HIKAYAT PERANG SABIL

Bala tentara kolonial Belanda pada tanggal 26 Maret 1873 menyampaikan manifesto perang kepada Kerajaan Aceh, karena ultimatum yang berisi tuntutan agar Aceh mengakui kedaulatan Belanda tidak mendapat jawaban yang memuaskan, maka Belanda pada tanggal 8 April 1873 mulai menyerang.

Armada laut Belanda yang terdiri dari enam buah kapal uap, lima buah kapal layar, lima buah kapal barkhas, delapan buah kapal peronda, enam buah kapal pengangkut, dua buah kapal angkatan laut, satu buah kapal komando, dibawah komando Jenderal J.H.R. Kohler mendaratkan kekuatan angkatan bersenjatanya di pantai Aceh besar.

Seri Paduka Bangta Muda Tuanku Hasyim menyerukan agar ‘Tanah Aceh’ dipertahankan matia-matian, meskipun tinggal sampai sebesar nyiru sekalipun. Kepada masyarakat Aceh disampaikan melalui pelbagai jalur komunikasi yang ada mengenai sebab-musabab ketegangan yang disebabkan  oleh serangan pihak Belanda, serta cara-cara mengatasinya. Jalan yang ditempuh untuk mengatasi ketegangan ialah dengan bertempur melawan musuh yang dianggap merusak sendi-sendi agama Islam.

Unsur perang sabil yang telah lama berada dalam masyarakat Aceh diangkat sebagai basis ideologi, diaktifkan menjadi salah satu faktor yang menentukan dalam perlawanan terhadap Belanda. Wajarlah jika para pemimpin agama menimba ilmu dari kitab suci Al-Qur’an yang merupakan sumber hukum tertinggi dalam agama Islam, menggubah hikayat dengan maksud agar setiap Muslim merasa terpanggil untuk memenuhi kewajiban berperang di jalan Allah.

Ketika negeri Aceh dilanda serangan bangsa yang dianggap kafir, para ulama berupaya agar umat dapat dididik dengan berbagai cara hingga mampu memiliki motivasi yang padu dalam mengusir Belanda.

Hal demikian dapat terjadi dalam satu masyarakat, seperti masyarakat Aceh, yang nilai keagamaannya memainkan peranan penting. Sehingga agama dan politik dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang logam yang sama.

Berbeda dengan sastra Melayu yang mengenal hikayat sebagai prosa, dalam sastra Aceh, hikayat adalah puisi diluar jenis pantun, nasib, dan kisah. Hikayat bagi orang Aceh tidak hanya berisi cerita fiksi belaka, tetapi berisi pula butir-butir yang menyangkut pengajaran moral. Orang Aceh sangat gemar mendengarkan pembacaan hikayat, yang sampai pada awal abad XX merupakan hiburan utama yang bersifat mendidik.

Sesungguhnya, hikayat-hikayat perang sabil ini telah ada semenjak Aceh bertempur melawan Portugis pada tahun 1521. Salah satu diantaranya adalah Hikayat Malem Dagang, yang terus diwariskan turun-temurun kepada generasi-generasi berikutnya. Syaikh Muhammad Ibn Abbas alias Tgk Chik Kutakarang dalam kitabnya yang berjudul Tadhkirat al-Radikin merujuk Hikayat Malem Dagang sebagai peristiwa perang melawan kafir dimasa lalu dan menasihatkan kepada semua orang Aceh agar menarik pelajaran dari kisah-kisah perlawanan seperti itu.

Selain daripada itu, ada juga naskah hikayat perang sabil yang ditulis pada 5 Oktober 1710 (11 Sya’ban 1122 H) yang mencantumkan sumber gubahannya dari kitab yang bernama Mukhtasar Muthiri’I-gharam yang berasal dari Syaikh Ahmad Ibn Musa. Ada pula naskah lainnya tentang hikayat perang sabil yang ditulis pada tahun 1834. Gubahan tersebut bersumber dari kitabnya Syaikh Abd al-Samad al-Falimbani murid dari Syaikh Abdussamad yang bertempat tinggal di Mekkah.

Dari segi isinya, hikayat-hikayat perang sabil dapat dibagi dalam 3 kategori, yaitu : (1) yang berisi anjuran untuk berperang sabil dengan menunjukkan pahala, keuntungan, dan kebahagiaan yang akan diraih, (2) yang berisi berita mengenai tokoh atau keadaan peperangan di suatu tempat yang patut disampaikan kepada masyarakat untuk mendorong semangat orang-orang Muslimin yang sedang berjihad, (3) yang mencakup kedua-dua kategori yang tersebut terdahulu.

Selain daripada itu, disampaikan pula mengenai faedah yang akan diperoleh bagi mereka yang mengeluarkan dana untuk kepentingan perang sabil. Dimana Allah SWT akan membalasnya dengan imbalan berlipat ganda dan mereka pun akan dimasukkan ke dalam surga.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 261, Allah SWT berfirman : “…orang yang menafkahkan hartanya pada jalan kebajikan (sabilillah) seperti buah biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai itu berbuah seratus biji, Allah mempunyai karunia luas lagi mengetahui”.

Dalam masa perang dengan belanda, orang Aceh membaca hikayat perang sabil di dayah-dayah atau pesantren, di meunasah-meunasah, dan di rumah-rumah, ataupun di tempat lainnya sebelum orang pergi bertempur melawan Belanda. Di daerah-daerah yang sudah dikuasai oleh Belanda, orang membaca dan mendengarkan hikayat perang sabil secara sembunyi-sembunyi, khawatir ditangkap oleh pihak Belanda.

Belanda menganggap hikayat perang sabil itu sangat berbahaya, sebab dapat membangkitkan semangat melawan Belanda. Begitu besar kekhawatiran Belanda terhadap pengaruh hikayat perang sabil, sehingga Gubernur Aceh –A.H. Philips- dalam memori serah terima jabatannya menyatakan bahwa membaca hikayat perang sabil yang diadakan dihadapan umum dapat merangsang pembaca atau pendengarnya sedemikian rupa sehingga dapat menghilangkan keseimbangan jiwa yang kemudian disalurkan dalam tindakan membunuh Kaphe -Kafir Belanda- , sebab itu adalah penting sekali apabila hikayat-hikayat seperti itu disita dan dimusnahkan menjadi makanan api.

Hikayat-hikayat perang sabil ditulis dalam bahasa Aceh, adapun kutipan yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dari sebagian kecil hikayat-hikayat perang sabil tersebut adalah sebagai berikut :

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah khaliqul asyya’, segala hal ciptaan Rabbi Arasy kursi surga neraka, semua langit dunia dan bumi Kemudian selawat salam hamba, kepada junjungan penghulu Nabi Kepada waris bersama sahabat, termasuk sekalian Muhajir Anshari

Setelah selesai puji selawat, berilah hidayat hamba yang fakir Insya Allah dengan tolong tuhan, hamba berkabar hal perang sabil Kabar kitab hamba kan karang, biarlah kukarang yang mana jadi Hamba perbuat atas kebajikan, mudah-mudahan pahala diberi…

…Jikalau kacau serta salah, janganlah marah pada fakir ini Aku menulis dipihak Allah, semata-mata karena Illahi Wahai tuan adik dan abang, jangan hindari berperang sabil Jangan hitung para hulubalang, sudah dirasuki jin dan pari Wahai tuan dunia akhir, agama tak lagi di segala negeri

Semua ulama berdiam diri, akan perang kafir tiada perduli Lidah ulama semau lah kelu, tak lagi perduli kerja perang sabil
Melainkan yang ada dengan izin Allah, Tengku di Tiro mewakili Nabi Ulama lain di setiap negeri, berdiam diri tiada perduli Mereka sangka dapat lepas, ketika diperiksa di hari nanti

Pada hari menghadap Allah, takkan lepas wahai sayidi Demikian dikatakan dalam kitab, firman Alllah dengan hadith Nabi Wahai tuan adinda sahabat, firman Hadarat Tuhanku Rabbi Dari semua ibadat yang ada, yang terlebih mulia berperang sabil Kutipan hadith tak hamba baca, hanya makna tertulis disini

Untuk peringatan jaga-jaga, barangkali lupa semua akhi Wahai tuan baik-baik fahami, bukan tak menentu yang kukabari Sengaja kuambil uraian ini, dari Mathirilgharam kitab perang sabil Didalam Al-Qur’an diriwayatkan, firman Hadarat Tuhanku Rabbi Beserta hadith pemimpin umat, sungguh jangan lupa wahai akhi

Hadith Nabi sangat sekali saheh, tak ada jalan lari dari perang sabil Imbalan diberi tanpa alasan, memang lah tersedia surga nan tinggi Demikian didapat disetiap kitab, utama ibadat memang perang sabil Dengarlah tuan kubaca ayat, firman Hadarat Tuhanku Rabbi

Surga untuk mereka. Meraka berperang pada jalan Allah, Lantas mereka membunuh atau terbunuh. Itulah janji Allah yang pasti didalam Taurat, Injil, dan Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah ?. Sebab itu bergembiralah kamu dengan perjanjian yang telah kamu ikat itu. Dan itulah kemenangan yang besar. Agar sangat dimuliakan wahai sayidi, kita dibeli Rabbul Karim, Sebagai harganya surga nan tinggi. Siapa menyerahkan nyawa dan harta, dibelanjakan pada perang sabil…

…Kemana pergi wahai sahabat, memanglah kita kan wajib mati Seperti firman dari Hadarat, dalam ayat terlihat bukti Dimana juga kamu berada maut itu pasti menghampiri, walau kamu berada dalam benteng yang tinggi, kuat dan kokoh Walau sembunyi di peti besi, mati takkan bisa dihindari Demikianlah kukatakan lelaki pujaan, semua ingat masing-masing diri…

…Jikalau mati di kamar tidur, keadaan terdesak tiada terperi Sangat sakit nayawa diambil, yang bukan terkena senjata kafir Biar dalam saf perang waktu dihantam, biar terlentang membunuh kafir Wahai tuan adinda yang berbahagia duduk termenung janganlah lagi…

…Dipihak kita wahai saudara, melawan kafir bimbang di hati Demikian Tuhan memberi anda, mengapa tuan syak di hati Ya Allah Wahidul Qahhar, Rabban Ghafurun Tuhanku Rabbi Berilah hamba ketetapan hati, melawan Belanda kafir harbi Wahai adinda semua saudara, wahai tuan jangan berdiam lagi…

…Saksi hamba adalah Allah, Rasulullah Penghulu kami Ketiga dengan tuan guru payung hamba, itulah tiga menjadi saksi Takkan hamba ubah yang telah terucapkan, takkan hamba inginkan dunia ini Seusai sang bintang timur, disembahnya tuan guru jari dan kaki Bangkit ia segera berlalu, heran guru bibir terkunci…

…Yang dahulu wahai buah hati, tak pernah kafir ke pulau Ruja Saat ini sudahlah kesampaian, telah datang kafir mengantar surga Begitulah kukatakan istri pujaan, semua kita berbahagia raya Zaman ketika nenek moyang kita, tiada pernah begini wahai bintara Setelah zaman dahulu kala, masih ada Nabi Sayidil Anbia

Semenjak itu tak pernah lagi berperang sabil, karunia Rabbi kini baru ada Tuhan kita Rabbul ‘Izzah, amat mengasihi semua hamba Diberi jalan yang besar sekali, jalan pulang kedalam surga Wahai teungku raja bahagia, jangan lagi tergiur berniaga Jika tidak memerangi seteru Allah, sesal kemudian putus asa

Hai teungku yang bangsawan, firman Tuhan lahir nyata Patuhlah kepada ayat-ayat Qur’an, firman Tuhan Rabbul A’la ‘Jika kamu tiada mau berperang, niscaya Allah menyiksamu dengan azab yang pedih dan Dia akan menukar kamu dengan kamu yang lain’ Itulah firman wahai buah hati

Dijatuhi siksa bukan kepalang, yang tidak memerangi kafir Belanda Itulah yang kukatakan wahai abang, hai saudara bukan main-main lagi Sebelum diberikan pengganti lain, jangan hindari semua perkara Jika kita tak mau melaksanakan, disuruh yang lain lawan Belanda Misal kisah Ashabi Fil, ketika Nabi belum lahir di dunia…

…Begitulah Allah membuat kita suka, mengapa tidak juga memerangi Belanda Hai teungku adik buah hati, tak ada tandingan perang Belanda Niatkan saja melawan kafir, dosa tidak lagi pada anggota Turun dari rumah sebuah langkah, niat pergi memerangi Belanda Segala dosa habislah sudah, ibarat budak baru dilahirkan…

…Diberi pahala oleh Tuhan, sepuluh budak diberi merdeka Begitulah diberi hai buah hati, sekali membedil atas Belanda Jika banyak seteru dibedil, coba pikir berapa banyak pahala Pergi ke tanah Arab hai lelaki pujaan, kita merugi dengan harta Kita berada disana beribu hari, tidak hai adik sama pahala…

…Satu malam yang ini seribu yang lain, sungguh sangat lebih Tuhan karunia Ini lain lagi yang sangat terlebih, satu saat tegak dalam perang Perang lawan kafir satu saat, itulah yang terbaik dari yang pernah ada Lebih dari Lailatul Qadar, demikian sabda Nabi kita Satu saat ini semalam yang lain, sungguh sangat lebih hai saudara…

…Jihad itu wajib atas kamu, maknanya demikian hai saudara Memerangi kafir fardhu ‘ain, yakinlah semuanya Begitu hadith Sayidil Mursalin, Muhammad Amin pelita dunia Wahai kaum wajib fahami, sendi Islam tiga perkara Pertama Syahadat, kedua Sembahyang, ketiga Memerangi Kafir

Jika tidak demikian kurang imbang, percaya abang hadith Mustafa Sungguh wajib di masa ini, sebab negeri diduduki Belanda Jangan lagi berdiam diri, menyesal nanti dalam neraka Jangan percaya orang alim, jika tak mau melawan Belanda Meski mampu terbang bak burung, jangan abang mempercayainya

Jangan disitu anda warisi ibarat, orang alim yang sudah setan perdaya Cari dalih dalam berniaga, ringggit ditabung satu dua Ayat menganjurkan perang hirau tiada, hati gelap mata pun buta Cari jalan dekat dengan kafir, ulama jahil setan perdaya Itulah ilmu ia ketahui, suruh Rabbi dilupakannya

Dirinya enggan orang lain tak disarankan, tunggulah dipendam dalam neraka Dikira dapat melepaskan diri, di hari nanti depan Rabbana Semisal hadith Nabi kita, dengarlah teungku semua Man katana ‘ilman al-janahu’llahu ta’ala bilujamin mina’naari Barangsiapa menyembunyikan ilmu Allah, disumpal ke mulut api neraka

Itulah hadith Rasulullah, disampaikan kepada ummat semua Yang percaya mendapat tuah, yang mengubah mendapat hina Agama kurang perniagaan punah, menyata sudah akhir dunia Para ulama hanya memikirkan menerima upah dan pusaka Berdiam di kampung dalam keseronokan, suruhan Tuhan disepikan saja

Dalih dicari berbagai cara, agar tak serta dalam perang Belanda Jalan sabil semestinya, disambut lekas serta-merta Jika tidak demikian, tunggulah dipanggang dalam neraka Mendapat siksa yang amat pedih, yang tak mau memerangi Belanda Sekalipun ia raja Quraisy, walau ahli-ahli Sayidil Anbia

Teungku kini telah dikecoh setan, memandang sepi perang Belanda Merasa lebih tinggi dari Nabi yang memerangi musuh sepanjang masa Kukatakan ini umpama, anak negeri tua-muda Guru tercinta adik-abang, kita dan orang lain tiada beda Jangan kecewa dengan perkataanku, banyak begitu yang ulama

Sebelah timur sampai Peusangan, tiada yang mengimani kalam Rabbana Banyak ulama dikaruniai Tuhan, kitab Qur’an bagai air bah Banyak jumlahnya sedikit yang menghayati, takut menghadapi kafir Belanda Jarang-jarang yang beriman tangguh, hanya dialah lain tiada…

…Disuruh ibadat tak pernah alpa, memerangi kafir tiada reda Ibadat utama hanya perang sabil, tiada yang lain padanannya Firman tuhan Rabbul Jalil, hadith Nabi Sayidil Anbia Jalan terbaik menghadap Rabbi, hanya perang sabil lain tiada Begitu wasiat Sayidil Anbia, disuruh lawan kafir Belanda…

…Jangan lagi demikian wahai taulan, menjadikan rekan kafir Belanda Kafir celaka harus dilawan, musuh Tuhan dengan Mustafa La Ilaha Illallah, kembali kisah ujung ayat Muhammad Rasullah, sungguh indah perang dibangkit Tak ada yang sama suatu pun, dengan perang sabil wahai sahabat…

…Wahai saudara adik dan abang, dengan dagangan jangan lalai amat Walau banyak gedung emas berpeti, sendirian kita didalam kubur Jika bukan mati didalam perang, wahai abang sakit amat Sembilan ribu bala yang datang, kesakitan nyawa dalam jasad Satu persatu bala itu diberi, seribu kali ditetakan yang kuat

Dihantam pedang seribu kali, pikirkan akhi menderita sangat Sembilan ribu yang seberat itu, datang ke situ menyiksa jasad Adakah sakit lebih dari itu, hai budiman camkan sangat Mati dalam perang Sabilillah, teingku bertuah senanglah sangat Tamsil minum selagi haus, seolah begitu hanyut lezat…

…Bukalah semua hidayat, setiap tempat kafir diperangi Kalahkan dengan cepat, dengan mukjijat Penghulu Nabi Beserta doa segala sahabat, yang yakin amat dengan perang ini Berkat doa segala Syaikh, semoga menyingkir kafir ini Tamat hikayat hari selasa, waktu dluha naik matahari

Tarikh seribu tiga ratus, lagi dua puluh hijrah Nabi Dua puluh tujuh bulan Muharram, hamba selesaikan o ya sayidi Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada sebaik-baik ciptaan-Nya Muhammad dan para keluarga serta sahabat beliau sekalian Ya Tuhan Rabbal ‘Alamin.
Amin
Tamat

Wallahu’alambishawab.
* * *
Dikutip dan dicuplik dari sumber : Sastra Perang – Sebuah Pembicaraan mengenai Hikayat Perang Sabil, yang ditulis oleh Prof. DR. Ibrahim  Alfian. MA, dan diterbitkan oleh Penerbit Balai Pustaka.
* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: