AQIDAH ISLAM

KATA PENGANTAR

             Akidah Islam adalah akidah yang agung dan mulia, yang dibangun berlandaskan bukti-bukti yang teramat gamblang serta pasti kebenarannya. Kepastiannya mengharuskan umat ini mengambil hujah dalam perkara akidah hanya bersumber pada sumber yang pasti (yaitu al-Quran dan hadits mutâwatir). Kepastiannya dari segi makna mengharuskan pula umat mendapatkan petunjuk dalam memahami makna dari sumber-sumber tersebut dan mengharuskan penunjukan daَlil yang dituju dalam teks. Apabila seorang Muslim berhadapan dengan nash yang bersifat mutasyâbihât (tidak bisa dipastikan arti sebenarnya) maka ia harus tunduk dengan teks yang ada tanpa memperdebatkannya lagi. Itulah sikap dan pandangan generasi pertama kaum Muslim.

            Akidah Islam adalah akidah yang simpel, tidak berbelit-belit, apalagi menyulitkan pemahaman seseorang. Apabila dikaji, akidah Islam adalah akidah yang lugas dan mudah dimengerti. Itulah yang menyebabkan para sahabat tidak pernah mengeluh tatkala menerima akidah Islam. Hal itu pula yang menyebabkan mudahnya Islam diterima oleh seluruh bangsa dan kabilah di seluruh penjuru dunia. Tidak ada suatu negeri yang bangsanya dikuasai oleh kekuasaan Islam melainkan penduduk asli negeri itu berbondong-bondong untuk memeluk dan mengikuti akidah Islam.

            Apabila akidah ini dibangun berasaskan keraguan, kesamaran, kesulitan, dan keangkuhan ilmu kalam, umat ini akan mengalami banyak perselisihan dan perpecahan. Bagaimana mungkin kita membangun suatu peradaban baru saat ini jika landasan yang kita miliki penuh dengan keraguan, rapuh, dan memunculkan pertikaian?

            Akibat perang pemikiran dan kebudayaan antara kaum Muslim dengan peradaban asing sejak generasi sahabat hingga saat ini, terutama yang dilancarkan oleh peradaban Barat saat ini terhadap Islam dan kaum Muslim, berdampak besar dalam perkara akidah ataupun aspek-aspek hidup yang lain. Nilai-nilai akidah yang sederhana mulai memudar, menjadi sesuatu yang rumit dan membosankan, tidak jarang bahkan dicampakan begitu saja. Bagaimana umat ini akan bangkit jika tidak memiliki standar dan tolok ukur yang kuat, jernih dan bersih, serta lurus dan dapat digunakan oleh umat dalam memecahkan seluruh problematika kehidupannya?

            Berbagai jenis pemahaman dan ideologi seperti Kapitalisme, Sosialisme/Komunisme, Ateisme, Sinkretisme, Nasionalisme, Paganisme, dan sebagainya didukung oleh sarana dan kekuatan dalam bidang materi yang luar biasa tengah menghantam dan membanjiri negeri-negeri kaum Muslim, lalu merusak akidah dan kehidupan umat ini dengan dahsyat. Kehadirannya menyebarluaskan virus-virus kesesatan, kekufuran, kebencian, dan pertikaian di tengah-tengah umat. Tidak cukup dengan itu, serangan berbahaya lain juga tengah diluncurkan oleh kaum orientalis yang didukung oleh anaknya yang berasal dari putra-putri kaum Muslim sendiri. Mereka bersatu padu untuk meragukan dan membingungkan umat dengan berbagai lontaran-lontaran ide dan pendapatnya dalam perkara-perkara akidah. Dengan cara yang halus mereka merendahkan dan mencampuradukkan konsep-konsep Islam dengan konsep-konsep kufur. Tidak asing di telinga umat ini keraguan-keraguan yang mereka lontarkan, seperti ketertinggalan al-Quran dengan kehidupan masa kini, ketidakmampuan syariat Islam dalam memecahkan problematika kehidupan manusia, dan istilah-istilah yang lain yang membingungkan umat.

            Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mencoba mengangkat mutiara Islam dari benaman lumpur kehinaan, kemudian membersihkan dan mengkilapkannya kembali. Sudah waktunya umat ini mewarisi sikap dan pola hidup para sahabat Rasulullah saw., para tabi’in, dan dan generasi sesudahnya dalam memahami akidah Islam, dalam ketegasan, kelurusan pandangannya, kejernihan pemikirannya, serta penuh semangat dalam beramal dan berani. Berani dalam berpendapat dengan disertai hujah dan argumentasi yang kuat, jujur, dan ikhlas.

            Di tangan Rasulullah saw., generasi seperti itu pernah tampil dan hadir di pentas peradaban dunia. Meskipun para sahabat tidak pernah mengarang kitab khusus tentang akidah Islam, namun al-Quran sebagai wahyu Allah Swt. dan Sunnah Rasul-Nya telah cukup menjadi pedoman mereka. Dengan dua sumber itu, telah dilahirkan generasi-generasi terbaik di tengah-tengah umat manusia yang berakidah tangguh, cerdas, terampil, dan kuat dalam memegang syariatnya. Ketangguhan itu telah tercatat dalam sejarah manusia yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun selama belasan abad.

            Agar kita tergolong generasi yang pernah dilahirkan oleh Islam pada saat terdahulu, Islam harus dipahami sebagaimana mereka memahami Islam, yaitu sebagai suatu bentuk sistem kehidupan yang sempurna, yang mengatur seluruh urusan manusia. Akidahlah sebagai dasar berdirinya sistem itu, juga sebagai landasan dibangunnya peradaban yang tangguh, dan sekaligus sebagai sumber atau pangkal munculnya seluruh jenis peraturan, undang-undang, serta norma kebiasaan di tengah kehidupan manusia. Pendek kata, akidah harus dijadikan tolok ukur bagi seorang Muslim di mana saja ia berada, kapan pun ia hidup, dan persoalan apa pun yang dihadapinya. Hanya akidah Islam yang mampu memecahkannya dengan cara yang paling sempurna, memuaskan akal, serta menentramkan hati dan jiwa. Akidah seperti inilah yang tengah ditunggu-tunggu oleh umat pada saat ini. Lalu, akankah kita menolak setelah begitu jelas hujah bagi kita? Akankah kita membiarkan keadaan tetap seperti ini, sementara kita memiliki suatu akidah yang lurus, sederhana, dan tangguh, serta memiliki sistem yang benar dan sempurna? Di tangan kitalah keputusannya!

            Semoga Allah Swt. tetap melindungi kita dari seluruh fitnah yang melanda umat pada saat ini, kepada Allah jugalah kita serahkan segala urusan kita.

 AKIDAH SEBAGAI ASAS KEHIDUPAN

             Sesungguhnya pembahasan mengenai akidah merupakan pembahasan yang paling penting dibandingkan perkara-perkara lainnya. Akidah menjadi asas, kaidah berpikir, tolok ukur, dan standar seseorang dalam memecahkan berbagai problematika kehidupannya di dunia. Dengan demikian, akidah menjadi landasan suatu bangunan peradaban manusia; dasar tempat berbagai tonggak didirikan; tempat keluarnya berbagai peraturan, undang-undang, norma, dan tata nilai masyarakat.

            Akidah pula yang menentukan arah pandang, cita-cita, dan tujuan yang dianut oleh para pemeluknya; diyakini kebenarannya, diperjuangkan, dipertahankan, serta disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.

            Rasulullah saw. bukan hanya membina para sahabatnya dengan akidah yang kuat, tetapi juga ketika membangun masyarakat Islam dan mendirikan pemerintahan Islam di Madinah. Beliau mendasarkannya pada akidah Islam, padahal ayat-ayat yang berkaitan dengan tasyri’ (yang menyangkut hukum Islam) belum lagi sempurna diturunkan. Meskipun demikian, Rasulullah saw. menjadikan syahadat Laa ilaaha illallah sebagai asas segalanya; asas bagi kehidupan seorang muslim; asas yang menghubungkan interaksi sesama muslim; asas yang mendasari hubungan antar sesama manusia; asas untuk menyelesaikan berbagai perkara kezaliman; menyelesaikan perselisihan; asas bagi kekuasaan; serta asas bagi kehidupan bernegara. Hal ini dapat disimak dalam Piagam Madinah (watsîqah Madinah) antara kaum Muhajirin, Anshar, Yahudi, dan kabilah lain, antara lain disebutkan:

Sesungguhnya apabila terjadi kejadian atau perselisihan di antara mereka yang terlibat perjanjian ini serta dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan, hal itu harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya[1].

            Rasulullah saw. tatkala mewajibkan jihad fî sabîlillah kepada kaum Muslim sebagai suatu cara untuk menyebarluaskan Islam kepada seluruh manusia, beliau melandasi perintah itu dengan akidah tauhid seraya bersabda:

«أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ، فَإِنْ قَالُوْهَا عَصَمُوْا مِنِّي دِمَآئَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ اِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ»

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia (kafir harbi) sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah. Apabila mereka telah mengucapkannya, darah (nyawa) dan harta mereka terlindung dariku (tidak diganggu), kecuali karena hak. Allahlah yang menghisab mereka. (HR Bukhari, Muslim)

            Akidah Islam dijadikan sebagai asas bagi peraturan dan perundang-undangan. Artinya, Allah Swt. Memerintahkan agar kaum Muslim merujuk dalam seluruh perkara kehidupan dengan hukum yang telah diturunkan Allah Swt. Dan Rasul-Nya saja, yang berlandaskan akidah Islam, sebagaimana firman-Nya:

]فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ[

Maka demi Rabbmu pada hakikatnya mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim yang memutuskan perkara yang mereka perselisihkan. (QS. An-Nisaa’ [4]: 65)

 Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa keimanan (akidah) seseorang diukur dari: apakah ia bersedia merujuk kepada hukum Allah dan Rasul-Nya atau tidak? Hal ini menegaskan bahwa peraturan dan perundang-undangan harus merujuk dan hanya lahir, serta berasal dari akidah Islam saja, lain tidak.

 Pengertian Akidah

            Akidah adalah apa yang dii’tiqadkan (diyakini/diimani) dalam hati. Yang dimaksud dengan hati di sini berupa akal atau hati itu sendiri.[2] Di dalam al-Quran, terdapat kata-kata qalb yang berarti akal atau yang menggambarkan fungsi akal, yaitu memahami, misalnya:

]لَهُمْ قُلُوبٌ لاَ يَفْقَهُونَ[

Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). (QS. Al-A’raaf [7]: 179)

Adapun menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, akidah atau iman adalah pembenaran yang pasti (tashdîq al-jâzim) yang sesuai dengan kenyataan berdasarkan dalil.[3] Sementara itu, Prof. T.M Hasbi ash-Shiddiqy berpendapat:

Iman ialah kepercayaan yang kuat, tidak dipengaruhi oleh syak (ragu-ragu) atau wahm (persangkaan yang tidak beralasan) ataupun zhan (persangkaan yang tidak memiliki alasan kuat).[4]

             Dengan demikian, segala bentuk keyakinan yang tidak berasal dari jalan yang menghasilkan kepastian atau datang melalui jalan yang pasti, tetapi masih mengandung persangkaan (zhan) di dalam keterangannya sehingga menimbulkan perselisihan di antara para ulama, hal seperti ini tergolong akidah yang tidak diwajibkan agama kita untuk memeluknya. Ini merupakan garis pemisah yang tegas di antara orang-orang beriman dengan orang-orang yang tidak beriman.[5]

            Sebutan akidah Islam ditunjukkan pada iman kepada Allah Swt., para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari Kiamat, serta pada Qadla dan Qadar, baik buruknya dari Allah Swt.. Namun, bukan berarti selain itu tidak ada lagi perkara yang wajib kita imani. Enam perkara tersebut merupakan kerangka akidah. Masih banyak perkara lain yang termasuk dalam akidah, seperti iman terhadap ajal, rizki, tawakal kepada Allah Swt., iman dengan pertolongan Allah, iman terhadap sifat-sifat Allah, iman terhadap kema’shuman para Nabi dan Rasul, mujizat al-Quran, dan sebagainya.

            Begitu pula iman tentang adanya surga dan neraka, yaumul hisâb (hari perhitungan), iman terhadap keberadaan jin, setan, serta berbagai perkara gaib yang berbentuk kisah-kisah ataupun riwayat yang tercantum dalam al-Quran atau hadits-hadits mutawâtir.

            Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwasanya pembahasan akidah menyangkut hal-hal pokok saja dalam urusan ushuluddîn, sedangkan perkara yang termasuk aktivitas dan perbuatan manusia termasuk bagian dalam syariat Islam dan fiqih Islam.

            Berdasarkan uraian di atas, agar akidah atau iman itu pembenarannya bersifat pasti, harus ditunjukkan dengan keyakinan (al-‘ilmu). ‘Ilmu adalah i’tiqâd atau keimanan yang pasti yang sesuai dengan kenyataan. Adapun zhan adalah i’tiqad atau keimanan yang kuat tetapi berdasarkan persangkaan sehingga dapat bermuara pada keyakinan atau bisa sampai pada keraguan (syak).[6]

 Al-Quran Mengharuskan Akidah Berlandaskan Dalil Qath’i (pasti)

            Pengambilan dalil untuk perkara akidah berbeda dengan pengambilan dalil bagi perkara tasyri’ (hukum). Akidah mensyaratkan dalil yang bersifat pasti, tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Karena itu, sumber pengambilan dalil bagi perkara akidah harus qath’i sumbernya (qath’i ats-tsubût) dan pasti penunjukkan dalilnya (qath’i ad-dalâlah). Sumber yang tergolong qath’i ats-tsubût adalah al-Quran dan hadits mutawâtir saja.

            Hadits (khabar) mutawâtir adalah hadits yang didasarkan pada pancaindera, diberitakan oleh sejumlah orang yang jumlahnya menurut kebiasaan tidak mungkin mereka bersepakat (terlebih dahulu) untuk berdusta (dalam pemberitaannya). Hadits mutawâtir seperti ini menunjukkan al-‘ilmu (kepastian) yang yakin, dan wajib diamalkan. Barangsiapa yang mengingkarinya dikategorikan kafir.[7]

            Adapun yang dimaksud qath’i ad-dalâlah karena kepastian penunjukan dalil akan memustahilkan ijtihad dalam perkara akidah. Syariat Islam tidak menerima ijtihad seseorang dalam perkara akidah. Ijtihad terbatas hanya dalam perkara tasyri’ (hukum) saja. Itupun yang dalalahnya zhan dan tsubûtnya zhan. Jika akidah dijadikan ladang untuk berijtihad, bagaimana dengan orang-orang yang hasil ijtihadnya dalam perkara akidah keliru atau salah, sedangkan kekeliruan atau kesalahan dalam perkara akidah dapat menjerumuskan pada kekafiran? Akidah Islam adalah batas antara iman dan kafir. Dari sinilah, penunjukan dalil dalam masalah akidah harus qath’i, bukan zhan, yang masih mengandung kemungkinan penafsiran yang berbeda dan bermacam-macam. Ayat-ayat al-Quran telah mengharuskan hal ini antara lain:

]إِنْ هِيَ إِلاَّ أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَءَابَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى اْلأَنْفُسُ[

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka. (QS. An-Najm [53]: 23)

]إِنَّ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاْلآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلاَئِكَةَ تَسْمِيَةَ اْلأُنْثَى % وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا[

Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai suatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tiada lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran. (QS. An-Najm [53]: 27-28)

]وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلاَّ ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا[

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. (QS. Yunus [10]: 36)

]إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ[

Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. (QS. An-Nisa [4]: 157)

]وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ[

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS. Al-An’am [6]: 116)

]كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلاَّ تَخْرُصُونَ[

Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: ‘Adakah kamu mempunyai suatu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya pada Kami?’ Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta. (QS. Al-An’am [6]: 148)

]الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ شُرَكَاءَ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ[

Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka dan mereka hanyalah menduga-duga. (QS. Yunus [10]: 66)

]وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلاً ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا[

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, celakalah orang-orang kafir itu. (QS. Shaad [38]: 27)

]وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ لاَ رَيْبَ فِيهَا قُلْتُمْ مَا نَدْرِي مَا السَّاعَةُ إِنْ نَظُنُّ إِلاَّ ظَنًّا وَمَا نَحْنُ بِمُسْتَيْقِنِينَ[

Dan apabila dikatakan (kepadamu): ‘Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya’, niscaya kamu menjawab: ‘Kami tidak tahu apakah hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)’. (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 32)

]وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلاَ أَبْصَارُكُمْ وَلاَ جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللهَ لاَ يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ % وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ[

Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangka yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Fushishilat [41]: 22-23)

]وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللهُ أَحَدًا[

Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun. (QS. Al-Jin [72]: 7)

]وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لاَ يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلاَّ أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّونَ[

Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahu al-Kitab (Taurat) kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (QS. Al-Baqarah [2]: 78)

             Ayat-ayat ini semuanya dengan jelas mencela orang-orang yang mengikuti persangkaan dan dugaan, serta mencela orang-orang yang mengikuti suatu perkara (akidah) tanpa ilmu (kepastian). Celaan dan teguran ayat-ayat al-Quran ini sekaligus sebagai dalil yang melarang secara tegas untuk mengikuti persangkaan dan dugaan dalam perkara-perkara yang menyangkut akidah. Dalil syara’ menunjukkan kepada kita bahwasanya beristidlal (menggunakan dalil) zhan dalam masalah akidah tidak diperbolehkan. Adapun dalam perkara tasyri’, pengambilan dalil zhanni dapat dilakukan.

            Disamping itu, tema yang disinggung oleh-oleh ayat sebelumnya, seluruhnya menyangkut masalah akidah; ada yang berhubungan dengan keberadaan Allah, hari Kiamat, tentang malaikat-Nya, para Rasul, janji Allah, serta tentang penciptaan langit dan bumi hingga masalah penyaliban Isa a.s.

 Seputar Masalah Zhan

            Kata zhan yang tecantum di dalam al-Quran memiliki berbagai arti, sebagaimana yang ditunjuk dalam masing-masing ayat yang mencantumkan kata-kata tersebut. Zhan yang berarti ‘ilmu wal yaqîn tercantum dalam ayat:

]إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلاَقٍ حِسَابِيَهْ % فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ[

Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridlai. (QS. Al-Haaqqah [69]: 20-21)

 Begitu pula kata zhan yang terdapat dalam firman Allah Swt.:

]الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ[

(Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabbnya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 46)

 Lafadz zhan seperti ini yang mendapatkan pujian di dalam al-Quran, karena kata tersebut menunjukkan makna al-‘ilmu wal yaqîn.

            Kata zhan di dalam al-Quran juga terdapat dalam makna lain, yaitu al-‘ammârah atau persangkaan/ilusi, sebagaimana tercantum dalam ayat:

]وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللهَ لاَ يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ % وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ[

Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan demikian itu adalah persangkaanmu yang telah kamu sangkakan terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Fushshilat [41]: 22-23)

]أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمَّنْ لاَ يَهِدِّي إِلاَّ أَنْ يُهْدَى فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ % وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلاَّ ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا[

Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberikan petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. (QS. Yunus [10]: 35-36)

Lafadz zhan yang tercantum dalam ayat-ayat ini yang mendapat celaan dari Allah Swt.

            Dalam al-Quran terdapat pula ayat yang mengandung kata zhan yang berarti ra’yu, yaitu pendapat yang bertitik tolak pada suatu dalil, namun dalilnya tidak qath’i (tidak bersifat pasti). Artinya, pendapat itu bukan suatu keyakinan sebagaimana arti zhan pada bagian kedua. Makna zhan pada bagian ketiga ini terletak antara pengertian pertama dan kedua, sebagaimana tercantum dalam ayat:

]وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا % بَلْ رَفَعَهُ اللهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا[

Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih ‘Isa putera Maryam, Rasul Allah.’ Padahal, mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya. Akan tetapi, (yang mereka salib dan bunuh) adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Akan tetapi, (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisaa’ [4]: 157-158)

             Bagi orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih….” pernyataan mereka itu sebenarnya tidak berlandaskan persangkaan/ilusi. Mereka memiliki dalil yang dicerap oleh indera mereka bahwa orang yang ditangkap kemudian disalib itu memang mirip sekali dengan Isa a.s., sebagaimana tercantum dalam ayat: ”Akan tetapi, (yang mereka bunuh itu) adalah orang yang diserupakan (wajahnya) dengan Isa bagi mereka.” Meskipun demikian, dalil tersebut tidak pasti dan tidak menghantarkan mereka pada suatu keyakinan, karena sebagian di antara mereka ada yang berkata: “… wajahnya wajah Isa, tetapi tubuhnya berbeda.”[8]

            Demikian pula apa yang dilakukan oleh para Hawariyîn (pendamping Nabi Isa a.s.) yang memberitahukan kepada orang-orang bahwa yang disalib itu bukanlah Isa a.s. Namun, sebagian besar orang tidak percaya. Orang-orang yang berhasil menyalib dan membunuh Isa a.s. menganggap dalilnya kuat. Akan tetapi, Allah Swt. Memastikan bahwa pendapat mereka itu tidak sama dan tidak menghantarkan pada derajat yaqîn dan ‘ilmu.

            Yang menarik, bahwa ayat di atas pada saat bersamaan menggunakan empat lafadz, yaitu syak, yaqîn, zhan, dan ‘ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa persangkaan itu meskipun bersifat râjih (jelas) tetap tidak disamakan atau tergolong sebagai ilmu, sehingga derajatnya tidak sampai kepada taraf yakin. Ayat tersebut menjelaskan pula bahwa zhan yang râjih, yang bersandar kepada bukti tidak sama dengan persangkaan/ilusi.

            Dengan demikian, zhan diartikan sebagai dugaan kuat. Sebagian orang-orang Nasrani telah meriwayatkan cerita mengenai pembunuhan Isa a.s. sebagai sebuah riwayat yang didasarkan pada kesaksian, lalu diriwayatkan kembali oleh orang-orang yang dianggap dipercaya dari kalangan mereka untuk disampaikan kepada yang lain. Cara periwayatan seperti ini tingkatnya sama dengan khabar ahad yang masyhur, dan bukan riwayat yang mutawatir karena masih dijumpai orang-orang yang ragu terhadap riwayat tersebut dengan alasan-alasan tertentu.

            Walhasil, meskipun sebagian besar orang (kecuali Hawariyîn) memiliki bukti yang amat kuat, tetapi al-Quran tidak menerimanya sebagai suatu bukti, serta menolak dengan tegas perkara itu.

 Dalil Zhan dan Hadits Ahad

            Zhan mengandung arti I’tiqâd/keyakinan yang râjih (kuat/jelas), tetapi mengandung dua alternatif (yang bertentangan) sehingga harus meyakininya atau ragu/menolaknya.”[9] Berdasarkan pengertian ini, zhan merupakan sesuatu yang mengandung lebih dari satu pengertian/kemungkinan sehingga terdapat peluang bagi manusia untuk memilih pendapat yang dianggapnya mendekati kebenaran (yakin). Jadi, perkara zhan tidak bisa dipastikan akan menghasilkan sesuatu yang yakin. Hal ini menjadi alasan mengapa dalil zhan tidak dapat digunakan sebagai dalil dan hujah dalam masalah akidah.

            Tidak seorang pun ragu bahwanya ayat-ayat al-Quran datang dari Allah Swt. Sehingga derajatnya sebagai suatu sumber yang pasti tidak dipertentangkan lagi di antara kaum Muslim di setiap masa. Lain halnya dengan Sunnah Rasulullah saw., selain hadits yang mutawâtir (hadits yang diriwayatkan sejumlah sahabat yang mustahil bersepakat untuk berdusta), hadits-hadits lainnya yang tercakup dalam kategori masyhûr atau ahad tidak sampai pada derajat yang pasti 100 % berasal dari Rasulullah saw., meskipun ulama-ulama dari golongan Hanafiah mengelompokkan hadits masyhûr ke dalam hadits mutawâtir yang tingkatannya sampai pada keyakinan. Namun, orang yang menolak (hadits masyhûr) tidak dikafirkan.[10]

            Memang, di kalangan ulama terdapat perbedaan-perbedaan menyangkut status hadits ahad, apakah menghantarkan pada sesuatu yang yakin atau tidak? Dari sini, muncul perselisihan penggunaannya dalam perkara akidah. Golongan yang berpendapat bahwa hadits ahad dapat menghantarkan pada derajat yakin, sehingga dapat dijadikan hujjah dalam perkara akidah adalah sebagian besar ulama hadits, seperti Imam Abu Dawud, Ibnu Hazm, al-Karisi, al-Muhasibi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Ibnu Shalah.

            Adapun jumhur ulama ushul menetapkan bahwa hadits ahad menghantarkan pada zhan, namun hadits ini setelah diakui keshahihannya wajib diamalkan dalam perkara syar’i. Berbeda halnya dengan perkara akidah, karena tidak sampai pada derajat yakin, tidak dapat diamalkan. Golongan yang berpendapat seperti ini antara lain Imam madzhab yang empat, Imam Ghazali, al-Bazdawi, Khatib al-Baghdadi hingga generasi terakhir, seperti Muhammad Abduh, Sayyid Qutb, dan lain-lain.

            Agar akidah yang kita anut betul-betul bersih dan lurus, jauh dari keraguan dan syak meskipun sedikit, sumber dan makna dalilnya harus bersifat pasti. Syekh Jamaluddin al-Qasimi berkata: “Sesungguhnya jumhur kaum Muslim dari kalangan sahabat, tabi’in,, golongan setelah mereka dari kalangan fuqaha, ahli hadits, dan ulama ushul berpendapat bahwasanya khabar ahad yang terpercaya dapat dijadikan hujah dalam masalah tasyri’ yang wajib diamalkan, tetapi (khabar ahad ini) menghantarkan pada zhan tidak sampai pada derajat al-‘ilmu (yakin).”[11] Imam Kassani berpendapat: “Dengan demikian, pendapat sebagian besar fuqaha menerima hadits ahad yang yang terpercaya dan adil serta (hadits ahad ini) diperlukan dalam perkara amal (tasyri’) kecuali perkara akidah, sebab i’tiqad wajib dibangun berdasarkan dalil-dalil yang yakin, yang tidak ada keraguan di dalamnya, sementara dalam masalah amal (tasyri’) cukup dengan dalil yang rajih (kuat) saja.”[12] Sementara itu, Imam al-Asnawi berkata: “Pada dasarnya jika riwayat hadits ahad mendatangkan sesuatu maka yang dihasilkannya hanyalah berupa sangkaan. Allah sendiri membolehkan persangkaan seperti ini, namun terbatas hanya dalam perkara amaliah, yaitu cabang-cabang kewajiban agama, bukan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan ilmiah, seperti kaedah-kaedah pokok hukum agama.” Adapun Imam asy-Syahid Sayyid Qutb berpendapat tatkala menafsirkan surat al-Falaq berkenaan dengan hadits bahwa Lubaid bin A’sham al-Yahudi telah menyihir Rasulullah saw., sementara status hadits tersebut tergolong shahîh: “… hadits ahad tidak dapat dijadikan sumber yang dipercaya (dalam perkara akidah—pen) karena sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam keyakinan adalah hadits yang mutawatir.”[13]

            Dari lontaran-lontaran pendapat tadi menunjukkan bahwa iman yang dituntut oleh Allah Swt. Haruslah iman yang yakin, pembenaran (tashdiq) yang bersifat pasti (jazm) dan berasal dari dalil yang qath’i (pasti). Berkenaan dengan hal ini, al-Ghazali mengemukakan: “Iman adalah suatu pembenaran yang pasti, yang tidak ada keraguan ataupun perasaan bersalah yang dirasakan oleh pemeluknya.”[14] Pendapat ini senada dengan pendapat Imam an-Nasafi: “Iman adalah pembenaran hati yang sampai pada tingkat kepastian dan ketundukkan.”[15]

            Yang dimaksud dengan pembenaran (tashdîq) adalah sekadar membenarkan sehingga belum mencapai derajat iman (i’tiqâd). Oleh karena itu, tashdîq dapat diterima berdasarkan dalil-dalil yang zhan. Akibatnya, suatu khabar/hadits yang tidak sampai pada derajat mutawâtir tidak bolah ditolak dalam perkara tashdîq. Meskipun demikian, sesuai dengan definisi iman yaitu pembenaran yang pasti (tashdîqul jazm) maka kepastian itu mengharuskan kita hanya mengambil hujjah/dalil yang bersifat qath’i saja agar akidah itu tergolong akidah yang selamat, lurus, serta tidak menjadi ajang perbedaan pendapat atau ajang ijtihad, karena dalil zhan mengandung perbedaan, baik dari aspek tsubûtnya (sumber dalilnya) maupun dalalahnya (penunjukkan dalilnya).

            Perlu dipahami bahwa tidak diterimanya hadits ahad sebagai dalil dalam perkara akidah bukan berarti kita menolak dan mengingkari hadits-hadits ahad dalam perkara tasyri’, bahkan kedudukan hadits ahad dalam perkara tasyri’ sudah disepakati oleh seluruh fuqaha. Atas dasar ini, tidak adanya i’tiqad bukan berarti ingkar/menolak, tetapi menerima, hanya tidak jazm (pasti), terutama dalam perkara akidah.

 Akidah dan Ijtihad

            Peradaban Islam pernah mengalami perdebatan seputar masalah akidah. Perkara ini mencuat setelah didahului oleh periode penerjemahan, pengkajian, dan penggunaan metode filsafat dalam membahas ayat-ayat al-Quran yang berhubungan dengan akidah. Memang, fenomena ini tidak dapat dihindari pada saat itu, seiring dengan semakin meluasnya pembukaan (futuhât Islamiyah) wilayah-wilayah baru yang ditaklukkan oleh kaum Muslim. Daerah-daerah yang ditaklukkan itu antara lain daerah yang selama ratusan tahun sebelumnya mempraktekkan pola pikir filsafat, seperti daerah Yunani dan sekitarnya (Bizantium), Lembah Sungai Nil di Mesir, Persia, India, antara Sungai Eufrat dan Tigris (Irak), dan sebagainya.

            Untuk memudahkan pengajaran dan pemahaman risalah Islam terhadap penduduk setempat yang baru ditaklukkan, cara yang termudah saat itu adalah dengan menggunakan metode atau pola pikir yang telah mereka anut selama berabad-abad sebelumnya.

            Persoalan-persoalan ini yang memunculkan banyaknya firqah (golongan-golongan yang bertentangan) dalam masalah akidah. Pada masa itu akidah dijadikan arena ijtihad. Setiap golongan mengungkapkan berbagai argumentasi yang mendasari pendapatnya. Karena akidah merupakan batas antara iman dan kufur, maka jika seseorang berbeda pendapat dengan yang lain akan membawa akibat bahwa orang yang dianggap salah digolongkan dalam kelompok yang kafir dan sesat. Akidah hanya mengenal kata benar atau salah, hal ini berbeda dengan ijtihad dalam perkara tasyri’, sebagaimana hadits Rasulullah saw.:

«إِذَا حَكَمَ الْحاَكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ اَصَابَ فَلَهُ اَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاَخْطَاَ فَلَهُ اَجْرٌ»

Apabila seorang penguasa atau qadli (hakim) berijtihad (memutuskan suatu perkara), kemudian ijtihadnya benar maka mendapatkan dua pahala. Jika ia memutuskan perkara tapi ijtihadnya salah maka ia mendapatkan satu pahala. (HR. Bukhari)

             Hadits ini menunjukkan bahwa ijtihad hanya dalam penentuan hukum syara. Tidak terdapat satu nash pun yang menunjukkan kebolehan ijtihad dalam perkara akidah. Malah, sebaliknya argumentasi al-Quran yang qath’i melarang seorang Muslim mengikuti persangkaan dan berijtihad dalam perkara akidah.

            Jumhur ulama menolak pendapat Imam az-Zish dan Abdullah al-Anbari yang membolehkan ijtihad dalam masalah akidah (ushuluddin).[16] Jika orang yang berijtihad dalam masalah akidah keliru, ia tidak akan mendapatkan satu pahala, dan argumentasinya sama sekali tidak dapat diterima, bahkan bisa dikatakan tersesat (keluar dari Islam). Contoh yang paling masyhur dalam masalah ini adalah apa yang dilakukan oleh golongan Qadariah yang berpendapat tidak ada takdir, atau golongan Mu’tazilah yang masyhur dengan pendapatnya bahwa al-Quran itu makhluk, bukan Kalamullâh, atau golongan-golongan sesat lainnya yang sempat dibukukan oleh Imam asy-Syahrastani dalam kitabnya yang terkenal al-Milal wa an-Nihal.

            Persoalan sifat-sifat Allah yang diserupakan dengan sifat-sifat makhluk-Nya, atau bahkan menolak sifat-sifat Allah, baik tentang keadilan Allah, nuzûlnya Allah (turunnya Allah) ke dunia, bersemayam (istiwâ)nya Allah di ‘Arasy, qadla dan qadar, dan sebagainya. Dengan pengamatan sepintas pun, kita dapat mengetahui bahwa pembahasan-pembahasan itu dominan dipengaruhi filsafat Yunani, India, dan Persia. Pengambilan nash-nash al-Quran yang mereka lakukan ditakwilkan sekehendak hati untuk memperkuat pendapat golongannya masing-masing. Allah Swt. Memperingatkan manusia dalam masalah ini dengan firman-Nya:

]وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَاْلأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ[

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. (QS. Al-Mukminun [23]: 71)

             Berdasarkan penjelasan ini, pokok pembahasan akidah adalah hal-hal yang menyangkut ushuluddin, tidak menyangkut perkara-perkara cabang yang melandasi amal perbuatan. Karena itu, dalam perkara akidah tidak dimasukkan hal-hal yang yang tidak tersangkut paut dengan akidah, seperti perselisihan Ali bin Abi Thalib dengan para sahabat mengenai soal ke-Khilafahan (pemerintahan), atau perselisihan antara Mu’tazilah dan Ahlu Sunnah tentang hakikat sihir dan terbentuknya awan. Persoalan perselisihan ke-Khilafahan lebih layak dimasukkan dalam kitab tarikh (sejarah) daripada kitab akidah. Begitu pula, dengan hakikat sihir dan terbentuknya awan lebih pantas dimasukkan dalam kitab sulap dan meteorologi.

            Kitab-kitab tauhid semacam itu sebenarnya telah mempertajam perselisihan antara kelompok satu dengan kelompok lain. Bahaya yang dihasilkannya lebih besar lagi bagi umat atau individu. Misalnya saja, perselisihan antara ahli kalam mengenai, apakah amal perbuatan itu merupakan pokok dari akidah atau hanya sekadar pelengkap saja? Pertentangan seperti ini dapat menyebabkan masyarakat meninggalkan amal, kemudian cukup hanya dengan beriman saja, dengan alasan bahwasanya iman itu dengan amal.

            Contoh lain pertentangan pendapat di kalangan ahli kalam, yaitu mengenai, apakah manusia itu memiliki qudrah (kemampuan) dan irâdah (kehendak), sehingga bebas melakukan apa saja atau meninggalkan apa saja sekehendak hatinya; atau pendapat sebaliknya, yang mengatakan bahwa manusia itu ibarat bulu yang diterbangkan oleh angin, ke mana angin bertiup ke sanalah bulu itu diterbangkan. Perselisihan semacam ini dapat mengakibatkan orang-orang yang awam menyerah pada pendapat, bahwa manusia itu dipaksa oleh Allah Swt. Tanpa memiliki kebebasan memilih sekehendak hatinya. Walhasil, akhirnya mereka meninggalkan perbuatan-perbuatan yang wajib, semangat mereka melemah, terbelakang, serta tidak memiliki etos kerja dibandingkan umat lain di dunia.

            Oleh karena itu, sudah seharusnya akidah dipelajari secara sederhana/simpel, dijauhkan pembahasan menurut metode kalam yang memusingkan, dengan cara mengembalikan perkara-perkara akidah bersumber dari dalil-dalil qath’i, yang bersifat pasti, serta jauh dari prasangka dan keraguan. Dengan kata lain, akidah disampaikan menurut al-Quran al-Karim dan hadits-hadits mutawâtir saja. Dari sinilah, akidah kaum Muslim akan muncul seperti ketika munculnya Islam pertama kali; bersih dari segala noda dan cela, serta mudah dipahami. Akidah seperti inilah yang dimiliki oleh para sahabat Rasulullah saw. Dengan metode yang sangat sederhana inilah, akidah Islam berhasil menyentuh akal dan perasaan manusia di berbagai negeri, serta mudah dipahami, baik oleh kalangan intelektual –tanpa mengurangi ketinggian akidah Islam- maupun masyarakat awam. Akidah seperti ini yang berhasil menjaga kaum Muslim dari berbagai serangan dahsyat peradaban dan budaya asing yang menyerbu masyarakat Islam selama berabad-abad, sehingga peradaban Islam menjadi suatu peradaban yang kuat, yang pernah dikenal di pentas dunia.

 ILMU KALAM DAN KEKELIRUANNYA

              Apa yang dinamakan ilmu kalam sebenarnya tidak dijumpai pada masa Rasulullah saw. Ataupun generasi para sahabat. Ilmu ini berkembang setelah era penerjemahan kebudayaan asing ke dalam bahasa Arab, terutama ilmu mantiq dan filsafat Yunani. Sebagian besar kaum Muslim yang sibuk membahas ilmu ini tidak sampai terjerumus dalam kekafiran akibat perbuatannya itu, sebab tujuan mereka ketika membahas ilmu ini tidak lain hanyalah ingin menjelaskan metode ilmu mantiq dengan perkara yang menurut mereka kontroversial dalam nash-nash al-Quran ataupun hadits. Meskipun demikian, metode ini telah menyeret mereka dalam kesesatan. Alam pikiran mereka telah sarat dengan perkara-perkara dan pembahasan yang akal mereka sendiri pun tidak sanggup menjangkaunya.

            Mungkin orang tidak akan percaya jika belum membaca karya-karya tulisan mereka yang ratusan jilid banyaknya. Orang akan kaget jika Ibnu Sina, yang kepiawaiannya dalam bidang kedokteran tidak diragukan lagi, berpendapat bahwa Allah Swt. tidak sampai dan tidak perlu mengetahui soal-soal kecil dan sepele. Kemudian, disebutkan pula olehnya bahwa alam dunia ini bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir), yang ada hanyalah perubahan, bukan kehancuran. Belum hilang kanehan itu kita dikejutkan lagi dengan pendapatnya dalam masalah ke-Nabian, yakni bahwa seorang Nabi itu berlandaskan       pada tiga tabiat utama, antara lain, kuat dalam menduga, daya khayalnya amat kuat, serta pandai mempengaruhi massa. Ibnu Sina termasuk penganut Hakimiah yang merupakan cabang dari firqah Qaramithah yang dicap oleh sebagian besar ulama sebagai kelompok sesat. Imam as-Sijistani, tokoh ulama salaf pernah berkata:

Mereka yang memuji Ibnu Sina sesungguhnya karena latah semata, taqlid pada kabar angin dari orang-orang. Padahal, jika para pemuji itu pernah membaca kitab filsafatnya, mereka akan kecewa. Bila mereka melanjutkan kajiannya sampai setengah dari kitab-kitab karangannya, mereka akan berbalik membencinya. Jika seluruh karangan Ibnu Sina mereka baca, maka mereka akan menyumpahi dan melaknatnya.17

Munculnya Ilmu Kalam

            Selama periode Rasulullah saw., kaum Muslim hanya memiliki satu akidah, yang sama isi kandungan ataupun metodenya, yaitu apa yang terdapat di dalam al-Quran dan yang sesuai dengan penjelasan di dalam al-Quran. Kekuatan iman yang mereka miliki tidak pernah menimbulkan satu pertanyaan pun yang mengandung unsur keraguan. Mereka, para sahabat Rasulullah saw. Tidak pernah berusaha mencari ilmu yang Allah Swt. Sendiri pun tidak mengajarkannya kepada manusia. Generasi merekalah yang martabat dan kedudukannya paling tinggi di antara umat ini. Hal ini disebabkan jalan yang mereka tempuh dalam membahas akidah sekaligus cara penyampaiannya lebih selamat dan sederhana, tetapi mendalam dan lebih bijaksana dibandingkan dengan metode-metode yang lain.

            Metode seperti ini merupakan metode Rasulullah saw. yang berlandaskan pada metode al-Quran. Dengan metode ini, manusia akan mendapatkan kepuasan jiwa, petunjuk yang benar, serta keyakinan yang mantap. Dengan metode ini pula, seorang Muslim memiliki potensi tenaga dahsyat, yang akan mendorongnya untuk menyampaikan risalah Islam dengan penuh semangat.

            Abad pertama Hijriah telah berakhir setelah risalah Islam telah tersebar luas ke seluruh penjuru dunia. Saat itu Islam disampaikan terutama bagi penduduk daerah-daerah yang baru dikuasai oleh ke-Khilafahan Islam dengan bentuk penyampaian dan pemahaman yang cemerlang, iman yang jernih, mendalam, serta sederhana, tetapi memompa kesadaran yang menakjubkan. Sebagai akibat perkembangan dakwah, Islam berinteraksi dengan peradaban dan agama yang telah dianut oleh bangsa-bangsa yang baru memeluk Islam. Karena metode al-Quran yang membeberkan secara rinci akidah Islam serta sekaligus mengungkapkan kesesatan akidah-akidah lain, akhirnya timbul pergesekan. Pada masa ini warna pergolakan pemikiran antara Islam dengan kekufuran mulai merebak dalam sejarah perjalanan futuhât Islamiyah (pembukaan dan penguasaan wilayah lain). Inilah yang mendorong sebagian ulama kaum Muslim mempelajari dan membahas akidah Islam dilihat dari berbagai segi, termasuk langkah-langkah untuk membela akidah Islam dari tudingan akidah-akidah lain, khususnya filsafat Yunani yang dijadikan oleh orang-orang Nasrani untuk menentang dan menghalangi dakwah Islam. Usaha tersebut menghasilkan aktivitas penerjemahan besar-besaran sehingga filsafat Yunani diketahui oleh sebagian besar kaum Muslim, dan pada akhirnya melahirkan ilmu kalam dengan metode pembahasan manthiqiyah (logika).

Metode Baru yang Keliru

            Metode ilmu kalam (mantiq) yang muncul di tengah-tengah kaum Muslim setelah masa sahabat, amat jauh berbeda dengan metode sebelumnya dalam membahas hal-hal yang menyangkut akidah. Dengan mengacu pada filsafat Yunani, para ahli kalam telah menempatkan akal secara mutlak dan bebas sebagai sumber rujukan dalam membahas iman/akidah Islam. Tema-tema yang dibahas sudah keluar dari jalur pembahasan akal. Mereka membahas hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera dan akal manusia, baik mengenai Dzat Allah, sifat-sifatnya, seperti Keadilan Allah, Iradah (kehendak) Allah, Maha Mendengar-Nya atau Maha Melihat-Nya Allah, Kalamullah (firman-Nya), dan sebagainya. Mereka terseret mengikuti ayat-ayat yang mutasyâbihât (mengandung makna lebih dari satu) yang banyak memunculkan penakwilan. Persoalan ini terakumulasi satu dengan yang lain sehingga sudah mengancam kejernihan akidah Islam, dilihat dari segi cakupan pembahasan ataupun metode pembahasannya, akhirnya penyimpangan terhadap akidah ini merajalela.

            Kejadian itu telah berlangsung di tengah-tengah kaum Muslim, bahkan turut melibatkan sebagian ulama fiqih yang sudah berusaha menjauhkan diri dari pembahasan ilmu kalam. Banyak ulama yang dengan gagah berani disertai dengan keikhlasan memperingatkan umat ini mengenai bahayanya metode mantiq/ilmu kalam dalam membahas akidah. Bagian ini akan diuraikan pada bagian akhir kitab ini, insya Allah.

Setelah sebagian kaum Muslim terpengaruh oleh filsafat Yunani dalam pembahasan akidahnya, berkembang pula pertikaian antar berbagai kelompok (firqah) yang banyak sekali jumlahnya. Umat Islam pada akhirnya sibuk dengan perdebatan yang tidak menghasilkan apa pun, kecuali fitnah, kerusakan, permusuhan, pembunuhan, dan sebagainya. Mereka lebih menyukai perdebatan daripada mengamalkan Kitabullah. Hati mereka telah mati, sedangkan akal mereka diagung-agungkan, sampai-sampai berani membahas sesuatu yang sebenarnya berada di luar jangkauan akal manusia.

            Allah Swt. adalah Dzat Maha Pencipta, yang tidak dapat dijangkau Dzat-Nya oleh akal manusia dan tidak dapat diserupakan dengan sifat-sifat manusia. Apabila manusia merasakan kelemahan dan keterbatasan atas dirinya sendiri, serta banyak perkara yang berada pada tubuhnya sendiri yang tidak diketahuinya sampai pada persoalan yang sekecil-kecilnya, maka bagaimana mungkin akal manusia mampu menjangkau Dzat Allah yang Maha Pencipta? Bagaimana mungkin hal ini dapat dilakukan, sementara tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya yang dapat dijadikan tolok ukur ataupun pembanding?

            Dengan demikian, satu-satunya langkah yang mesti ditempuh ketika mengkaji dan membahas masalah akidah adalah dengan menjadikan firman Allah Swt. itu sendiri sebagai sumber yang pasti, serta mengimaninya tanpa perlu menakwilkannya lagi atau mempersulit pembahasan. Hal ini disebabkan penakwilan itu bisa sesuai dengan maksud firman Allah Swt. tersebut atau Sunnah Rasul, tetapi bisa pula keliru/salah, karena itu pada umumnya orang yang menakwilkan sesuatu tidak bisa memastikan benar salahnya. Apabila kita terperosok pada penakwilan masalah akidah yang keliru, alternatif kesimpulannya Cuma satu, yaitu terjerumus dalam kekafiran. Berdasarkan hal ini, yang membentuk keyakinan adalah makna-makna lafadz secara zhâhir (berdasarkan teks kalimatnya) dari ayat-ayat al-Quran atau hadits, begitu pula yang diambil lafadz yang haqiqî (makna sebenarnya), bukan makna yang majazî (kiasan).

            Setelah menyinggung munculnya metode ilmu kalam/mantiq, dapat kita simpulkan bahwa metode tersebut penuh dengan kesesatan dan kekeliruan. Metode ini tidak dapat membentuk iman dan keyakinan bagi seseorang, apalagi menguatkannya. Metode ini hanya menghasilkan pengetahuan saja, itu pun pengetahuan yang keliru dan meragukan, sebab tema pembahasannya tentang sesuatu yang tidak diberitahukan kepada manusia (oleh Allah Swt. atau Rasulullah saw.), di samping itu akal dan panca indera manusia terbatas dalam menjangkuanya.

            Kekeliruan metode ilmu kalam dapat ditinjau dari beberapa aspek, antara lain:

Pertama, metode ilmu kalam dalam menentukan bukti-bukti hanya berlandaskan pada ilmu mantiq, bukan pada penginderaan. Akibatnya, seorang muslim berusaha mempelajari ilmu mantiq agar ia dapat membuktikan eksistensi Allah Swt., kemudian seseorang yang tidak mempelajari ilmu mantiq atau tidak mengetahui ilmu mantiq tidak layak membahas masalah akidah Islam. Padahal, Islam datang pada periode kaum Muslim belum mengenal dan memahami ilmu mantiq. Generasi pertama kaum Muslim telah mengembangkan risalah Islam dengan cara dan langkah terbaik, dengan memberikan bukti-bukti yang meyakinkan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan akidah mereka tanpa memerlukan metode dan cara sebagaimana yang ditempuh oleh ahli kalam. Dari sisi lain, metode ilmu mantiq (logika) ketika menentukan suatu bukti memungkinkan terjadinya kekeliruan dalam menarik kesimpulan. Hal bisa saja terjadi disebabkan premis-premis yang keliru, yang tidak bertitik tolak dari fakta. Sungguh cara ini berbeda dengan metode berpikir yang bertolak pada fakta yang nyata. Metode inilah yang digunakan dan disinggung oleh al-Quran ketika menentukan bukti-bukti. Simaklah ayat-ayat al-Quran berikut:

]ِلأُولِي اْلأَلْبَابِ[

Bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran [3]: 190)

]ِلأُولِي النُّهَى[

Bagi orang-orang yang berakal. (QS. Thaahaa [20]: 128)

]أَفَلاَ تَسْمَعُونَ[

Apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Al-Qashash [28]: 71)

]َلآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ[

Bagi orang-orang yang mendengarkan. (QS. An-Nahl [16]: 65)

]لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ[

Supaya mereka berpikir. (QS. Al-Hasyr [59]: 21)

]َلآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ[

Bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al-Baqarah [2]: 164)

]أَلَمْ تَرَوْا[

Tidakkah kamu perhatikan. (QS. Luqman [31]: 20)

]َلآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ[

Terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui. (QS. Ar-Rum [30]: 22)

]إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً ِلأُولِي اْلأَبْصَارِ[

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). (QS. Ali Imran [3]: 13)

 Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menyinggung tentang penciptaan dan fenomena makhluk-makhluk Allah dengan berbagai prosesnya yang menakjubkan. Semua itu dijelaskan secara sederhana oleh al-Quran untuk mendorong manusia berpikir tentang keagungan penciptanya. Metode terakhir ini yang digunakan oleh al-Quran dalam menentukan bukti-bukti sehingga tidak memberi kesempatan terjadinya kekeliruan berpikir. Metode yang menghasilkan kekeliruan dan keraguan tentu saja tidak patut dijadikan patokan dalam menentukan bukti-bukti.

Kedua, metode yang digunakan ahli kalam telah menempatkan akal sebagai standar dalam membahas segala sesuatu yang menyangkut iman. Bahkan, sampai-sampai akal dijadikan patokan untuk membahas dan memahami perkara-perkara gaib. Mereka telah menakwilkan al-Quran berdasarkan pertimbangan akalnya tanpa menyalahi pemahaman-pemahaman mereka yang mendasar, seperti mensucikan Allah secara mutlak, kebebasan berkehendak, keadilan Allah Swt., pemilihan-Nya yang terbaik dalam setiap keputusan, dan sebagainya.

            Para ahli kalam telah merujuk dan menjadikan akal sebagai standar satu-satunya dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang dianggap kontroversial dilihat dari teksnya. Akal menjadi pemutus dan sumber pertimbangan mutlak terhadap hal-hal yang mutasyâbihât. Mereka berpandangan bahwa ayat-ayat al-Quran harus ditakwilkan dan disesuaikan dengan ketentuan akal. Kalau saja mereka menjadikan al-Quran sebagai patokan dalam setiap pembahasan, tentu tidak akan sampai dibahas tema-tema yang seharusnya tidak patut dibahas oleh akal mereka.

            Memang benar, iman terhadap al-Quran sebagai firman Allah (kalamullâh) harus berlandaskan pada akal, dengan kata lain akallah yang mampu membuktikan kemujizatannya. Akan tetapi, setelah al-Quran diimani, selanjutnya apa pun yang terdapat di dalam al-Quran sebagai suatu perkara yang harus diimani dan diterima tanpa kecuali serta tanpa dipertimbangkan lagi oleh akal. Atas dasar hal ini, apabila dijumpai ayat-ayat al-Quran yang menyinggung masalah akidah, akal tidak boleh dijadikan tolok ukur benar atau salah dalam menafsirkan makna dan arti ayat-ayat tersebut. Kita wajib merujuk dan kembali hanya pada ayat-ayat al-Quran saja tanpa campur tangan akal manusia, sebagaimana yang dimaksudkan di atas. Dalam hal ini, fungsi akal hanya untuk memahami nash-nashnya saja.

Ketiga, para ahli kalam telah menjadikan pertikaian dan perselisihan di antara mereka sebagai tema sentral dalam pembahasan mereka. Golongan Mu’tazilah mengambil pendapat dari para filosof sebagai hujah dalam membantah golongan lainnya. Begitu pula,yang dilakukan antara golongan Ahli Sunnah dan Jabariah yang membantah pendapat-pendapat Mu’tazilah. Setiap kelompok menjadikan pendapat para filosof sebagai rujukan utama dalam perselisihannya. Padahal, yang menjadi objek pembahasan sebenarnya adalah Islam, bukan perselisihan filosof.

            Mereka seharusnya menyibukkan diri dalam pembahasan apa yang tercantum dalam al-Quran dan hadits, kemudian berhenti di situ tanpa melampaui batas pembahasannya serta tanpa memperhatikan lagi pendapat siapa pun. Sayang sekali, apa yang telah mereka lakukan malah mengalihkan pembahasan, perhatian, serta aktivitas tablig Islam dalam masalah akidah ke arah perdebatan dan pertikaian. Mereka telah memadamkan kekuatan dan semangat akidah yang menjadi pendorong jiwa manusia, lalu mengaburkan makna akidah sehingga menjadi topik perdebatan. Hal ini dilakukan terus-menerus sehingga menguras pemikiran dan kepandaian umat dalam perkara-perkara yang tidak perlu. Selain itu, tidak menghasilkan manfaat sedikit pun, kecuali berkembangnya ilmu kalam sebagai suatu cabang ilmu dan keahlian tersendiri.

            Sikap yang tampak itu bertentangan dengan metode al-Quran, yang pernah menyinggung dan membantah sebagian pemikiran-pemikiran filsafat. Seruan al-Quran difokuskan pada suatu metode yang berpijak pada akal dan fitrah manusia. Metode ini menjadikan setiap manusia setiap manusia yang mendengar seruan al-Quran mendapat kepastian dan keyakinan mengenai perkara apa saja yang memang dapat dijangkau akal manusia. Pada akhirnya metode al-Qur’an ini menunjukkan manusia pada keberadaan dan keagungan Allah Swt. sebagai Pencipta. Di sisi lain, mampu membuktikan Keesaan dan Kekuasaan Alah Swt., serta hikmah dan tujuan dari penciptaan. Seseorang yang merenungkan seruan al-Quran akan merasakan kehausan untuk mendengarkan dan mengikutinya, sampai-sampai seseorang yang tidak beragama pun akan cenderung dan berusaha untuk memahaminya.

            Metode al-Quran adalah metode yang bertitik tolak pada wahyu; diperuntukkan bagi seluruh manusia; amat sesuai bagi setiap orang, tidak ada perbedaan bagi panguasa atau rakyat jelata; dapat dipahami dengan mudah oleh orang awam; bagi intelektual, justru kesederhanaannya tidak menghalangi kedalaman makna yang dikandungnya; menggetarkan orang yang hatinya keras; menyentuh dengan lembut orang yang memiliki perasaan yang sensitif. Metode ini telah menjadikan manusia berpikir secara sungguh-sungguh mengenai keberadaannya di dunia ini serta serius memikirkan akibat dan kelanjutannya nanti di hari akhir. Dengarlah, bagaimana firman Allah Swt. ketika mengambil suatu perumpamaan yang indah:

 ]يَاأَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لاَ يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ % مَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ[

Hai manusia (bagi yang belum beriman) telah dibuat perumpamaan (bagimu), dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu padu untuk menciptakannya. (Dan) jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Hajj [22]: 73-74)

]فَلْيَنْظُرِ اْلإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ % خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ % يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ % إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ[

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Dia diciptakan dari air mani yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). (QS. Ath-Thaariq [86]: 5-8)

]وَفِي اْلأَرْضِ ءَايَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ % وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُونَ[

(Dan) di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada mengamatinya? (QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 20-21)

]ءَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا % رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا % وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا % وَاْلأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا % أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا % وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا % مَتَاعًا لَكُمْ وَِلأَنْعَامِكُمْ[

Apakah kamu yang lebih lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya. Dia meninggikan/memperluas bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan sesudah itu dihamparkan-Nya bumi, Dia memancarkan mata airnya (bumi), (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Adapun gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. (QS. An-Naazi’aat [79]: 27-33)

            Demikianlah metode al-Quran dalam menjelaskan Kekuasaan, Kehendak, Ilmu, serta Keagungan Allah Swt. sesuai dengan akal dan fitrah manusia. Kesalahan yang telah dilakukan oleh ahli kalam dalam pembahasan akidah telah mengalihkan pembahasan ini yang mengarah pada dakwah Islam (penyebarluasan Islam) pada seluruh manusia, menjadi sekadar ilmu pengetahuan yang dipelajari kaum Muslim sebagaimana mereka mempelajari ilmu nahwu (salah satu cabang bahasa Arab) dan ilmu lainnya.18 Akidah Islam merupakan topik utama dakwah serta menjadi pondasi dan asas Islam yang wajib untuk dipelajari dan dipahami kaum Muslim sesuai dengan metode al-Quran. Selain itu, metode ini wajib melandasi tabligh (penyampaian) dakwah Islam. Dengan demikian, seorang Muslim wajib mengoreksi pemahamannya yang menggunakan metode kalam/mantiq menjadi metode yang sederhana dan simpel, yaitu metode al-Quran saja. Metode ini dijadikan penopang dalam dakwah, di samping menyentuh akal manusia dan sesuai dengan fitrah manusia.

            Metode tersebut mampu membangkitkan perasaan manusia sehingga terpengaruh dengan hasil keputusan akal yang telah mengakui bukti-bukti yang tak terbantahkan sesuai dengan fitrahnya, kemudian manusia merasa puas serta terpenuhi keinginannya dengan cara yang menentramkan dan menenangkan jiwa.

Keempat, para ahli kalam telah membahas sesuatu yang berada di luar realita yang dapat diindera manusia, bahkan melampaui batas sehingga sampai pada perkara-perkara yang tidak mampu dijangkau oleh panca indera manusia. Mereka telah membahas masalah-masalah yang ada di balik alam semesta (metafisik), seperti pembahasan tentang Dzat Allah, sifat-sifat-Nya, yang mustahil dapat dijangkau oleh indera manusia. Dengan cara yang berlebihan mereka telah menganalogikan perkara gaib (Allah Swt.) dengan alam nyata (alam manusia). Mereka menetapkan sifat Keadilan Allah Swt. sama ukurannya seperti keadilan menurut pandangan manusia.

            Para ahli kalam sepertinya lupa dan lalai bahwa manusia dengan segala keterbatasannya dapat dijangkau oleh indera, sedangkan Dzat Allah tidak. Tentu saja dua perkara ini tidak dapat dianalogikan satu dengan yang lain karena tidak ada kesamaan. Allah Swt. telah dijadikan bulan-bulanan pembahasan para ahli kalam. Seharusnya mereka tidak boleh sama sekali menundukkan Allah Swt. pada peraturan alam/manusia, sebab Allahlah yang menciptakan alam semesta sekaligus dengan hukum atau sistemnya yang sempurna, tanpa campur tangan manusia, bahkan mustahil manusia turut andil di dalam penciptaan dan pengaturannya itu.

            Bagaimana mungkin manusia menganalogikan Rabb, Pencipta alam semesta yang memiliki sifat-sifat agung dan mulia, yang Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu? Lalu, mengapa para ahli kalam memandang bahwa keadilah Allah Swt. sesuai dengan makna dan arti yang mereka kehendaki? Begitu pula, masalah penentuan baik dan yang terbaik (shalah wa al-ashlah) bagi Allah.

Kelima, ayat-ayat mutasyâbihât yang bersifat global serta tidak memberikan pemahaman yang pasti telah diturunkan dengan penjelasan umum tanpa garis besar. Ayat-ayat ini kadang-kadang berupa ketentuan terhadap suatu fakta atau keadaan yang tampaknya tidak dapat dibahas, dikaji, atau dijadikan patokan. Dengan demikian, meskipun seseorang membahas dan mengkajinya berulang-ulang, namun ia tidak dapat memahami hakikat tujuan dari makna-makna yang terkandung di dalamnya, kecuali hanya sebatas apa yang tersurat dalam lafadz-lafadznya.

            Al-Quran al-Karim telah memberikan pedoman kepada kita bagaimana seorang mukmin bersikap apabila berhadapan dengan ayat-ayat sejenis itu, yaitu bersikap pasrah tanpa mencari-cari sebab-sebabnya (menakwilkannya) atau memerincinya lebih jauh. Contoh-contoh ayat al-Quran yang menimbulkan perdebatan di kalangan ahli kalam pada periode lampau, antara lain:

]وَمَا اللهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ[

(Dan) Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Mu’min [40]: 31)

]وَمَا تَشَاءُونَ إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللهُ[

(Dan) kamu tidak menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali bila dikehendaki Allah. (QS. Al-Insaan [76]: 30)

]فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ ِلْلإِسْلاَمِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ[

Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan jalannya (untuk memeluk agama) Islam dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit. (QS. Al-An’am [6]: 125)

             Di dalam al-Quran terdapat pula ayat yang menyebutkan bahwa Allah memiliki wajah dan tangan, serta Dia berada di atas langit, seperti:

]ءَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ اْلأَرْضَ[

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang berada di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu. (QS. Al-Mulk [67]: 16)

]وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ[

(Dan) tetap kekal Wajah (Dzat) Rabbmu yang memiliki Kebesaran dan Kemuliaan. (QS. Ar-Rahmaan [55]: 27)

]وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا[

(Dan) datanglah Rabbmu, sedang malaikat berbaris-baris. (QS. Al-Fajr [89]: 22)

]بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ[

Tetapi kedua tangan-Nya (Allah) terbuka. (QS. Al-Maidah [5]: 64)

            Di samping itu, terdapat pula ayat-ayat yang mengharuskan kaum Muslim mensucikan Allah Swt. dan tidak menyerupakan Allah Swt. dengan makhluk-Nya, seperti firman-Nya:

]لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ[

Tidak ada satu pun yang serupa dengan Dia. (QS. Asy-Syuura [42]: 11)

]وَتَعَالَى عَمَّا يَصِفُونَ[

Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. (QS. Al-An’am [6]: 100)

            Demikianlah, banyak ayat al-Quran yang tersebar, membahas berbagai aspek yang dapat menimbulkan pertikaian tentang maknanya, terutama yang berhubungan dengan akidah. Ayat-ayat seperti ini yang disebut oleh al-Quran sebagai ayat-ayat mutasyâbihât. Allah Swt. berfirman:

]هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ[

Dialah (Allah) yang menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkam, itulah pokok-pokok al-Quran, dan yang lainnya (ayat-ayat) mutasyabihat. (QS. Ali Imran [3]: 7)

Sikap terhadap Ayat-Ayat Mutasyâbihât

            Pada saat ayat-ayat mutsyâbihât itu turun, Rasulullah saw.menyampaikannya kepada para sahabat dengan tidak ditambah atau dikurangi. Lalu, secara spontan kaum Muslim mengimani dan menghafal ayat-ayat tersebut, serta tidak pernah membahas dan berdebat mengenai ayat-ayat tersebut. Mereka tidak melihat adanya pertentangan apa pun yang membutuhkan penjelasan secara terperinci. Mereka memahami seluruh ayat itu sesuai dengan makna yang diterangkan dan ditetapkan ayat tersebut. Ayat-ayat al-Quran itu turun secara berangsur-angsur sesuai dengan kenyataan yang mereka alami. Mereka mengimani, membenarkan, dan memahaminya dengan bentuk pemahaman yang global, serta merasa merasa puas dengan pemahaman seperti itu. Mereka berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut sebagai penjelas terhadap fakta yang mereka alami atau penetapan suatu hakikat yang dialami. Para ulama salaf terdahulu tidak sampai terseret dan terjebak dalam pembahasan akidah sebagaimana yang telah dialami oleh ahli kalam. Mereka tidak pernah memperdebatkan masalah akidah, bahkan seandainya diperdebatkan pun tidak akan membuahkan kemaslahatan bagi umat. Oleh karena itu, bagi setiap orang yang memahami bentuk pemahaman global terhadap ayat-ayat mutasyabihat yang sesuai dengan ukuran yang dapat dijangkau dan dipahami, tidak perlu terjerumus dalam perincian dan pemahaman yang mengada-ada. Demikianlah, kaum Muslim memahami akidahnya dengan metode al-Quran.

            Allah Swt. Dan Rasul-Nya telah mengungkapkan bahaya dan kesesatan yang mungkin ditimbulkan dalam penulusuran perincian makna dan arti dari ayat-ayat mutasyâbihât, sebagaimana firman Allah Swt.:

]فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُو اْلأَلْبَابِ[

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat (masih samar maknanya) untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya, melainkan Allah dan orang-orang yang ilmunya sudah mendalam, (lalu) mereka berkata: ‘Kami beriman pada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu (berasal) dari sisi Rabb kami’. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya), kecuali orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran [3]: 7)

            Begitu pula Rasulullah saw. memberikan sinyalemen kepada kita tentang sikap orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat yang tergolong mutasyabihat. Rasululullah saw. bersabda:

«إِذَا رَاَيْتُمُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ ماَ تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولئِكَ الَّذِيْنَ مَنَّاهُمُ اللهُ فَاحْذَرُوْهُمْ»

Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti apa-apa yang mutasyabihat, mereka itu adalah orang-orang yang disebut oleh Allah Swt. (dalam al-Quran surat Ali Imran di atas), berhati-hatilah terhadap (jauhilah) mereka. (HR. Muslim)

Metode yang Memecah Belah Persatuan Umat

            Sebagian orang ada yang berpendapat bahwasanya keterlibatan ahli kalam dalam membahas akidah adalah karena kelemahan kaum Muslim dalam bahasa al-Quran atau bahasa Arab sehingga sulit untuk memahami begitu saja makna-makna al-Quran. Maka—menurut mereka—kita akan beralih metode pendekatannya dari cara dan metode yang ditempuh para sahabat Rasulullah saw. Dalam membahas akidah pada metode logika. Bukankah kita tetap dalam pembahasan itu mensucikan dan mengagungkan Allah Swt. Dan sama sekali tidak mengingkarinya? Alasan seperti ini hanyalah rekaan dan kebohongan untuk menutupi langkah sesat yang telah mereka tempuh, di samping lemah dari sisi faktanya. Gaya pembahasan yang ditempuh oleh para ahli kalam tidak menunjukkan bahwa bahasa merupakan penghambat dalam memahami akidah yang benar, tetapi tema pembahasan yang ada pada merekalah yang memunculkan banyak silang pendapat dan perselisihan yang tidak berkesudahan. Misalnya, apabila kita mengatakan bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar, tentu hal ini karena dipahami berdasarkan ayatnya dari segi bahasanya apa adanya. Dengan kata lain, pernyataan itu dipahami begitu saja tanpa perlu menggunakan cara dan metode mantik/logika. Beralihnya objek pembahasan inilah yang mendorong munculnya metode tersebut, yaitu beralih menjadi pembahasan tentang Dzat Allah Swt., bagaimana mendengarnya Allah?, bagaimana melihatnya Allah?, dan sebagainya.

            Jika memang metode logika digunakan karena faktor bahasa Arab, seharusnya cukuplah kita menerangkan arti bahasa bagi lafadz-lafadz yang benar-benar membutuhkan penafsiran atau penjelasan. Adapun makna-makna yang belum jelas, kita terima dengan pasrah tanpa membahasnya atau—apalagi—memperdebatkannya lebih lanjut. Wallahu a’lam.

            Meskipun demikian, tampaknya kendala bahasa bukanlah sebab yang mendorong munculnya penakwilan tentang Dzat Allah Swt. sehingga terlibatnya akal manusia dalam pembahasan yang berada di luar jangkauan dirinya. Akan tetapi, penyebab sebenarnya adalah karena para ahli kalam telah mengikuti hawa nafsu serta tidak mau meneladani metode para sahabat dan ulama salaf dalam pembahasan akidah Islam.

            Pembahasan para ahli kalam ini memacu banyaknya firqah yang sebagian besar telah keluar dari Islam. Mereka tergolong kelompok seperti yang telah disinyalkan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya:

«اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ اِحْدَيْ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصاَرَى إِثْنَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ مَا عَدَّا وَاحِدَةً، قَالُوْا: مَنْ هِيَ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ: مَا عَلَيْهِ أَنَا وَصَحَابَتِيْ»

Kaum Yahudi telah terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, semuanya masuk neraka. Kaum Nasrani terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya masuk neraka pula. Adapun umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka, kecuali satu. Para sahabat bertanya: ‘Siapakah mereka ya Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Golongan yang mengikutiku dan para sahabatku’. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Imam Ahmad)

            Rasulullah saw. memberikan petunjuk agar kita meneladani pola hidup beliau, serta melarang kaum Muslim menyalahi jalan yang telah ditempuhnya dan para sahabatnya. Perhatikanlah sabda beliau saw.:

«إِنَّ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَيَرَى إِخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلاُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ فِي النَّارِ»

Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup (sesudahku), kelak dia akan melihat banyak perselisihan. Berpegang teguhlah kalian pada sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk, lalu gigitlah (peganglah) dengan gerahammu. Jauhilah perkara-perkara baru (dalam ubudiah, pen.). Sesungguhnya semua perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah (mengakibatkan seseorang masuk) ke dalam neraka. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Imam Ahmad)

            Akibat lain yang merusak umat karena pembahasan akidah dengan metode ini adalah timbulnya perselisihan paham antara kaum Muslim yang satu dengan yang lain. Hal ini dapat mengalihkan perhatian kaum Muslim hanya pada urusan internal saja sehingga orang-orang kafir yang membenci Islam dapat dengan leluasa melontarkan isu-isu baru yang menyibukkan kaum Muslim. Lebih parah lagi, apabila karena hal itu kaum Muslim justru menghentikan kewajiban dakwah dan jihad fi sabilillah. Sementara kaum Muslim sudah mulai meninggalkan pembahasan akidah dengan metode ini, kaum orientalis justru menumbuhkembangkan kembali. Hal ini dapat kita lihat dengan munculnya kembali pembahasan masalah akidah dengan metode pendekatan filosofis dan mantiq akhir-akhir ini. Semestinya apabila kaum Muslim benar-benar cinta kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, serta memperhatikan kebaikan umat, cara pembahasan akidah seperti itu harus ditinggalkan. Cukuplah kita menggunakan metode Rasulullah saw. dan para sahabat dalam memahami dan menyampaikan masalah akidah. Allah Swt. berfirman:

]قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ[

Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihimu’. (QS. Ali Imran [3]: 31)

            Sejarah menunjukkan bahwa ilmu kalam telah dikembangkan oleh beberapa orang Nasrani yang mengaku memeluk Islam tetapi perlu diragukan keikhlasannya. Di antara mereka adalah Ghailan ad-Dimasyqi, seorang Nasrani dari suku Qibti (Mesir). Ibnu Qutaibah menggambarkan orang ini:

Ghailan ad-Dimasyqi adalah seorang Qibti. Tidak seorang pun sebelumnya seperti dia yang membicarakan dan menyeru masalah qadar, kecuali Ma’bad al-Juhni. Ghailan dijuluki sebagai Abu Marwan. Ia ditangkap oleh Hisyam bin Abdul Malik (wafat tahun 125 H.), kemudian disalib di pintu gerbang kota Damaskus.19

            Tidak kalah pentingnya adalah andil orang-orang Yahudi, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam asy-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal:

Sebagian besar berita/cerita yang dibuat berkenaan dengan masalah penyerupaan Dzat Allah berasal dari Yahudi. Sesungguhnya sifat demikian sudah menjadi tabiat mereka. Barangkali Abdullah bin Saba’ yang sebelumnya berasal dari Yahudi, lalu memeluk Islam, merupakan orang yang pertama kali mencuatkan perkara-perkara syubhat, yaitu tentang penyerupaan Allah—di samping sikap ekstrem dan berlebihan-lebihan tentang Ali bin Abi Thalib–, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Abdul Qahir al-Baghdadi dalam kitabnya al-Farqu Baina al-Firaq, hlm. 214.

BATAS-BATAS MA’RIFATULLAH MENURUT AKIDAH

            Pembahasan mengenai akidah tiada lain untuk memperkuat iman kepada Allah Swt. serta untuk mendekatkan hubungan dengan-Nya. Dengan mendalami metode yang tercantum di dalam al-Quran ketika membahas akidah, dapat disimpulkan beberapa hal penting sebagai berikut.

Pertama, karena akidah merupakan asas kehidupan bagi seorang Muslim dan asas pelaksanaan syariat Islam dibangun berlandaskan akidah ini, al-Quran telah mencantumkan dalam banyak ayat perintah yang pasti untuk menetapkan akidah berdasarkan sesuatu yang yakin, tidak boleh terbersit keraguan sedikit pun. Al-Quran juga melarang secara pasti pengambilan dalil akidah yang zhan. Allah Swt. berfirman:

]إِنَّ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاْلآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلاَئِكَةَ تَسْمِيَةَ اْلأُنْثَى % وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا[

Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman pada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan, sedangkan mereka tidak mempunyai suatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedangkan persangkaan itu tidak berguna sedikit pun untuk menguatkan kebenaran. (QS. an-Najm [53]: 27-28)

            Pembenaran yang pasti tidak dapat dicapai kecuali dengan menjadikan objek pembahasan akidah sesuatu yang berdalil pasti, baik dari aspek sumber pengambilan dalilnya maupun dilihat dari aspek penunjukan dalilnya. Selama dua syarat itu tidak terpenuhi maka tidak mungkin tercapai suatu kepastian dalam pembenaran.

Kedua, apabila asma Allah tercantum di dalam al-Quran dan Sunnah Rasul yang mutawâtir serta penunjukkan dalil keduanya bersifat pasti, maka sikap seorang muslim tiada lain kecuali mengimaninya sesuai dengan yang tercantum di dalam teks nash-nash tadi. Proses mengimani ini berdasarkan penunjukan dalilnya tanpa perlu membahas dan menyelidikinya lebih lanjut. Hal ini karena asma Allah bukanlah sesuatu yang dapat diindera, sikap manusia dengan akalnya hanyalah menerimanya tanpa reserve.

            Adapun apabila nash yang menyinggung asma Allah itu bersifat zhan, baik sumber maupun penunjukan dalilnya maka lebih baik kita membenarkannya (tashdiq) dan menerima dengan pasrah tanpa menjadikannya sebagai polemik. Abu Umar bin Abdil Barr berkata:

 Seluruh hal yang menyangkut akidah mengenai sifat Allah dan asma-Nya diambil hanya dari apa yang tercantum dalam nash al-Quran atau hadits shahih yang berasal dari Rasul, atau apa yang disepakati oleh Umat Islam. Adapun apa yang terdapat dalam khabar/hadits ahad mengenai hal ini atau yang serupa dengannya maka sikap yang diambil dalam perkara ini adalah menerimanya dengan pasrah tanpa memperdebatkannya lagi.20

Ketiga, akidah tidak boleh diambil selain dari apa yang tercantum di dalam nash, serta tidak ada ijtihad dalam perkara akidah. Memang terdapat dalil-dalil yang mendorong untuk melakukan ijtihad, tetapi hal itu terbatas pada perkara furu’ (cabang-cabang hukum). Ibnu Jauzi berkata:

Sesungguhnya dalil yang menyangkut akidah adalah sangat jelas (tidak memerlukan ijtihad, pen). Hal ini tidak sulit diketahui oleh orang yang berakal. Adapun dalam masalah furu’, karena peristiwa yang bersangkut paut dengannya bertambah banyak sehingga sulit bagi orang awam untuk mengetahuinya secara keseluruhan, bahkan mungkin ia keliru dalam memahaminya. Untuk itu, sikap yang paling tepat bagi orang awam adalah bertaqlid kepada seseorang yang faqih, yang memiliki kemampuan mendalami dan memikirkan secara mendalam tentang nash-nash syara’. Hanya saja orang awam boleh memeras pikirannya dalam memilih orang yang akan diikutinya.21

Seperti kita ketahui bahwa kekeliruan dalam perkara akidah tidak sama statusnya dengan kesalahan dalam masalah furu’ (hukum), selama dalam batas-batas ijtihad yang syar’i. Hal ini yang menyebabkan ulama ahli kalam mengkafirkan orang-orang yang mempunyai pendapat berbeda dengan mereka. Dengan demikian, apabila dalil-dalil zhan dijadikan rujukan dalam pengambilan dalil akidah maka akan muncul gejala mudah mengkafirkan orang atau kelompok lain. Hal disebabkan oleh kandungan dalilnya sendiri yang mengarah pada banyaknya penafsiran, jadi tidak bersifat pasti.

Keempat, dalil yang digunakan dalam perkara akidah bisa dalil yang bersifat aqli bisa pula bersifat naqli (wahyu) sesuai dengan tema/objek yang dibahasnya. Apabila tema pembahasan menyangkut sesuatu yang mempunyai fakta yang dapat diindera dan dapat dijangkau oleh akal manusia maka dapat digunakan dalil aqli. Sebaliknya, jika tema pembahasan merupakan sesuatu yang tidak dapat diindera dan dijangkau keberadaannya oleh akal maka digunakan dalil naqli.

Dalil-Dalil Aqli

            Apabila kita mengkaji secara mendalam, akan diketahui bahwasanya iman pada (keberadaan) Allah Swt. dalilnya adalah aqli, sebab eksistensi-Nya dapat dijangkau oleh indera dan akal manusia. Benda-benda atau makhluk yang keberadaan dan fenomenanya mampu dijangkau oleh akal manusia serta dapat diindera memiliki sifat membutuhkan atau bergantung pada yang lain. Jika manusia berkaca tentang keberadaan dirinya, dia hanyalah bagian terkecil dari alam semesta yang luas tak terhingga. Keteraturan yang meliputi hampir setiap benda dan makhluk di alam semesta termasuk manusia merupakan fenomena yang dengan mudah dapat menghantarkan manusia pada eksistensi Sang Pencipta. Gejala-gejala dan proses yang ada di dalam atom, molekul, jaringan sel, tanaman, tubuh manusia, tata surya, planet dan bintang-bintang, bergantinya malam dan siang, keberadaan gunung, hutan, lautan, daratan, berpuak-puaknya manusia, serta kehidupan di dunia binatang dan berbagai fenomena spektakuler sebagian besar tidak dapat dijelaskan keteraturannya oleh akal manusia. Semua hal itu mendorong manusia untuk berpikir tentang hakikat penciptaan atas seluruh makhluk. Dalam hal ini, al-Quran al-Karim menggunakan gaya bahasa dengan menyentuh dan mendorong akal manusia supaya mau memikirkan, merenungkan, mempelajari, serta mendengarkan tentang fenomena berbagai makhluk ciptaan Allah Swt. Simaklah ayat al-Quran berikut:

]إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ اْلأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ َلآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ[

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia suburkan bumi sesudah mati (keringnya) dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang menggunakan akal. (QS. al-Baqarah [2]: 164)

]إِنَّ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ َلآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ % وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ ءَايَاتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ[

Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang-orang yang beriman. Dan penciptaan kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang meyakini. (QS. al-Jaatsiyah [45]: 3-4)

Ayat-ayat di atas dan yang sejenisnya mengharuskan seorang muslim mengimaninya, serta menjadikan akalnya sebagai penimbang dan pemutus dalam kasus ini. Cakupan yang dapat dijangkau akal meliputi:

  1. Ayat-ayat al-Quran yang dapat didengar, dipahami, dikaji, serta dipikirkan oleh akal manusia.
  2. Tanda-tanda yang terdapat pada alam semesta, termasuk manusia yang objeknya dapat diindera dan dijangkau oleh akal manusia, kedudukannya menjadi makhluk bagi al-Khaliq, yaitu Allah Swt..

Oleh karena itu, Islam melarang untuk memikirkan dan berusaha menjangkau sesuatu yang berada di luar cakupan dan kemampuan akal ataupun indera manusia. Rasulullah saw bersabda:

«تَفَكَّرُوْا فِي الْخَلْقِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِي الْخَالِقِ فَإِنَّكُمْ لاَ تَقْدِرُوْنَ قَدْرُهُ»

Berpikirlah kamu tentang makhluk Allah, tapi jangan kamu pikirkan tentang (Dzat) Allah. Kamu tidak akan sanggup menduga tentang hakikat yang sebenarnya. (HR. Abu Nuaim, haditsnya marfu’ sanadnya dla’if, tetapi isinya shahih)

Dalil-Dalil Naqli

             Adapun iman terhadap malaikat, petunjuknya diperoleh hanya berdasarkan dalil naqli, antara lain firman Allah Swt.:

]شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ[

Allah telah menerangkan bahwasanya tidak ada ilah selain Dia, yang menegakkan keadilan Dan (disaksikan) oleh para malaikat dan ahli-ahli ilmu. (QS. Ali Imran [3]: 18)

Dalam persoalan ini, akal manusia tidak memiliki peranan apa pun karena eksistensi malaikat tidak mampu dijangkaunya. Berita mengenai keberadaannya kita yakini melalui al-Quran al-Karim. Adapun mengenai keimanan terhadap kitab-kitab Allah, terdapat perbedaan antara al-Quran dengan kitab-kitab samawi lainnya yang pernah ada. Al-Quran berasal dari Allah Swt. sekaligus sebagai kalamullah. Dalil bahwasanya al-Quran itu kalamullah bukan hasil rekayasa manusia ataupun Rasulullah dapat dijangkau oleh akal manusia (aqli). Kemu’jizatan al-Quran, khususnya dalam aspek bahasa menghasilkan kepastian mustahilnya al-Quran itu buatan manusia. Ayat-ayat al-Quran sendiri menantang manusia jika memang kalimat-kalimat manusia mampu menandingi ketinggian dan keagungan bahasa Arab al-Quran ataupun mujizatnya.

]وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ % فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ[

(Dan) jika kalian (tetap) dalam keraguan tentang al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad) maka buatkanlah satu (surat) saja yang semisal al-Quran dan ajaklah penolong-penolong selain Allah jika kamu benar (dengan tuduhanmu). Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti tidak akan dapat membuat(nya selama-lamanya), maka peliharalah dirimu dari (siksa) neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu-batu (berhala) yang disediakan bagi orang-orang Kafir. (QS. Al-Baqarah [2]: 23-24)

Untuk kitab-kitab samawi yang lainnya dalilnya adalah naqli, antara lain firman Allah Swt.:

]ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ[

Rasul telah beriman pada apa yang diturunkan oleh Rabbnya (al-Quran), begitu pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 285)

            Dalil keimanan terhadap para Rasul terdapat perbedaan, yaitu antara Nabi Muhammad saw. dengan Rasul-rasul yang lain. Dalil ke-Nabian Muhammad saw. adalah aqli karena dalilnya tiada lain sama dengan al-Quran pula. Telah diriwayatkan dengan jalan yang mutawâtir bahwasanya Nabi Muhammad saw yang membawa al-Quran, sementara al-Quran secara pasti berasal dari Allah Swt.. Dari sini saja terbukti bahwa al-Quran sebagai risalah bagi Nabi Muhammad saw. Keimanan terhadap al-Quran secara aqli mengharuskan pula keimanan terhadap pembawanya secara pasti. Mengenai keimanan terhadap para Rasul selain Muhammad saw, maka cukuplah ayat di atas menjadi dalil naqli bagi kita untuk beriman pada mereka.

]وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ[

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa rasul sebelum kamu. Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (QS. Al-Mu’min [40]: 78)

Adapun keimanan terhadap hari akhir (Kiamat), dalilnya berupa dalil naqli, bukan aqli. Hari Kiamat tergolong perkara gaib yang tidak dapat diindera dan dijangkau oleh akal manusia. Firman Allah Swt.:

]وَأَنَّ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاْلآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا[

Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang sangat pedih. (QS. Al-Israa’ [17]: 10)

            Berdasarkan hal ini, setiap perkara yang menyangkut masalah akidah dan dalilnya aqli, keberadaannya dapat terjangkau oleh indera dan akal manusia. Itu pun hanya sebatas keberadaannya saja. Adapun mengenai sifat dan dzatnya secara hakiki memerlukan keterangan lebih lanjut dari al-Khalik, Dzat yang menciptakannya dan paling mengetahui segala bentuk ciptaan-Nya.

            Semakin banyak fenomena makhluk-makhluk dikaji, keimanan seseorang dapat lebih kuat. Selain itu, harus diperhatikan bahwa keimanan terhadap (wujud/eksistensi) Allah Swt. telah tercapai melalui fakta yang dapat diindera oleh manusia. Lain lagi dengan perkara-perkara yang pembuktiannya melalui dalil naqli, tidak patut dibahas secara panjang lebar serta tidak boleh menyimpang dari ketentuan nash-nash yang ada sedikit pun. Jadi, keimanan terhadap malaikat beserta sifat-sifatnya, kepada para Nabi, berikut kisah-kisah perjuangan ataupun mu’jizatnya, keimanan pada kitab-kitab Allah, pada hari akhir, serta keimanan terhadap seluruh khabar yang tercantum dalam al-Quran atau yang terdapat dalam hadits-hadits mutawâtir, semuanya wajib diimani. Keimanan ini tanpa keraguan sedikit pun, tanpa ditambah atau dikurangi, serta tidak perlu menakwilkan atau menduga-duga sesuatu yang tidak dijelaskan oleh nash-nash yang ada. Berkenaan dengan perkara-perkara yang terdapat dalam hadits-hadits ahad yang shahih atau hasan, kita wajib menerima dan membenarkannya meski tidak sampai memastikannya 100 %.

Mendudukkan Persoalan

            Di dalam al-Quran al-Karim, Allah Swt. berfirman:

]ءَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ اْلأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ % أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ[

Apakah kamu merasa aman terhadap (azab) Allah yang (berada) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau, apakah kamu merasa aman terhadap (azab) Allah yang (berada) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku. (QS. Al-Mulk [67]: 16-17)

Ayat di atas tergolong ayat takhwif dan tahdif, yaitu ayat untuk menakut-nakuti dan mengancam manusia. Maksud khabar tersebut sesuai dengan ayat:

]وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِاْلآيَاتِ إِلاَّ أَنْ كَذَّبَ[

Dan tidaklah Kami menurunkan ayat-ayat ini kecuali sebagai pemertakut. (QS. Al-Israa’ [17]: 59)

            Al-Quran surat al-Mulk di atas menonjolkan aspek yang dapat menakut-nakuti dan mengancam manusia agar bersikap waspada dan berhati-hati di dalam bertindak. Jadi, temanya bukan apakah Allah ada di langit atau tidak? Cara penakwilan seperti ini akan keluar dari tema pembahasan, maksud yang dituju, serta kedudukan dari ayat tersebut. Di samping itu, pembahasan seperti ini akan menyeret manusia membahas Dzat Allah Swt. yang tidak boleh sama sekali dibahas, karena daya jangkau akal yang terbatas.

            Begitu pula halnya dengan sabda Rasulullah saw.:

«اِرْحَمُوْا مَنْ فِي اْلأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَآءِ»

Kasihilah siapa saja yang ada di muka bumi, niscaya (Allah) yang ada di langit akan mengasihi kalian. (HR. Hakim)

Hadits ini menonjolkan tema tentang dorongan kepada manusia untuk saling mengasihi dengan sesamanya agar manusia berhak mendapatkan kasih sayang dari Allah Swt.. Jadi, tema pembahasannya bukan apakah Allah berada di langit atau tidak? Sikap-sikap penakwilan yang keliru semacam ini telah keluar dari kedudukan tema pembahasan yang sebenarnya.

Contoh lainnya adalah firman Allah Swt.:

]وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ[

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat (kepada mereka). Aku mengabulkan permohonan orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (seluruh perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

 Di dalam ayat ini tema yang ditonjolkan adalah seruan untuk memenuhi perintah Allah Swt. agar Dia mengabulkan doa yang kita minta, sekaligus penjelasan bahwa Dia akan mengabulkan doa siapa saja yang telah memenuhi seruan-Nya. Jadi, topik pembahasannya bukan mengenai dekat atau jauhnya tempat Allah Swt.. Penakwilan seperti ini telah keluar dari penonjolan kedudukan tema yang seharusnya.

Iman kepada Allah dan Sifat-Sifat-Nya

            Sesungguhnya kesaksian bahwa Lâ ilâha illa Allah menuntut seorang muslim agar tunduk dan patuh hanya kepada Allah Swt., serta menjadikan-Nya sebagai satu-satunya Dzat yang patut disembah dan diikuti. Konsekuensinya tentu saja seorang muslim harus menolak segala bentuk peribadatan kepada sesembahan lainnya, seperti berhala, hawa nafsu, thâgût, atau bentuk-bentuk lain yang bertentangan. Allah adalah Dzat satu-satunya yang berhak dan paling layak memperoleh pengabdian. Dialah yang memiliki sifat Maha Mendengar, Maha Melihat, Pemberi Rizki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang Menentukan, Maha Penolong, Yang Memuliakan, Yang Merendahkan, Yang Menghinakan, Yang Maha Kuasa, dan masih banyak lagi sifat-sifat lainnya. Sifat-sifat ini merupakan penghubung, pengarah, dan pendorong bagi perbuatan manusia. Di sisi lain, sifat-sifat ini mendidik manusia agar senantiasa berlindung hanya kepada Allah semata dalam setiap keadaan, baik dalam situasi sempit maupun lapang. Tidak ada tempat berlindung yang paling layak kecuali hanya Allah Swt..

            Akan tetapi, kenyataan saat ini menunjukkan iman kepada Allah Swt. telah menjadi iman yang kering dan hampa bagi kebanyakan kaum Muslim. Kaum Muslim seolah menjadi beku dan tak berjiwa lagi. Sebagian besar umat ini beriman kepada Allah hanya sebatas iman kepada adanya Allah saja. Mereka mewarisi kondisi keimanan seperti ini dari nenek moyangnya yang diterima begitu saja. Padahal, Islam mengharuskan iman itu datangnya dengan jalan pengamatan dan pemikiran. Jalan keimanan seperti ini akan menimbulkan adanya keimanan yang sempurna, yaitu keimanan pada keberadaan Allah yang disertai dengan keimanan terhadap sifat-sifat-Nya.

            Keimanan seorang Muslim terhadap Allah yang Maha Mendengar, mengharuskannya agar selalu menyandarkan setiap perkataannya hanya pada syara’ semata sehingga ia tidak mengucapkan kata-kata kotor dan menjauhkan diri dari kata-kata dusta. Jika hal ini dilakukannya, tentu Allah akan meminta pertanggungjawaban atas kata-kata yang diucapkannya. Allah Maha Mendengar segala sesuatu, baik berupa bisikan maupun ucapan yang terang.

            Keimanan seorang Muslim terhadap Allah yang Maha Melihat mengharuskannya untuk tidak melangkahkan kaki kecuali ke tempat-tempat yang diridlai Allah Swt.. Seorang Muslim menyembah Allah seolah-olah dia melihat-Nya. Jika dia tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihat dan memperhatikankannya di mana pun ia berada, baik sendirian, berduaan, maupun berada di tengah-tengah orang banyak.

            Keimanan seorang muslim terhadap Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Allah mengetahui yang tersembunyi atau yang tampak, yang zhahir atau yang tersembunyi di dalam hati, akan mendorongnya untuk bersikap wara’ (menjaga diri) dari tindakan maksiyat serta ia senantiasa terlibat dalam aktivitas kebaikan.

            Keimanan seorang Muslim terhadap Allah yang Pemberi Rizki tidak akan membuatnya putus asa dalam mencari nafkah. Orang yang merasa sempit rizkinya segeralah minta kepada Allah rizki yang halal dan baik, karena meyakini bahwa hanya Allahlah satu-satunya yang memberikan rizki kepada manusia. Setiap orang tidak akan tertukar rizkinya dengan orang lain, ataupun rizkinya dikurangi. Allahlah yang mengaturnya dengan ukuran setepat-tepatnya. Keyakinan seperti ini akan mendorong manusia tetap konsisten dengan kewajiban yang diperintahkan Allah Swt., walaupun resikonya adalah pengorbanan dalam penghidupan. Ia tidak akan meminta selain kepada-Nya dan tidak pula merendahkan diri kecuali kepada-Nya dalam ukuran rizki.

            Orang-orang yang menderita, ditimpa kesedihan, dizhalimi, serta orang-orang yang putus asa dan gagal, pada saat-saat kritis seperti ini tentu akan mengadukan masalah hanya kepada Allah Swt. untuk meminta jalan keluar dalam mengatasi problematika yang dihadapinya. Dialah Dzat yang Maha Penolong, yang memberikan kemenangan, serta yang dapat menghilangkan penderitaan yang tengah melilit kehidupan mereka. Begitu pula orang-orang yang selalu takut dan khawatir terhadap dirinya sendiri dalam mengarungi samudera kehidupan, apabila ia mengetahui dan yakin bahwa Allah Swt. Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, serta Dia Yang Maha Memelihara, tentu tidak akan meminta perlindungan dan pertolongan kepada siapa pun untuk menjaga dirinya dari berbagai macam bahaya. Hanya Allah saja tempatnya bergantung.

            Demikian pula halnya dengan orang yang beriman bahwa Allah Maha Memuliakan dan Maha Merendahkan, ia tidak akan merendahkan dirinya kecuali di hadapan Allah Swt. dan tidak pula meminta kemuliaan kecuali hanya kepada-Nya. Seorang mukmin mengetahui bahwa kemuliaan itu dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti langkah-langkah yang sudah ditentukan Allah Swt. berupa syariat Islam. Dengan keyakinan seperti ini, ia tidak akan mengikuti aturan, sistem, ataupun syariat selain yang berasal dari Allah Swt. dan Rasul-Nya.

            Inilah jalan yang harus ditempuh untuk mengenal atau berma’rifat kepada Allah Swt. serta untuk memperkuat hubungan dengan Allah Swt., yaitu dengan jalan merenungkan dan mengkaji makhluk-makhluk yang menjadi ciptaan-Nya. Siapa pun yang menelusuri dan memperhatikan fenomena yang ada di seluruh jagat ini dengan pemikiran yang jernih, niscaya ia akan menemukan muara berupa keagungan, kemuliaan, serta kedahsyatan Penciptaan dan Kekuasaan-Nya. Perhatikan firman Allah Swt. ini:

]سَنُرِيهِمْ ءَايَاتِنَا فِي اْلآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ[

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di seganap ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu benar. Tidakkah cukup bahwa Rabbmu sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS. Fushshilat [41]: 53)

Melalui pemikiran dan pengamatannya yang sesuai dengan dorongan yang diperintahkan oleh al-Quran al-Karim, akan terbentuklah dalam diri seorang Muslim nuansa baru yang dapat dikatakannya dalam satu kalimat saja:

]رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ[

Ya Rabb kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Oleh karena itu, jauhkanlah kami dari siksaan neraka. (QS. Ali Imran [3]: 191)

            Sebagaimana halnya akan tertanamlah dalam jiwa seorang Muslim sikap ketaatan dan ketundukan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, sikap waspada dan mawas diri, serta perasaan takut dengan azab Allah, kemudian ia akan berusaha secara maksimal untuk beribadah kepada-Nya dengan cara merealisasikan dan menetapi syariat yang telah diturunkan Allah untuk manusia, serta syariat siapa lagi yang lebih sempurna dan benar selain syariat Allah Swt.?

Batasan Ma’rifat kepada Allah Swt.

            Seorang muslim tidak dituntut untuk mengetahui bagaimana Allah Swt. memberikan rizki-Nya ketika ia beriman terhadap sifat Allah sebagai Pemberi Rizki, begitu pula bagaimana cara Dia menolong hamba-hamba-Nya, serta bagaimana cara Dia memelihara seluruh ciptaan-Nya. Yang dituntut dari seorang muslim adalah agar dia beriman dengan sifat-sifat-Nya tadi, tanpa menelusurinya tentang bagaimana caranya Allah merealisasikan perbuatan-Nya itu.

            Seorang muslim wajib beriman bahwa Allah itu Maha Melihat tanpa menelusuri lebih lanjut bagaimana cara melihatnya Allah Swt.. Wajib beriman pula bahwa Allah Swt. pernah berbicara langsung kepada Nabi Musa a.s. tanpa ditelusuri bagaimana proses berlangsungnya. Jadi, tema yang ditonjolkan di sini adalah keimanan terhadap nama dan sifat-sifat-Nya yang disebut-Nya sendiri, bukan mengenai Dzat atau cara kerja serta bentuk Dzatnya itu. Banyak ayat-ayat al-Quran yang melarang seorang Muslim membahas Dzat Allah karena keterbatasan akalnya, seperti:

]لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ[

Tidaklah ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. (QS. Asy-Syuraa [42]: 11)

]وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ[

Dan mereka berbantah-bantahan tentang (keesaan, kekuasaan, dan dzat) Allah , sedangkan Dialah yang Maha Keras siksa-Nya. (QS. Ar-Ra’d [13]: 13)

]فَلاَ تَضْرِبُوا ِللهِ اْلأَمْثَالَ[

Maka janganlah kamu membuat perumpamaan tentang Allah. (QS. An-Nahl [16]: 74)

Rasulullah saw. bersabda:

«سُبْحَانَكَ لاَ نُحْصِي ثَنَاءَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ»

Maha Suci Engkau, yang tidak dapat kami hitung pujian atas-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri. (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Imam Malik, dan Ahmad)

Cukuplah kiranya kita mendengarkan bagaimana salah seorang ulama salaf berpendapat tentang ayat-ayat semacam itu dengan kata-katanya:

Para ulama salaf telah melihat ayat-ayat tersebut dan mereka diam terhadapnya, padahal mereka adalah manusia yang paling mendalam ilmunya, luas pemahamannya, serta tidak mau memberatkan diri dalam membahasnya. Diamnya mereka bukan suatu kelemahan. Siapa pun yang tidak berbuat sebagaimana mereka, berarti dia telah berbuat sia-sia dan rugi.22

 Memang benar apa yang pernah dikatakan oleh Imam Malik: Tidak ada sesuatu yang dapat memperbaiki keadaan umat ini kecuali apa yang pernah memperbaiki generasi pertama dari umat ini. Jika kita diperintahkan untuk meneladani Rasulullah saw. Dan diperintahkan pula agar menggigit (berpegang teguh) pada Sunnah (akidah dan cara hidup) Khulafaur Rasyidin dengan gigi geraham, serta agar mengikuti jejak yang telah ditempuh oleh beliau saw dan para sahabatnya. Saat ini tentu kita amat rindu dan membutuhkan peneladanan tersebut dalam aspek keimanan dan perbuatan.

            Jika para ulama salaf terdahulu terdorong untuk mengomentari filsafat Yunani dengan cara dan tujuan untuk menjauhkan kekeliruan yang dilontarkan mereka, sekaligus mengajak orang-orang yang terperosok dengan metode itu agar kembali pada kebenaran, sesungguhnya saat ini kita tengah berhadapan dengan suatu kenyataan yang mendorong kita untukmenentangnya dengan seluruh kekuatan, baik pemikiran maupun perbuatan. Kita wajib melawan pemikiran-pemikiran yang sengaja atau tidak dilemparkan ke tengah-tengah kaum Muslim, dengan cara mengungkapkan borok kekeliruannya dan mengembalikan umat ini agar menimbang dan menakar segala aspek kehidupannya hanya dengan akidah dan syariat Islam saja, lain tidak.

            Kita wajib pula untuk tetap mengembalikan dan mempertahankan metode yang sama, yang telah digunakan al-Quran dalam menjelaskan masalah akidah yang bertentangan dengan akidah Islam, yaitu memaparkan kesesatannya sekaligus memperkenalkan Islam. Jika hal itu diikuti oleh umat, insya Allah kita sudah terbebas dari kelompok ahli bid’ah dalam agama, malah kita termasuk golongan yang dipuji dan dicintai Allah Swt. Karena langkah yang ditempuh hanya menetapi langkah Rasulullah saw:

]قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ[

Katakankah (hai Muhammad) apabila kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian. (QS. Ali Imran [3]: 31)

 BANTAHAN DAN KOMENTAR TERHADAP AHLI KALAM

            Penggunaan ilmu kalam dan mantiq dalam perkara akidah telah menyeret kaum Muslim dalam perdebatan dan polemik yang berkepanjangan, serta tidak menghasilkan apa-apa kecuali pertikaian dan permusuhan, kesesatan, serta kebimbangan. Keadaan seperti ini muncul ketika sampai pada penafsiran ayat-ayat al-Quran yang menyangkut akidah tetapi memiliki lafadz yang mutasyâbihât. Sungguh kenyataan ini berbeda dengan sikap para sahabat yang tidak pernah berselisih dalam perkara akidah. Ijtihad hanyalah dalam aspek tasyri’ (hukum Islam). Imam Ibnu al-Qayyim pernah menyinggung keadaan ini dengan kata-kata sebagai berikut.

Telah terjadi perselisihan di kalangan para sahabat dalam banyak masalah hukum, padahal mereka adalah tokoh-tokoh umat dan generasi yang paling sempurna keimanannya. Akan tetapi, dengan memanjatkan puji syukur ke hadlirat Allah, mereka tidak pernah berselisih dalam satu masalah pun yang menyangkut asma Allah, serta sifat-sifat dan perbuatan-Nya. Malahan sebaliknya, mereka semua menetapkan segala sesuatu yang disinggung oleh al-Quran yang agung itu beserta Sunnah Rasul dengan suara bulat.23

Al-Karabasi meriwayatkan, bahwasanya Imam Syafi’I rahimahullah ketika ditanyai mengenai ilmu kalam, beliau marah seraya berkata:

Tanyakan hal tersebut kepada Hafsyan al-Fardu dan kawan-kawannya, niscaya Allah menghinakan mereka.24

Imam Abdul Qahir al-Baghdadi berkata:

Kemudian, muncul di ujung masa sahabat perbedaan golongan Qadariah tentang perkara qadar dan kemampuan manusia yang berasal dari Ma’Bad al-Juhani, Ghailan ad-Dimasyqi, dan Ja’du bin Dirham. Kemudian, sebagian sahabat muta’akhirin seperti Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdillah, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Abdullah bin Aufa, Uqbah bin Nafi’, dan sahabat-sahabat lainnya yang setaraf telah berlepas diri dari mereka.25

 Sejarawan kondang, Ibnu Khaldun mengatakan:

Adapun para ulama salaf, mereka menguatkan dalil-dalil tanzih (yang mensuci Allah Swt.) karena sangat banyak dan jelas sekali penunjukkan dalilnya. Mereka mengetahui kemustahilan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Di samping itu, mereka menetapkan bahwa ayat-ayat tersebut merupakan firman Allah Swt. sehingga mengimaninya tanpa mengotak-atik maknanya, baik dengan jalan membahas maupun menakwilkannya. Inilah maksud dari ucapan sebagian besar mereka: ‘Bacalah ayat-yat tersebut sebagaimana adanya, artinya imanilah bahwa ayat-ayat tersebut bersumber dari sisi Allah Swt. dan janganlah mencoba untuk menakwilkan ataupun memberi berbagai penafsiran karena mungkin saja dijadikan sebagai ujian. Untuk itu, wajib menghentikan pembahasan dan menundukkan diri (pasrah) kepada-Nya.’26

            Peradaban Islam telah melahirkan ulama-ulama, baik dalam bidang fiqih, hadits, maupun ilmu kalam. Para ulama hadits dan fiqih menentang ilmu kalam beserta para pendukungnya. Sementara itu, ahli kalam tidak mengambil sikap apa pun terhadap para ulama hadits dan fiqih karena kemurnian akidah mereka yang lurus di samping ketakwaan mereka yang tinggi. Ilmu mereka diperuntukkan bagi aktivitas amal dan direalisasikan dalam bentuk perbuatan. Adapun ahli kalam, ilmunya menjadi ajang perdebatan dan kepuasan berpikir yang tidak bermanfaat bagi masyarakat. Mereka terjerumus dalam suatu perkara yang tidak pernah dibebankan dan diperintahkan kepada mereka untuk membahas dan mengkajinya. Karena itu, mereka dikenal sebagai kelompok yang banyak bicara dan peragu, serta tidak ada amalnya di tengah masyarakat. Perdebatan di antara mereka hanya melahirkan keraguan, kesesatan, dan kekeliruan sampai menjelang akhir hidup mereka. Ada pula di antara mereka yang kemudian menarik diri dan menghentikan seluruh aktivitas dalam perdebatan tersebut dan kembali pada pokok pangkal ajaran Islam yang murni dan lurus. Salah seorang di antara mereka yang masyhur adalah Imam al-Ghazali, beliau berkata:

Dengan demikian, kalian telah mengetahui ilmu mana yang terpuji dan mana yang tercela, serta apa yang menimbulkan keraguan dan perselisihan. Kalian bebas untuk memilih antara mengikuti salaf atau menjerumuskan diri dalam kesombongan dengan mengikuti ulama khalaf.27

Kiranya benar sabda Rasulullah saw. mengenai asingnya metode para sahabat dan asingnya ajaran Islam di suatu masa nanti:

«بَدَأَ اْلإِسْلاَمُ غَرِيْبًا، وَسَيَعُوْدُ كَماَ بَدَأَ غَرِيْبًا، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَآءِ، فَقِيْلَ: وَمَنْ هُمُ الْغُرَبَآءُ؟ قَالَ: اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ مَا أَفْسَدَهُ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِيْ وَالَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ مَا أَمَاتُوْهُ مِنْ سُنَّتِيْ»

Islam muncul untuk pertama kalinya dalam keadaan asing (ditolak masyarakat, pen) dan akan kembali menjadi asing sebagaimana munculnya dahulu. Untuk itu, berbahagialah orang-orang asing tersebut. Kemudian, beliau ditanya: ‘Siapakah orang-orang asing itu? Beliau bersabda: ‘Orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak masyarakat dari Sunnahku dan orang-orang yang menghidupkan apa saja yang telah dilenyapkan dari Sunnahku’. (HR. Thabrani)

Begitu pula salah seorang mantan ahli kalam, Imam al-Juwaini berkata:

Aku melakukan perjalanan ke berbagai negeri kaum Muslim untuk menggali ilmu mereka. Aku telah mengarungi samudera yang luas, serta aku telah terjerumus dalam pembahasan yang terlarang. Semua itu aku lakukan untuk mencari kebenaran dan membebaskan diri dari belenggu taqlid. Namun, saat ini aku telah meninggalkan pendapat mereka semuanya dan kembali pada kebenaran yang telah ditentukan.

Beliau pun pernah berkata kepada rekannya:

Wahai para sahabatku, janganlah kalian menyibukkan diri dalam ilmu kalam. Jika aku tahu bahwasanya ilmu kalam itu menghantarkan pada apa yang kucapai (kesesatan), niscaya aku tidak akan menyibukkan diri dengannya.28

Imam ar-Razi pernah terlibat dengan ilmu kalam, kemudian beliau menceritakan sikapnya ketika meninggalkan ilmu kalam dalam bukunya yang berjudul ‘Aqsaamu al-Ladzdzaati’:

Aku telah mempelajari berbagai metode pembahasan ahli kalam serta keragaman filsafat, tetapi aku tidak pernah melihatnya dapat menyembuhkan jiwa orang yang sakit ataupun memuaskan hati. Aku melihat bahwa jalan terdekat pada kebenaran adalah metode al-Quran karena lebih tepat dan memantapkan sikap seseorang dalam pembuktian.

Komentar serupa juga muncul dari Imam Ahmad bin Hanbal yang berkata:

Di antara tanda-tanda kedangkalan ilmu seseorang adalah sikap bertaqlid kepada orang lain dalam masalah akidah.29

Menanggapi pertikaian yang muncul di kalangan ahli kalam, Imam Ahmad bin Hanbal berkomentar:

Ahli ilmu kalam tidak akan beruntung untuk selamanya. Engkau hampir tidak akan melihat seseorang yang mempelajari ilmu kalam selain dalam lubuk hatinya terdapat banyak keraguan.30

            Para ulama salaf sebagian besar mengharamkan ilmu kalam, tercatat misalnya Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, Sufyan ats-Tsauri, serta seluruh ahli hadits dari kalangan ulama salaf.31

 Imam Malik bin Anas pernah berkata:

Aku membenci ilmu kalam dalam masalah agama. Demikian pula penduduk negeri kita selalu membenci dan melarangnya, seperti pembicaraan mereka tentang pendapat Jahm bin Shafwan, yaitu masalah qadar dan segala sesuatu yang semisal dengan itu. Aku tidak menyukai ilmu kalam kecuali disertai dengan amal. Adapun ilmu kalam dalam agama dan ketika membahas Dzat Allah ‘Azza wa Jalla, aku lebih suka berdiam diri. Hal itu aku lakukan karena melihat sikap penduduk negeri kita (sahabat) melarang membahas ilmu kalam dalam perkara agama kecuali jika disertai dengan amal.32

Kemudian, dalam kitab yang sama beliau melanjutkan kata-katanya:

Apakah setiap kali kita melihat seseorang yang lebih ahli dalam perdebatan dibandingkan orang lain, kemudian kita tinggalkan apa yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi Muhammad saw. dengan maksud untuk berdebat dengan mereka?

Imam Syafi’i melengkapi kata-kata gurunya (yaitu Imam Malik) dengan komentarnya sebagai berikut:

Apabila manusia mengetahui bahwa apa yang terdapat di dalam ilmu kalam itu berasal dari pendapat-pendapat yang berlandaskan pada hawa nafsu, tentu mereka akan lari terbirit-birit menjauhinya sebagaimana mereka lari menghindarkan diri dari seekor singa.33

Demikianlah berbahayanya fitnah yang melanda seseorang ataupun masyarakat dengan tumbuhnya pembahasan akidah menurut metode kalam/mantiq sehingga Imam Syafi’i sendiri pun berkata:

Aku menemukan sesuatu di tengah-tengah ahli kalam yang aku sendiri tidak akan menyangka bahwa seorang muslim akan mengatakan hal itu. Sungguh apabila seorang hamba diuji dengan segala macam maksiat, dan apa yang dilarang oleh Allah Swt. selain syirik, hal itu lebih baik baginya dibandingkan dia mempelajari ilmu kalam.34

 Lalu, bagaimana sikap kaum Muslim dan negara dalam menghadapi ulama-ulama yang terlibat pembahasannya dengan metode kalam/mantik, simaklah beberapa pendapat ulama salaf berikut:

Imam Syafi’i berkata:

Hukumanku bagi ulama ahli kalam adalah mereka dipukul dengan pelepah kurma, lalu diarak diberbagai kabilah dan kerabat-kerabatnya. Kemudian, dikatakan kepada mereka: ‘Ini adalah balasan bagi orang yang meninggalkan al-Quran dan Sunnah Rasul, serta mengambil ilmu kalam’.35

Adapun Abu Abdillah Muhammad bin Khuwaiz Mindad al-Mishri al-Maliki berkata:

Kesaksian ahli bid’ah dan golongan yang mengikuti hawa nafsu tidak dapat diterima. Golongan yang mengikuti hawa nafsu menurut Imam Malik dan seluruh sahabat-sahabat kami adalah ilmu kalam. Karena itu, setiap orang yang termasuk ahli ilmu kalam termasuk dalam kelompok ahli hawa nafsu dan bid’ah, baik ia mengikuti Imam Asy’ari maupun bukan. Tidak diterima kesaksiannya selama-lamanya menurut ketentuan Islam, kemudian dia diasingkan dan dijatuhi hukuman ta’zir (vonisnya diserahkan pada qadli, pen) karena perbuatan bid’ahnya itu. Apabila ia tetap dalam kebid’ahannya, hendaklah diajak untuk bertobat.36

 Demikianlah berbagai pendapat dan komentar para ulama salaf yang masyhur, baik yang pernah terlibat dalam ilmu kalam, kemudian bertobat maupun yang tidak. Semua itu menunjukkan kepada kita bagaimana sesatnya ulama-ulama kalam ketika membahas masalah akidah. Cukuplah kiranya peringatan dari Allah kepada kita agar menjauhkan diri dari metode sesat tersebut dan kembali memahami serta mempelajari akidah dengan metode al-Wahyu. Allah Swt. berfirman:

]وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ[

Dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dialah yang Maha Keras siksa-Nya. (QS. ar-Ra’d [13]: 13)


[1] Sirah Ibnu Hisyam, jilid I, hlm. 504.

[2] Al-Istidlaalu bi Zhann fi al-Aqidah, Fathi Salim, hlm. 90.

[3] Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, jilid I, hlm. 166.

[4] Sejarah dan Pengantar Tauhid, hlm. 52.

[5] Islam, Akidah dan Syariat, Mahmud Syaltut, hlm. 86.

[6] Al-Istidlaalu bi Zhann fi al-Aqidah, Fathi Salim, hlm. 20-21.

[7] Dirasat fi al-Fikri al-Islam, M. Husain Abdullah, hlm. 118

[8] Tafsir Ibnu Katsir, jilid I, hlm. 707-712.

[9] Al-Istidlaalu bi Zhann fi al-Aqidah, Fathi Salim, hlm. 20.

[10] Ushul at-Tasyri’ al-Islami, Ali Hasbullah, hlm. 35-40.

[11] Qawaa’idu at-Tahdits, al-Qasiim, hlm. 147-148.

[12] Badaa’iu Shanaai’iu, al-Kassani, jilid I, hlm. 20.

[13] Fi Zhilal al-Qur’an, jilid VIII, hlm. 710.

[14] Iljam al-Awam ‘an ‘Ilmi al-Kalam, Imam al-Ghazali, hlm. 112.

[15] Al-‘Aqaaiid an-Nasafiah, Imam an-Nasafiah, hlm. 27-43.

[16] Asy-Syamil fi Ushul ad-Din, Imam al-Haramain, hlm. 3.

17 Sejarah Kedokteran Islam dari Masa ke Masa, Ja’far Khadini (Pengantar), hlm. Xi.

18 Syakhshiyah Islamiyah, Taqiyuddin an-Nabhani, jilid I, hlm. 41-49.

19 Kitab al-Ma’arif, hlm. 166.

20 Jami’ al-Bayan al-‘Ilmi wa Fadllihi, Ibnu Abdil Barr, hlm. 117-118.

21 Talbis Iblis, Ibnu Jauzi, hlm. 82.

22 Jami’ al-Bayan al-‘Ilmi wa Fadllihi, Ibnu Abdil Barr, jilid II, hlm. 118.

23 I’lamu al-Muwaqqi’iin ‘an Rabb al-‘Alamin, jilid I, hlm. 5.

24 Ihya ‘Ulumuddin, Imam al-Ghazali, jilid I, hlm. 163.

25 Al-Farqu baina al-Firaaq, Abdul Qahir al-Baghdadi, hlm. 14

26 Muqaddimah, Ibnu Khaldun, jilid I, hlm. 325.

27 Ihya ‘Ulumuddin, Imam al-Ghazali, jilid I, hlm. 38.

28 Imam al-Haramain—al Juwaini, Muhammad az-Zuhaili, hlm. 113.

29 Talbis Iblis, Ibnu Jauzi, hlm. 95.

30 Jami’ al-Bayan al-‘Ilmi wa Fadllihi, Ibnu Abdil Barr, hlm. 156.

31 Ihya ‘Ulumuddin, Imam al-Ghazali, jilid I, hlm. 95.

32 Jami’ al-Bayan al-‘Ilmi wa Fadllihi, Ibnu Abdil Barr, hlm. 95.

33 Ihya ‘Ulumuddin, Imam al-Ghazali, jilid I, hlm. 95.

34 Adabu Syafi’i wa Manakibuhu, Abi Hatim ar-Razi, hlm. 182.

35 Talbis Iblis, Ibnu Jauzi, hlm. 96.

36 Jami’ al-Bayan al-‘Ilmi wa Fadllihi, Ibnu Abdil Barr, hlm. 96.

By : HTI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: