

Madrasah yang sudah lesu darah mungkin disebabkan oleh

karena kehabisan tenaga pada masa pergolakkan.

Maka beberapa upaya tegas diwashiyatkan oleh Bapak DR.

Mohamad Natsir untuk dikerjakan segera.

1. Hidupkan masjid bina jama’ah.

2. Tumbuhkan minat seluruh masya-rakat untuk menghormati ilmu

3. Tanamkan keyakinan umat untuk memiliki kekuatan Iman dan Tauhid.

4. Terutama memulainya dari kalangan generasi muda.

Seiring dengan itu masalah pendidikan pun dihidupkan seperti perhatian penuh terhadap lembaga pendidikan yang sudah ada (Thawalib Parabek, Thawalib Padang Panjang, Diniyah

Padang Panjang dan banyak lagi yang lain).

Disamping madrasah yang sudah ada dihidupkan pula madrasah baru seperti Aqabah di Bukittinggi dan madrasahmadarasah Islam yang tumbuh dari masyarakat di desa-desa. Pembangunan rumah-rumah ibadah terutama di kampuskampus (masjid kampus) dan Islamic Centre tetap menjadi perhatian utama.

Walaupun ada suatu kampus yang amat memerlukan

pembangunan sarana ibadah (masjid) merasa enggan dan takut

untuk menerimanya terang-terangan dari Dewan Dakwah

Islamiyah Indonesia.

92 Pesan Dakwah DR. Mohamad Natsir

Taushiyah Dakwah Pemandu Umat

Karena takut terbias politik Keluarga Besar Bulan Bintang

(Masyumi), dan dilihat mereka bahwa pimpinan Dewan Dakwah itu

seluruhnya adalah bekas pimpinan Partai Masyumi, setidaknya

simpatisan partai Islam besar itu.

Ketakutan kepada Dewan Dakwah semula-nya, semata-mata

merupakan bayangan tanpa alasan. Mungkin hanya lebih

disebabkan sebagai akibat logis dari suatu trauma psikologis

semata. Karena di Ranah Bundo ini pernah terjadi per-golakan

daerah, yang disebut Pemerintahan Revolusioner Republik

Indonesia (PRRI).

Padahal sesungguhnya, pergolakan daerah itu sama sekali

tidak pernah menuntut berdirinya negara baru. Melainkan hanya

semata merupakan upaya social reform dan political reform

terhadap peme-rintahan otoriter Orde Lama, yang sudah sangat

mendekat kepada kekuatan Komunis.

Apalagi, dikala terjadinya pergolakan daerah itu, tidak

hanya Sumatera Barat semata yang bergolak.

Bahkan, hampir diseluruh daerah Nusantara. Diawali

pertama kali oleh penentangan dari pihak Tentara (ABRI) yang ada

di daerah.

Penentangan tersebut dilakukan secara terang-terangan

dengan mendirikan Dewan-Dewan Perjuangan Daerah. Untuk

Sumatera Barat, berdiri lebih dahulu Dewan Banteng.

Kesemuanya itu terjadi karena kesewenangan yang

dilakukan oleh pihak pemerintahan dikala itu, diantaranya dalam

membubarkan Majelis Konsti-tuante, hasil Pemilihan Umum tahun

1955, karena dianggap berseberangan dengan kehendak beberapa

kalangan pemerintahan pusat.

Terutama oleh kelompok Komunis.

Padahal, anggota konstituante dimaksud telah dipilih oleh

seluruh masyarakat dan rakyat Indonesia secara demokratis.

Oleh karena itu, pandangan bahwa Dewan Dakwah dan

pemimpin-pemimpin bekas Partai Masyumi adalah pribadi-pribadi

yang sangat berbahaya, senyatanya adalah merupakan pandang-an

yang kurang ilmiah terhadap Masyumi.

Suatu hal yang aneh memang bila dibandingkan dengan

jumlah Umat Islam di daerah Sumatera Barat yang boleh dikata

hampir 100%. Sesuatu yang aneh bila di Ranah yang adatnya

basandi syarak, syarak basandi Kitabullah ini masih ada

sebahagian diantaranya menjadi phobi dengan gerakan dakwah

Islam.

Memang tidak dapat dibantah, bahwa kebetulan sekali

gerakan amaliah dakwah itu, dijalankan oleh orang-orang yang

Pemimpin Pemandu Umat 93

Hidupkan Da’wah Bangun Negeri

kata mereka adalah ex. Masyumi atau Keluarga Besar Bulan

Bintang.

Ketakutan yang diikuti perasaan risih ter-hadap para

pemimpin umat ini, masih mengental sampai masa kepemimpinan

Orde Baru.

Walaupun realitas objektifnya menyebutkan bahwa partai

Komunis telah di bubarkan, sebagai awal dari kemunculan Orde

Baru itu.

Namun, orang-orang dakwah, terutama yang ber-ada di

Dewan Dakwah, dan pengikut pola dakwah Bapak DR.Mohamad

Natsir, masih diang-gap berseberangan dengan pemerintahan orde

baru.

Apalagi tatkala sejarah mencantumkan catatannya dengan

peristiwa Petisi 50, dimana banyak pemimpin umat yang dikenal

dalam Dewan Dakwah ikut menanda tanganinya.

Sebenarnya, pihak militer juga banyak yang ikut dalam

Petisi 50 tersebut.

Namun kebencian terhadap mereka tidaklah sedalam

kebencian terhadap pemimpin-pemimpin Islam, umumnya dari

bekas partai Masyumi.

Kondisi ini menjadi kendala dalam setiap kepanitiaan amal

khairat Islami.

Termasuk mendirikan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Yarsi

Sumbar.

Masih banyak yang enggan mengakui kebera-daan Dewan

Dakwah dalam mempelopori dan meng-gerakkannya. Inilah suatu

ironi ditengah umat Islam Sumatera Barat.

Seperti contoh dibangunnya masjid kampus di tengah

komplek UNAND dan IKIP di Air Tawar Padang yang terhalang

beberapa lama hanya karena ketakutan terhadap bayangan

Masyumi semata.

Namun akhirnya dengan pendekatan yang dilakukan oleh

orang-orang tua diantaranya Hasan Beyk Dt. Marajo dan Rektor

IKIP Padang Prof. DR. Isyrin Nurdin terbangunkan jugalah masjid

kampus itu. Apa yang menjadi idaman oleh setiap mahasiswa

Muslim dan civitas akademika kedua perguruan tinggi di Padang

itu, akhirnya wujud dalam kenyataan.

Sampai sekarang masjid kampus itu berkiprah dengan baik

dengan nama Masjid Al-Azhar dikampus IKIP Air Tawar Padang.

Sebelum tahun 1986 dapat dikatakan bahwa Dewan

Dakwah Islamiyah Indonesia di bawah ke-pemimpinan Bapak DR.

Mohamad Natsir oleh para Muhsinin. Terutama para penyumbang

dari Timur Tengah dan banyak juga dari para dermawan di tanah

air Indonesia.

Memang, disadari sebenarnya telah lama ter-bentuk image

bahwa Dewan Dakwah, dapat dikatakan atau boleh dianggap,

sebagai satu-satunya lembaga yang dapat dipercaya untuk dimintai

Ini terbukti bahwa sebelum tahun 1986 itu atas rekomendasi

Dewan Dakwah di bantu juga Islamic Centre seperti Islamic Centre

Masjid Taqwa Muhammadiyah Padang.

Bantuan para muhsinin tersebut diwujudkan dalam

penyempurnaan pembangunan Masjid tersebut yang beberapa

tahun sebelumnya mendapat musibah runtuh kubahnya.

Karena itu bila terjadi umat Islam di pedesaan bahkan di

kota-kota dan juga daerah-daerah sulit yang baru di buka (daerah

transmigrasi, daerah-daerah terpencil dan terisolir yang disebut

sebagai medan dakwah) mengeluhkan tidak adanya rumah ibadah

maka dengan sendirinya Dewan Dakwah berusaha mencari

bantuan.

Mengokohkan ibadah umat melalui pembangun-an saranasarana

ibadah menjadi satu pekerjaan yang tidak bisa diabaikan.

Maka tidaklah mengherankan kalau penanganan proyekproyek

fisik berbentuk sarana ibadah ini atas inisiatif Bapak DR.

Mohamad Natsir merupakan kerja yang tidak boleh disambilkan.

Sejak tahun 1986 itu Bapak DR. Mohamad Natsir selaku

Ketua Dewan Dakwah membentuk seksi (bagian) yang khusus

menangani proyek fisik rumah ibadah ini. Masjid Kampus yang

dibangun tahun 1986-1997 antara lain adalah Masjid Kampus

Sulaiman Hasawy di kampus Aqabah Tarok Bukittinggi Sumatera

Barat.

Begitu juga bantuan-bantuan yang diminta disalurkan oleh

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia terhadap pembangunan

Masjid Kampus Attaubah Kampus Universitas Asia Afrika (UAA)

Kedawung Ciputat Jakarta, Masjid Kampus Ad Da’wah Universitas

Islam Salafiyah Jl. Tanah Tinggi I Jakarta Pusat.

Daerah Jawa Barat, memang sejak dulu menjadi tempat

berkembangnya perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Pembangunan Masjid Kampus untuk tujuan mengokohkan aqidah

dan pemeliharaan ibadah para mahasiswa Muslim amatlah

penting. Seiring dengan itu, maka dibangunkan pula Masjid

Kampus Abu Ubaidah Al Jarrah Fakultas Pertanian Universitas

Bandung Raya (UNBAR) Bandung, dan Masjid Kampus Al Hijri II

Kampus Universitas Ibnu Khaldun (UIK) Kedung Badak Bogor,

Masjid Kampus Fatahillah Beji Depok kemudian Masjid Kampus

Sulthan Alauddin Jl. Racing Centre Ujung Pandang.

Pemimpin Pemandu Umat 95

Hidupkan Da’wah Bangun Negeri

Pembangunan Masjid Kampus ini terlaksana karena adanya

kerja sama antara Badan-badan Dakwah di luar maupun di dalam

negeri sebagai perwujudan nyata dari usaha dakwah berdasarkan

redha Allah.

Begitu juga pembangunan gedung Islamic Centre yang

dimaksudkan sebagai wahana pembinaan dan pengkaderan

generasi intelektual Muslim yang selama sebelas tahun (1986-1997)

senantiasa menjadi titik perhatian Dewan Dakwah.

Selama periode itu telah dapat dibangunkan tujuh Islamic

Centre.

Yang amat monumental adalah Islamic Centre (Masjid) Al

Furqan Jl. Kramat Raya 45 Jakarta Pusat DKI yang pada hari ini

menjadi markas kegiatan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia

Pusat dan Kantor Dewan Dakwah Perwakilan DKI Jaya yang sarat

dengan kegiatan-kegiatan.

Diantaranya melingkupi bidang pendidikan dan pelatihan,

penerbitan, pusat informasi, perpustakaan, koordinasi da’i

diseluruh Nusantara, dan tidak ketinggalan sebagai tempat tujuan

tamu-tamu dari lembaga lembaga dakwah manca negara.

Enam Islamic Centre lainnya tersebar di daerah-daerah luar

Jakarta, seperti Islamic Centre Darul Hikmah Gedung Meneng

Bandar Lampung di Lampung. Dan Islamic Centre Ruhul Islam

Banjar Negoro Magelang Jawa Tengah.

Islamic Centre Muhtadin Sleman Yogyakarta, Islamic Centre

Al Maylan Pabelan Surakarta Jawa Tengah, Islamic Centre Muniraq

Al Shabbah Jl. Purwodadi Surabaya Jawa Timur.

Begitu pula dibangunkan Islamic Centre INDONESIA di Jl.

Kramat II No. 75-77 Jakarta Pusat DKI Jaya.

Tidak ketinggalan untuk daerah Sumatera Barat, Ranah

Minang, juga dibangunkan sebuah Islamic Centre Al Quds Air

Tawar Barat Padang Sumatera Barat.

Islamic Center ini dikelola sejak dari berdirinya oleh Yayasan

Ibu Sumatera Barat, yang sanagat banyak berkaitan dengan

anggota-anggota Badan Penyantun Rumah Sakit Islam IBNU

SINA Yarsi Sumbar.

Dalam masa sebelas tahun (1986-Agustus 1997) Dewan Dakwah telah membangunkan 421 bangunan diantaranya 391 buah Masjid, 7 buah Islamic Centre, dan 7 buah Masjid Kampus.

Telah dibangun pula, 2 buah Taman Kanak-kanak, 3 buah Rumah Yatim (Darul Aitam). Selain itu juga telah dibangunkan satu buah Balai Latihan Kerja (BLK) dan satu buah Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Simpang Empat di Pasaman Barat.

Dengan demikian juga yang dialamatkan untuk pembangunan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina di Bukittinggi, Pasaman, Payakumbuh dan Sum,atera Barat umumnya.

(4). Perhatikan kesehatan umat.

Dengan mendirikan Rumah Sakit Islam.Bila kita terlambat memikirkan kesehatan umat maka orang lain akan mendahuluinya, bisa-bisa terjadi nantinya jalan dialih orang lalu.

Pembangun Rumah Sakit Islam adalah ibadah karena ada suruhan untuk berobat bagi setiap orang yang sakit (hamba Allah).

Gerakan ini bisa berarti juga memfungsikan para ahli di bidangnya yang keislamannya sama bahkan tidak diragukan.

Pada Oktober tahun 1969 Balai Kesehatan Ibnu Sina (cikal bakal Rumah Sakit Islam Ibnu Sina) yang mengambil tempat di rumah Dr. Muhammad Yusuf dan rumah keluarga Dr. Muhammad Djamil, di Bukittinggi. Di bangunan yang bernama Sitawa Sidingin di Bukittinggi telah diresmikan untuk pertama kali beroperasinya oleh  Proklamator Republik Indonesia Bapak. DR. Mohammad Hatta.

Satu sejarah baru telah dimulai yakni mem-bangun balai kesehatan sebagai rangkaian dari suatu ibadah dan gerak dakwah. Keberadaan Balai Kesehatan ini disambut oleh seluruh lapisan masyarakat dari desa-desa hingga ke kota, oleh pegawai sampai petani, dari ulama dan pejabat hingga pedagang dan perantau.

Serta merta seluruh pihak-pihak tersebut mem-buka puro (persediaan harta) menyalurkannya dengan ikhlas untuk berdirinya Balai Kesehatan Islam di Bukittinggi.

Akhirnya menyebar ke Padang Panjang, Padang,  Payakumbuh, Kapar (Pasaman Barat), Simpang Empat dan Panti dalam waktu yang sangat pendek hanya berjarak tiga tahun setelah peresmiannya dan akhirnya menjadi Rumah Sakit Islam  Ibnu Sina.

Apa yang diperbuat oleh misi baptis selama ini telah dapat dijawab oleh umat Islam di daerah Sumatera Barat dengan suatu amal nyata yakni melalui program dakwah illallah dalam bidang kesehatan.

Menciptakan Muslim yang Sehat

Salah satu tema menarik sejak dulu hingga saat ini adalah  upaya menciptakan masyarakat tamaddun (beradab).

Konsep pemikiran ini merupakan antitesis ter-hadap degradasi moral yang dibawa oleh peradaban Barat.

Konsep ini mulai difikirkan dan dirancang oleh beberapa politisi dunia, serta beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Masyarakat tamaddun merupakan sebuah masyarakat integratif secara sosial, politik maupun ekonomi ditengah masyarakat yang ada dengan problematika sosial dan pribadi yang tengah bergumul didalamnya.

Konsep membentuk masyarakat semacam ini sangat sejalan dengan salah satu konsepsi pemikiran Bapak DR.Mohamad Natsir yang telah dirancang sejak tahun 1930-an yang lalu , tujuh puluh tahun silam, dan menjadi perwujudan masa kini.

Berawal dari konsepsi tentang kesehatan manusia, membaginya atas empat bahagian,

1. kesehatan fisik.

2. kesehatan jiwa.

3. kesehatan ide (pemikiran),

4. kesehatan sosial masyarakat disekitarnya.

Keempat bentuk kesehatan tersebut berada dalam ruang lingkup yang sama (integratif) yang memiliki interrelasi satu sama lain.

Interrelasi ini berada dalam ruang lingkup pemi-kiran Islam, sebagai sebuah garis tengah yang menjadi “benang hijau” terhadap segala bentuk pemikiran yang ada. Sebagai sebuah garis tengah yang menjadi “benang hijau”, dia tidak mengalami gesekan-gesekan pemikiran dan mengambil segala bentuk pemikiran kon-struktif dan meninggalkan pemikiran destruktif.

Kepentingannya terletak kepada kemampuan aplikasi dari segala ide atau pemikiran yang dilaksana-kan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh pengertian globalisasi yang diartikan sebagai ruang lingkup pemi-kiran yang bisa dilaksanakan di tengah masyarakat[23]. Relevansi pengertian globalisasi dalam konteks pemahaman ajaran Islam diatas dapat dilihat dari terdapatnya interaksi antara pemahaman ajaran agama Islam dengan Aspek globalisasi

kehidupan yang terjadi di dunia saat ini[24].

Interaksi ini mengharuskan pemahaman ajaran agama Islam tidak lagi secara eksklusif dalam ruang lingkup pergaulan hidup sehari-hari dalam sebuah komunitas sosial yang tertutup dari dunia sekitarnya, tetapi harus bersifat inklusif untuk bisa dipahami oleh semua orang.

Peranan pemikiran baru dalam mencerahkan problematika sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam segenap masyarakat yang ada dari proses westernisasi yang dibawa kebudayaan Barat, merupakan salah satu antitesis terhadap masalah (kondisi) tersebut.

Pemikiran Bapak DR.Mohamad Natsir dalam Dewan Dakwah

Islamiyah Indonesia, sedari awalnya merupakan pemikiran ahlul

salaf yang berada di tengah-tengah sebagai upaya penjelmaan umat

pertengahan (umathan wasathan).

Suatu tatanan masyarakat yang kokoh iman dan berakhlak

mulia seperti yang dikemukakan ajaran Al Qur’an.

Hal ini terungkap dalam sambutan dari Bapak DR.Mohamad

Natsir tatkala meresmikan dipakainya Masjid Asy-Syifa Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Simpang Ampat Kecamatan Pasaman di Pasaman Barat, Kabupaten Pasaman.

Yang terpenting sebetulnya tidak hanya semata pembangunan fisik berupa bangunan masjid yang terutama, tetapi yang lebih utama disampingnya adalah pembangunan umat dengan memelihara kesehatannya melalui membangun rumah sakit.

Dengan pembangunan kedua sarana ibadah ini, maka harus diusahakan selalu gerakan pengupayaan sumber daya manusia dan alam. Satu hal yang perlu kita ingat pula, bahwa setiap usaha-usaha kemasyarakatan akan berjalan lancar dan berhasil baik dan merata kalau didukung seluruh rakyat bersama-sama pemerintah di bawah bimbingan pemuka-pemuka masyarakat yang di daerah ini disebut Tungku Tigo Sajarangan: ninik mamak, alim ulama dan cadiek pandai.

Kalaulah hal yang demikian dapat kita wujudkan, apa yang kita cita-citakan berupa kemakmuran lahir bathin yang merata di daerah kita ini, akan cepat menjadi kenyataan. Insya Allah. Sebagai pemikiran aplikatif terhadap problematika sosial yang ada, maka penerapan terhadap segenap ide (pemikiran) yang ada merupakan sebuah kebutuhan mutlak yang diharapkan yang jelas dalam kehidupan global masa kini. masyarakat saat ini.

Frustrasi sosial yang melahirkan agresi dalam segenap bidang kehidupan dilahirkan oleh kesenjang-an antara sebuah ide dengan aplikasi ide tersebut. Kesenjangan ini, akan teratasi oleh pembentukan masyarakat self help, selfless help dan mutual help di atas.

Upaya untuk menjembatani kesenjangan tersebut hanya bisa dilakukan melalui upaya nyata dengan “Berorientasilah kepada ridha Allah SWT.”

Dalam proses globalisasi ini, hanya produk- produk yang

mampu bersaing pada tingkat pasaran dunia yang mampu

memenangkan persaingan besar pasar[25].

Setiap ajaran Islam, mampu memberikan jalan keluar (solusi)

terhadap problematika sosial umat manusia, dia berada dalam

hati manusia yang mampu menangkap tanda-tanda zaman

perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya.

Mereka yang mampu menangkap tanda tanda-tanda zaman

perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut, mereka adalah

orang-orang beriman.

Apatisme politik dan bersikap menjadi “pengamat” dalam

perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah mereka yang

memiliki selemah-lemah iman (adh’aful iman).

Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan

ekonomi yang selalu mengalami perubahan hanya bisa diatasi dan

dihilangkan dengan,

mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan,

jangan fikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan,

apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu,

jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang

lalu.

Keempat kata-kata tersebut merupakan amanat dari ajaran

agama Islam untuk tidak menunggu perubahan sosial, politik dan

ekonomi dalam hidup ini, tetapi memanfaatkan segala perubahan yang berhubungan dengan kehidupan dunia luar dan disekitarnya. Sikap hidup menjemput bola, bukan menunggu bola merupakan sikap hidup sesuai ajaran Islam. Sikap dinamik seperti itu diperlukan untuk mengantisipasi selemah-lemah iman yang menjadi kata-kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi yang diinginkan oleh agama Islam melalui tiga cara hidup yakni,

bantu dirimu sendiri (self help),

bantu orang lain (self less help), dan

saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Ketiga konsep hidup ini tidak mengajarkan seseorang untuk tidak tergantung kepada orang lain.

Ketergantungan akan menempatkan orang terbawa kemana-mana oleh mereka yang menjadi tempat bergantung. Dalam rangka membina dan memper-tahankan Islam melalui gerakan dakwah, maka Dewan Dakwah juga berkepentingan di dalam merekomendasi pendirian Rumah-rumah Sakit Islam, diseluruh tanah air.

Tujuan yang jelas sebagai kerangka ibadah dan pembentengan aqidah. Apalagi tatkala umat umat berada dalam jihad menghadapi rongrongan gerakan kelompok Salibiyah yang kian hari terasa makin pesat.

Sebelum tahun 1986, Dewan Dakwah telah ikut merekomendasi bantuan dari Muhsinin untuk pem-bangunan Rumah Sakit Islam (RSI) Cempaka Putih Jakarta Pusat. Berikut diminta pula untuk membangun-kan RSI di Sukabumi, RSI BKSWI di Bandung, RSI Siti Khodijah di Pekalongan. Kemudian diteruskan dengan pembangunan Rumah Sakit Islam di Surabaya, RSI Faishal di Ujung Pandang di Sulawesi Selatan. Didaerah Sumatera dibantu pula mendirikan Rumah Sakit Islam Teluk Betung di Lampung, dan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina di Bukittinggi.

Sungguhpun Dewan Dakwah belum berke-mampuan

menyiapkan secara tuntas Master Plan dari setiap bangunan

Rumah Sakit Islam tersebut secara fisik.

Namun, usaha pendekatan terhadap para Muhsinin yang

mengulurkan bantuannya secara ikhlas mengharap redha Allah.

Nawaitu dan mengharapkan ridha Allah inilah yang selanjutnya

ternyata telah menumbuhkan sikap ta’awun dari jama’ah ditempat

mana bangunan-bangunan Rumah Sakit Islam tersebut didirikan.

Bahkan lebih jauh Dewan Dakwah belum berkeinginan

untuk mengelola manajemen dari Rumah Sakit-rumah sakit yang

dibangun atas rekomendasi Dewan Dakwah tersebut.

Hal ini disebabkan karena Dewan Dakwah itu berperan

sebagai agregat (mesin pembangkit listrik) dibelakang rumah aatau

seperti pompa bensin di pinggir jalan, begitulah pesan Bapak DR.

Mohamad Natsir.

(5). Utamakan Membangun Masyarakat Mentawai.

Mentawai itu adalah daerah kita dan semestinya kitalah yang amat berkepentingan dalam

membangunnya.

Bila orang bisa berkata bahwa Mentawai ketinggalan sebenarnya yang disebut ketinggalan adalah kita yang tak mau memperhatikan mereka di Mentawai itu. Kelima program ini minta dilaksanakan tanpa harus menunggu waktu dan dapat diprioritaskan mana yang mungkin didahulukan walaupun sebenarnya kelima-limanya merupakan pekerjaan yang amat integral.

Modal kita yang utama untuk mengangkat program ini adalah kesepakatan semua pihak dan dorongan mencari ridha Allah, begitu Bapak DR. Mohamad Natsir mengingatkan kepada pemimpin pemimpin di kala itu.

Dari dorongan-dorongan tersebut berbentuk taushiah pada mulanya akhirnya membuahkan hasil nyata. Pada bulan September 1969, selepas kunjungan DR. Mohamad Natsir ke Sumatera Barat, DR. Mohamad Natsir menuliskan kesannya kepada Buya Datuk tentang pembinaan umat didaerah ini[26].

Assalamu’alaikum wr.wb.

Mudah-mudahan Pak Datuk dan teman-teman semuanya ditemui surat kami ini dalam keadaan sehat wal afiata, senantiasa mendapat ampunan, hidayah dan taufik Illahi. Setelah merenungkan perkembangan usaha kita di Sumatera Barat dalam menggarap umat, tumbuhlah rasa syukur kita kepada Illahi, melihat adfanya perkembangan yang menggembirakan hati. Tidak sia-sia segala jerih payah, tenaga dan pikiran kita curahkan

selama ini.

1. Usaha teman-teman kita dalam menggarap masalah Mentawai dan Rumah Sakit Islam di Bukittinggi selain selain memang ada kemajuannya walaupun lambat, tetapi juga telah membukakan mata hati pembesar-pembesar dan masyarakat terhadsap masalah itu. Sumbangan materil dari Gubernur dan Presiden Suharto sebagai penyalur zakat kepada Yarsi Sumbar dan Lembaga Pembangunan Mentawai dan juga sumbangan Menteri Agama untuk terakhir ini menjadi bukti dari kesadaran ini.

2. Dukungan DPRD, Ormas-ormas Islam dan KoAmi terhadap jihad kita menghadapi aggressi Baptis di ukittinggi menjadi bukti bahwa apa yang kita suarakan tidaklah menjadi siponggang yang lenyap ditelan sawang saja.

3. Usaha-usaha mengkoordinir madrasah-madrasah sebagai sebagai yang telah dirintiskan di Sumatera Barat beberapa tahun yang lalu disambut dan dilaksanakan teman-teman kita pula didaerah lain seperti Jatim dan Jateng.

4. Dan sekarang kegiatan menghadapi operasi katolik di Pasaman juga nampaknya dapat respon yang menggembirakan pula dirantau-rantau seperti suara saudara-saudara kita diSolo Jawa Tengah (lampiran).

5. Program kerja Yayasan Kesejahteraan Sumbar dimana-mana telah menjadi sumber inspirasi teman-teman kita dalam mengolah umat dewasa ini.

Semua perkembangan-perkembangan itu bukan saja kita sambut dengan ucapan syukur alhamdulillah bahkan memberikan pula kepada kita tanggung jawab baru untuk memelihara dan memupuknya. Apalagi diluar kegiatan kita itu banyak pula perkembangan-perkembangan lain seperti seminar-seminar sekitar masalah Minangkabau dan follow-upnya nanti yang akhirnya juga akan menjadi bahan yang harus kita garap pula.

Disamping kita nantinya akan melakukan satu penilaian dan seterusnya perencanaan baru sebagai kelanjutan semuanya itu, maka tentulah pula harus diwujudkan lagi satu landasan kita yang lebih kokoh. Untuk ini sudah tentu – antara lain – perlu dipererat hubungan dalam kalangan alim ulama dan cerdik pandai serta kontak yang lebih rapat dengan masyarakat terutama didesa-desa. Tidak kurang pula pentingnya kiata lakukan kegiatan research atau penjelajahan disegala bidang, politik, sosial, kebudayaan dan ekonomi dan dalam hubungan dengan ormasormas dan orpol-orpol yang ada di sumatera barat.

Kedua soal diatas pada pokonnya kita sudah laksanakan di sumbar selama ini, dan untuk masa depanya memrlukan penyempurnaan saja. Umpamanya dibang yang pertama ini telah menjadi garapan pak Datuk bersama-sama dengan teman-teman dibukitinggi. Sedang yang keduanya sudah mulai digarap pula teman-teman kita di Padang saudara-saudara, Eizidin, Kak Ratana Sari, saudara Mazni, Buya Noorman, saudara Saimi dan lain-lain.

Disamping kedua soal itu, sebagai telah disinggung diatas tadi  yaitu adanya kegiatan-kegiatan lain yaitu seminar-seminar sekitar masalah Minangkabau dan kabarnya diakhir tahun ini akan dilaksanakan lagi seminar sejarah Minangkabau, kita tentulah sendirinya mesti pula mendalami soal minangkabau itu, baik dari segi sastranya, filsafatnya, adat dan kebudayaanya pada umunya, sehingga orang luar dan orang dalam mengerti keadaan yang sebenarnya dengan bantuan hasil usaha kita itu.

Untuk hubungan langsung dengan kalangan Perguruan- Perguruan Tinggi – dosen atau mahasiswanya dan pembesarpembesar pemerintahan, nyata kita kita lihat kekurangan tenaga.

Jalan yang paling mudah untuk mengatasi ini ialah penerbitan [27].

Menyadari beratnya tugas kita dalam hal-hal diatas, sedang tenaga-tenaga kita walaupun sebenarnya kuranga, tetapi hanya sulit berkumpul, mengingat keteledoran kita dibdang alat komunikasi dan keuangan, maka satu-satunya jalan yang hendak ditempuh ialah dengan secara rasionil, memberi pekerjaan dikalangan tenaga-tenaga kita yang terpencar itu sehingga tiap-tiapnya dapat bekerja dengan lancar ditempatnya masing-masing yang tidak terlepas dari koordinasi dan kesatuan programma.

Dalam kekeluargaan kita di Sumbar selama ini, bidang usah penerbitan dan pengumpulan bahan-bahan dibidang sastera, filsafat, dan kebudayaan Minangkabau mungkin Pak Datuk sependapat dengan kami kalau Sdr. Fachruddin Hs. Dt. Madjo Indo dibebani tugas ini sepenuhnya, dalam lingkungan DDII Perw. Sumbar, jika keadaannya  mengizinkan.

Baru-baru ini Sdr. Fachruddin Hs. Singgaah berkunjung kekantor DDII di Mesjid Al-Munawwarah.

Dalam kesempatana itu kami meninjau-ninjau pikirannya.

Namun nampaknya jawabnya yang konkrit akan bisa keluar kalau Pak Datuk selama ini lebih akrab dengan dia yanga menawarkan hal ini.

Demikianlah persoalan ini kami serahkan pada Pak Datuk, bagaimana baiknya pelaksanaanya nanti.

Sekian dulu, dan inginlah kami mendapat kabar secepatnya tentanga hasil approach Pak Datuk nanti dengan Sdr. Dt. Madjo Indo.

Wassalam, M. Natsir.

Tanggal 3 Januari 1968, Buya Datuk Palimo Kayo ikut mendirikan Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Sumatera Barat di Bukittinggi. Idea pendirian Rumah Sakit Islam Ibnu Sina ini tampak dalam berapa catatan penting yang dikirimkan oleh Bapak DR. Mohamad Natsir kepada Bapak Ezzeddin[28].

1. Usaha pembangunan Rumah Sakit Islam yang sekarang sedang sebagai cabang atau perwakilan Yarsi di Sumbar. – Usaha yang baru saja dimulai ini terbatas pada kota Bukittingi dan sekitarnya. – Dalam status yang sekarang ini Perwakilan Yarsi Sumbar sudah mempunyai modal, dan sudah melakukan pinjaman, dan akan mengadakan kontrak sewa menyewa dll.

2. Sekarang timbul ide : “Mendirikan satu Yayasan Yarsi Sumatera Barat, yang ruang kegiatannya meliputi sekuruh wilayah Sumbar. Organisasi ini berdiri sendiri, tidak ada hubungan organisatoris denan Yarsi Jakarta Raya. Dimaksudkan, badan yang sekarang sudah berjalan untuk RSI di Bukittingi, merupakan inti dan pelopor bagi Yayasan yang bersifat regional itu.

3. Ide ini baik. Hanya harus dapat sama-sama dipahami, bahwa :

a. Apa yang disebut inti dan peloor itu harus terus menitik beratkan usahanya pada pembangunan RSI Bukittingi dan sekitarnya, sehingga tercapai apa yang ditujunya semula. Sehingga jangan sampai tertegun-tegun oleh karena gagasan yang lebih meluas itu

b. “Inti” dan pelopor ini nanti merupakan satu badan yang otonomdalam Rangka Yarsi (regional) Sumatera Barat sebagaimana dia sekarang merupakan badan otonom dalam rangka Yarsi di Jakarta.

c. Satu dan lainnya harus dapat dibaca dan dijelaskan dalam anggaran dasar atau peraturan-peraturan selanjutnya.

4. Sementara itu dilakukan persiapan untuk Yayasan regional Sumbar.

Untuk ini : Taraf pertama dibentuk satu badan kontak dari

semua usaha-usaha swasta yang sudah ada dibidang kesehatan di

Sumbar : poliklinik, rumah bersalin, apotik. Kita harus mulai dari

dasar yang reel.

– Anjurkan kepada badan-badan yang sudah itu, diadakan

badan kerjasama, semacam “confedernsi”.

Kebanyakan dari badan itu didirikan dan diasuh oleh

P.K.U.Muhammadiyah. jangan diforsir untuk melebur dalam satu

badan regional itu. Mereka pada umumnya ingin tetap memelihara

“identitas mereka”. dan memang tak perlu dilebur. Masing-masing

usaha itu tetap otonom. Akan tetapi sekarang bekerjasama dalam

satu gagasan yang lebih luas – dengan saling bantu – membantu,

dalam rangka strategi planning bersama meliputi seluruh wilayah.

Yakni dalam rangka koordinasi dan bantu membantu secara

praktis dan effisien, bukan dalam arti “berebut pasaran”.

Jiwa kerjasama (ta’awun) untuk mencapai effisiency ini

harus diusahakan sampai meresap dalam alam berfikir semua

peserta.

5. Maka berhubungan dengan ini posisi dan tugas dari

B.K.P.U.I dengan demikian juga sudah difined.

Yaitu mendukung, melapangkan jalan dan melindungi. Tanpa

memasuki soal-soal detail pengorganisasian dan pelaksanaan.

6. Dalam teknis pelaksaan perlu kita sadari bahwa hasil usaha

kita banyak sekali tergantung bukan saja kepada kecakapan, tetapi

juga dan terutama pada sikap-jiwa (mental attitude) pada cita-cita

perjuangan dari tenaga-tenaga pelaksana (para dokter, juru rawat

dll. Tata usaha “ter velde”).

Mental attitude dan jiwa perjuangan perlu terus disuburkan

sebaik-baiknya. Sekianlah catatan saya, harap menjadi bahan

pertimbangan dari saudara-saudara disini. Wassalam, MOH.

NATSIR

Upaya yang dilakukan melalui wadah sosial serupa itu kemudian semakin melengkapi pengabdian HMD Datuk Palimo Kayo dalam memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Bidang pendidikan turut jadi perhatian beliau. Bersama-sama guru agama Islam beliau melangsungkan rapat pada 17 Desember 1978.

Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) berupaya mengembangkan dunia pendidikan yang selama ini dipandang sangat strategis melahirkan tokoh-tokoh besar. Riwayat hidup HMD Datuk Palimo Kayo yang begitu sarat dengan segala bentuk aktifitas memang layak mendapat perhatian secara ilmiah.

Sejumlah kalangan yang dekat, baik dari keluarga maupun sesama ulama sangat menghargai keberadannya. Kalangan akademik kemudian menjadikan sosoknya sebagai sumber tulisan ilmiah sekaligus mencermati kiprahnya sepanjang hayatnya. Pihak-pihak lain yang memberikan semacam kerangka penilaian tentang eksistensinya. Mengutip Sastrawan sekaligus Budayawan AA Navis dalam tulisan Marthias D. Pandoe tentang Buya HMD Datuk Palimo Kayo,

sebagai seorang ulama yang konsekuen dengan pendiriannya walau apapun dihadangnya. Imannya kuat, tidak dapat dibeli dengan kedudukan maupun uang. Mungkin riwayat hidupnya yang penuh pengalaman itu menjadikannya tangguh[29].

Kelangkaan akan keberadaan ulama sekaliber HMD Datuk Palimo Kayo kiranya jadi titik tolak untuk mengenang tokoh ulama ini.

Sungguh layak riwayat hidup beliau ditulis di tingkat perguruan tinggi seperti yang telah ada berupa “Biografi”, yang disusun Linda Fauzia dalam tugas akhirnya untuk meraih sarjana[30].

Hingga akhir hayatnya, Buya HMD Datuk Palimo Kayo senantiasa teguh dalam sikap telitinya, meskipun terhadap hal sekecil sekalipun[31].

Tokoh ulama besar ini telah meninggalkan kita buat selama-lamanya pada tahun 1988. Namun selama hayatnya beliau tetap memacu semangat dan militansi Islam yang tak kunjung padam. □

Memelihara KerukunanUmat

Memelihara daerah dari bahaya gerakan Salibiyah berarti juga menjaga keutuhan nilai-nilai adat yang terang-terangan menyebutkan bahwa Ranah Minang ini adatnya bersendi syara’ dan syara’ bersendi Kitabbullah. Selain itu memelihara keutuhan ukhuwah hanya dimungkinkan dengan menghidupkan kembali nilai-nilai “tungku tigo sajarangan” dalam melibatkan unsur-unsur alim ulama ninik mamak dan para cendekiawan baik yang duduk dalam pemerintahan maupun yang ada di kalangan perguruan tinggi. Juga tak dapat dilupakan tentang peran ke-gotong-royongan sebagai buah dari ajaran ta’awun sebagai inti aqidah tauhid. Amal nyata yang diprogramkan oleh Bapak DR. Mohamad Natsir dan ditinggalkan untuk dikerjakan di Sumatera Barat merupakan program yang amat monumental.

Semacam program untuk pencerahan jiwa umat, dan berpaksikan pengalaman dar perjalanan dakwah menuju ridha Allah. Pencerahan Jiwa Kata-kata ridha merupakan maqam (tingkatan) terakhir dalam maqam rohani kehidupan tasawuf (pembersihan diri). Maqam ini hanya bisa dicapai setelah melalui maqam-maqam di bawahnya, seperti taubat, wara, zuhud, shabr, fakir, zikir dan tawakkal.

Ketujuh maqam tersebut hanya bisa dilalui oleh mereka yang telah mengalami pencerahan (enlightenment), baik dalam bidang pemikiran maupun spritual rohani. Pencerahan (enlightenment) tersebut dilakukan oleh mereka yang telah menjelajahi berbagai pemikiran yang ada dan melakukan penyaringan (filter) terhadap segala bentuk pemikiran tersebut, agar melahirkan pemikiran bersih, jernih dan bisa diterima oleh semua pihak, baik mereka yang setuju maupun mereka yang berseberangan dengan dirinya.

Proses ini telah dialami oleh Bapak DR.Mohamad Natsir melalui kawah candradimuka intelektual, yang Beliau lalui dalam proses belajar yang panjang dengan guru-guru Beliau. Mulai dari yang memiliki pandangan hidup dan pemikiran yang keras seperti A.Hasan Bandung dari Persis. Sampai kepada tokoh-tokoh yang moderat bahkan dianggap sangat menerapkan sosialisme Islam dalam Syarikat Islam, seperti HOS Cokroaminoto atau Haji Agus Salim.

Di samping itu, proses pencerahan dan sikap politik, dibentuk juga oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman hidup. Kita dapat memahami jalan pikiran dan gerak perjuangan Bapak DR.Mohamad Natsir, sebagai politisi aktif yang hidup dalam masyarakat, tetapi juga sebagai the political thinkers atau the political idea philospher. Karenanya, setiap program kerja yang di-sampaikan kerapkali memakai pendekatan filosofis yang mencakup banyak makna, berwawasan luas dan menjangkau masa yang panjang.

Dakwah Ila Allah Bukan Dakwah Politik

Dewan Dakwah bukan ormas, dan juga bukan partai politik. Tetapi Dewan Dakwah tidak membiarkan dirinya dan keluarga besarnya buta politik. Karena politik pada hakekatnya adalah seni mengatur masyarakat. Barang siapa tidak dalam posisi mengatur maka dengan sendirinya ia berada dalam posisi diatur. Yang mengatur adalah pemerintah dan semua lembaga kenegaraan yang tersebut dalam Undang-undang Dasar, sedang yang lainnya, termasuk Dewan Dakwah, berada dalam posisi diatur. Masing-masing pihak, baik yang mengatur maupun yang diatur, mempunyai hak dan kewajiban. Semuanya tunduk aturan dasar bersama yang disepakati bersama yakni Undang-undang Dasar. Di satu segi, pihak yang mengatur berhak dita’ati semua peraturan yang dibuat selama tidak menyimpang dari Undangundang Dasar. Disegi lain pihak yang mengatur juga berkewajiban melindungi yang diatur, selama ia tidak menyalahi aturan dasar, yakni Undang-undang Dasar.

Pihak yang diatur berkewajiban menta’ati aturan aturan pihak yang mengatur, selama aturan-aturan itu tidak bertentangan dengan Undang-undang Dasar. Pihak yang diaturpun berhak mengingatkan pihak yang mengatur dengan kontrol-kontrol sosial ataupun cara-cara lain yang tidak bertentangan dengan Undang-undang Dasar[32] Dalam kondisi inilah tetap akan teringat taushiyah Bapak DR. Mohamad Natsir bahwa dikala kita berada dimimbar politik kita tetap berdakwah, dan di mimbar dakwah kita tidak kan meninggalkan politik, karena dakwah kita adalah dakwah ilallah. Bila kita pedomani pesan Rasulullah dalam Khutbah Wada’ bahwa “sesungguhnya masa berubah, zaman berganti maka haruslah diyakini bahwa perubahan masa dan pergantian zaman merupakan suatu Sunnatullah yang akan tetap berlaku dan sebagai umat dakwah kita meyakini bahwa didalam setiap perobahan tersimpan cobaan dan ujian.

Yang satu tak dapat dipisahkan dari yang lain yakni kesusahan dan kesenangan. Dua-duanya berjalan, bersamaan atau berganti-ganti. Itulah arti hidup, kadang-kadang kita diuji dengan rasa kesenangan, adakalanya kita diuji dengan rasa putus asa. Kedua-duanya adalah ujian, apakah kita dapat mengatasi kedua perasaan itu atau tidak.

Maka marilah melihat tiap-tiap persoalan yang kita hadapi dari masa ke masa, sekarang atau yang akan datang, sebagai ujian, sebagai ibtilaa’ yang silih berganti. Dan tidak usah kita menyembunyikan diri dari padanya, tetapi kita harus hadapi dengan iman, dengan warisan Rasulullah SAW, Kitabullah wa Sunnatu Nabiyyihi[33]. Akhirnya kita dapat melihat dan merasakan bahwa besarnya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia selama lebih dari tiga dasawarsa perjalanannya (1967-2000) hanyalah karena kesinambungan amal yang terus menerus didalam rakitan mengharap redha Allah. Kekuatan lain yang tidak kalah menentukan ialah, selalu berusaha berurat di hati umat. Inilah sebuah amanah yang menjadikan pikulan generasi dakwah turun temurun “Patah Tumbuh Hilang Berganti”, Insya Allah.

Sebagai organisasi dakwah, maka kepada setiap unsure yang berperan dalam Dewan Dakwah selalu diajarkan supaya memanggil semua orang ke jalan Allah, dengan cara-cara yang diperingatkan supaya memanggil itu dengan hikmah (bijaksana).

Bil hikmah dalam satu masyarakat yang terdiri dari pemeluk-pemeluk berbagai agama, terasa sekali sangat mutlak diperlukannya[34].

Sebagai telah diyakini bahwa Dakwah Islam adalah perombakan total sikap umat manusia di dalam menanggapi dan menjalani kehidupan duniawi untuk persiapan kehidupan yang lebih panjang tanpa batas di akhirat. Maka sebenarnya sasaran Dakwah Islam adalah manusia yang tengah hidup di dunia ini, atau dengan perkataan lain Dakwah tidak akan pernah berhenti tetap akan merupakan kewajiban (fardhu ‘ain) bagi setiap umat Muslim dimana pun mereka berada.

Karena itu para pendiri Dewan Dakwah yang terdiri dari para ulama dan zu’ama’ yang bemusyawarah di Masjid Al Munawwarah Kampung Bali Tanah Abang Jakarta Pusat pada awal 1967 dengan sadar telah memilih bentuk Yayasan dan karenanya tidak mempunyai anggota.

Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berdasarkan taqwa dan keredhaan Allah dan bertujuan menggiatkan mutu dakwah Islamiyah di Indonesia.

Dalam melakukan kegiatan-kegiatan, Dewan Dakwah menempatkan diri sebagai penerus kegiatan-kegiatan dakwah sebelumnya yang telah dimulai sejak Rasulullah SAW.

Menerima tugas risalah, artinya adalah memanggil umat manusia kepada jalan Allah, dengan hikmah dan mau’izhatu hasanah.

Bapak DR. Mohamad Natsir menyebutkan dengan ungkapan sederhana tapi padat arti ialah “risalah mengawali dan dakwah melanjutkan”. Karena itu apabila terdapat pihak-pihak yang membantah, supaya dihadapi dengan dalil dan kaifiyah yang lebih baik.

Dewan Dakwah sadar benar walaupun tugas risalah Islamiyah yang dibawa Rasulullah SAW bertujuan menciptakan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘alamin). Namun sudah menjadi tabi’at pembawaan, bahwa setiap risalah pasti menghadapi tantangan. Dan untuk menghadapi tantangan itu, diperlukan jawabanjawaban. Karena itu tugas dakwah senantiasa mengandung dua segi: bina’an wa difa’an, membina dan mempertahankan. Pertama: membina mereka yang sudah muslim baik yang sejak lahirnya maupun yang baru masuk Islam berkat keberhasilan dakwah Islamiyah, Kedua: membela Islam dan umatnya dari mereka yang tidak senang melihat kemajuan umat Islam bahkan yang melihat Islam sebagai rivalnya.

Prioritas Kegiatan Masa Datang

Hampir selama tiga dasawarsa, dakwah Islam mengalami masa-masa sulit dalam mengembangkan aktifitasnya. Hambatan dan tekanan politik yang didominasi Islamophobis dan kalangan non Islam sangat meng-habiskan energi.

Kegiatan pemurtadan serta gerakan kristenisasi di berbagai bidang makin deras melanda. Penetrasi budaya westernisasi ikut pula me-ramaikan pasar merebut pengaruh, dan dirasa sangat membahayakan kehidupan umat Islam secara keseluruhan. Kesemuanya, telah menjadi issu central yang memfokus kegiatan Dewan Dakwah.

Terutama sejak awal berdirinya Dewan Dakwah, masalah kristenisasi sangat mengedepan.

Metoda sistematik dibutuhkan untuk menyadarkan umat akan bahaya kristenisasi, dan bisa mengancam aqidah dan kelanggengan kehidupan umat di Indonesia masa datang. Penggalangan kekuatan dan persaudaraan Islam, didalam dan di luar negeri perlu pula men-dapatkan perhatian intensif dalam pola kegiatan. Di saat cuaca sudah mulai berubah, peluang memang sudah semakin terbuka.

Namun, sekejappun umat tidak boleh dibiar-kan terlena dan lengah ter-hadap rencana makar musuh-musuh Islam. Mereka, tidak akan pernah berhenti untuk come-back dalam upaya membalikkan kembali kejayaan yang sudah pernah mereka raih.

Fokus kegiatan Dewan Dakwah mengahadapi millenium ketiga menjadi bertambah berat dengan bobot yang semakin besar. Meningkatkan kualitas umat diberbagai bidang kehidupan agar mampu bersaing dan tampil sebagai pemenang dalam persaingan global, jangan dianggap merupakan kerja sambil lalu. Tetapi perlu masuk dalam program terpadu. Tanpa harus meninggalkan beban dakwah yang selama ini telah dipikul dan terarah ditujukan kepada memikirkan umat secara umum, para dhu’afak dan daerah terpencil atau terbelakang. Fokus dakwah mesti pula diarahkan kepada kalangan atas dan golongan menengah ke atas, dan kepada penguasa serta para intelektual. Kelompok ini senyatanya menduduki key-position yang tengah memegang kunci kekuasaan, ekonomi, politik.

Kontak langsung melalui lobby-lobby dengan metoda tepat, akan sangat berperanan dalam mem-bentuk jamaah kader berkualitas. Mempererat hubungan persaudaraan dalam ta’awun al Islamy menjadi sumber kekuatan dalam menggalang kerjasama di berbagai bidang kehidupan. Ikatan-ikatan melalui program dakwah dengan lembaga Islam di dalam maupun di luar negeri, menjadi titik fokus yang tidak boleh diabaikan pula.

Meningkatkan kualitas ilmiah dan wawasan ke-Islaman, diantara para du’at agar mampu meng-antisipasi perkembangan zaman.

Meningkatkan kualitas kemandirian dengan penggalangan dana melalui berbagai usaha yang halal dan tidak mengikat. Mempersiapkan dan memperbanyak kader dari generasi penerus yang berkualitas. Meningkatkan kerjasama dan konsolidasi ke dalam dan memper-kuat fungsi dan peran organisasi.

Melalui aktifitas nyata ini, dengan bertitik tolak dari gagasan para pemimpin berlandaskan taqwa dalam mewujudkan masyarakat yang diredhai Allah, terlihatlah dengan jelas Gerak Langkah Kiprah Dakwah Komprehensif Menapak Alaf Baru menuju Dakwah Syumuliyah Di Abad Kelimabelas. 


[1] Ditulis oleh Ridha, nama samaran Buchari Tamam.

[2] Membangun Umat Dari Bawah, suatu konsep social menurut Syari’at Agama Islam, sesungguhnya menjadi sebutan lidah para pakar dizaman reformasi, dengan istilah “bottom-up development” itu. Konsep ini, sesungguhnya secara implicit telah disampaikan dalam pidato Ulang Tahun Yayasan Kesejahteraan di Padang 15 Juni 1968, Gedung Bagindo Aziz Chan Padang

Sudah sama-sama kita sadari, bahwa YAYASAN KESEJAHTERAAN telah memilih bidang “pembinaan” sebagai lapangan usaha.

[3] Richard T. Gill, “Economic Development, Past and Present“…. the point of that economic development is not a mechanical process; its not simple adding up of assorted factors. Ultimately it is a human enterprises. And, like all human enterprises is out-come will depend finally on the skill, quality and attitudes of the men who undertake it“.

[4] Pada saat ini, bentuk kegiatan judi secara terbuka dan terselubung masih tetap berjalan tanpa hambatan. Diantaranya marak dalam bentuk Toto Kuda, Kupon Putih, dll.

[5] Dalam Seminar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang pertama kali digelar sesudah era refgormasi oleh ICMI Sumbar bekerja sama dengan Harian Mimbar Kedua-duanya memberikan unsur-unsur pegangan hidup yang positif, mengandung pendorong dan perangsang, force of motivation, tenaga penggerak untuk mendinamisser satu masyarakat yang statis atau “sedang mengantuk”.

[6] Lihat QS.16, An Nahl : 14

[7] Ibid. QS.16 : 15-16.

[8] Ibid. QS.16 : 17 dan QS.14,Ibrahim : 33.

[9] QS.4, An Nisak : 97.

[10] Dalam hubungan peringatan ulang tahun Yayasan Kesejahteraan di Padang, Pak Natsir mengatakan: “Tadi pagi, kita sudah melihat Pameran Yayasan Kesejahteraan dari hasil usaha masyarakat pedesaan. Amat sederhana. Tidak dapat dibandingkan dengan Pameran Jakarta Fair yang sekarang juga di Jakarta itu. Bila kita melihat barang-barang yang sederhana itu, marilah kita coba melihat dibelakang barang-barang itu, pula perkembangan potensi pribadi, dari manusia-manusia yang telah melalui process, harap cemas kegagalan, dinamika-dinamika daya cipta yang berkembang penuh dengan, suka-duka, dengan cucuran keringat, seringkali tetesan air mata, dalam menghadapi kesulitan yang serasa tak dapat diatasi, menghadapi kegagalan-kegagalan yang hampir membawa hanyut kedalam putus asa silih berganti dengan gertaman gigi, didorong oleh cita-cita dan kemauan untuk berjalan terus sampai berhasil…

[11] Ada keluhan sebahagian masyarakat yang putus asa, melihat kondisi yang kurang enak, dilihat dari sudah sering kalinya pergantian zaman (penjajahan) bahkan sudah bangsa kita sendiri yang memegang pemerintahan, akan ttapi perubahan yang dinanti belum juga terlihat. Pesimismee keadaaan ini tidaklah sejalan dengan tuntutan aqidah agama (tauhid) dan kaedah-kaedah adat.

[12] Jawaban yang tepat adalah “jangan berhenti tangan mendayung agar arus tidak membawa hanyut”.

[13] Artinya, tukang yang ahli tidak pernah membuang-buang kayu, kalau bertemu yang bengkok bisa dimanfaatkan untuk bajak peluku tanah, kalau ada yang lurus tapi kecil dimanfaatkan untuk tangkai sapu, lebih kecil lagi bisa untuk alat penuai padi atau anai-anai, yang lebih kecil lagi bisa untuk pasak sunting yang bermanfaat sekali dikala perhelatan “anak daro”. Jadi, seorang yang arif lebih menitik beratkan kepada manfaat sesuai dengan kondisi yang ada.

[14] Artinya, masa depan itu akan ada perubahan yang cepat, begitu cepat sehingga kadang-kadang yang terjadi di luar dugaan sama sekali, sehingga tidak mustahil terjadi apa yang musykil terlihat hari ini. Antara lain sebagai diungkapkan dalam kemajuan teknologi “tampang” yang sudah direndang itulah yang akan tumbuh”. Dalam bentuk negatif saja bisa bertemu yang selama ini ditolak karena sudah menjadi kebiasaan orang banyak maka yang salah sudah dianggap betul.

[15] Artinya, dalam situasi sedemikian perlu adanya benteng-benteng jiwa berbentuk sikap istiqamah sebagai suatu ciri-ciri khusus (mumay yizaat) dari orangorang yang beriman, yakni Akhlaqul kharimah sebagai buah dari keyakinan agama yang hak. Dimana, betapun yang bernuansa intan walau tersimpan di dalam lumpur, cahayanya tetap cahaya intan juga.

[16] Kunjungan Bapak M.Natsir ke Balai Kesehatan A’isyyiyah Padang tanggal 15/6/1968 hanya 10 menit dan dari peringatan itu dikutip Taushiyah.

[17] Kuliah Umum, dihadapan Mahasiswa IKIP Padang, 15 Juni 1968.

Bagi Umat Islam soal ini hanya dapat dipecahkan oleh Umat Islam sendiri, tidak boleh oran lain.

Dan jika tidak dipecahkan, maka yang salah ialah Umat Islam sendiri, terutama para pemimpinnya, bukan orang lain. Menegakkan dan menyuburkan Ukhuwwah Islamiyagh tidaklah sangat bergantung kepada alat-alat modern, tidak pula kepada harta bertimbun-timbun. Malah dikalangan kaum yang hidup sederhana itulah kita banyak berjumpa “suasana ukhuwwah” lebih dari kalangan yang serba cukup dan mewah.

[18] Kayutaman di Padang Panjang tanggal 18/6/1968

[19] Disampaikan oleh Bapak DR. Mohamad Natsir Di Padang, 6 Rajab / 1 Juni 1979 Rajab , sepuluh tahun setelah RSI Ibnu Sina diresmikan pada 10 Oktober 1969.

[20] Maka pertemuan kita sekarang ini, Raker YARSI Juni 1979 adalah merupakan pelaksanaan dari pada satu bagian dari pada sistem kerja kita yang patut dijadikan kebiasaan untuk selanjutnya, agar usaha kita ini mencapai hasil yang lebih baik dari yang sudah-sudah.

[21] Jakarta, 10 – 9 – 82

[22] Tulisan ini, misalnya, sangat terbantu dengan adanya skripsi sarjana IAIN, Wirda Yati, SAg: Dinamika Dakwah Islam di Indonesia, Telaah Terhadap Pemikiran MohamadBapak Mohamad Natsir.

[23] Globalisasi, menurut American Herritage Dictionary, adalah (The policy making something worldwide in scope or application).

[24] DR.Sidek Baba, Wakil Rektor Universitas Islam Malaysia Kuala Lumpur menyebutnya dalam Seminar Kebangkitan Peranan Generasi Baru Asia (Re-Awakening Asia) pada tanggal 21-23 Juli 1997 di Pekanbaru, bahwa pemahaman ajaran Islam memiliki interaksi Sebagai sebuah proses globalisasi, ajaran agama Islam tidak dapat berdiri sendiri, tanpa bersing-gungan dengan lalu lintas ide atau pemikiran yang ada di dunia sekitarnya.

[25] Persaingan pasar tersebut ditentukan oleh speksifikasi produk yang menjadi unsur “kepercayaan” (trust), seperti yang diungkapkan oleh penulis sejarah Francis Fukuyama, pria Jepang yang lahir dan dibesarkan di Amerika Serikat dan menduduki Dekan di George Mason University, Washington baru-baru ini di Jakarta. Berbeda dengan Francis Fukuyama yang mengemukakan tesis kesejarahan telah berakhir saat ini (The End of History), maka agama Islam, menurut pemahaman Bapak Mohamad Natsir diantaranya mengemukakan bahwa, adanya tesis kesejarahan pada setiap saat dan tempat (wa tilka al-ayyamu nudawilu-haa baina an-naas).

[26] Surat Bapak M.Natsir tgl Jakarta, 5 September 1969 Kepada Yth. Pak Datuk Palimo Kayo di Padang No.: 191/B/1969, mengenai Penggarapan Umat di Sumatera Barat..

[27] Sehubungan dengan ini, dikandung maksud untuk mengedarkan sebuah seruan yang akan ditujukan kepada perantau-perantau Minang diseluruh Indonesia. Untuk ini tolonglah Pak Datuk kirimi kami sebuah Tinjauan Menyeluruh dari kegiatan-kegiatan missie dan zending yang ada dan beroperasi di Sumatera Barat seperti di Panti, Mentawai, di Lubuk Alung dll. Pada kami baru yang ada ialah : Batis Bukittinggi, dan Keuskupan Katholik Padang  Apabila bahan-bahan ini telah kami terima dari Pak Datuk, secepatnya akan kami bikin seruan itu.

[28] Surat Bapak DR. Mohamad Natsir kepada Bapak Eziddin SH, dkk yang sedang berada di Padang, tanggal Jakarta, 9 Desember 1968, berisi BEBERAPA CATATAN TENTANG RUMAH SAKIT ISLAM BUKITTINGGI (SUMBAR)

[29] Kompas, 26 Juli 1981.

[30] Linda Fauzia, dengan analisisnya “Buya Haji Daud Datuk Palimo Kayo: Profil Seorang Ulama dan Penghulu di Minangkabau.”, Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, 1993.

[31] Kenyataan tersebut penulis (H.Mas’oed Abidin) ungkapkan sebagai seorang mubalig yang dalam kesehariannya Buya Datuk sangat giat mensyiarkan Agama Islam sampai kepelosok desa dan selalu penulis iringkan semasa hidup beliau di Bukittinggi mulai dari tahun 1967.

[32] Lihat DR Anwar Haryono, Media Dakwah, Dzulkaedah 1411H/ Juni 1991; Tawashi bilhaqqi Tawashi bissabri).

[33] begitu pesan taushiyah Bapak DR. Mohamad Natsir Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) pada silaturrahmi dan tasyakur 24 tahun Dewan Dakwah di Jakarta 1991.

[34] Lihat DR. Anwar Haryono, SH; Media Dakwah Dzulkaedah 1411/ Juni 1991; Mengingat 24 Tahun Dewan Dakwah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: